Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 166. Cemas Hal Yang Wajar


__ADS_3

Vela menarik nafasnya dalam-dalam kemudian membuangnya dengan cukup kasar pula. Ia mulai bimbang dan ragu untuk menikah dengan Amar Alfarizi. Karena telepon dari Akhsan sang mantan kekasih membuatnya kembali ragu dan kebimbangan yang melanda hati dan pikirannya.


Apa yang dikatakan oleh ummi, aku harus melupakan segala kenangan bersama dengan mas Aksan, kenapa sekarang baru muncul untuk mengakui jika anak yang ada dalam kandunganku adalah anak kandungannya.


Dimana selama ini mas Akhsan, ketika aku meminta dia bertanggung jawab padaku,dia sama sekali tidak mengakuinya.


Bahkan dia menghinaku, bahkan mencaci makiku atas segala apa yang kami perbuat. Suatu kelak jika aku ada waktu dan kesempatan,maka aku akan bertemu dengan Akhsan dan berbicara jujur padanya, jika saya tidak lagi mencintainya.


Aku tidak ingin hidupku hancur untuk kedua kalinya gara-gara pria yang tidak bertanggung jawab seperti Ahksan Khaidar.


Ahsan bagiku mulai detik ini, kamu tidak akan aku ijinkan menganggu ketenangan kehidupan ku bersama dengan bang Amar.


Vela meremas perutnya yang sudah agak buncit, dengan sesekali menyeka air matanya itu.


Bu Fina yang melihat putrinya sedih, ia segera memeluk tubuh anak tunggalnya.


"Kamu harus kuat dan ingat jangan sekali-kali bercermin kepada masa lalu, karena tidak boleh masa lalu menjadikan menghalangi jalan hidupmu yang baru untuk hidup bahagia," nasehatnya umminya Vela Angela.

__ADS_1


Vela dan Ibu Fina saling berpelukkan di dalam kamar khusus pengantin. Apa yang dirasakan oleh Vela berbeda halnya dengan apa yang dialami oleh Vela dengan mamanya.


Sedangkan di ruangan lain Maryam Nurhaliza mulai ketakutan. Dia takut jika Aidan calon suaminya itu belum mencintai sepenuhnya.


Ya Allah lancarkanlah pernikahan kami ini, dan buang jauh-jauh perasaan mas Aidan untuk wanita yang bernama Cindy Yuvia Natalia ya Allah… aku tidak ingin mas Aidan hidup dalam bayang-bayang perempuan itu lagi.


Ya Allah bagaimana jika dalam perjalanan pernikahan kami nantinya, masa lalunya abang Zaidan muncul kembali lagi.


Gimana caranya aku akan menghadapi Cindy dan bayinya, bagaimana jika abang Aidan masih mencintainya dan menjadikan aku sebagai pelampiasan semata saja dan hanya terpaksa menikahiku.


Maryam berusaha untuk menahan air matanya itu, ia tidak kuasa menahan air matanya itu. Karena ia tidak ingin apa yang dirasakan olehnya diketahui oleh kedua orang tua dan juga kerabatnya yang sengaja datang dari luar negri Jiran Malaysia.


Jangan ijinkan Cindy Clarisa muncul di hadapan kami dan lancarkan lah akad nikah hingga pesta kami hingga nanti kami memiliki anak nanti.


Entah kenapa sejak kemarin aku selalu bermimpi dan dalam mimpiku aku melihat bang Aidan mengendong seorang anak kecil.


Aku tidak mungkin curhat dengan kedua orang tuaku, apalagi dengan kedua kakakku, andaikan bisa dengan Shaira saja yang mampu aku jadikan tempat curhat.

__ADS_1


Keempat calon pengantin yang sudah berada di ruangan khusus untuk masing-masing menunggu calon pasangan mereka yang akan menikahinya hari ini juga.


Arion mondar-mandir menunggu kedatangan calon istrinya. Raut wajahnya sudah menunjukkan rasa cemas karena mulai banyak muncul pikiran jelek muncul di benaknya.


Ya Allah kenapa Shanum dan anggota keluarganya belum nyampe juga?


Tatapan matanya Arion terus tertuju ke arah pintu. Dia takut jika tiba-tiba Sahnun berubah pikiran untuk membatalkan pernikahannya. Apalagi Shanum sama sekali belum pernah mengatakan langsung perasaannya.


"Mama gimana kalau Sahnun berubah pikiran dan membatalkan pernikahan kami? Aku tidak akan bisa hidup jika Sahnun bersikap seperti itu padaku," keluhnya Arion yang menghempaskan tubuhnya ke atas salah satu karpet bulu yang diduduki oleh orang-orang yang sudah berada di dalam area masjid.


Maminya Arion tersenyum simpul sebelum menjawab keresahan dan ketakutannya sambil memegangi lengannya Arion putra semata wayangnya itu.


"Insya Allah calon istrimu pasti akan datang, kamu tidak perlu khawatir berlebihan nak, lihatlah ke sana perempuan yang sangat ingin kamu lihat sudah datang," ucapnya Maminya Arion sembari mengarahkan jari telunjuknya ke arah kedatangan beberapa rombongan iringan pengantin.


Arion segera bangkit dari posisi duduknya itu dengan senyuman yang merekah di sudut bibirnya yang semakin tampan saja dengan senyuman menawannya.


Sedangkan Adelio tak henti-hentinya menelpon nomor ponselnya Shaira, sedangkan Shaira Innira sama sekali tidak mendengarkan suara dering teleponnya karena kebetulan ponselnya tidak dibawa Shaira dalam mobil.

__ADS_1


Adelio menatap ke arah kaligrafi Asmaul Husna dengan tatapan teduhnya. Air matanya tanpa alasan menetes begitu saja. Hatinya terasa sejuk dan tenang ketika ia belajar dan mengeja satu persatu Asmaul Husna yang berjumlah 99 itu.


Ya Allah kenapa aku tidak sabar sekali untuk mengucapkan ikrar janji pernikahan kami ini. Aku tidak sabar melihat senyuman Shaira setiap harinya, bahkan setiap saat.


__ADS_2