
"Mama dan papa menyayangimu setulus hati kami, bagi kami Sha, Abang Abya, Abang Aidan dan dede Aira adalah anak-anaknya Mama dan papa, sampai kapanpun akan seperti itu, jadi Mama minta kepadamu jangan sekali-kali berfikiran yang tidak-tidak," tegasnya Dewi seraya menggenggam tangannya Shanum.
Walaupun hati Dewi sedih, kecewa dan pastinya hancur karena kepercayaannya seperti dipermainkan oleh Shanum putri angkatnya itu, tapi tidak mungkin dia menunjukkan langsung di depan anaknya. Mengingat kondisi psikis dan kesehatannya Shanum yang dijaga oleh Dewi.
"Biarlah rasa sedih dan kecewa kami sebagai orang tuamu kami simpan untuk kami sendiri, agar kamu bisa lebih baik menjalani kehidupan kalian semua Nak,"
Dewi berusaha untuk menahan kesedihannya di hadapan Shanum putri kandung dari sahabat terbaik suaminya.
"Aku tahu apa yang kamu rasakan istriku, tapi aku bangga padamu dan bersyukur memiliki seorang istri sepertimu dalam keadaan sesulit apapun selalu bisa membuat orang tenang dan bahagia padahal jauh di dalam lubuk hati terdalammu kau merasakan kesedihan dan kepahitan yang mendalam,"
Syam memperhatikan setiap gerak geriknya Dewi perempuan yang sudah mendampingi hidupnya kurang lebih dua puluh tahun lebih lamanya tanpa pernah mendengar keluh kesah dari istrinya. Parnert hidup yang begitu setia, sejati, sehati seia sekata.
Wanita yang selalu mendidik anak-anaknya di jalan kebaikan dan kebenaran. Syam begitu bersyukur memiliki istri seperti Dewi Kinanti Mirasih. Karena permintaan dari Sahnun sendiri, Pak Hanif Yahya sebagai ayah biologisnya harus terpaksa dengan berat hati meninggalkan ruangan perawatan VVIP room yang ditempati oleh Sahnum putri kandungnya.
Hanif menyentuh pundak sahabatnya itu sebelum meninggalkan kamarnya Shanum," mas Syam tolong hubungi aku jika butuh sesuatu, atau apapun yang terjadi kepada Shanum kabari aku secepatnya," pintanya Pak Hanif.
"Kamu tidak perlu khawatir dengan keadaannya Shanum, insha Allah dia akan segera sembuh total dari sakitnya, aku berjanji akan mengabari setiap perkembangan kesehatannya Shanum padamu," imbuhnya Sam ketika mengantar kepergian Hanif dari dalam kamar perawatan tersebut.
Hanif memaksakan senyumannya Du hadapan Samuel padahal dalam hatinya sedih dan miris karena kehadirannya ditolak oleh putri kandungnya sendiri yang sudah dibantunya dengan mendonorkan darahnya untuk keselamatan dan kesembuhan Sahnun.
Pak Hanif menatap sendu ke arah ranjang dimana putrinya berada sebelum meninggalkan kamar inap tersebut. Hatinya sedih dan kecewa karena ia tidak dihiraukan dan diperhitungkan serta tidak dihargai kedatangannya, kehadirannya serta kebaikan dan pengorbanan yang telah dilakukannya itu.
"Shanum Inshira mungkin kamu hari ini belum bisa memanggil saya dengan sebutan papar,tapi papa yakin cepat atau lambat kamu juga akan mengerti dengan kondisinya papa yang sungguh sulit beberapa tahun belakangan ini," Pak Hanif terus memperhatikan keadaan anaknya sebelum meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian, Shanum sudah lebih tenang dari sebelumnya. Ia tidak menyangka jika dalam kehidupannya akan mengalami dan menghadapi masalah yang sungguh rumit,pelik dan terbilang membuatnya hidup terombang ambing tak tentu arah.
Dewi dan Syam beristirahat di salah satu sofa yang terdapat di dalam ruangan itu. Sedangkan Shanum sesekali memegangi perutnya yang sudah kembali datar. Ia yakin jika calon anaknya sudah tidak bisa dipertahankan lagi.
"Ya Allah maafkan lah hambaMu ini yang penuh dosa dan salah. Hidupku sudah berlumuran khilaf yang benar-benar membuatku harus hidup dalam dunia penyesalan, ya Allah terimalah taubatku, aku sudah banyak salah terhadap kedua orang tuaku dan diriku sendiri," Sha menyeka air matanya jika kembali teringat dengan kejadian sehari sebelumnya.
Sedangkan Arion yang diultimatum oleh Syam agar tidak muncul di hadapan Syam dan putrinya hanya bisa pasrah dengan keadaannya. Dia tidak ingin memaksakan kehendak kepada Syam dan juga terutama kepada Shanum. Ia tidak ingin kebencian Shanum padanya semakin mendalam.
"Edward tolong awasi apapun yang terjadi kepada wanitaku, ingat jika mereka membutuhkan sesuatu apapun tolong secepatnya kamu kabari saya. Ingat jika dokter memeriksa kondisinya calon istriku cepat sampaikan padaku apapun yang terjadi! Ingat itu apapun jangan sampai terlewat sedikitpun," perintahnya Arion terhadap Edward sang asisten pribadi.
"Siap Tuan Muda, saya akan menginformasikan kepada Anda jika dokter sudah datang memeriksa kondisinya Non Sha seperti yang Anda inginkan," balasnya Edward Chen.
Penolakan yang diterima oleh Hanif Yahya sesungguhnya membuatnya sangat sedih,hancur dan tidak berdaya. Anak yang sedari dulu diharapkan kehadirannya hingga Hanif kiri kanan bermain serong dengan beberapa wanita. Anak gadis semata wayangnya yang terpisah dengannya karena keegoisan dan kesalahannya sendiri.
"Astaughfirullahaladzim ini semua salahku sendiri yang telah berbuat tidak baik sedari dulu, mungkin ini karma yang aku terima gara-gara kesalahan demi kesalahan yang telah aku perbuat semasa mudaku dulu,"
Arion segera meninggalkan klinik bersalin tersebut. Lututnya dan kakinya sedikit kram karena terlalu lama berlutut di hadapannya Samuel sedang Sham sama sekali tidak peduli sedikitpun dengan apapun yang dilakukan oleh Arion pria yang sudah menghancurkan kehidupan dan kebahagiaan putrinya itu.
Tiga hari kemudian..
Kondisi kesehatannya Shanum perlahan membaik berkat pengobatan yang cukup canggih dan modern dengan obat-obatan paten dan pastinya mahal yang disediakan oleh Arion khusus untuk Shanum membuat Shanum sembuh dan pulih lebih cepat dari prediksi dan perkiraan dokter.
Dewi yang melihat Shanum berusaha bangkit dari posisi baringnya segera berjalan tergopoh-gopoh ke arah ranjang dimana putrinya berada.
__ADS_1
"Kalau ada yang kamu butuhkan kamu meminta tolong saja kepada Mama,jangan seperti ini menyiksa dirimu untuk bangun sedangkan tubuh kamu tidak bisa bergerak bebas," ucapnya Dewi seraya membantu putrinya itu.
Shanum hanya tersenyum mendengar perkataan dari mamanya tersebut yang jelas terlihat dari raut wajah yang menyiratkan kekhwatiran, kecemasan dan ketakutan berlebihan.
"Mama tidak perlu repot-repot juga seperti ini selalu membantuku untuk bangun atau apapun itu, insya Allah Sha masih sanggup seorang diri melakukannya," tampiknya Shanum yang tidak enak hati karena sudah beberapa hari ini merepotkan Papa dan Mamanya.
Dewi tersenyum teduh mendengar perkataan sanggahan dari anaknya itu," semua anak-anakku sama sekali tidak pernah merepotkan Mama, ingat kalian tidak mungkin bisa mengatasi semua masalah dalam hidup kau jika tidak ada bantuan dari orang lain, lagian mama juga melakukannya dengan senang hati tanpa terbebani sedikit pun Nak," ujarnya Dewi lagi.
Shanum kembali terdiam karena tidak ada gunanya lagi terus menentang keputusan dan keinginan dari mamanya itu. ia hanya pasrah dengan segala sesuatu pengaturan dari mamanya.
Berselang beberapa jam kemudian, dokter sudah datang kembali untuk memeriksa kondisi kesehatannya Shanum. pintu yang terbuka dan berderit membuat kedua wanita beda usia itu menolehkan kepalanya ke arah pintu.
Keduanya pun spontan tersenyum menyambut beberapa orang berpakaian seragam putih kebesaran pekerjaan mereka.
"Pagi Bu Shanum, bagaimana harinya apakah hari ini cukup baik ataukah ada mungkin keluhan yang dirasakan oleh Bu Shanum?" tanyanya Dokter perempuan yang memakai hijab tersebut ketika sudah berdiri di hadapannya Shanum dan Dewi.
"Alhamdulillah saya baik-baik saja dokter, karena saya selalu mendapatkan pelayanan perawatan yang sangat baik dari dokter dan beberapa perawat sehingga kondisi kesehatannya saya semakin berangsur membaik dok," balasnya Shanum.
Dokter dan dua perawat yang mengekor di belakang dokter tersenyum simpul menanggapi perkataannya dan segala pujiannya yang dilontarkannya Shanum.
"Syukur alhamdulilah kalau seperti itu,kami menjalankan kewajiban kami jadi tidak perlu berterima kasih kepada kami Bu Shanum, kalau begitu apakah sudah siap untuk kembali melakukan cek up kesehatannya di ruang USG?" tanyanya Dokter dengan penuh kelembutan.
Dewi dan Shanum bersamaan menolehkan kepalanya ke arah dokter," maksudnya USG? ini pemeriksaan untuk apa dokter? aku kira semuanya sudah membaik seperti sediakala, tapi kenapa meski harus diperiksa ulang lagi?" tukasnya Shanum.
__ADS_1
"Semuanya akan terjawab setelah diperiksa kembali, karena kami menemukan masalah yang ada di dalam rahimnya ibu Shanum sehingga untuk memastikan bahwa hal tersebut tidak ada makanya harus perlu dilakukan cek rutin," jelasnya dokter tersebut.
"Ya Allah kenapa perasaanku tidak enak setelah dokter mengatakan jika anakku harus kembali melakukan serangkaian tes terhadap rahimnya,'