
Aidan berjalan menaiki undakan anak tangga satu persatu. Dia berpapasan dengan papanya Syamuel Abidzar tanpa saling bertegur sapa sedangkan Dewi hanya menatap nanar ke arah putranya itu.
"Mama, Papa kalian mau kemana?" Tanyanya Aidan.
Dewi memegangi kepalan tangannya suaminya itu dengan menggeleng kepalanya agar Syam suaminya, tidak berucap sepatah katapun untuk anak keduanya itu. Hingga mereka terus berjalan tanpa peduli sedikitpun dengan apa yang dilakukan atau dikatakan oleh kedua orang tuanya itu.
Astaughfirullahaladzim sebegitu marahnya kalian padaku sampai-sampai kalian tidak ada yang menjawab pertanyaanku.
Shanum tanpa sengaja mendengar perkataan dan juga melihat apa yang terjadi di atas tangga.
Kak Aidan ini awalnya saja, sampai kakak menceraikan perempuan berbisa itu. bukannya kami tidak bersikap adil kak. tapi, entah kenapa feelingku mengatakan jika Rachel itu bukan perempuan yang baik dan tidak sholeha.
Shanum kembali ke dalam kamarnya dan tidak menutup pintu kamarnya itu dengan sedikit longgar untuk melihat apa yang terjadi.
Sejujurnya hatiku sangat sedih dan kecewa untuk pertama kalinya mendapatkan perlakuan seperti itu seumur hidupnya.
Pa, Ma aku sangat mencintai Rachel Amanda aku tidak bisa hidup tanpa cintanya tapi aku juga tak mungkin hidup tanpa kalian kedua orang tuaku, adik-adikku serta kakakku seperti dulu.
Rachel Amanda sengaja membuka pintu kamarnya itu untuk melihat apa yang terjadi di bawah sana. Apalagi mengingat jika melihat dari lantai atas sekitar kamarnya itu langsung berhadapan dengan area dapur.
Sial!! semua orang ternyata tidak ada satupun yang menerima kedatanganku di dalam rumah ini.
Aku akan menunjukkan kepada mereka siapa Rachel Amanda Pohan. aku akan menjerat Aidan Akhtar dengan anak yang ada dalam kandunganku ini.
Kalau perlu aku akan memperlihatkan kepada mereka semua, jika aku bukan Maryam Nurhaliza perempuan bego, konyol dan lugu itu.
Maryam segera berjalan cepat ke arah dalam kamar setelah melihat adik iparnya Shanum berjalan ke arah kamarnya.
Aku harus bersembunyi agar Sha tidak melihatku jika sedang menguping pembicaraan mereka semua penghuni rumah ini.
Sam mendudukkan tubuhnya ke atas sofa sambil membuang nafasnya dengan cukup kasar,"Entah kenapa salah satu putraku bersifat seperti ini, kenapa mereka berempat memilih hidup yang berbeda jalannya,"
Dewi pun ikut menghempaskan tubuhnya ke atas sofa buludru berwarna cokelat itu dengan menatap punggung putra keduanya itu dengan tatapan yang masih sedih sekaligus kecewa sangat atas perlakuan anaknya Aydan terhadap menantunya.
__ADS_1
"Mungkin semua ini karena gara-gara kesalahanku yang sudah terlalu memanjakan mereka dan memenuhi setiap apa yang mereka inginkan, berakhir dengan pilihan mereka yang terkadang membuat kita sedih dan kecewa yang sungguh teramat." Dewi tidak menduga bakal seperti ini kejadiannya.
"Ya Allah ampunilah segala salah dan dosaku padaMu, apakah ini karma yang aku dapatkan istriku, karena dulu juga menikah dua kali dengan dua perempuan sekaligus, kalau memang ini salahku maka ampunilah aku ya Allah dan berikanlah kedamaian dan ketenangan di dalam keluargaku, walaupun cobaan datang silih berganti."
Sam mengecup punggung tangannya Dewi," aku sungguh sulit mengartikan semua ini yang telah terjadi suamiku, mungkin ini teguran dari Alloh SWT, ataukah memang hukuman atas dosa-dosa yang telah kita perbuat selama hidup kita."
"Tapi, semoga saja cucu-cucu kita hidupnya lebih baik dari pada putra putri kita kelak, itu harapanku suamiku," imbuhnya Dewi yang menyeka air matanya itu.
Perbincangan mereka terhenti ketika melihat putri dan anak menantunya itu, menuruni tangga dengan senyuman yang selalu tersungging di sudut bibir kedua pasangan suami istri dengan tangan mereka saling bergandengan tangan.
Syam menepuk pelan pundaknya Dewi agar melihat ke arah Adelio Arsene dan Sahira Innira. Kedua pasutri itu berjalan ke arah Dewi dan Syam berada. Dewi tersenyum teduh penuh bahagia melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya Shaira.
Shaira langsung meraih tangan kanan kedua orang tuanya secara bergantian, kemudian mengecupnya penuh takjim.
"Kalian bahagia banget, ngomong-ngomong ada apa nak?" Tanyanya Dewi yang tidak bisa menahan untuk bertanya mengenai apa alasan keduanya begitu gembiranya.
"Iya Nak,apa yang sebenarnya terjadi kenapa kalian Papah lihat selalu tersenyum, apa kalian baik-baik saja? Tanyanya Syam yang mencemaskan kedua anaknya.
Adelio duduk tepat di depan kedua mertuanya itu bersamaan dengan istrinya,"Insha Allah kami akan menemui seorang detektif Pah, yang selama beberapa bulan ini aku tugaskan untuk mencari tahu keberadaan putri dari adik sepupuku Cindy Clara Smith," jawabnya Adelio.
"Cindy Clara Smith, dia siapa Nak?" Tanyanya Dewi yang memang belum mengetahui siapa orang yang bernama Cindy Clara.
Adelio menatap ke arah istrinya dan meminta persetujuan untuk menjawab pertanyaan dari mama mertuanya itu. Sedangkan Dewi cukup penasaran menunggu Adelio berbicara jujur. Shaira menganggukkan kepalanya dan menyetujui permintaan dari suaminya tersebut.
Kenapa Sha juga muncul tiba-tiba, aku ingin mendengarkan apa yang dilakukan oleh Adelio CEO Perusahaanku dengan istrinya Shaira Dokter itu.
Tapi, kalau Shanum ada di sini aku gagal mengetahui apa yang mereka akan bicarakan. Aku tadi mendengar mereka menyebut Cindy Clara, bukannya itu kekasihnya mas Aydan ketika kuliah di Inggris London.
Ya Tuhan apa yang terjadi pada mereka, kenapa harus membicarakan mereka. Lagian kenapa Pak Adelio mengatakan tentang Cindy yah?
Rachel Amanda segera bersembunyi dibalik tembok pembatas kamarnya dengan tangga. Dia menajamkan indera pendengarannya itu untuk mendengarkan percakapan keempat orang itu.
"Bismillahirrahmanirrahim, Cindy Clara Smith itu adalah adik sepupuku sekaligus mantan kekasihnya Aydan Akhtar dan kebetulan mereka memiliki seorang putri sebelum adikku itu meninggal dunia untuk selamanya," ungkapnya Adelio.
__ADS_1
Berita itu mengejutkan semua orang yang berada di sana, semua menutup mulutnya saking terkejutnya mendengar perkataan dari Adelio.
"Apa! Jadi Cindy Clara sudah meninggal dunia?" Tanya Ariela Ziudith yang baru saja muncul di dalam ruangan tengah yang dijadikan tempat ngumpul mereka setiap harinya.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun," ucapnya semuanya.
Semua orang menatap intens Ariela Ziudith yang sudah meneteskan air matanya saking sedihnya mendengar berita duka itu.
Arabela Aqila memeluk kakaknya yang sudah terisak dalam tangisannya itu.
"Selamat jalan sahabat, kamu wanita yang baik. Aku hanya berharap disisa hidupmu kamu menyebut asma Allah SWT, kamu meninggal dalam keadaan Khusnul khatimah," imbuhnya Ariela yang berharap lebih.
"Amin ya rabbal alamin, alhamdulilah itu menjadi kenyataan karena waktu melahirkan aku menemaninya di Jakarta, tapi sayangnya putrinya entah menghilang kemana sampai detik ini kami belum menemukannya," ujarnya Adelio.
"Jadi kami memiliki seorang cucu perempuan? Masya Allah sungguh kami bahagia, kecewa sekaligus sedih karena kami sudah gagal mendidik putra kami Aidan," ucapnya sesal Samuel Abidzar.
Shanum pun sudah duduk di tengah-tengah mereka sambil memangku putri angkatnya itu.
"Bantu doa setulus hati kalian, semoga saja hari ini kami bisa menemukan titik terang keberadaan Nafesa Samara," pintanya Shaira.
"Tante doakan yang terbaik untuk hal baik yang kalian lakukan hari ini, semoga saja berhasil sesuai dengan yang kalian inginkan," terangnya Dina Anelka Mulya.
"Amin ya rabbal alamin," ucapnya semua orang.
Dewi kembali meneteskan air matanya karena ulahnya Aidan Akhtar putra keduanya.
"Mbak, ngomong-ngomong kapan Mama balik dari daerah,apa beliau akan balik ke Jakarta sebelum hari pernikahanku dengan mas Syamil?" Tanyanya Dina.
"Insha Allah,besok pagi Mama sudah balik kok, dede Aira, Nak Adelio bukannya kalian mau pergi. Kalian pergilah supaya kita juga cepat mendapatkan berita gembira itu," titahnya Syamil.
Adelio dan Shaira Innira pun segera berpamitan kepada semuanya dan segera pergi untuk bertemu dengan detektif yang mereka sewa dan pekerjakan.
Ini tidak bisa dibiarkan, semoga saja anak wanita sialan itu tidak ditemukan untuk selamanya. Bahkan bila perlu mereka hanya menemukan mayatnya saja bayi pembawa malapetaka dalam hidupku ini!
__ADS_1