
Adisti berjalan cepat ke arah carport mobil dimana sedari tadi mobilnya sudah dipanaskan mesin mobilnya oleh Mamang Abdul.
Adisti tanpa sepatah katapun seperti yang biasa dia lakukan jika bertemu dengan pak Abdul, akan selalu bertegur sapa.
Adisti masuk ke dalam mobilnya, dia mengunci rapat mobilnya dan tidak lupa menyalakan ac ruangan mobilnya itu.
Adisti memukul setir mobilnya saking marahnya, karena pria yang berusaha dia hindari dan lupakan ternyata adalah sahabat baik dari ketiga sepupu kembarnya.
Bugh… bug..
"Sial!! Kenapa pria itu datang ke rumahnya Tante Dewi, kenapa juga mereka saling kenal! Bagaimana ini? Aku tidak ingin apa yang pernah kami lakukan dulu diketahui oleh keluargaku termasuk Papa Syafiq dan Mama Karina, aku terlalu bego ketika aku prustasi cintaku ditolak oleh mas Andrew aku harus melarikan diri ke club dan malam itu…"
Adisti berteriak kencang di dalam mobilnya sambil sesekali memukuli setir mobilnya yang tidak tahu apa-apa dan tidak bersalah sedikitpun.
"Argh!! Sial banget!"
Pak Abdul dahinya berkerut melihat apa yang dilakukan oleh salah satu keponakan majikannya itu. Dia geleng-geleng kepala melihat tingkah lakunya Adisti yang tidak seperti biasanya.
"Anak muda jaman sekarang rada-rada aneh kelakuannya mereka!" Decaknya pak Abdul.
Ade Nugraha menatap kepergian perempuan yang berhasil memantapkan hatinya untuk mengakhiri hubungannya yang tidak sehat itu bersama dengan istrinya yang sudah hampir empat tahun dinikahinya.
Adisty Ulfa Salsabiela aku tidak akan pernah melepaskan kamu lagi. Kamu harus bertanggung jawab padaku telah merenggutnya dariku, tapi dengan seenaknya kamu meninggalkan aku begitu saja.
Ade Nugraha memperbaiki letak kacamatanya sambil seringai licik muncul di sudut bibirnya itu.
Sedangkan semua orang yang berada di dalam ruangan makan, heboh dengan berita kehamilannya Maryam Nurhaliza istrinya Aidan Akhtar.
Shanum menggendong putrinya itu, "Alhamdulillah putriku yang cantik kamu akan segera memiliki teman bermain, aunty Maryam akan memberikan kamu teman," ucapnya Shanum sambil menghujani pipi gembulnya baby Shahnaz.
Dewi memeluk tubuhnya Maryam dengan senyuman bahagianya," selamat yah nak kamu akan menjadi seorang ibu, Mama bahagia banget mendengarnya," ucapnya Dewi.
Maryam tersenyum sembari melepas pelukan mamanya dari tubuhnya kemudian mengelus perutnya yang diperkirakan usia kehamilannya sudah masuk bulan ketiga masih trisemester pertama.
"Makasih banyak Ma, atas semuanya, aku tidak tahu harus berucap apa lagi saking bahagianya diriku ini," ucapnya Maryam yang duduk di salah satu sofa.
__ADS_1
"Kamu tidak boleh banyak beraktifitas, kamu harus kurangin kerja kamu mengingat kehamilan kamu ini masih sangat mudah rentang terjadi sesuatu,"
Bu Rina Amelia menjeda perkataannya kemudian menatap ke arah cucu keduanya,"kamu Aidan jangan sekali-kali menganggu istrimu ini, ingat usia kehamilannya baru dua bulan lebih untuk itu kamu kontrol keinginan kamu untuk meminta jatah dan hakmu sementara waktu, kalau perlu tidak usah meminta dulu kecuali kalau sudah besar perutnya baru lah kau mendekati istrimu," imbuhnya Bu Rina Amelia.
Aidan hanya tersenyum terpaksa karena kebiasaannya dan kegiatannya yang sering dilakukannya harus dihentikan beberapa bulan kedepannya.
Nasib calon papa muda harus menahannya sampai istriku sudah cukup mampu untuk melayani aku lagi.
Abyasa yang melihat adiknya seperti prustasi hanya menepuk pundaknya Aidan. Abiyasa tertawa terbahak-bahak melihat tingkahnya Aidan.
"Ha-ha, Sabar, paling hanya dua bulan saja kamu cuti,lagian masih ada olahraga tangan atau main solo karir mungkin," ujarnya Abiyasa.
Perkataan candaan Abyaza disambut gelak tawa oleh semua orang yang kebetulan berada di dalam ruangan tengah.
"Kamu jaga baik-baik calon cucunya Papa,kamu mungkin sebaiknya cuti beberapa bulan sampai kamu memang benar-benar sanggup untuk kembali bekerja Nak, Aidan ingatkan istrimu untuk perbanyak istirahat dan obat dan vitaminnya harus dikonsumsi setiap hari,apa yang papa katakan kamu pasti sudah paham benar apalagi kamu adalah seorang dokter kandungan," terangnya Syam.
"Enak yah kalau sudah nikah, apalagi mendengar istri sendiri hamil," cercanya Faris Aditama adiknya Adisti.
Pugh!
"Auhhh sakit!" Keluh Fariz.
"Ya elah nenek, aku itu hanya menunggu wisuda saja Nek, aku sudah tamat lagian aku sudah punya pacar kok aku akan kenalkan pada kalian secepatnya," ucapnya Fariz yang berterus terang kepada seluruh anggota keluarganya itu.
"Kamu yah masih kecil sudah punya pacar, kalau kamu berani berbuat nekad awas! Nenek akan menghajar kamu!" Kesalnya Bu Rina.
Fariz segera ngacir dan kabur dari sana sebelum Neneknya bertindak lebih kasar padanya. Dia tidak ingin mendapatkan amarah dan amukan dari kakek dan pamannya.
Astaughfirullahaladzim, nenek kalau marah bisa berbahaya kalau terus tinggal di dalam rumah.
Fariz berjalan ke arah luar dan kembali teringat dengan kekasihnya yang berstatus istri dari pria lain.
Ela kamu memang sudah punya suami tapi, aku tidak masalah menunggu kamu untuk menjadi janda. Aku tidak masalah dengan status kamu kok. Aku akan perjuangkan segalanya demi cinta kita.
Semuanya segera bubar dan kembali melanjutkan pekerjaannya masing-masing. Shaira dan dokter Ade Nugraha segera menuju rumah sakit. Abyasa masih sibuk mengurus mengurus segala sesuatu persiapan pernikahannya untuk dua hari kedepannya.
__ADS_1
Shanum berhenti total dari pekerjaannya dia memilih resign dari perusahaan suaminya sendiri dan fokus untuk mengasuh dan merawat buah hatinya itu. Aidan berangkat bekerja dengan tertunduk lesu. Tapi, demi keselamatan calon bayinya,dia harus sabar menunggu istrinya siap untuk memenuhi tanggung jawabnya seperti biasanya.
Ade Nugraha diam-diam meminta nomor ponselnya Adisty sebelum melajukan mobilnya itu. Kebetulan ketika akan mengemudikan mobilnya kembali, dia melihat Pak Abdul Aziz yang berjaga seringai licik muncul di sudut bibirnya itu.
"Pak Abdul Aziz!" Teriaknya Ade.
Ade segera keluar dari dalam mobilnya dengan tergesa-gesa, setelah merasa sudah cukup aman keadaan di sekitar rumah Dewi Kinanti dan Syamuel Abidzar.
Mamang Abdul yang sedang menyiram tanaman bunganya yang selalu dia jaga dan rawat sepenuh hati. Pak Abdul yang mendengar namanya dipanggil, segera menolehkan kepalanya dan menghentikan sesaat kegiatannya.
"Selamat pagi Tuan Muda, ada apa yah?" Tanyanya mang Abdul sambil membungkuk sedikit tubuhnya di depannya Ade.
Ade membuka kacamata kerjanya itu sebelum menjawab pertanyaan dari pak Abdul.
"Apa saya boleh meminta nomor ponselnya Adisti Pak Abdul, saya lupa tadi memintanya karena dia buru-buru pergi ke kantornya," ucapnya Ade yang terpaksa berbohong demi mendapatkan nomor ponselnya Adisti perempuan kejarannya.
Perempuan yang menjadikan dirinya mantap untuk bercerai, apalagi memang hubungan pernikahannya dengan Sheila hanya sekedar hubungan suami-istri di atas kertas tanpa ada hubungan yang lebih dari itu.
Pak Abdul tanpa banyak bicara dia segera mengambil hpnya di saku celananya dan melap tangannya yang basah dengan kain celananya sebelum mengambil handphonenya itu.
"Ini den Ade, nomor ponselnya Non Adisti," ucap pak Abdul sambil menyodorkan sebuah benda berbentuk pipih ke hadapannya Ade.
Ade secepatnya mengambil hpnya pak Abdul dan menyalinnya kedalam ponselnya itu. Matanya sesekali celingak-celinguk memperhatikan keadaan sekitar,dia takut jika ketahuan.
"Sudah tuan muda Ade," ujarnya Pak Abdul.
"Alhamdulillah, makasih banyak Mang Abdul," ucapnya Ade sembari menyelipkan uang lima lembar berwarna merah ke dalam genggaman tangannya pak Abdul.
"Tapi, Tuan Muda ini apa?" Tanyanya pak Abdul.
"Ini ambil saja, karena sudah lama saya tidak memberikan rezeki untuk bapak," bujuknya Ade dan segera cabut dari tempat itu karena tidak mau ketahuan dengan orang rumah.
"makasih banyak sebelumnya tuan muda," ujarnya Pak Abdul yang sedikit berteriak saking gembiranya mendapatkan uang tambahan hari ini.
Ade hanya menaikkan tangannya seraya mengayunkan tangannya itu dengan senyuman penuh kegembiraan.
__ADS_1
Adisti Ulfah Salsabiela aku sudah menggenggam nomor ponselmu, kamu tidak akan pernah kabur dan menghilang dari duniaku lagi yang sempit ini.
Pak Abdul menatap kepergian Ade dari hadapannya, "Tuan Muda Arion, Tuan Muda Adelio serta anak-anaknya Nyonya Dewi semuanya baik sering memberikan uang bonus," cicitnya pak Abdul.