
Setelah menyantap makanan yang awalnya Syam mengira makanannya terlalu banyak. Tanpa disadarinya Ia hanya berdua saja menghabiskan semua makanan yang dipesan oleh Dewi Kinanti Mirasih.
"Alhamdulillah senangnya hatiku melihat Abang makan dengan lahapnya dan menyukai semua masakan yang aku pilih khusus untuknya, besok pagi sebelum berangkat aku masakin makanan yang semoga ia sukai,besok pagi-pagi sekali aku harus ke pasar sebelum Abang bangun pagi, katanya teman perumahan yang aku tempati itu pasar tradisional tidak terlalu jauh dari sana jalan kaki katanya bisa," gumamnya Dewi.
Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah meninggalkan restoran yang penuh dengan kenangan. Karena besok siang Syam akan berangkat ke Jakarta lagi dan entah kapan akan balik ke kota S.
"Alhamdulillah akhirnya sampai juga di rumah," gumam Dewi yang segera kembali membuka sabuk pengamannya yang terpasang ditubuhnya itu.
"Kamu buka pintunya Abang yang akan angkat belanjaannya kamu," usulnya Syam di depan istrinya itu.
Dewi hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan dari mulut suaminya itu seraya tersenyum lembut.
"Masya Allah cantiknya senyuman indah di bibirnya istriku, entah kenapa hatiku berdebar-debar jika melihat senyumannya itu, perasaan yang aku rasakan padanya bahkan lebih besar dari pada yang aku rasakan pada Nadia sejak aku mengatakan aku mencintainya,apakah seperti ini rasanya menikah tanpa cinta?"
Syam segera mengangkat begitu banyaknya kantong plastik kresek yang terisi dengan penuh berbagai jenis barang kebutuhan pokok sehari-hari yang dibeli oleh Dewi.
"Seperti ini rupanya menemani istri shopping day, apa aku juga ajak nantinya Nadia sekali-kali belanja langsung di mall, karena cukup seru dan asyik juga menghabiskan waktu seharian bersama dengan istri sambil belanja rasa capek dan lelah cukup sebanding dengan kepuasan dan kebahagiaan hatiku," Cicitnya Syam sambil terus mengangkat satu persatu kantong kresek tersebut dibantu oleh Dewi.
Dewi segera menyimpan tas dan hpnya di dalam kamarnya. Ia tidak beristirahat walau sejenak saja. Ia ingin langsung menata kedalam lemari semua barang yang sempat dibelinya itu. Ia paling tidak suka menunda-nunda pekerjaan jika memang ia punya waktu lebih.
__ADS_1
"Abang aku buatkan kopi yah," tawarnya Dewi ketika melihat suaminya yang hendak masuk ke dalam kamar mandi.
"Iya, kalau ada biskuit boleh jadi teman kopi," ujarnya Syam.
"Baik Abang," balasnya Dewi yang segera meninggalkan kamar tidurnya itu.
Syam menatap punggungnya Dewi yang sudah tidak terlihat dibalik pintu kamar kayu jati putih bercat cokelat itu.
"Kenapa aku semakin merasa sangat dihargai dan diperhatikan serta dilayani seperti ini rasanya yah sangat nikmat dan menyenangkan, segala-galanya dilayani oleh istri, mulai dari minuman, makanan sampai pakaian setelah mandi tersedia, maafkan aku ya Allah jika aku selalu membandingkan kedua istriku itu," cicit Samuele.
Samuel terkadang menganggap dirinya sungguh beruntung karena memiliki dua orang istri sekaligus yang keduanya sungguh cantik. Tetapi, karakter mereka sungguh berbeda satu sama lainnya. Nadia terlalu manja, egois mau menang sendiri, selalu meminta bantuan kepada asisten rumah tangga sedangkan Dewi bijaksana, penyayang, penuh tanggung jawab, lemah lembut, sholehah lagi.
Kopi dan setoples makanan ringan sudah tersedia di atas meja nakas kamarnya itu. Dari dalam gelas itu terlihat kepulan asap kopi hingga aromanya kopi itu terendus ke hidungnya Syam yang sudah menyelesaikan acara ritual mandinya.
Syam menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda beberapa jam yang lalu, karena harus mengantar jemput istrinya untuk belanja keperluan rumah. Ia begitu serius membaca dan memeriksa satu persatu file yang ada di dalam laptopnya.
Syam berharap bulan depan dapat promosi kenaikan jabatan menjadi menejer pemasaran dengan dedikasi dan loyalitasnya terhadap pekerjaannya sehingga ia mendapatkan rekomendasi tersebut dari CEO tempat ia bekerja.
Dewi menatap intens ke arah suaminya itu yang begitu tampan dan berkarisma dengan kacamata bacanya terpasang di hidung mancung nan bangirnya itu.
__ADS_1
"Ya Allah… gantengnya Abang Sam, siapapun yang melihatnya pasti akan jatuh ke dalam pesonanya, insya Allah aku berjanji akan mendampingi Abang selama sisa hidupku dan aku rela menjadi istrinya abang walau hanya menjadi istri simpanan abang aku sudah cukup bahagia," Dewi segera masuk ke dalam kamarnya karena ingin mandi tubuhnya sudah terasa lengket, gerah dan bau acem.
Dewi melakukan beberapa treatment diatas tubuh, kulitnya dan wajahnya. Untuk pertama kalinya Dewi akan melakukan perawatan lengkap untuk dirinya. Semua ini desakan dari adiknya Dinar dan sahabat terbaiknya Dian Mayang Sari. Keduanya ingin Dewi tampil cantik dan ayu di depan suaminya itu.
Dewi tersenyum mengingat wejangan dari adiknya itu sebelum berangkat kerja karena mengetahui jika kakak iparnya akan datang dari Jakarta.
"Mbak kalau istri cantik, wangi dan bersih dipandang mata, suami akan lengket dengan istrinya, bang Syam pasti tidak akan berpaling ke hati perempuan lain dan juga akan selalu mengingat pelayanan Mbak di atas ranjang," ucapannya Dinar masih terngiang-ngiang di telinganya Dewi.
"Dewi kamu harus sabar dalam menghadapi suamimu terutama di atas ranjang, karena terkadang ada suami yang minta ini minta itu, jadi kamu nurut saja apa maunya tanpa menolak ataupun membantah sedikitpun perkataannya, selama itu baik apalagi suamimu pasti akan membandingkan serpis dan pelayanan kamu dengan istrinya yang ada di Jakarta, saya yakin sekali pasti akan seperti ini kejadiannya kedepannya, jadi kamu harus pintar-pintar mengambil hati suamimu dengan jalan yang baik dan benar yang diridhoi oleh Allah SWT," ucapan nasehatnya Dian yang sok bijak dan punya pengalaman sebagai seorang istri padahal belum menikah tapi, cukup pintar untuk memberikan saran.
Dewi menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya itu, Dinar bahkan seminggu yang lalu menemani Dewi belanja keperluan make up-nya dengan make harga yang cukup mahal dan terbaik dikelasnya itu. Dinar pun membantu kakaknya untuk belajar make up yang benar.
Dinar juga menemani kakaknya sehari yang lalu ke salon melakukan perawatan dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Bahkan bagian daerah sensitifnya pun dirawatnya dengan baik untuk menyambut kedatangan Samuel Abidzar Al-Ghifari.
"Saya akan berusaha memberikan yang terbaik untuk abang Syam demi kelangsungan hidup rumah tanggaku, kalau memang malam ini Abang memintanya aku harus dengan sukarela memberikannya," Lirihnya Dewi.
Berselang beberapa menit kemudian, Dewi tidak kuasa menahan rasa kantuknya yang datang perlahan. Ia sudah akali dengan membuka aplikasi novel onlinenya melalui hp pintarnya. Tapi, matanya yang tinggal satu wat itu semakin membuatnya kesulitan untuk membuka matanya lagi. Hingga kedua matanya pun terpejam juga sedangkan Syam belum balik juga.
Malam pertama yang didambakan dan idamkan oleh Dewi gagal total malam itu diusia pernikahannya yang sudah masuk jalan 4 bulan itu.
__ADS_1
Samuel menyelesaikan pekerjaannya setelah jarum jam didinding menunjukkan pukul 1 dini hari. Dua gelas cangkir kopi sudah tandas tak bersisa. Ia merentangkan kedua tangannya sebelum bangkit dari duduknya itu.
"Alhamdulillah sudah selesai juga, besok siang ke kantor cabang dulu sebelum balik ke Jakarta, aku harus tetap waspada terhadap Irwansyah takutnya kedepannya akan jadi masalah dan batu sandungan bagi hubungan rumah tanggaku bersama kedua istriku terutama Dewi karena Irwan aku yakin kalau dia berusaha untuk merebut Dewi dariku,"