Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 93


__ADS_3

Keesokan harinya, Dewi mempersiapkan segala sesuatunya untuk keperluan dan kebutuhan anak-anaknya yang akan segera berangkat ke luar negeri London UK Inggris.


"Bi Siti tolong dicek semua barang-barang bawaannya Abya, Aidan dan Shaira jangan sampai di bandara baru ketahuan kalau ada yang terlupakan," perintahnya Dewi seraya memasukkan beberapa cemilan kue dan makanan permintaan ketiga anaknya itu.


"Baik Nyonya," balasnya Siti.


"Bi Minah tolong ke atas lihat mereka apa sudah siap, sudah hampir jam tujuh tapi mereka belum ada yang turun juga," imbuhnya Dewi seraya mengarahkan pandangannya ke arah tangga menuju lantai dua rumahnya.


"Kalau enggak salah Nyonya mereka sudah bersiap kok hanya saja menunggu Non Sha yang belum bangun juga dari tidurnya sejak kepulangannya semalam yang pulang subuh-subuh sekitar jam tiga," ungkapnya Bi Minah Laila Sari.


Dewi tercengang mendengar perkataan dari Bu Mina, tapi dia segera menghilangkan pikiran negatif dan tidak baiknya itu," saya tidak boleh dzuudzon terhadap putriku sendiri, nantilah saya tanyakan padanya, kemungkinannya terlalu capek jadi sampai sekarang belum bangun," Dewi berusaha untuk meyakinkan diri dan perasaannya sendiri dari pikiran jelek.


"Apa saya bangunkan non Sha atau tidak perlu Nya?" Tanyanya Bi Mina sebelum meninggalkan dapur.


"Tidak usah Bi, biarkan saja Shanum tidur kasihan kalau lagi istirahat dia diganggu mungkin banyak tugas di kampusnya sehingga kelelahan seperti itu," elaknya Dewi.


"Kalau begitu saya naik dulu Nyonya lihat mereka apa saja yang dibutuhkan atau mungkin mereka butuh bantuan saya," imbuh Bi Minah.


Dewi hanya tersenyum sekilas menanggapi perkataannya bi Minah yang masih melanjutkan memasukkan beberapa macam kue buatannya sendiri ke dalam tempat khusus mika bening dan kotak kue.


Berselang beberapa menit kemudian, ketiga anak-anak kembarnya sudah bersiap untuk berangkat. Dua mobil berangkat hari itu untuk mengantar ke tiga anaknya ke bandara Sukarno Hatta.


"Mang Joko pakai mobil itu saja, kalau yang ini saya yang akan nyetir sendiri bersama anak dan istriku," pinta Sam.


"Baik Tuan Besar," ucapnya lagi Pak Joko yang segera berjalan ke arah mobil bersama kedua asisten rumah tangga yang lainnya.


"Papa apa mbak Shanum enggak ikut bersama kita?" Tanyanya Shaira sambil melihat ke arah dalam rumahnya.

__ADS_1


"Iya Sha kenapa nggak nongol sejak semalam kita tungguin di resto tapi tidak muncul, ditelpon juga tidak diangkat," ketusnya Aidan.


"Mungkin dede Sha lagi banyak kegiatan sehingga tidak bisa mengangkat telpon dan tidak bisa menemani kita makan bareng," sanggahannya Abyaza.


Abyasa Akhtam adalah tipe yang memang tipikal orang yang tidak mau berprasangka buruk terhadap apa yang dilakukan oleh orang lain termasuk sikapnya dari adik-adiknya atau pun orang lain. Sedangkan Aidan Akhtar malah tipikal dengan karakter yang lebih keras, bijaksana dan tidak mau mentolerir sedikitpun kesalahan.


Ketiganya dan kedua orang tuanya mengarahkan pandangannya ke arah tangga karena biasanya Shanum Inshira lah sering kali terlambat datang jika mereka akan bepergian.


Syamuel menatap istrinya, "Dewi apa kamu sudah mengecek apakah Shanum baik-baik saja? Tanyakan padanya jika dia mau ikut atau enggak, sudah waktunya berangkat kasihan kalau mereka sampai terlambat gara-gara Shanum saja," ucapnya Samuel Abidzar yang terkadang heran dengan sikapnya Shanum sendiri.


"Baik Abang saya akan ngecek apa Shanum ikut bersama kita atau tidak," timpalnya Dewi yang segera bergegas ke arah dalam rumahnya dan sesekali mengecek semua pintu rumahnya dan juga stok kontak listriknya.


Dewi berjalan tergesa-gesa ke arah dalam rumahnya entahlah kenapa perasaan dan feeling-nya tidak enak dengan kondisinya Shanum.


"Bu Minah, apa kamu sudah mengunci semua pintu depan rapat dan baik? Jangan sampai ada yang kelewat dilupakan untuk dikunci," tanyanya Syam sebelum membuka pintu mobilnya.


Syam segera mengalihkan pandangannya ke arah bi Siti. Sedangkan yang ditatap segera mengakhiri lamunannya yang hari-hari terakhir ini ku keseringan melamun memikirkan adik sepupunya itu yang belum balik dari Qatar terakhir kabarnya di Dubai UAE.


"Alhamdulillah semuanya sudah beres dan aman Tuan," jawab Bi Siti yang tergagap karena takut ketahuan dengan apa yang sedang dilakukannya.


"Syukur alhamdulilah kalau seperti itu, yang lain masuk ke dalam mobil saja sambil nungguin Mama kalian," usulnya Syam.


Dewi sudah sampai di depan pintu kamar putrinya, tapi berulang kali juga sudah diketuknya tapi belum juga ada tanda-tanda akan terbuka.


"Ya Allah… apa yang terjadi padamu nak, semarah itu kah kamu kepada kami orang tuamu, sehingga kamu marah dan tidak ingin bertemu dengan kami," lirihnya Dewi yang sudah berulang kali mengetuk pintu kamar putrinya tapi, tidak terbuka.


Akhirnya Dewi pun menyerah juga karena sudah pukul sembilan pagi,dia tidak ingin hanya gara-gara Shanum yang marah sehingga masa depan ketiga anaknya yang lain dipertaruhkan.

__ADS_1


"Mungkin saya harus berbohong demi kebaikan kami bersama, takutnya suamiku akan marah, Aidan juga pasti bertindak tegas pada adiknya jadi sebaiknya saya berbohong mencari alasan."


Sedang di dalam kamar tersebut, seorang gadis meringkuk di dalam bathtub kamar mandi sudah lebih beberapa jam melakukan hal tersebut. Air matanya tak henti-hentinya menetes membasahi pipinya itu.


"Maafkanlah Sha ma, aku sudah mengkhianati kepercayaan kalian, pasti Papa dan Mama akan kecewa jika mengetahui apa yang terjadi padaku, Abang Abyaza aku tidak pantas untukmu lagi, huhu…" keluhnya Shanum yang melihat sekujur tubuhnya yang penuh dengan tanda yang sangat membuatnya jijik pada dirinya sendiri.


Dia menggosok sekujur tubuhnya agar bekas tanda kissmark dari pria yang sama sekali tidak dikenalnya yang berhasil merenggut kehormatan, kegadisan, kesuciannya yang mati-matian selama ini dijaganya.


"Astaauhfirullah aladzim, apa yang terjadi padaku ya Allah… bagaimana jika papa dan mama mengetahui apa yang terjadi padaku, aku sangat malu pada diriku sendiri, aku sudah tidak suci lagi…hiks… hikss, pria mana lagi yang mau menikahiku dalam keadaan seperti ini," ratapnya Shanum seraya terus berusaha untuk menghilangkan tanda merah yang sudah mulai membiru itu.


Shanum berusaha mengingat beberapa kejadian yang dialaminya kemarin hingga ia tidak sadarkan diri. Pagi tadi ketika ia tersadar betapa kagetnya melihat sosok pria yang sama sekali tidak dikenalnya dan diketahuinya berbaring di sampingnya.


Ia terus berusaha untuk meninggalkan tempat terkutuk itu secara diam-diam. Untungnya saat itu penjagaan sedang lengah sehingga Sahnun bisa kabur dan lolos dari sana.


"Ini semua gara-gara pria tua bangka itu yang menganggap aku adalah anaknya, amit-amit aku mengakui dia adalah ayahku karena selamanya dan sampai kapanpun aku adalah putri Syam Abidzar Al-Ghifari selamanya!!" Jeritnya Shanum Du dalam kamar mandi.


Untungnya shower air mengalir sehingga bisa meredam semua aktifitas teriakan yang dilakukan oleh Shanum tidak terdengar.


"Dewi dimana putrimu kenapa tidak ikut bareng bersamamu?" Tanyanya Sam yang celingak-celinguk mencari keberadaan Sahnun anak ketiganya.


"A-nu i-tu Sha tidak enak badan Abang, katanya terlalu capek jadi tidak bisa ikut gabung bersama kita," kilahnya Dewi yang terpaksa berbohong untuk menutupi kenyataan yang ada.


"Sha apa yang terjadi padamu dek, bang yakin kalau ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi padamu, tapi Abang berharap semoga kamu selalu baik-baik saja, pesan Abang jaga dirimu baik-baik karena Abang sudah pergi jauh tidak ada lagi yang mampu menjagamu," tatapan matanya Abya sendu memikirkan adiknya.


"Kalau begitu kita pergi saja kasihan yang lain takutnya mereka terlambat," ujarnya Sam.


Ke delapan orang itu pergi tanpa Shanum, apa yang dilakukan oleh keluarga Dewi diperhatikan oleh seseorang sejak tadi.

__ADS_1


"Kenapa putriku tidak ikut bersama dengan mereka, apa yang terjadi pada Shanum, istriku juga Citra pergi dari kemarin belum balik,apa yang terjadi di sini," keluhnya Pak Hanif Yahya.


__ADS_2