
Dewi segera menyusui ketiga bayinya secara bergantian. Bu Rina dengan telaten membantu Dewi menjaga cucu-cucunya itu.
"Kasihan mereka Dewi, anakmu ternyata kehausan, pantesan nangis," ucapnya Bu Rina yang menggendong sebentar bayi perempuannya Dewi yang lebih duluan disusui.
"Iya Ma, lihat si adek pas sudah selesai disusui ehh langsung tertidur, mungkin terlalu lapar makanya nangis," pungkas Dewi lagi yang masih menyusui anak sulungnya itu.
"Dewi ngomong-ngomong apa kamu sudah berikan nama untuk mereka nak?" Tanyanya Bu Rina.
"Sepertinya belum Ma, saya tunggu dari Abang Syam saja yang memberikan nama untuk mereka," tukasnya Dewi lagi.
"Mama dengan papamu sebenarnya punya nama yang bagus untuk mereka tapi, kami meminta persetujuan terlebih dahulu kepada kalian apa kah setuju dengan nama pemberian dari kami atau enggak," ungkap Bu Rina.
Dewi memperbaiki posisinya sedikit sebelum menjawab perkataan dari ibu mertuanya itu.
"Kalau saya secara pribadi sih Ma, terserah dari Abang Syam saya nurut apa kata dia saja, kalau mau pakai nama baby dari kalian saya tidak akan permasalahkan karena saya yakin pasti itu nama yang baik yang memiliki arti dan makna yang baik pula," imbuhnya Dewi.
Bu Rina menatap ke arah anak menantunya itu," kalau gitu kita tunggu saja Syam pulang dulu karena, tadi mama menelpon untuk memberikan nama untuk anaknya Nadia juga, Alhamdulillah Nadia terima setelah Syam memberikan penjelasan walau awalnya Nadia bersekukuh tidak mau," terangnya Bu Dewi lagi.
Dewi memegangi punggung tangannya Bu Rina," silahkan cari nama yang baik untuk mereka ma, saya nurut apa kata kalian saja, memangnya sudah ada nama untuk mereka?" Tanyanya Dewi.
Sedangkan pak Gilang sudah duduk di sofa sambil mendengarkan pembicaraan keduanya tanpa ada niatan untuk menimpali percakapan mereka.
"Ini namanya semoga kamu dan Syam menyukainya, ini pilihan Papa kalian loh yang sejak mengetahui kamu hamil sudah beliau carikan dan papa semakin bahagia ketika mendengar anakmu kembar tiga, Abyasa Aktam Samuel, Aidan Akhtar Samuel, Shanum Inshira Samuel dan anaknya Nadia Saira Inara Samuel, gimana dengan nama mereka Nak apa kamu tidak keberatan dengan namanya?" Bu Rina berharap agar nama itu yang dipakai oleh Dewi dan Sam.
Dewi tersenyum simpul," Masya Allah nama mereka cantik-cantik banget ma, pakai nama ini saja jadi pas aqiqahan mereka sudah ada namanya," ucapnya Dewi dengan antusias.
"Mulai hari ini kita sapa mereka dengan namanya, papa yakin suamimu akan menuruti apa yang kamu katakan," timpalnya Pak Gilang Iskandar.
"Paling kakak Abi, kedua Aidan ketiga dede Shanum, Alhamdulillah kedengarannya bagus-bagus Pa," imbuhnya Dewi.
Akhirnya sudah diputuskan oleh keempat orang tersebut dan disahkan oleh mereka setelah kedatangan Syam diantara mereka semua.
Tiga hari kemudian, Dewi sudah dinyatakan bisa pulang ke rumah. Mereka berencana akan mengadakan acara aqiqahan di salah satu panti asuhan terdekat dengan tema kebersamaan. Mereka tidak mengundang sanak saudara kerabat, teman kerjanya ataupun keluarga dari pihak Syam mengingat Dewi adalah istri simpanan saja yang sama sekali tidak diketahui oleh orang lain.
__ADS_1
Bagi Dewi itu tidak jadi masalah selama anak-anaknya dapat pengakuan secara hukum dan agama itu sudah cukup. Dewi bersyukur dan gembira karena kehadiran anak-anaknya sangat dinantikan dan disambut hangat oleh kedua mertuanya itu.
"Alhamdulillah akhirnya nyonya Dewi balik ke rumah juga, rumah sangat sepi selama Nyonya ada di rumah sakit," ucap bibi Jubaidah Laila Sari yang membantu Dewi membereskan kamar tidur ketiga bayinya tersebut.
"Iya benar sekali apa yang dikatakan oleh Bibi Juba, kami sangat kesepian tanpa kalian berdua tapi hari ini pasti rumah ini akan ramai dengan suara mereka bertiga yaitu dua pangeran dan jagoan kecil serta satu putri yang sangat cantik akan menghangatkan dan membuat rumah ini ramai," timpal Bi Minah Aisyah.
Syam tidak henti-hentinya mengecup sekilas keningnya anak-anaknya yang tertidur lelap dalam box bayi mereka masing-masing. Dewi hanya bisa sementara waktu berbaring,rebahan belum bisa banyak gerak mengingat dia habis dioperasi cesar membuat pergerakannya sementara waktu harus terbatas.
Tapi, Dewi tidak mempermasalahkan hal tersebut karena kedua artnya itu cepat tanggap dan lincah jika dalam bekerja sehingga Dewi sangat terbantu mengurus ketiga anaknya yang lumayan tenang,anteng dan tidak rewel.
Keesokan harinya, Bu Rina dan pak Gilang memutuskan untuk pergi ke rumahnya Nadia. Mereka tidak ingin membuat Nadia merasa cemburu dan mengetahui jika Dewi adalah istrinya Syam juga. Mereka akan menginap beberapa hari di kediaman Nadia sampai anaknya selesai diaqiqah.
Setelah acaranya barulah tiba giliran ketiga anaknya Dewi Kinanti Mirasih yang mendapat giliran aqiqah. Syam harus pintar-pintar mengatur waktunya untuk membagi kesempatannya bersama kedua istrinya agar adil dan tidak ada yang dirugikan sekalipun.
"Ya Allah semoga saja saya bisa membagi waktu dengan baik untuk istri-istri dan anak-anakku semoga kehidupan rumah tanggaku ini berjalan dengan baik tanpa ada yang tersakiti kedepannya, karena aku tidak mungkin bisa meninggalkan salah satu dari mereka apalagi mereka sudah memiliki anak,"
"Maafkan saya yah Nyonya Dewi, ini yang terbaik untuk kita bersama semoga saja Bu Nadia bisa menjaga dengan baik bayi perempuan tersebut, karena saya terpaksa mengambil anaknya karena tidak mungkin saya cari anak yang tidak jelas asal usulnya itu untuk nyonya Dewi, rahasia besar ini akan saya bawa sampai mati,tapi cukup saya saja yang mengetahui siapa bayi yang ada dalam gendongannya Tuan Muda Syam,"
Satu bulan kemudian…
Hari ini adalah acara aqiqah baby Saira Inara putri pertamanya Nadia dan Syam sedangkan Dewi harus sabar dan tenang menunggu giliran untuk aqiqah ketiga anaknya itu.
Acara hari itu cukup meriah, mewah dan serta dihadiri banyak tamu undangan. Nadia menginginkan dan meminta kepada Syam untuk merayakan aqiqahan anaknya sangatlah mewah.
Lima hari sebelum acara aqiqahan dimulai, terjadi beberapa kali perbedaan pendapat dan perdebatan mengenai permasalahan pelaksanaan aqiqah antara anak menantu dan mertua. Sam hanya memijit pelipisnya saking pusing menghadapi kenyataan itu.
Awalnya pak Gilang dan Bu Rina menentang keputusan dari Nadia mengingat apa yang diminta Nadia terkesan berlebih-lebihan dan pemborosan. Apalagi mengingat Syam bukan hanya memiliki satu anak saja, tapi empat sekaligus.
"Ini lah yang sering Mama keluhkan jika mengenai dengan Nadia, pasti akan melakukan apapun yang diluar kemampuan Syam putra kita Pa, kenapa Nadia sangat berbeda dengan Dewi padahal mereka sama-sama istrinya Syam," gerutunya Bu Rina yang awalnya menentang keinginan Nadia.
"Mau diapain lagi ma, Nadia adalah istri pilihannya Syam sendiri, kita sebagai orang tua hanya bisa mengarahkan mereka dan memberikan nasehat-nasehat bagaimana mengarungi rumah tangga yang baik sakinah mawadah warahmah, tapi kalau kita sudah menjelaskan semuanya kepada Nadia dan tidak mau menerimanya ya sudahlah, perbanyak berdoa dan tawakal kepada Allah SWT agar Nadia bisa merubah sifat jeleknya itu," harapnya Pak Gilang yang berusaha menenangkan diri istrinya itu yang mengamuk dan menentang keputusan dari Nadia.
Mereka berdua melupakan dimana dan dirumahnya siapa sekarang berada, sampai-sampai melupakan menutup rapat pintu kamarnya yang mereka tempati jika berada di rumahnya Nadia.
__ADS_1
Orang dibalik pintu mengeratkan genggaman tangannya itu saking marahnya setelah mendengar dan mengetahui kenyataan yang sudah beberapa bulan ini berlangsung.
Nadia segera meninggalkan depan kamar kedua mertuanya itu dengan perasaan hati yang hancur, sedih, kesal, amarah yang meletup-letup hingga ke puncak ubun-ubunnya itu. Suara hentakan kakinya cukup panjang dan nyaring. Sedang kedua orang itu sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi di luar sana tanpa sepengetahuannya sedikitpun.
"Tega yah Mas Syam menikahi perempuan pembantu itu! Kenapa ini terjadi padaku!? Apa karena perempuan itu menggoda mas Syam sehingga dinikahin, tapi aku tidak mungkin memaksa mas Syam untuk menceraikan Dewi wanita sialan itu karena mas Syam sudah mengetahui jika saya tidak bisa punya bayi lagi dan rahimku diangkat, sial kenapa harus berakhir seperti ini!" Teriaknya Nadia.
Nadia melampiaskan amarahnya dan kekesalannya itu dengan melempar beberapa benda yang ada di dalam kamarnya.
Prang!!
Bruk!!
"Ahhh!!!"
Dewi melempar apa saja yang mampu diraihnya untungnya kamarnya itu sengaja dia desain kedap suara sehingga apa yang dilakukannya tidak diketahui oleh orang lain.
"Dimana janji-janji manis mu Mas Syam!! dulu kamu katakan padaku aku adalah wanita yang paling kamu cintai dan tidak akan pernah mendua dan selingkuh!!" Jeritnya Nadia yang terduduk di atas lantai keramik rumahnya sambil memeluk bantal.
Air matanya membasahi pipinya itu, ia ingin langsung bertemu dengan Syam tapi,ia juga takut jika ketahuan kelemahan dan kekurangannya. Pasti dia akan akan diceraikan. Hal itu lah yang membuat Nadia serba salah dan pusing.
Apalagi mengingat jika kedua orang tua suaminya sudah sering kali terang-terangan menyatakan jika dia menentang pernikahan Syam dengan Nadia setelah mengetahui sifatnya Nadia yang kerap kali tidak memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang istri.
yang berhak dapat give away kecil-kecilan dari saya Jumat ini adalah:
kakak Yani
Kak Vivi Bidadari
ka Unee Wee
ka Aurizra Rabbani
Mohon untuk inbox nomor hpnya kak.
__ADS_1