
Setelah kedatangan keluarga besar dari Heri, tidak berselang lama paman dan bibinya Dewi pun datang juga. Mereka mendapatkan informasi itu dari salah seorang perawat yang bekerja di puskesmas tersebut yang kebetulan tetangganya bu Husnah.
Beberapa orang masuk ke dalam ruangan itu yang sudah tidak kondusif lagi dengan raut wajahnya yang sulit diartikan dan ditebak.
Mereka berjalan tergesa-gesa, ada sekitar lima orang yang datang dari penampakan wajah mereka kemungkinan besarnya adalah anggota keluarganya Dewi.
Pak Bambang yang baru saja datang segera ikut menimpali percakapan mereka berniat untuk menengahi perdebatan mereka agar tidak berbuntut panjang.
"Kalau sudah seperti ini kejadiannya,saya selaku pamannya Dewi menyerahkan keputusan terakhir kepada Bu Salma dan nak Heri saja, kami selaku keluarganya Dewi tidak mungkin memaksa kamu nak Heri untuk mempertahankan hubungan kalian walaupun kalian sisa menghitung hari akan menikah," ujarnya pak Bambang Wijayanto.
By Halimah istrinya pak Bambang segera menyentuh tangan suaminya itu, "Bapak kenapa kalian memutuskan pertunangan antara Dewi dengan Heritanpa menunggu kesembuhan Mirah terlebih dahulu agar kita semua mendengar kebenarannya, kalau seperti ini apa Bapak tidak memikirkan kondisi mentalnya Dewi yang sudah kacau dan gimana kalau Dewi sembuh dari penyakitnya dan mengetahui kalau rencana pernikahannya gagal?" Bu Halimah mencoba untuk menghalangi dan menggagalkan rencana mereka.
"Maaf itu bukan urusanku lagi, yang wajib bertanggung jawab adalah pria itu bukan saya karena mulai hari ini saya Heri Hasyim Nurwahid bukan lagi tunangannya Dewi Mirasih Aurellia Khalid dan kalian semua menjadi saksi dari perkataanku!" Tegas Heri yang sama sekali tidak merasa iba melihat ketidakberdayaan Dewi yang masih merintih kesakitan.
Syamuel, Dokter Ilwansyah dan dua perawat sama sekali tidak peduli dengan semua perdebatan dua keluarga besar tersebut. Mereka fokus berupaya untuk menyembuhkan penyakit mental defresi ringan dan trauma yang diderita oleh Dewi.
"Nak Heri bibi mohon tarik semua perkataanmu, apa kamu ingin menentang keputusan dari kakek dan nenekmu, apa kamu juga lupa kalau pernikahan kalian ini karena keinginan mereka, Bibi mohon jangan seperti ini dan tolong pikirkan baik-baik sebelum berbicara," bujuk Bu Husnah adiknya Bu Hasnah adik dari almarhum bapaknya Dewi.
__ADS_1
Syamuel yang awalnya sama sekali tidak peduli dengan nasib malang yang menimpa Dewi Mirasih, hatinya tergerak dan prihatin melihat Dewi yang dilakukan perlakuksn kasar oleh pria yang mengaku dirinya adalah tunangannya.
Samuel berdiri di depan Heri setelah mendorong tubuhnya Dewi, "Katanya kamu tunangannya calon imamnya kelak, tapi seperti ini saja kepercayaanmu terhadap perempuan yang akan kamu nikahi, betul-betul dangkal pemikiranmu, kalau aku jadi dia aku tidak sudi menikah dengan pria brengsek dan kasar sepertimu," sindirnya Syam.
Syam kemudian berjongk di depan Dewi yang terus menangis tersedu-sedu dengan terduduk sambil melindungi dirinya yang serasa akan diserang oleh beberapa orang yang berada di dalam ruangan tersebut.
"Kalau begitu kamu saja yang menikahinya kalau aku tidak akan sudi dan mau menikah dengan perempuan yang sudah berpelukan dengan pria lain di depan mataku, bisa-bisa hidupku sial seumur hidup!" Sarkasnya Heri.
"Benar sekali apa yang dikatakan oleh putraku, silahkan kau yang nikahi perempuan tidak tahu diri itu, saya tidak akan mau menjadikannya menantuku," tambahnya Bu Salma dengan pongahnya mengatakan hal itu.
Syam yang melihat dokter Irwansyah dan dua perawat yang berjaga sedari tadi terus mengawasi pergerakan yang dilakukan oleh Dewi, Syam pun melambaikan tangannya ke arah sahabat sekaligus dokter yang menangani Dewi untuk mencegahnya memberikan obat penenang. Dokter pun mengerti dan segera melakukan instruksi dari Syam.
"Makasih banyak Bu Salma, saya senang dan gembira mendengar Heri memutuskan hubungan pertunangannya dengan Dewi, saya sebagai bibinya pun tidak sudi menikahkan keponakanku dengan pria bejak dan kasar seperti dia! Rugilah hidupnya Dewi jika harus mendampingi pria macam itu bisa-bisa jadi makan hati!" Sarkasnya Bu Hasnah yang kesal dengan hinaan yang dilontarkan oleh Bu Salma dan anaknya.
"Benar sekali,saya juga tidak mau keponakanku menikahi pria kasar seperti seorang pembunuh dan algojo saja, Dewi akan menyesal seumur hidupnya, saya yakin akan hal itu," timpalnya Bu Husnah yang menatap kedua orang itu dengan tatapan matanya yang tajam.
Sedangkan Syam mencegah apa yang akan dilakukan oleh dokter Irman hal itu bertujuan agar Dewi tidak bergantung kepada obat-obatan.
__ADS_1
Dewi reflek mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk," Abang tolong aku yah, mereka semua ingin menyakitiku terutama ibu-ibu dan pria itu, mereka yang ingin menganiayaku hiks… hiks" rengeknya Dewi seperti anak kecil saja seraya menunjuk ke arah Bu Saltma dan Heri yang sudah jelas mantan kekasihnya itu.
Tiba-tiba Bu Salma tertawa terbahak-bahak melihat tingkah lakunya Dewi," Hey Hasnah, Husnah lihatlah keponakan yang kamu banggakan itu yang sedari tadi kamu bela dan lindungi, Dewi itu sudah gila dan tidak waras, amit-amit jabang bayi punya mantu gila!" Sindir Bu Salma.
Heri pria yang selama beberapa tahun belakangan ini disayanginya dengan setulus hatinya malah memperlakukannya dengan kasar. Bu Salma tersenyum penuh kemenangan melihat Dewi yang berperilaku seperti orang yang kehilangan akalnya.
"Semua harus berakhir cukup sampai di sini, jika Dimas menikah dengan perempuan miskin itu semua harta suamiku akan jatuh ke dalam tangannya Heri, sedangkan putraku Heru hanya mendapatkan bagian yang sangat sedikit saja."
Heri segera menggendong tubuhnya Mirah ke atas ranjangnya, sesekali melirik sekilas ke arah Heri dengan tatapan mata yang tajam.
Ibu Salma sungguh tersenyum penuh kebahagiaan melihat perselisihan antara Heri dengan keluarga calon istrinya yang dipilih langsung oleh kedua mertuanya. Walaupun mereka berdua sudah menjalin hubungan sebelum adanya perjodohan.
Dewi memegangi kedua tangannya Syam dan kembali memeluk tubuhnya Samuel yang semakin bergetar dalam tangisannya itu. Pak Arsyad dan rombongannya yang berjumlah enam orang itu hanya melongok tak percaya melihat pertengkaran dan perselisihan antara dua kelurga besar itu. Mereka tidak ada yang ingin ikut campur karena sudah bukan urusan mereka, sehingga memilih diam saja.
Beberapa orang yang tadinya berada di dalam ruangan perawatan berpamitan kepada Paman dan bibinya Dewi, karena sudah larut malam dan mereka akan datang kembali esok harinya untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh Dewi.
Beberapa menit kemudian, Dewi sudah bisa tenang sepeninggal calon suami dan istri mertuanya dan yang lainnya, padahal awalnya sempat histeris melihat kedatangan Heri dan Bu Salma. Dengan segala bujukan dan rayuan dari Syam, pria yang disangka akan bertindak kurang ajar dan telah menganiaya Dewi berhasil menenangkannya.
__ADS_1
"Alhamdulillah perempuan itu bisa tenang, untungnya aku berhasil membujuknya jika tidak urusannya semakin panjang dan berabe," gumam Syam seraya menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Pak Bambang menatap sendu keponakannya yang sudah terbaring di atas ranjangnya,"ya Allah… siapa orang yang telah berniat jahat untuk mencelakai keponakanku?"