
"Selamat tinggal Abang Heri Ismail Fatahillah, semoga abang bahagia, saya berharap kita tidak akan ada lagi hubungan kedepannya, aku hanya manusia biasa yang memiliki rasa kecewa dan juga benci, untuk menghindari kebencian ini cuma itu jalan satu-satunya yang paling terbaik," Dewi mengusap air matanya yang tak hentinya menetes membasahi wajahnya.
Dokter Irwansyah tersenyum simpul, "Assalamualaikum Mbak Dewi, gimana keadaannya hari ini apa masih butuh konsultasi dengan saya atau sudah bisa beraktivitas tanpa bantuanku?" Tanya Dokter Irwan yang dua hari ini menangani penyakitnya Dewi.
Dewi dan Bu Husna melihat ke arah pintu tepat kedatangan kedua pria yang masih muda dan cukup ganteng masing-masing memiliki kharismanya tersendiri. Dewi berusaha untuk menetralkan perasaannya yang baru-baru saja menangis.
Matanya yang memerah, hidungnya yang sembab menunjukkan dengan jelas apa yang terjadi padanya.
"Waalaikum salam, saya sudah merasa sehat dan kalau bisa tidak perlu repot-repot membantu pengobatan saya Dokter, saya sudah terlalu merepotkan selama berada di sini Dokter senantiasa membantuku, lagian saya yakin jika saya sudah sembuh tidak perlu minum obat lagi," imbuhnya Dewi.
Dewi tersipu malu mendengar perkataan dari dokter Irwan, sedangkan Samuel hanya terdiam tanpa ikut nimbrung ataupun menyela pembicaraan mereka. Samuel masih sering terheran-heran dengan kejadian yang begitu cepat menimpa dalam hidupnya. Bagaikan roller coaster saja yang dialami oleh Samuel.
Dokter Irwan tersenyum simpul, "Alhamdulillah kalau kamu sudah merasa sehat berarti calon mantennya besok sudah siap untuk menikah," candanya Irwansyah.
"Ini semua berkat kebaikan dokter dan pastinya Allah SWT yang telah memberikan kepadaku kesembuhan, saya tidak tahu bagaimana membalas kebaikan dokter," imbuhnya Dewi yang wajahnya masih memerah dengan pujian dari Irwansyah.
"Kalau calon mempelai prianya apa juga sudah siap menikah dengan gadis kampung tapi kecantikannya melebihi artis ibukota?" Irwansyah bergurau tapi niat sebenarnya ingin melihat reaksinya Syam yang sejak tadi hanya berdiam diri saja.
Syam yang mendengar perkataan dari sahabatnya itu tersentak terkejut mendengar perkataan itu, karena Irwan tidak hanya berbicara tetapi jarinya sedikit mencubit kulit lengannya Syam.
__ADS_1
"Auhh!" Keluhnya Syam.
Dokter Irwansyah tersenyum kemudian mendekatkan wajahnya ke telinganya Syam," makanya jangan kebanyakan melamun, jangan terlalu khawatir dengan hal-hal yang belum terjadi, apalagi apa yang kau takutkan itu belum tentu menjadi kenyataan," bisiknya Irwansyah di telinganya Syam.
Dewi tersenyum tipis dan yang lainnya tertawa cekikikan melihat reaksinya Samuel.
Waktu terus berlalu, keesokan harinya Bu Husna kembali berbincang-bincang dengan Dewi. Bu Husnah merasa sudah waktunya berbicara tentang masalah yang terjadi kemarin, untuk mengetahui bagaimana tanggapannya Dewi.
"Saya bersyukur mendengarnya kalau gitu mbak-mbak silahkan di make up Mbak Dewi ,tapi Ingat harus cantik dari calon pengantin lainnya," ucapnya Dokter Irwan.
Pak Hamid Bambang,Bu Siti Hasnah, istrinya pak Hamid Bu Halimah, Bu Husnah Aminah dan beberapa warga masyarakat yang kemarin malam menggerebek mereka pun menjadi saksi apa yang diperbincangkan keduanya. Semuanya lega karena, pria yang dituduh bertindak menganiaya Dewi Mirasih setuju untuk bertanggung jawab menikahi Dewi tentunya dengan persyaratan yang sudah mereka sepakati.
"Dewi, kalau sudah siap mari ikut bersama kami ke kantor urusan agama KUA kalian bisa memakai beberapa mobil yang sudah aku siapkan di depan," sarannya Dokter Irwansyah sahabat terbaiknya Samuel.
Semua orang mengalihkan perhatiannya ke arah kedatangan dokter Ilman bersama dengan pria yang beberapa menit lagi mengikat hubungan Dewi dengannya dalam tali ikatan suci sakral pernikahan.
Pak Hamid berjalan ke arah pintu menyambut kedatangan kedua anak muda itu "Makasih banyak Pak Dokter atas bantuannya, tanpa dokter mungkin keponakan kami tidak akan berada di titik seperti sekarang ini, bahkan kemarin saya sudah pasrah aja hampir menyerah melihat kesehatan mentalnya Dewi, tapi berkat bantuannya Dokter alhamdulilah Dewi bisa diselamatkan," ujarnya Pak Bambang yang tersenyum penuh kebahagiaan.
Samuel hanya terdiam tanpa berniat untuk menimpali ataupun ikut nimbrung pembicaraan mereka seperti kebiasaan yang dilakukannya yaitu banyak terdiam dengan pemikiran yang tidak ada yang mengetahuinya.
__ADS_1
Irwan membalas tepukan Pak Bambang dengan senyuman," Bapak tidak perlu berterima kasih kepadaku, apa yang aku lakukan sudah menjadi tugas dan tanggung jawabku sebagai sesama umat muslim, untuk menghargai waktu sebaiknya kita berangkat ke kua saja takutnya waktu baik terlewatkan begitu saja, bagaimana calon kakak ipar apa benar yang aku katakan?" Ilman menatap ke arah Dewi yang sejak tadi menundukkan kepalanya ketika melihat Syam dan Ilman memasuki kamar perawatannya.
Setelah persiapan selesai, Dewi segera dibawa ke kantor urusan agama tempat mereka akan menikah sesuai dengan persyaratan yang diajukan oleh Syan. Berselang beberapa menit kemudian, rombongan iringan pengantin sudah menuju ke kantor urusan agama selaku tempat pelaksanaan akad nikah kedua pasangan mempelai pengantin pria dan wanita.
Dewi duduk di kursi jok belakang sedangkan Syam duduk tepat di sampingnya Irwansyah yang bertindak seperti supir pribadi sang calon pengantin.
"Aku tidak mungkin punya pilihan lain lagi untuk menolak maupun menentang keputusan masyarakat dan keluarganya Mirah, aku hanya takut tidak berlaku adil terhadap keduanya ya Allah… ampunilah aku atas segala dosa dan khilaf ku ini," Syam membatin.
Singkat cerita karena perjalanan dari puskesmas ke kua hanya butuh waktu sekitar lima belas menit saja. Rombongan sudah sampai ditempat tujuan mereka semua. Masing-masing mengambil posisi duduk ternyaman mereka. Hanya ada beberapa keluarga inti dan kerabatnya hadir berhubungan pernikahan keduanya dadakan.
"Bagaimana para saksi dan calon memperhatikan pria, apakah acara ijab kabul nya sudah bisa dimulai?" Tanyanya Pak Penghulu yang ditunjuk khusus untuk menikahkan mereka.
"Saya siap Pak kalau bisa dipercepat karena saya harus kembali ke Jakarta setelah ini," pintanya Syam dengan tegasnya.
"Bagaimana Pak Syam apakah sudah siap untuk memulai ijab kabulnya?" Tanyanya Pak Penghulu.
"Insya Allah saya sudah siap Pak," jawabnya Syam dengan pelan.
"Bagaimana Pak Bambang apa saya sudah bisa memulai pernikahannya, karena Bapak sudah mewakilkan dan menyerahkan tanggung jawab kepadaku untuk menikahkan dan perwaliannya keponakannya Bapak kepadaku," ujarnya Pak Anwari.
__ADS_1
"Silahkan Pak, saya sudah menyerahkan sepenuhnya kepada Pak Penghulu saja untuk menikahkannya, karena saya kurang enak badan pak, suaraku agak serak dan tenggorokanku juga sakit jika dipaksakan," pungkasnya Oak Hamid Bambang.
"Silahkan dilanjutkan saja Pak Penghulu," pungkasnya Pak Arsyad selaku RT setempat sudah ikut menimpali percakapan mereka.