
Syam terdiam ketika mendengar perkataan dari istrinya,ia sedikit ragu untuk mengatakan apa yang diinginkannya. Aku melihat wajahnya Dewi yang begitu antusias dan tidak main-main akan memasakkan makanan spesial khusus untukku. Tetapi, aku sedikit ragu jika Dewi gagal gimana, aku takut ia kecewa dengan hasilnya itu. Tapi aku berharap sih sebenarnya jika ia mampu memasak makanan itu untukku.
Syam berhadapan langsung dengan Dewi dengan tatapan teduhnya itu sambil memegangi kedua lengannya Dewi dengan pelan dan lembut, " Dewi Kinanti Mirasih Abang sama sekali tidak bercanda dan sangat serius karena sebenarnya saya ada dua macam masakan yang sering Bunda masak untuk saya, dan saya berharap kamu bisa masak makanan itu persis dan mirip dengan yang bunda sering buat, jujur saja saya sangat menantikan siapa orang yang bisa buat makanan itu tapi sayangnya sampai detik ini belum ada yang mampu menyamakan rasa khas aroma buatannya bunda,"
Syam ragu dan juga bimbang untuk mengatakan menu makanannya yang ingin dimakan olehnya. Dewi yang melihat Syam terdiam dan mematung memikirkan apa yang seharusnya dilakukannya itu.
Dewi menyentuh lengan suaminya itu," Abang ada apa? Apa Abang baik-baik saja?" Dewi takut jika ada perkataannya menyinggung perasaannya Syam makanya jika Dewi berbicara dengan suaminya itu ia akan sangat berhati-hati.
Syam segera mengakhiri lamunannya itu dengan sedikit tergagap," eh a-nu a-ku mau makan ikan masak woku tongkol dengan kepala ikan kakap," jawabnya Syam.
Dewi mendengarkan dengan seksama perkataan dari Syam saking seriusnya hingga ia terdiam menunggu perkataan selanjutnya dari Syam.
"Kalau kamu enggak bisa buat tidak apa-apa kok, kamu pilih masakan yang lain saja, karena aku sebenarnya bukan pemilih makanan sih asalkan bahannya ikan pasti aku akan habiskan makanannya dan makan dengan lahap kok, jadi kamu santai saja kalau kamu enggak bisa dan sanggup masak makanan yang aku sukai," imbuhnya Syam berusaha menenangkan dan tidak menyudutkan Dewi.
__ADS_1
Dewi bukannya menjawab atau membalas perkataan dari Samuel malahan ia menarik tangannya Syam untuk mengikuti kemana langkah kakinya Dewi Kinanti Mirasih.
Syam terdiam dan menurut dengan apa yang dilakukan oleh Dewi terhadapnya. Apa yang akan dilakukannya, kenapa tiba menarik tanganku untuk mengikutinya. Aku melihat wajahnya Dewi yang begitu santai tapi, tersembunyi menyiratkan kesungguhan hatinya itu.
Setelah aku mengikuti langkah kakinya, aku hanya memperhatikan apa pun yang dilakukannya. Tangannya dengan cekatan memilih begitu banyak bumbu masakan yang nantinya akan diolahnya menjadi masakan yang dimintai, diminati, diinginkan dan direquest oleh pria yang berani menikahinya tanpa cinta itu yang sering disapa Samuel Abidzar Al-Ghifari.
Mulai dari bawang merah, bawang putih, cabe rawit sama cabe merah dan juga hijau, lengkuas,jahe, buah tomat, daun bawang prei, kunyit basah, daun kemangi, kemiri, serai, lengkuas, jeruk kasturi khusus untuk masak santan kepala kakap dan sebutir kelapa parut tentunya untuk dijadikan santan.
"Kenapa harus repot-repot milih buah kelapa dan juga kenapa meski digetok satu persatu, itu kan buang-buang waktu saja," Syam keheranan dengan apa yang dilakukan oleh Dewi.
Sudah tiga kantong kresek plastik yang berada di dalam genggaman tangannya Syam yang untuk pertama kalinya menginjakkan kakinya di dalam pasar tradisional, berbaur dengan masyarakat umum. Mengangkat kantong kresek seumur hidupnya ini yang perdana baginya.
Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Dewi sebelumnya, yang hanya melihat dari warna bahan-bahan sayurannya yang masih mengkilap dan berkilauan diterpa cahaya matahari pagi yang dipilihnya itu tandanya masih sangat segar.
__ADS_1
Kalau itu Syam paham dan mengerti sekali dengan hal tersebut. Tapi, ketika sudah berada di depan penjual kelapa, Dewi teliti sekali memilih.
Kenapa juga harus repot-repot memilih segala kelapa padahal banyak di swalayan, supermarket juga dijual santan siap saji. Istriku memang ajaib. Dimana orang-orang lebih milih yang praktis dan instan,malah ia ingin merepotkan dirinya sendiri.
Dewi yang mendengar perkataan yang bernada bertanya itu membuat Dewi menghentikan kegiatannya itu sambil menolehkan kepalanya ke arah suaminya yang menatapnya dengan keheranan.
Dewi terkekeh sebelum menjawab pertanyaan dari suaminya itu," supaya santan kental yang dihasilkan oleh kelapanya ketika diperas banyak dan kental Abang, saya juga memilih santan ini daripada santan instan jadi karena ini kan bebas zat kimia yang Abang tahu kan cukup berbahaya untuk kesehatan kita, walupun kurang awet," jelasnya panjang lebar Dewi yang selalu tersenyum simpul menanggapi perkataan dari suaminya itu.
Apa yang dikatakan dan dijelaskan oleh Dewi cukup masuk akal juga. Makanya semakin hari banyak orang yang meninggal secara instan karena lebih menyukai makanan yang bercampur dengan pengawet dan zat kimia yang awalnya untuk membantu kita tapi, lambat laun semakin memperparah kondisi kesehatan orang yang mengkonsumsinya.
Aku memperhatikan sejak tadi apa yang dilakukannya dengan seksama. Semakin aku perhatikan semakin auranya semakin terpancar. Inilah yang tidak aku dapatkan pada Nadia Yulianti Istriku yang lain. Apa jangan-jangan ini resep rahasianya bunda Mariana dulu karena menggunakan santan alami.
"Mungkin aku telah salah dan keliru telah dan sering kali membandingkan kedua Istriku tapi, aku hanya manusia biasa ya Allah, aku wajarlah bandingkan mereka karena jujur sikap dan tingkah laku keduanya berbanding terbalik masalah di dapur dan pelayanan Dewi terhadapku sungguh menghormatiku dan melayaniku sebagai suaminya tanpa bantuan orang lain,"
__ADS_1