
Kalian sudah bahagia di atas penderitaanku selama ini.. aku tidak akan ijinkan kalian bersenang-senang lagi.
Bersiaplah kalian untuk menyambut kedatanganku karena saya akan datang bukan seorang diri, tapi dengan beberapa orang yang tersakiti atas apa yang telah kalian perbuat.
Selama kalian bisa bahagia berbahagialah sebelum aku datang untuk menghancurkan kebahagiaan kalian ini yang sudah menari-nari di atas lukaku ini yang tersayat hingga tak kunjung kering.
Semua ini ulah kamu Syamuel Abidzar Al-Ghifari dan Dewi. Tunggu saja waktu yang tepat kita akan bertemu kembali seperti dulu lagi.
Iringan rombongan pengantin mempelai perempuan dan wanita sudah memasuki area masjid yang didapuk sebagai pelaksana tempat acara akad nikah ke empat kembar tersebut.
Andrew tersenyum melihat kedatangan Shaira bersama dengan anggota keluarganya yang lain.
"Shaira Inshira kamu sangat cantik, ijinkan aku menjadi pengagum rahasiamu, aku akan mencintaimu dalam diamku dan akan menjaga hubungan kau dan kakakku," senyuman yang terlampir di wajahnya yang tampan itu entah mengandung arti kesedihan atau kah kebahagiaan.
Hanya dia seorang yang mampu mengartikan maksud dari senyumannya menyambut kedatangan orang-orang.
"Kak Adelio calon istrimu sudah datang jadi tenanglah,dia sudah berjanji akan menikah dengan kakak," ucapnya Andrew sambil menepuk pundak kakak semata wayangnya itu.
Adelio yang sedari tadi memperhatikan semua kaligrafi dalam masjid tersebut, saking takjubnya sampai-sampai dia melupakan rasa gelisah, khawatir dan ketakutannya yang tidak beralasan itu.
"Alhamdulillah calon pengantin kalian sudah datang, jadi bersabarlah kakak ipar tidak kabur kok," ucap Andre yang bernada bercanda.
Adelio membuang nafasnya dengan cukup keras saking leganya melihat kedatangan perempuan yang sangat dicintainya Du dunia ini, hingga ia rela dan ikhlas berpindah keyakinan dan kepercayaan seperti wanita yang dipuji-pujinya, dicintainya dan disayanginya setulus hatinya itu.
Makasih banyak ya Allah Engkau telah hadirkan dalam hidupku bidadari surgaku.
Suara rebana dan pengiring lagu kasidah sudah berbunyi sejak kedatangan rombongan mereka. Mereka bernyanyi menyemarakkan pernikahan pagi itu yang cukup sangat ramai.
Semua orang berbondong-bondong menyambut kedatangan iringan pengantin. Tak ada satupun yang tidak memuji kecantikan dan ketampanan dari ke dua mempelai wanitanya.
Sama halnya dengan calon pengantin pria, mereka juga begitu tampannya dan mempesona hingga mampu menghipnotis para undangan dari kalangan anak muda, remaja dan dewasa pun menyanjung mereka.
"Alhamdulillah karena kalian sudah datang, bagaimana kalau bersiap saja menikahkan mereka," ucapnya panitia masjid dan beberapa orang pegawai dari kantor urusan agama setempat.
Syamuel dan yang lainnya tersenyum gembira," silahkan Pak Haji Anwar kami sungguh bahagia karena bisa melaksanakan acara akad nikah anak-anak kami di mesjid yang penuh berkah ini," pujinya Sam yang sambil menjabat tangannya Pak Haji Anwari.
"Silahkan masuk, tolong segera atur calon mempelai mana yang akan lebih duluan untuk menikah agar acaranya segera terlaksana, kasihan pengantin yang ada di sini sudah masing-masing tidak sabar menanti acara pernikahan mereka," imbuhnya pak penghulu pak Salim Kamal.
__ADS_1
"Hehehe maafkan kami pak cukup terlambat datang, karena antusias dari para tetangga, teman dan bebas warga masyarakat yang sengaja turut datang bersama kami, sehingga membuat seperti ini," ujarnya Syamil adiknya Sam yang terkekeh sebelum menjawab perkataan dari Pak penghulu.
Hanif Yahya dan Gina Anjani Iswandi pun turut hadir sebagai kedua orang tua kandungnya Sahnum Inshira. Mereka datang khusus ke acara tersebut mengingat, Sahnun sendiri yang memanggil mereka secara khusus.
Keduanya senang dan gembira karena, dipanggil khusus oleh Shanum tanpa melalui perantara apapun untuk hadir diacara putri tunggal mereka.
Acara pertama-tama adalah pembawaan atau pembacaan ayat suci Alquran yang akan dibacakan oleh Shaira dan Maryam sendiri saling bergantian.
Maryam artinya dan Shaira bacaan Al-Qur'annya. Mereka sudah duduk di posisi masing-masing dengan penghayatan dan penjiwaan terhadap bacaan yang akan dibaca oleh mereka.
Semua para hadirin tamu undangan duduk dengan tenang dan diam sambil mendengarkan dengan seksama pembacaan ayat suci Alquran surah an-nisa.
Semua orang terharu dan menitikkan air matanya mendengar begitu indah,merdunya suara keduanya yang saling bersahutan membaca ayat demi ayat.
"Masya Allah putri dan calon menantuku benar-benar buat kami takjub, dengan suara mereka yang merdu hingga membuat hati kami bisa tenang dan damai," pujinya Dewi yang sudah tak kuasa menahan air matanya itu.
Bu Rina Amelia ibu mertuanya menggenggam tangan menantunya itu yang sudah menangis," Alhamdulillah mereka sudah menjalankan dan memenuhi tugas mereka masing-masing dengan baik, mereka pantas bahagia dan mendapat yang terbaik," ucap Bu Rina.
Ya Allah putriku kamu sudah akan memulai hidup baru, berbahagialah dengan pasangan hidupmu terlepas dari masalah cobaan yang Allah SWT berikan pada kalian sebelumnya.
Setelah pembacaan ayat suci Alquran yang dibawakan oleh Maryam Nurhaliza dan Syaira Innira berakhir, dilanjutkan ceramah singkat dari ustadz pendakwah terkenal yang ada di ibu kota Jakarta pusat.
Pak ustadz membawakan b
"Maaf pak Syam ngomong-ngomong dari keempat anak Anda siapa yang akan pertama kali mengucapkan ijab kabul?" Tanyanya pak Fuady sebagai asisten dari kua karena ingin segera menyusun berkas administrasi mereka.
"Insha Allah putraku yang bernama Aidan Akhtar Al-Hakim yang akan terlebih dahulu menikah pak Fuad," jawab Syam dengan penuh ketegasan.
"Baiklah kalau begitu dipersilahkan untuk naik ke mimbar altar bersama calon istrinya agar waktu baiknya tidak habis," imbuhnya Pak Anwar Zahid Ibrahim.
Ibu Tri Rismaharini dan pak Melik Rahmadi sudah membawa putri keduanya yaitu Maryam Nurhaliza untuk bersanding duduk di samping kirinya Aydan.
"Bagaimana para saksi apakah acaranya sudah bisa dimulai?" Tanyanya Pak Fuad.
"Silahkan Pak dimulai apalagi mengingat ada empat calon pengantin kita yang akan menikah," balasnya pak Melik Rahmani papinya Maryam yang keturunan Malaysia India itu.
"Silahkan saja Pak tidak perlu menunda-nundanya lagi karena ini hal yang baik jadi lebih cepat lebih baik," sahutnya Pak Danu Triadji abanya Vela.
__ADS_1
Semua tersenyum mendengar perkataan dari Pak Danu tersebut. Aidan pun sudah duduk berhadapan dengan pak penghulu saling berjabat tangan.
Mas Aidan hari ini kamu akan memulai hidup baru bersama dia. Betapa bahagianya Maryam yang akan menjadi pasangan hidupmu dan akan mendampingi kamu dalam segala hal.
Sedangkan aku akan hidup seperti ini bersama kenangan terbesar dan terindah yang engkau tinggalkan bersamaku disini.
Perempuan yang memakai masker wajah itu mm mengelus perutnya yang sudah buncit. Ia berusaha menahan laju air matanya yang sudah berembun di ujung pelupuk matanya.
Aku tidak ingin menjadi penghalang kebahagiaan kalian. Biarlah aku pergi jauh dari kehidupanmu mas Aidan. Suatu saat aku akan kembali dengan membawa anakmu ini.
Pak Fuadi membantu mereka untuk mengucapkan ikrar janji suci. Pak Melik Rahmany menggenggam tangannya calon mantunya itu dengan kuat dan tatapan mata yang tegas.
"Bismillahirrahmanirrahim saya nikahkan dan kawinkan kau Aidan Akhtar dengan putriku Maryam Nurhaliza Melik bin Rahmany dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas perhiasan 24 karat seberat 25 gram," ujarnya pak Melik wali nikahnyah.
Aidan mengalihkan perhatiannya ke sudut ruangan tersebut karena dia merasa ada seseorang yang terus memperhatikan dan mengawasinya sejak kedatangannya ke dalam Masjid.
Ya Allah kenapa aku merasa Cindy Clarissa datang, entah kenapa feelingku mengatakan dia juga datang.
Tapi apakah hanya perasaanku saja yang terlalu berharap agar aku melihat untuk terakhir kalinya perempuan yang aku cinta itu.
"Hemph, Nak Aidan," cicitnya pak Fuad pak penghulu.
Syam segera membantu menyadarkan Aidan yang tatapan matanya terus tertuju ke sebelah kanannya. Maryam pun mengikuti arah pandang Aidan tersebut. Dia tersentak terkejut melihat apa dilihat oleh calon suaminya itu.
Astaughfirullah aladzim ini tidak mungkin! Saya yakin itu adalah perempuan itu, kenapa dia harus hadir disaat seperti ini ya Allah.
Maryam menyentuh punggung tangan Aidan untuk segera menyadarkannya. Aidan spontan mengarahkan pandangannya ke arah Maryam yang menggelengkan kepalanya itu.
"Maaf," lirihnya Aidan.
"Baiklah silahkan dimulai," ucap Pak Fuad.
"Saya terima nikah dan kawinnya Maryam Nurhaliza Melik binti Rahmani dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" Tegas Aidan dengan penuh keyakinan dan tanpa keraguan sedikitpun walau hatinya sedih.
"Bagaimana para saksi apakah sah!?" Teriak Pak Fuad.
"Sah!!" Teriaknya mereka dengan suara menggema memenuh seluruh sudut ruangan masjid lantai dua itu.
__ADS_1