Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 20


__ADS_3

Dewi Kinanti Mirasih dan Samuel Abidzar Al-Ghifari berjalan masuk ke dalam Mall. Mereka berjalan seperti biasanya, tidak tercipta kemesraan dan keromantisan di dalamnya.


"Dewi, kita makan dulu atau mau belanja bulanan?" Tanyanya Syam tanpa melihat ke arah Dewi yang takut jatuh ke dalam pesona kecantikan alami yang dimiliki oleh Dewi.


Dewi melirik sekilas ke arah Sam suaminya itu," belanja saja dulu Abang, makannya belakangan," jawabnya Dewi.


Setelah itu tidak ada lagi perbincangan atau pembicaraan diantara mereka yang tercipta. Dewi dan Syam sama-sama sibuk berjalan mencari toko swalayan yang menjual beberapa macam bahan-bahan sembako dan kebutuhan pokok lainnya.


"Kamu saja yang belanja aku tunggu kamu di kursi panjang itu, kalau ada apa-apa kamu telpon saya saja," usulnya Syam yang berbelok kanan tepat di depan jalan masuk.


"Maaf saya belum tau nomor hpnya Abang," ucapnya Dewi dengan malu-malu.


Syam yang mendengar perkataan dari istrinya itu segera meraih hpnya Dewi dan menekan tombol kontak hpnya Dewi. Sang pemilik hp pun langsung terdiam mematung menunggu apa yang akan dilakukan oleh Syam selajutnya.


"Ini nomor hpku Ingat jika tidak penting jangan sekali-kali hubungi nomor ponselku, ini kartu ATM kamu bisa pakai," ujarnya Syam sambil menyodorkan sebuah kartu ATM berwarna hitam ke dalam genggaman tangannya Dewi.


Selama Syam ada di Jakarta mereka berhubungan lewat komunikasi jarak jauh itu selalu melalui dokter Irwansyah. Lagian Dewi mana berani menelpon ataupun mengirimkan pesan chat singkat ke suaminya mengingat statusnya sebagai istri pertama rasa simpanan itu.


Dewi tidak mungkin menghubungi nomor hpnya Syam yang memang tidak pernah ia minta. Irwansyah yang selalu sebagai penyambung lidah komunikasi pasangan suami istri itu.

__ADS_1


Dewi menyodorkan kembali kartu anjungan tunai mandirinya ke tangan pemiliknya dengan lembut dan hati-hati agar Syam tidak salah paham.


Dewi tersenyum lembut ke arahnya Syam, "Abang ambil saja atmnya, saya kan punya tabungan sendiri bang,setiap bulan Abang kirim uang ke rekeningku, Alhamdulillah isinya lumayanlah banyak untuk dipakai belanja, jadi Abang simpan saja atm-nya." Tolaknya secara halus Dewi tidak ingin menyinggung perasaannya Syamuel.


"Tidak apa-apa kamu pakai saja, tolong jangan menolak niat baikku jika kamu menolak aku tidak akan pernah bisa memenuhi tanggung jawabku padamu, lagian uang yang aku transfer untuk kamu setiap bulannya itu sangat kecil dibandingkan dengan yang aku berikan pada Nadia di Jakarta, jadi pakai saja jika kamu menolak lagi Abang balik malam ini juga ke Jakarta!" Tegasnya Syam.


Syam hanya sesekali menatap ke arah wajah dan matanya Dewi. Entah kenapa seolah Syan tidak memiliki kemampuan untuk memandangi wajahnya Dewi. Padahal berapa kali pun melihatnya tidak akan ada fitnah dan salah di dalamnya.


"Baiklah kalau begitu, tapi aku minta ijin terlebih dahulu mungkin akan banyak yang aku belanja Abang, soalnya garam, bumbu dapur apapun itu sama sekali belum ada dan aku berniat untuk beli banyak stok persediaan bulan ini agar tidak bolak balik swalayan saja, tidak apa-apa kan bang aku belanjanya agak banyak," Dewi tidak enak kepada suaminya karena dia kalau belanja seperti itu.


Dewi akan membeli semua kebutuhannya dalam sebulan, sehingga ia tidak akan mengalami kekurangan salah satu bahan pokoknya dalam waktu yang tiba-tiba tanpa sengaja.


"Tidak apa-apa, kamu silahkan belanja apa saja, insya Allah uang yang ada di dalam kartu itu tidak akan habis walaupun kamu belanja untuk setahun juga tidak masalah," ujarnya Syam.


Mulai dari bumbu dapur yang tidak ada di jual di pasar tradisional dia beli. Baik itu bumbu instan ataupun bumbu belum siap saji sudah berada di dalam troli keranjang belanjaannya.


Dewi asyik memilih dan memilah barang-barang apa yang harus dibeli atau tidak. Ia juga mengingat beberapa perlengkapan mandi untuk dia dan juga untuk Dinar adiknya yang besok setelah kepergian Syam kembali ke Ibu kota Jakarta, barulah menjemput adiknya itu.


Dewi melewati stand yang menjual pakaian dalaman khusus perempuan dan melihat begitu banyak model yang bagus dengan kualitas yang bagus pula. ia pun membelinya dengan beberapa merk dan model. karena hanya pakaian dalam wanita yang belum ada di dalam rumah yang baru dibeli Syam khusus dan spesial untuk istrinya seorang.

__ADS_1


"Aku beliin Abang juga, agar tidak terlalu repot-repot bawa dari Jakarta jika ke sini, tapi ukurannya apa yah dan warna yang disukainya?" gumamnya Dewi sambil memeriksa beberapa under wear khusus untuk cowok.


Hingga suara dering dan getar hpnya berbunyi. Dewi pun segera mengambil hpnya yang terdapat di dalam handbagnya itu.


"Tolong belikan aku underwear dengan ukuran XL, merek apa saja yang penting nyaman dipakai," itu isi pesan chatnya Syam yang baru saja masuk ke dalam ponsel pintarnya.


Dewi memperhatikan sekitar ruangan swalayan itu dan celingak-celinguk mencari keberadaan Syam yang dikiranya ada di sana yang kebetulan melihatnya itu.


"Kebetulan banget, Abang belum aku chat sudah chat duluan serasa dia sedang memperhatikan dan melihat apa yang aku lakukan di dalam sini," cicitnya Dewi yang segera mencari apa yang diminta oleh suaminya itu.


Dewi berharap ia tidak keliru dan salah mengambil pesanannya Sam. Sudah ada dua troli belanja yang berada di depannya Dewi yang sesak dan penuh dengan berbagai jenis dan macam mrek barang kebutuhan sehari-harinya.


Antrian yang cukup panjang di sekitar tempat kasir membuat Dewi bisa beristirahat sebentar, walaupun hanya berdiri saja. I sesekali memeriksa daftar list belanjaannya,apa semuanya sudah lengkap dan tidak ada yang terlewati.


"Alhamdulillah semuanya sudah ada dan beres, lumayan lelah juga, andaikan Dinar ada pasti capeknya enggak segini juga," keluhnya Dewi.


Sam sibuk bermain game di hpnya, sesekali Ia memeriksa bebas pesan chat yang masuk ke dalam hpnya itu.


"Tumben banget Nadia tidak mengirimkan chat padaku, biasanya setiap jam pasti bertanya sudah makan belum, sudah sholat atau bertanya kapan pulang ini satupun chat yang masuk tidak ada darinya, padahal nomor wa nya aktif online," lirihnya Syam yang juga merindukan sosok Nadia Yulianti disisinya.

__ADS_1


Senang rasanya punya dua istri di tempat yang berbeda. Yang selalu menjadi beban pikirannya Sam adalah, apakah dia mampu berlaku adil terhadap kedua istrinya itu.


"Ya Allah... tuntunlah aku selalu agar aku tidak salah jalan dan berikan aku kekuatan untuk berlaku adil kepada kedua istri-istriku, jujur saja aku mulai mencintai Dewi, aku munafik jika tidak tertarik pada perempuan cantik alami, polos dan sebaik Dewi."


__ADS_2