Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 222


__ADS_3

Ariella segera menyudahi kegiatannya bersama kekasihnya. Dia sama sekali tidak menggubris telponnya yang sedari tadi berdering.


Tubuhnya Ariella dipeluk dari belakang yang sedang memakai makeup nya yang sedikit berantakan ulah kekasihnya itu.


Ariela membalik tubuhnya agar saling berhadapan satu sama lainnya," Om kita lanjut besok sore saja yah, aku capek banget soalnya aku butuh istirahat lagian mamaku juga menelpon sejak tadi, mungkin mencariku," ucapnya Ariela yang mengecup sepintas lalu kekasihnya.


Ariela menjalin hubungan bukan hanya seorang saja, tapi ada sekitar empat orang yang sering dia temani ke hotel secara bergantian setiap harinya. Semuanya adalah pria tua yang usianya berkisar 37 tahun ke atas. Rata-rata semua kekasihnya adalah pengusaha kaya raya.


"Baiklah ingat besok sore kamu langsung ke apartemen aku saja, tidak baik kalau di hotel enar anak dan Istriku curiga lagi dan aku sudah transfer sejumlah ke rekening ATMmu, kamu bisa berbelanja hari ini," ucapnya pria sering disapa dengan panggilan Ribery Kim pria berdarah Korea Selatan Indonesia itu seraya memperlihatkan notifikasi pengirimannya itu.


Ariella tersenyum sumringah saking bahagianya karena notifikasi uang sejumlah 50 juta masuk lagi ke nomor rekeningnya.


"Makasih banyak honey, besok aku akan memperlihatkan gaya baru untuk Om, aku yakin besok Om akan bahagia dan puas dengan pelayanan aku ini," ucap Ariela yang menggebu-gebu jika esok masih bisa bebas melayani satu persatu kekasihnya.


Hemp… andaikan aku enggak kelelahan aku pasti sudah membuat Om Kim berteriak keenakan, tapi sayangnya tadi pagi aku sudah layani Om Farel, jadi aku butuh istirahat Om Fadel terlalu membombardir tubuhku ini, hingga empat kali kami melakukan hubungan int*m.


Ariella segera berjalan ke arah luar dengan berlenggak lenggok hingga memperlihatkan bokongnya yang padat dan besar itu seperti menari-nari di depan matanya pria tua berusia 40an itu.


"Kamu memang mampu memuaskan aku sayang, besok kamu akan merasakan milikku yang bes*r ini hingga kamu tidak mampu bergerak saking lelahnya melayani hasr*tku," ucapnya pak Kim sebelum pintu tertutup dengan suara yang cukup nyaring.


Om Fadel berikan aku 100 juta jadi aku melayaninya dengan lama, sedangkan kamu hanya 50 juta saja, jadi maaf aku harus segera cabut dari tempat ini secepatnya sebelum ada orang yang melihat aku disekitar sini.


Ariella melangkahkan kakinya menuju lift karena ingin secepatnya pulang. Tapi, baru beberapa langkah kakinya melangkah menuju ke arah lift, telponnya kembali berdering.

__ADS_1


"Siapa sih yang nelpon disaat seperti ini!" Sungutnya Ariella.


Ariella segera merogoh handbag nya itu, dia memeriksa layar ponselnya dan tertuliskan namanya Ahksan Khaidir yang menelponnya.


Ariella Ziudith tidak peduli sama sekali dengan panggilan dari kakaknya, dia segera memasukkan kembali ponselnya yang terus berteriak-teriak ingin diangkat.


Ah males ladeni kakak, pasti ujung-ujungnya hanya mengemis, minta uang Mulu! Emangnya aku punya mesin ATM apa? Gerutunya Ariela yang mengira jika Aksan menelponnya bertujuan untuk meminta uang jajan seperti biasanya.


Semenjak Ariela diceraikan oleh Hans Abdul Djailani, Ariela sudah tidak mendapatkan sepeserpun uang tunjangan apalagi dia tidak mendapatkan harta gono-gini mengingat dia tidak punya anak seorang.


Kalau aku tidak bekerja sebagai pemu*s na*su bejat om-om yang tidak puas dengan servis dan pelayanan dari istrinya, aku juga tidak tahu gimana caranya dapat uang banyak tanpa banyak pengorbanan.


Ariela semakin berjalan melangkahkan kakinya menuju lift tanpa memeriksa begitu banyak panggilan dari nomor telepon kakak dan mamanya itu.


Ariella memutuskan untuk menemui kekasihnya yang satunya lagi. Pria yang lebih muda dari keenam kekasihnya itu.


Sedangkan di tempat lain, semua orang kebingungan karena antara diburu waktu untuk memakamkan jenazah dari dokter Irwansyah Hatif. Tapi, kedua putri kembarnya sama sekali tidak ada yang mengangkat panggilannya itu.


Ariella dan Ara sama-sama tidak ada yang mengangkat telponnya, hingga membuat Akhsan berteriak kencang di hadapan orang-orang yang tidak peduli dengan tanggapan orang yang datang untuk melayak papanya.


"Sial!! Brengsek kemana mereka perginya!? Aku sudah berulang kali menghubungi nomor ponselnya, tapi satupun dari mereka tidak ada yang mengangkat telponku!" Geramnya Akhsan sambil melempar vas bunga yang kebetulan berada di atas meja sofa.


"Kalau mereka tidak pulang sekarang kasihan dengan Irwansyah kalau tidak makamkan sekarang juga sudah mau sore soalnya," ucapnya Syamuel.

__ADS_1


"Iya mas,lagian sudah bau juga lihatlah orang-orang sudah tidak ada yang berlama-lama tinggal di dalam sini padahal dokter sudah memberikan obat khusus agar mayatnya tidak bau," cicitnya Shafiq.


"Argh!! Kalian brengsek kenapa bukan kalian saja yang meninggal!" Geramnya Aksan.


"Mereka memang tidak sayang kepada papanya," cerca seorang ibu-ibu.


"Kedua anak kembarnya itu memang anak durhaka," cibir Ibu satunya.


"Tidak tahu diri dan benar-benar anak sialan, kalau aku jadi mamanya sudah aku kutuk mereka!" Sinis perempuan yang duduk tidak jauh dari tempatnya Dina berada.


Dewi mengelus lengannya Dina untuk tidak terpengaruh oleh perkataan mereka semua. Dina mengerti dengan apa yang dilakukan oleh kakaknya itu hanya tersenyum tipis.


"Kamu yang tabah dan sabar yah dek, mungkin Ara dan Ariela sedang punya urusan yang sangat penting sehingga belum pulang," bujuknya Dewi.


"Iya Tante, mungkin hp mereka lowbet sehingga enggan susah untuk dihubungi, jadi jangan dimasukkan dihati perkataan mereka," imbuhnya Shaira walau mereka sudah tahu betul apa yang terjadi disana yang dilakukan oleh kedua sepupunya itu.


Pak ustadz Yusuf yang akan mensholatkan jenazah dokter Irwansyah segera berjalan ke arah Dina sambil sesekali melihat jarum jam yang terpasang melingkar di pergelangan tangan kanannya itu.


"Bu Dina sebaiknya kita segerakan untuk menyalatkan almarhum pak Irwansyah, tidak baik berlama-lama menyimpan jenazahnya," ucap Pak ustadz.


Dina menyeka air matanya yang terus menerus menetes membasahi pipinya itu, ada rasa sedih, kehilangan karena mantan suaminya meninggal dunia dan ada rasa sesal dan kecewa dengan sifat dari kedua anak kembarnya itu yang sama sekali tidak peduli dengan kesedihan dan musibah yang menimpa kedua orang tuanya.


Sesekali Dina menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya dengan cukup keras, "Silahkan Pak dilaksanakan prosesi pemakaman dan lainnya, tidak perlu repot-repot menunggu mereka untuk datang, kasihan Mas Irwan," titahnya Dina yang tidak ingin menimbulkan perdebatan lebih panjang lagi.

__ADS_1


Setelah Dina memutuskan hal tersebut, semua orang yang tersisa segera melaksanakan semua ritual prosesi pemakaman jenazah hingga ke tempat pemakaman umum. Hanya beberapa orang yang tersisa karena semua orang jijik dan tidak sanggup untuk mencium bau tidak sedap yang keluar dari beberapa potong tubuhnya Irwansyah Hatif yang sudah diperkirakan meninggal dunia sekitar seminggu yang lalu.


__ADS_2