Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 120


__ADS_3

Vela Angelina sangat bahagia karena bisa Allah SWT kembali mempertemukan dirinya dengan pria yang dulu hingga detik ini masih sangat dicintainya. Seakan Vela Angelina hanya bermimpi saja ketika melihat sosok pria yang dicintainya berdiri dengan tegak di depannya.


"Jadi besok pagi-pagi sekali kita berangkat ke kota Birmingham, ingat setelah shalat subuh berangkatnya jadi sampainya juga cepat, ngomong-ngomong Vela jadi ikut bareng kami kan?" Tanyanya Shaira yang sangat antusias karena setelah enam bulan tidak bersua dengan kekasihnya itu akhirnya memiliki kesempatan dan waktu untuk bersama.


Vela menganggukkan kepalanya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu.


"Insha Allah besok jam 5 kita berangkat, tapi ingat jangan sampai ada yang terlambat so yang terlambat tentu saja tidak ikutan," ucapnya Akhsan.


"Kalau gitu kamu nginap di sini saja,kalau balik ke kosan kamu sepertinya besok kita akan terlambat berangkat. Kalau disini kamu bisa cepat," imbuhnya Shaira.


"Emang rencana aku dari awal gitu kak, ingat besok pagi kita ke Birmingham city jam 5 pagi berangkatnya," ucapnya Akhsan.


Perkataan Ahsan yang menjadi penutup percakapan mereka malam itu. Semuanya cukup lelah setelah bekerja hampir seharian full di luar rumah.


"Besok aku akan memberikan kejutan untuk Abang Hansal semoga saja dia menyukai kedatanganku ke sana," cicitnya Shaira sebelum merebahkan tubuhnya ke atas ranjang king size-nya karena memang mereka tidur bertiga dalam satu kamar.


Suara burung kenari berkicauan di atas ranting pohon menyemarakkan suasana pagi itu. Karena mereka ingin pagi-pagi sekali juga sampainya di kota tujuan mereka. Karena itu lah terpaksa mereka membawa bekal makanan dan minumannya ke dalam bis kota yang mereka pakai.


Untungnya Maryam cepat tanggap dan sigap pagi-pagi sekali masak untuk bekal mereka pagi itu. Mereka bersyukur karena ada orang seperti Maryam Nurhaliza yang selalu bisa mereka andalkan dalam suasana seperti ini.


"Aira setelah selesai kuliahnya kamu di London, apa kamu akan langsung balik ke tanah air atau mau cari kerja disini saja?" Tanya Akhsan.


Tatapan matanya Ahsan terus tertuju pada kaca jendela bus yang di sana terdapat pantulan wajahnya Vela yang memang duduk di kursi bersebelahan dengannya yang berbeda karena kursi sepagi itu sudah hampir terisi full oleh penumpang.


"Insya Allah langsung balik ke Jakarta, aku sudah memutuskan dari awal mau kuliah sudah memutuskan untuk mengabdi di negaraku tercinta Indonesia," jawab Syaira dengan mantap.


"Aku kira kamu akan bekerja di London apalagi mengingat banyak rumah sakit swasta yang menawarkan kamu pekerjaan," pungkasnya Ahsan.


Shaira terlebih dahulu memeriksa ponselnya yang baru saja menerima pesan chat sebelum menjawab pertanyaan dari adik sepupunya itu.


"Nggak kepikiran dan aku tidak pernah berfikir untuk seperti itu, kecuali di Indonesia memang tidak ada tempat untuk aku mengabdi barulah berfikir untuk ke tempat lain, tapi aku sudah lama berpisah dengan mama Dewi dan papa Syam sehingga kedepannya aku tidak ingin berpisah jauh lagi dengan mereka," ujarnya Shaira.


"Iya juga sih, tidak mungkin kita-kita ini tidak dapat pekerjaan sama sekali apalagi di Jakarta itu lowongan pekerjaan sangat banyak jadi tidak perlu khawatir atau risau dengan pekerjaan,"


Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di Birmingham city kota tempat Hanzal Abdul Djailani dan Ariella Ziudith Irwansyah kuliah melanjutkan pendidikannya.


"Alhamdulillah sampai juga, Abang Hanz pasti akan terkejut melihatku lumayan hampir setahun tidak bertemu, kasihan Abang kalau dia yang berkunjung ke London mengingat kesibukkan kami,"


Mereka masih butuh berjalan kaki sekitar beberapa meter dari halte busway yang baru saja mengantarnya untuk sampai ke unit rumah yang ditempati oleh Hanz. Rumah sederhana milik kakek nenek kandungnya Hans.


Vela dan Ahksan berjalan mengikuti Shaira di belakang, sedangkan Shaira Innira berjalan lebih cepat dari kedua pasangan tanpa status jelas itu.


Shaira tersenyum sumringah ketika melihat rumah yang kedua kalinya dikunjunginya selama menjadi mahasiswa salah satu perguruan tinggi terkemuka di London.


Shaira ingin memencet tombol bel tapi, segera diurungkan niatnya karena ia baru teringat dengan kunci cadangan yang pernah diberikan oleh Hans padanya.


Shaira menepuk keningnya dengan pelan," astaughfirullahaladzim kalau aku tekan belnya pasti tidak surprise lagi dong, aku pakai kunci serep yang pernah diberikan oleh bang Hanzal saja,"

__ADS_1


Shaira pun memasukkan kunci cadangan tersebut ke kenop pintu,tapi kuncinya belum masuk benar kedalam lubang handle pintu. Tiba-tiba pintu itu terbuka lebar dari arah dalam.


"Sayang tunggu aku yah aku belikan kamu sarapan dulu!," teriaknya Hans ketika pintu berhasil terbuka yang membelakangi kedatangan Shaira.


Perkataan sang pemilik rumah itu terdengar jelas dari telinga ketiga orang yang baru saja sampai. Kedua pasang netra hitam ketiga orang itu, melihat seorang pria yang berdiri di depan ambang pintu dengan ber tee laan jaaan dada hingga memperlihatkan dada bidangnya. Rambutnya yang acak-acakan menandakan jika baru saja bangun dari tidurnya.


Shaira awalnya sangat gembira dan senang melihat kekasihnya itu, tapi perkataan seseorang dari dalam rumah membuatnya tercengang dan melongok tak percaya dengan apa yang dilihatnya dan didengarnya langsung.


"Sayang! Tidak perlu repot-repot cari sarapan, aku belum puas soalnya," balasnya seorang perempuan muda dengan hanya memakai piyama tidur yang sangat seksi dan transparan.


Shaira melototkan matanya dan menajamkan pendengarannya serta penglihatannya apakah dia tidak salah dan keliru dengan yang dilihatnya atau kah hanya sedang bermimpi.


Hans dan Ariella terperangah dan terkejut bukan main melihat Shaira sudah berdiri di hadapan mereka. Tubuhnya Shaira kaku dan lidahnya keluh seketika melihat apa yang terjadi di depan matanya itu hingga dia mematung.


"Shaira apa Bang Hanz ada di dalam rumah…"


pertanyaan Akhsan pun terhenti dan tidak dilanjutkan melihat adiknya bersama dengan kekasih kakak sepupunya sendiri dalam keadaan yang cukup membuat orang-orang menerka-nerka dan berbagai pertanyaan dan spekulasi akan muncul melihat kondisi kedua muda mudi itu di pagi hari yang baru menunjukkan pukul tujuh pagi.


Vela segera memeluk tubuhnya Shaira yang kaku dan Vela sudah sangat mengerti dan paham betul dengan situasi dan kondisi yang terjadi.


Aksan tanpa sepatah kata pun langsung melayangkan pukulannya ke wajahnya Hans. Ia terus berusaha untuk memukul Hans pria bajingan itu.


"Aksan stop! Jangan seperti ini! Cegahnya Vela.


Sedangkan Shaira malah terdiam saja melihat adegan baku hantam itu Di depan matanya langsung. Hans sama sekali tidak menghindar ataupun melakukan perlawanan. Ariella segera memeluk tubuhnya Hans untuk melindungi Hans dari pukulan kakaknya itu.


"Akhsan Stop!! Jangan sekali-kali Abang memukul kekasihku lagi! Jika tidak Abang Akhsan bukan lagi kakakku mulai detik ini!" Teriak Ariella yang mencoba melindungi tubuhnya Hans.


Ahsan pun menghentikan langkahnya dan menurunkan kepalan tangannya yang sudah siap untuk meninju Hans.


Ahsan menatap penuh amarah adiknya itu," Ariella! Apa kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan ha!! Dia ini kekasih kakak sepupumu dan apa yang kamu lakukan sekarang adalah hal yang tidak baik! Ariella ini kah yang kamu perbuat selama di Inggris hanya datang untuk menjadi wanita penggoda saja!" Geramnya Aksan yang menunjuk ke arah wajahnya Ariela.


Hans menyeka sudut bibirnya yang sedikit sobek dan mengeluarkan darah segar. Wajahnya sedih dan menyesal dengan apa yang sudah terjadi. Ia tidak menyangka jika hubungan gelap dan rahasianya dengan Ariela akhirnya terbongkar juga.


"Saya sangat sadar Abang! Saking sadarnya sehingga saya memberikan segalanya kepada bang Hans,apa yang tidak pernah didapatkan dan diberikan oleh Shaira gadis sok suci itu!" Cibirnya Ariella.


"Astaughfirullahaladzim Ariella apa yang terjadi padamu! Apa kehidupan di luar negeri membuat kamu tidak terkontrol lepas kendali dan liar seperti ini!"


Ahsan mencengkram kuat pergelangan tangan adiknya itu dengan tatapan matanya yang melotot seolah akan melompat keluar kedua bola matanya itu dari tempatnya.


"Hahaha! Abang pemikiran kamu terlalu kolot dan ketinggalan jaman! Hey ini adalah Inggris bukan Jakarta atau kampung halamannya Mama Dina," sarkas Ariela.


Plak…


Ahsan segera menampar pipi kanannya Ariella dengan kuat hingga tubuhnya Ariella terhuyung ke belakang beberapa langkah.


"Aahh!!" Jeritnya Ariella.

__ADS_1


Sedangkan Shaira hanya air matanya yang menjadi yang mewakilkan bahwa hatinya hancur lebur berkeping-keping hingga ia tidak sanggup berkata sepatah katapun lagi.


Vela terus memeluk tubuhnya Shaira,ia pun ikut sedih dan kecewa dengan keadaan yang dilihatnya itu. Vela sangat prihatin dengan apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Hans tersungkur di atas lantai karena Ahsan kembali menendang perutnya Hans dengan kekuatan penuh.


Shaira menyeka air matanya kemudian membuka dan melepas cincin tunangan yang diberikan oleh Hans padanya setahun yang lalu.


"Maafkan saya Abang, tidak bisa menjadi kekasih seperti yang kamu inginkan, mungkin bersama dengan Ariella Abang akan bahagia. Maaf aku balikkan ini cincin yang Abang berikan tahun lalu, hubungan kita cukup sampai di sini saja!" Tegasnya Shaira yang berjalan ke arah Ariella sebelum meninggalkan rumah itu yang pernah memberikan dia banyak kenangan manis.


Plakk…!!


Shaira tak segan-segan menampar wajahnya Ariella bagian kiri.


"Sepertinya tidak adil jika kamu hanya mendapatkan satu tamparan keras bagian pipi kanan saja, jadi aku berikan secara cuma-cuma tamparan satu lagi di bagian kiri!" Ucap Syaira seraya melempar cincin tunangannya ke wajahnya Hans.


Plakk!!


Ariella tidak terima ditampar oleh Shaira yang menganggap kakak sepupunya itu adalah saingannya itu sejak masih dalam kandungan ibunya.


Ariela hendak membalas perlakuannya Shaira tapi, Aira segera memegangi kedua tangannya Ariella.


"Aku tidak merasa sedih karena Bang Hans selingkuh dariku tapi satu hal aku terlalu rugi dan membuang waktu dan tenagaku untuk mencintai pria seperti dia!" tunjuknya Shaira ke arahnya Hans yang terpuruk dan tidak berdaya.


Shaira segera berlari cepat meninggalkan rumah itu,ia berusaha keras untuk menahan tangisannya itu. Vela pun segera mengikuti langkah kakinya Shaira yang berlari kencang meninggalkan rumah penuh dengan kenangan pahit yang terjadi pada mereka.


"Ariella Abang akan sampaikan kepada Mama apa yang sudah kamu lakukan, Abang sangat kecewa dengan sikap tidak bermoral kamu hari ini!" Kesalnya Ahsan.


Ahksan segera berjalan cepat meninggalkan rumah Hanzal dengan berusaha untuk mengejar Shaira dan Vela yang sudah pergi menjauh. sedangkan Hans masih terduduk dengan wajah tak berdayanya. Dia tidak menduga jika kekasihnya Shaira mengetahui keburukannya dan rahasia terbesarnya.


"Aku bego dan terlalu naif sehingga harus melihat langsung gadis yang aku cinta terluka hatinya dan menangis karena kesalahan yang tidak mungkin dan mustahil dimaafkan oleh Shaira. maafkan Abang Aira, ini murni karena kesalahanku yang tidak sanggup menahan godaannya Ariella adik sepupumu sendiri,"


Air matanya Hans terus menerus menetes membasahi pipinya,dia hanya bisa meratapi nasibnya dan kepergian Shaira dari hadapannya dengan raut wajahnya yang sangat jelas terlihat jika kesedihan, kemarahan, kebencian dan dendam itu bersatu menjadi satu bagian di dalam pikiran dan hatinya.


Ariella berjalan tergesa-gesa ke arah kakaknya itu dan menarik tangannya Aksan sekuat tenaga sehingga mau tidak mau Ahsan berhenti untuk mengejar Shaira.


"Hahaha katakan saja pada Mama, Abang memang sejak kecil selalu saja jadi anak mama yang suka mengadu apapun yang saya dan papa lakukan! tapi silahkan saja bang saya sama sekali tidak takut karena semua yang aku lakukan direstui oleh papa bahkan papa mendukung apapun yang saya perbuat, termasuk merenggut, merebut semua yang dimiliki oleh anaknya Om Syamuel Abidzar apapun itu termasuk kekasihnya bahkan papalah yang menganjurkan dan mendukungku," ungkapnya Ariella Ziudith.


Ahsan tidak mengira jika papanya selalu mendukung perbuatan jelek,bejak dan tidak bermoral dan kotor seperti ini. Tubuhnya terhuyung mundur selangkah ke arah belakang.


"Astaughfirullahaladzim, itu tidak mungkin Ariela! kau jangan mengada-ada Abang yakin kamu hanya bohong!" teriaknya Ahsan ketika mendengar kejujuran dari adiknya itu.


"Terserah saja itu hakmu Bang percaya atau tidak saya tidak akan memaksa untuk percaya, tapi satu hal yang perlu kau ketahui jika papa sangat membenci Om Syam dan mencintai Tante Dewi yang lebih cantik dari pada Mama kita," cibirnya Ariela.


Ariela tersenyum penuh kelicikan yang tersenyum meremehkan dan mencemooh melihat Ahsan yang kebingungan dengan fakta yang baru terungkap.


"Stop! Ariela jangan banyak bicara lagi! aku yakin kamu sendiri yang mengarang cerita ini untuk mengadu domba papa Irwan dengan Mama Dina


Ingat akhir bulan yah khusus untuk pembaca setia yang like,baca, komentar setiap hari akan masuk list yang akan menerima sembako dari fania.

__ADS_1


Jadi pantengin terus yah novel recehku ini. Jangan sampai enggak masuk list. ingat akhir bulan akan ada beberapa pembaca setia dari ketiga novelku yang akan dapat pulsa zikit.


Jika ada readers yang baca ketiga novelku setiap hari maka bonusnya tiga kali juga. akhir bulan aku akan umumkan yang dapat.


__ADS_2