
Shaira segera berjalan cepat ke arah lift. Dia tidak ingin dihari pertamanya bekerja harus datang terlambat.
Semoga saja saya belum terlambat, berharapnya Pak Dirut bukan bapak-bapak yang suka marah-marah yang kepalanya botak dan perutnya buncit seperti yang ada di komik.
Shaira segera berjalan ke arah luar ketika pintu lift terbuka. Ia berjalan ke arah seorang perempuan yang duduk di depan meja kerjanya sambil bekerja di depan layar komputernya.
"Pagi Bu, maaf apa Pak direktur utama ada?" Tanyanya Shaira yang tersenyum ramah.
"Maaf apa Anda sudah ada janji sebelumnya dengan bapak?" Tanyanya balik seorang perempuan yang kira-kira usianya lebih tua dari Shaira.
"Saya mendapatkan surat panggilan seminggu yang lalu dan disuruh menghadap hari ini," jawabnya Shaira sambil menyodorkan sepucuk surat tugas yang dia dapatkan satu minggu yang lalu.
Wanita itu segera membuka amplop yang dibawa oleh Shaira. Ia membaca dengan teliti tulisan yang ada di dalam kertas tersebut.
"Anda sejak tadi ditunggu oleh bapak Dirut, silahkan masuk Mbak," pintanya wanita itu.
Shaira tersenyum simpul sebelum menjawab perkataan dari sang sekretaris," makasih banyak,"
Shaira berjalan ke arah pintu dan hendak memutar kenop pintu tersebut, tapi segera terhenti karena pintu itu sudah terbuka lebar dari arah dalam. Keluarlah seorang perempuan dengan pakaian yang cukup seksi membuat Shaira melongok melihat penampilan wanita itu.
Astaughfirullahaladzim ya Allah, apa perempuan ini juga seorang dokter. Tapi penampilannya akan membuat mata pasien katarak bukannya sembuh malah menimbulkan banyak penyakit baru.
Perempuan itu berhenti sejenak dan melirik sekilas ke arah Shaira dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Shaira.
Dimana aku pernah melihat gadis berhijab ini, entah kenapa aku berasa sangat familiar dengan wajahnya.
__ADS_1
Perempuan itu kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda karena memperhatikan dengan seksama Shaira.
Perempuan itu menutup mulutnya ketika berhasil menemukan jawabannya setelah memutar otaknya untuk berfikir mengenai Shaira.
Dia kan gadis cantik berhijab yang gara-gara dia Adelio meninggalkan Inggris London dan ke Indonesia untuk mengelola rumah sakit kecil ini.
Adelio juga berpindah keyakinan dan kepercayaan mengikuti jejak cara hidupnya perempuan muda ini.
Memang cantik dan wajarlah Adelio rela meninggalkan harta kekayaan, kekuasaan, martabat dan kehormatannya dengan gadis manis dan rupawan ini.
Aku saja yang melihatnya cukup tertarik padahal hanya melihatnya dengan sepintas lalu saja.
Perempuan itu kembali berhenti berjalan dan menatap Shaira yang masuk ke dalam kantor direktur utama pemilik rumah sakit sekaligus pemegang saham mayoritas tertinggi di rumah sakit itu.
"Maaf Mbak, kamu kenal enggak dengan perempuan berhijab cokelat tadi?" Tanyanya Fransiska Ferdinand.
Sekretaris Dirut itu melihat ke arah yang ditunjuk oleh Fransiska, "Ohh Mbak itu yah, kalau itu dokter baru di rumah sakit kita ini, hari ini hari pertama dia bekerja di sini Bu dokter baru lulusan dari Oxford university bulan ini," balasnya perempuan yang disapa dalam kesehariannya dengan nama Jasmin Kurniawan.
"oh gitu, makasih banyak atas informasinya, kerja yang bagus, selamat bekerja yah maaf sudah ganggu aktifitasnya," tukasnya Siska.
"Sama-sama Bu, tidak apa-apa kok santai saja," timpalnya Siska.
Siska menatap intens pintu yang sudah tertutup rapat itu.
Pantesan diperjuangkan mati-matian gadis itu memang layak menjadi istri sekaligus pendamping hidupnya Adelio Arsene Smith.
__ADS_1
Shaira mengetuk terlebih dahulu pintu ruangan direktur sebelum masuk.
"Selamat pagi pak direktur," sapanya Shaira.
"Selamat pagi juga, silahkan duduk," balasnya direktur utama itu tanpa mengalihkan perhatiannya dari atas kertas yang sedang diperiksanya itu.
Shaira masih berdiri dan tidak mau duduk karena tidak dipersilahkan untuk duduk oleh yang punya ruangan. Shaira menatap intens pria yang memakai kacamata kerja yang bertengger di hidung mancungnya itu.
Adelio melirik sekilas ke arah kursi yang ada Dy depannya ternyata masih kosong melompong.
Dokter muda itu kemana perginya, kok kursinya masih kosong yah?
Adelio segera mengarahkan pandangannya ke arah Shaira yang masih berdiri itu. Hingga senyuman lebar tersungging di sudut bibirnya itu.
Alhamdulillah makasih banyak ya Allah aku bisa bertemu kembali dengan gadis kecilku.
Shaira Inshira Abidzar Al-Ghifari akhirnya kita dipertemukan kembali seperti dulu lagi.
Saya akan buktikan kepada kakak dan kedua orang tuamu, jika saya benar-benar layak menjadi pendamping hidupmu kelak.
Adelio segera memakai kacamata hitam dan berpura-pura tidak saling kenal tetapi, malah dia kembali melanjutkan pekerjaannya itu.
"Silahkan duduk ibu, maaf saya melupakan untuk mempersilahkan Anda untuk duduk," ucap sesalnya Adelio.
Shaira cukup dibuat terkejut ketika melihat wajah dari pria yang memakai kacamata itu.
__ADS_1
"Pak Adelio," sapanya Shaira.