Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 136


__ADS_3

"Astaughfirullahaladzim kenapa seperti ini?! Kalian pasti salah menduga tentang Papa aku yakin papa tidak seperti yang kalian pikirkan!" Teriaknya Arabela Aqila anak bungsunya Dina di hadapan ibunya langsung.


Dina hanya menatap nanar putrinya itu, lidahnya keluh seketika tak mampu berucap sepatah katapun lagi.


"Ara, nenek berharap kamu tidak seperti kakakmu yang lainnya menghalalkan segala cara untuk mendapatkan pria yang sudah jelas-jelas tunangan dari saudarinya!" Sarkasnya Bu Rina Amelia.


"Mama sudah cukup, kasihan Vela dia masih shock dengan kenyataan ini, kita sebaiknya mencari solusi yang terbaik untuk permasalahan mereka bukan menghakimi!" Tegasnya Syam.


"Iya ma sudah cukup kasihan Dina dan juga temannya Aira, Maryam yang baru saja datang ke rumah tapi malah disuguhi dengan drama keluarga yang tidak ada habisnya," tukasnya Dewi yang terduduk di sampingnya Maryam.


"Jadi apa yang seharusnya kita lakukan, apakah membiarkan semuanya begitu saja dengan melihat kesalahan dari Irwansyah dengan berpangku tangan!? Gimana kalau hari ini ketahuan Ariela Ziudith yang merebut calon suaminya Syaira cucuku, gimana kalau besok suaminya Shanum lagi yang digoda oleh putrinya yang lain!" Cibirnya Bu Rina.


Semua orang terdiam memikirkan segala sesuatu perkataan dari orang yang paling tertua di dalam ruangan itu. Dan tatapan mata mereka tertuju pada Arabela Aqila saudari kembarnya Ariella.


"Maafkan saya bukannya menghina ataupun menghakimi perbuatannya Ahsan karena aku yakin semua orang pernah keliru dan salah dalam melangkah, tapi perbuatan Ariella sungguh di luar batas ambang toleransiku sebagai neneknya Shaira! Apa masuk akal jika seorang gadis yang masih muda memikirkan segala cara untuk merebut calon suami dari saudarinya itu, atau jangan-jangan semua ini terjadi karena memang disengaja oleh Irwansyah untuk selalu menjatuhkan dan membuat keluarga Samuel dalam masalah!" Ucapnya Bu Rina mencemooh ke arah Dina dan Arabela.


Setelah berbicara seperti itu satu persatu tamu undangan pulang ke rumah masing-masing setelah mereka menyantap menu makan siang yang tersaji di atas meja prasmanan.


Amber segera membersihkan seluruh sisa-sisa bekas acara kejutan syukuran menyambut kedatangan kembali Syaira dan Maryam Nurhaliza. Bu Siti tidak menyangka jika pernikahan Dina hanya kedok belaka dari dokter Irwansyah yang selalu mengejar Dewi.


"Dina tolong hubungi putramu Ahsan untuk bertanggung jawab mengenai masalah kehamilannya Vela Angelina kasihan dia dan kedua orang tuanya jika harus berlama-lama hidup dalam keadaan seperti ini," ucapnya Bu Rina sebelum meninggalkan kamar tamu.


Bu Rina hanya menggelengkan kepalanya melihat Dina dan putri bontotnya itu yang masih terduduk di atas sofa. Air matanya berusaha ia tekan dan tahan agar tidak keluar, tetapi sekuat apapun air mata itu terus membanjiri wajahnya.


Beberapa jam kemudian, suasana rumah kediamannya Syamuel sudah sepi dan kembali seperti semula. Kedua pasang suami istri itu sudah balik ke rumahnya. Yaitu Bu Fina ibundanya Vela dan abinya Vela pun sudah pulang.


"Ijinkan Maryam bersama kami beberapa hari menginap di rumah kami sambil menunggu kepulangan Ahksan Khaidir dari Inggris," pintanya Dewi.


Vela hanya menganggukkan kepalanya itu yang bibirnya tidak mampu berucap sepatah katapun.


"Astaughfirullahaladzim ya Allah kenapa bisa sampai aku hamil? Kami juga melakukannya hanya beberapa kali saya juga sudah meminum obat pencegah kehamilan, kenapa harus menjadi kacau seperti ini," sesalnya Vela.


Maryam memeluk tubuhnya Vela yang bergetar dalam tangisannya yang tidak bersuara itu.


"Sudah jangan seperti ini, kalau menurut aku semua manusia pasti pernah berada dititik terendah dalam kehidupan, tapi alangkah bijaknya jika setiap permasalahan ataupun ujian yang terjadi dalam kehidupan kita ini wajib kita ambil hikmahnya, Vel kamu yang sabar yah insha Allah Ahsan pasti bertanggung jawab padamu," imbuhnya Shaira sebelum berpamitan kepada kedua sahabatnya itu.

__ADS_1


Tinggallah Maryam dan Vela di dalam kamar yang dipakai sebagai khusus kamar tamu itu. Kedua gadis itu tidak ada yang berbicara sedikit pun.


"Bagaimana kalau mereka juga mengetahui apa yang terjadi antara Cindy Clara dengan Abang Aidan apakah mereka juga akan mendesak soal mengenai kehamilannya Cindy, bagaimana sudah dengan nasibku apakah mereka akan memaksa Aidan untuk menikahi perempuan itu" Maryam menggenggam erat kepalan tangannya itu.


Keesokan harinya, bibi Siti dan Amber Rosemalia serta Bu Rina dan Dewi tentunya sudah sibuk di dapur untuk menyiapkan semua persiapan untuk menyambut anggota keluarganya Desta Alamsyah. Pria yang berencana untuk melamar dan mempersunting Shanum Inshira.


"Dewi apa makanan tambahan yang kamu pesan sudah sampai atau belum?" Tanyanya Bu Rina ketika memeriksa beberapa makanan tersebut.


Dewi menolehkan kepalanya ke arah ibu mertuanya itu," Alhamdulillah sudah sampai Ma, makanan penutup juga sudah sampai," jelasnya Dewi.


"Amber kamu cek kakakmu apa dia sudah siap atau belum? Takutnya belum siap sedangkan calon suaminya dan keluarganya sudah dekat dari sini," perintahnya Dewi.


"Iya Tante Dewi, perintah siap dilaksanakan," balasnya Amber Rosemalia.


Shahnum di dalam kamar ditemani oleh Shaira dan Maryam, sedangkan Vela masih dalam kondisi lemah sehingga ia bedres di dalam kamarnya. Setiap beberapa menit pasti akan mual-mual dan muntah jika hidungnya mencium aroma yang kurang sedap seperti bumbu masakan ataupun parfum.


Beberapa menit kemudian, iringan rombongan lamaran dari Desta Alamsyah sudah datang. Mereka pun sudah duduk di dalam ruangan yang sudah khusus dipersiapkan.


"Selamat datang Bu Karisma dan Pak Gilang kami sangat tersanjung kalian datang mengunjungi rumah kami ini," sapanya Bu Rina.


Tetapi, entah kenapa raut wajah mereka yang hadir tak enak dipandang mata. Dewi dan Syam saling bertatapan satu sama lainnya dan mengerutkan keningnya melihat sikap kedua orang tuanya Desta.


"Mari masuk maaf rumah kami ini sangat sederhana Pak dan ibu sekalian," tuturnya Dewi.


"Alhamdulillah kalian nyadar diri juga rupanya jika kalian ini tidak selevel dengan keluarga besar kami!" Sarkas Bu Karisma.


Semua orang terkejut mendengar perkataan dari Bu Karisma sedangkan Desta malah hanya terdiam saja mendengar perkataan dari ibunya itu.


Beberapa orang yang ikut dalam rombongan pun hanya terdiam mematung tanpa ada niatan untuk menyela ataupun menyanggah perkataannya dari ibu Karisma.


"Maksudnya apa yah Bu Karisma yang terhormat!?" Balasnya Bu Rina yang tidak menerima perkataan dari calon besannya itu.


Sedangkan di luar sana, seseorang dibalik kemudi mobilnya sejak tadi memperhatikan apa yang terjadi di dalam rumahnya Dewi dan Syam.


"Bagaimana Tuan Muda apa kita sekarang bertindak?" Tanyanya John Terry anak buah kepercayaannya itu.

__ADS_1


Sang Tuan Muda hanya menaikkan tangannya sambil menggoyangkan di depan anak buahnya itu. John mengerti dengan arti dari lambaian tangan bosnya itu dan segera mundur beberapa langkah.


"Maaf bukannya Anda datang kesini untuk melamar anak keponakan kami Shanum Inshira, tapi kenapa malah berbicara seperti itu pada kami Bu?" Tanyanya Samil adiknya Syam.


Bu Karisma terkekeh mendengar perkataan dari Syamil yang tidak duduk seperti tamu yang lainnya, "Haha pak Syamil terlalu polos sepertinya, saya tidak perlu repot-repot berbasa-basi lebih lama lagi, saya langsung saja pada intinya maaf kedatangan kami kesini bukanlah niat untuk melamar Shanum tapi kami ingin memutuskan pertunangan antara putraku yang luar biasa bernama Desta Alamsyah dengan putri Anda yang bernama Shanum Inshira yang mandul itu!"


Jedeer…


Semua orang terkejut mendengar perkataan dari Bu Karisma. Dewi dan Syam serta kerabatnya yang lain dan pak Hanif Yahya papa kandungnya Shanum yang juga hadir cukup tercengang mendengar perkataan ibu Karisma.


"Apa maksudnya ibu mengatakan seperti ini? Ini penghinaan Bu Karisma dan Anda menuduh cucuku mandul! Dari mana asumsi dan anggapan yang tidak mendasar ini! Apakah Anda sadar jika ini adalah suatu tuduhan dan fitnah!?" Tegasnya Bu Rina yang memang sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi pada cucunya itu.


"Hahaha lucu yah masa sih kondisi cucunya sendiri tidak diketahui! Kalau seperti ini sebutan nenek pada anda perlu dipertanyakan!" Gunanya Bu Karisma.


Sedangkan pak Gilang hanya terdiam melihat sikap kasar istrinya itu. Sedangkan Desta yang ingin menentang perkataan dari mamanya itu tidak mampu berkutik sama sekali.


Bu Rina menatap tajam ke arah Syam dan Dewi yang hanya menundukkan kepalanya itu.


"Ibu Karisma kalau Anda tidak ingin menikahkan putra Anda dengan Shanum tidak perlu bicara panjang lebar dan mempermalukan kami, dengan mencari alasan yang tidak masuk akal!" Balas Karina istrinya Samil.


"Maaf saya sama sekali tidak menghina kalau kalian ingin mempertanyakan kebenaran ataukah hanya isapan jempol semata yang hanya saya menuduh dan menghina tanpa alasan dan bukti nyata tanyankanlah pada pak Syamuel, bukankah begitu Pak Syam?" Teriaknya ibu Karisma.


"Stop ibu Karisma!!" Teriak Shanum yang menuruni tangga bersama dengan Shaira dan Maryam.


Shaira memegangi tangannya Shanum seraya menggelengkan kepalanya itu. Shaira berusaha untuk membujuk Shanum kakaknya untuk tidak meladeni sikap tidak sopannya Bu Karisma.


"Tidak perlu seperti itu juga saya memang tidak pantas untuk bersanding dengan putra Anda yang terhormat dan suci ini! Ingat lah dari awal jika saya selalu menolak putra Anda untuk melamarku,tapi anak Anda sendiri yang bersikeras untuk menikahiku karena aku sadar dengan kekuranganku, jadi aku mohon dengan sangat pergilah dari sini beserta rombongan Anda," ucapnya Shanum sembari menangkupkan kedua tangannya ke depan dadanya itu.


Bu Rina menitikkan air matanya karena sangat malu dengan penghinaan yang orang-orang berikan kepada anak dan cucunya itu. Dewi memeluk tubuh mertuanya yang berusaha untuk tegar. Sedangkan Sam berusaha untuk menahan emosinya yang sebenarnya sudah sampai di ubun-ubunnya.


"Baiklah kami akan pulang dan satu ucapan ku untuk kamu perempuan mandul! Kau tidak akan pernah mendapatkan calon suami sebaik Desta putraku yang punya pekerjaan yang sangat bagus," cibir Bu Karisma lagi.


Hingga pintu berdaun dua itu terbuka lebar dan masuklah seorang pria dengan begitu banyak rombongan iringan dengan berbagai benda seserahan lamaran yang cukup banyak sampai-sampai semua mata terbelalak melihat kondisi itu.


"Siapa yang mengatakan jika Shanum tidak akan pernah mendapatkan calon suami yang lebih baik dari putramu ini!" Ucap seorang pria muda yang penuh dengan kharismatik yang membuat semua mata memandangi wajahnya dengan takjubnya.

__ADS_1


__ADS_2