
Semua orang terkejut mendengar berita duka dan juga gembira. Irwansyah pria yang menjadi buronan beberapa bulan ini, akhirnya ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa lagi.
Apalagi kondisi tubuhnya sangat mengenaskan. Dia ditemukan oleh beberapa warga masyarakat yang sedang memanen padinya yang sudah menguning.
Semua warga masyarakat setempat geger dan heboh setelah penemuan mayat yang tidak utuh dalam keadaan yang terpisah-pisah di berbagai tempat.
Kondisi tubuhnya yang sulit dikenali, tapi untungnya banyak benda yang ditemukan dan semuanya mengarah ke pada pemiliknya yaitu siapa lagi kalau bukan Irwansyah Hatif seorang dokter spesialis bedah, meregang nyawa dan menjadi korban kebiadaban dari beberapa pencuri.
"Dina sabarlah, ini yang terbaik untuk papanya Akhsan, Allah SWT sudah memberikan jalan keluar yang terbaik untuk masalah yang diperbuat oleh mantan suamimu itu," ucapnya Bu Rina.
"Benar apa yang dikatakan oleh Mama, semua ini sudah menjadi kehendak Allah SWT, jika Irwan akan meninggal dalam keadaan seperti ini, kamu hanya bisa bersabar dan berdoa untuk ketenangannya di alam sana dan kewajiban kamu sekarang adalah mendoakan yang terbaik untuk Irwan," nasehatnya Dewi yang sedih melihat adiknya.
Dina mengusap air matanya dengan menggunakan punggung tangannya. Hatinya harus ikhlas walau terkadang mengikhlaskan kepergian orang yang disayangi terkadang sulit.
Apapun yang dilakukan oleh umat manusia, jika takdir sudah berkehendak lain,maka kita sebagai manusia hanya bisa pasrah dan sabar menjalaninya.
Ya Allah aku ikhlas aku hanya sedih mendengar kabar ini jika orang yang sampai detik ini masih aku sayangi harus meninggal dengan cara seperti ini.
__ADS_1
Syamuel dan Syafiq serta Syamil pergi ke rumah sakit untuk mengurus pemakaman dokter Irwansyah mengingat Irwansyah adalah anak yatim piatu yang hidup sebatang kara di dunia ini.
Dering ponsel seseorang dari atas nakas meja riasnya tak dihiraukannya, karena ia sedang asyik saling menyalurkan hasr*t mereka masing-masing. Ariella sama sekali tidak peduli ketika ponselnya berdering.
"Augh!! Aahh!"
Racaunya Ariella dibawah kunkungan seorang pria yang bertubuh kekar dan berotot lebih jauh berbeda dengan tubuhnya yang mungil.
Peluh keringat bercucuran membasahi sekujur tubuh kedua pasangan kekasih itu. Suara des*han dan rintihan dari bibir mungilnya Ariella semakin membuat pria yang berada di atasnya semakin menggenjot tubuhnya agar keduanya mencapai puncak kenikm*tan Indahnya dunia akhirat.
Sedangkan deringan telponnya tidak henti-hentinya menjerit-jerit untuk diangkat oleh sang pemilik hp. Tapi,sang pemilik hp belum menyelesaikan kegiatan panasnya siang hari itu.
"Kalau Ara apa katanya, Akhsan?" Tanyanya Dewi.
Ahksan mengarahkan tatapannya ke arah Tante satu-satunya yang dimilikinya," nomornya Ara enggak aktif, Tante,"
"Astauhfirullah aladzim, kenapa adik-adikmu semuanya tidak ada yang beres! Dalam situasi seperti ini malah mereka keluyuran tidak jelas di luar sana!" Sarkasnya Bu Rina.
__ADS_1
"Iya Nak benar apa yang dikatakan oleh nenekmu betul adanya, kenapa mereka bersikap seperti ini, disaat ada kejadian genting kayak gini bukannya cepat respon,tapi satunya enggak angkat telpon, satunya lagi malah nomor ponselnya tidak aktif," cercanya Nadira istrinya Samil mamanya Adisty yang menatap sinis ke arah Ahsan.
"Mbak Nadira, tolong jangan memperkeruh masalah, sebaiknya kita bantu Dina untuk mempersiapkan segala sesuatu apa-apa yang diperlukan untuk pemakaman jenazahnya almarhum Irwansyah, kasihan Dina kalau hanya dia seorang diri yang mengurusnya," Dewi kurang menyukai sikapnya adik iparnya dan mertuanya itu.
Kenapa aku perhatikan orang-orang selalu menyalahkan dan menumpahkan kesalahanny dokter Irwansyah kepada adikku Dina.
Dewi berjalan ke arah adik ipar dan mama mertuanya yang terus mengoceh tentang kehidupan pribadi adik dan keponakannya.
"Aku melakukan semua ini karena hanya satu alasannya, aku tidak tega melihat adikku terpuruk seperti ini. Walaupun dokter Irwansyah punya kesalahan yang sungguh fatal akibatnya, tapi setidaknya memperlakukan dia dihari terakhirnya di dunia ini sebagai penghormatan kita sebagai orang terdekatnya." Ucapnya Dewi dengan mantap.
"Terserah kamu saja, karena hati kamu terlalu baik berbeda dengan kami yang masih mengingat kesalahan yang pernah dilakukan oleh Irwansyah dokter gila itu, dimata dan ingatanku ini, masih segar diingatanku dan mungkin aku tidak bisa melupakan dimana dia menghina mbak dan mas Syam, bahkan bukan hanya Mbak dan mas Syam yang dihina tapi semua anak-anaknya Mbak!" Ketusnya Nadira.
Shaira, Sahnun, Aydan dan Abyasa segera melerai perdebatan kecil mereka.
"Tante Nadira, mama aku mohon stop hentikan perdebatan kalian berdua, apa kalian tidak malu dengan perdebatan ini, aku juga marah dengan perlakuan almarhum terhadap kita semua,tapi bukan saatnya dan bukan disini tempatnya,apa kalian tidak malu diperhatikan oleh orang-orang pelayak yang datang?" Kesalnya Shanum yang malu dengan sikap kekanak-kanakan nenek dan tantenya itu.
"Mama kita ke sana bantu Tante Dina yuk," ajaknya Shaira yang tidak ingin keadaan semakin memanas.
__ADS_1
Beberapa pelayak yang datang melihat apa yang mereka lakukan, mereka saling bergantian berbisik-bisik. Bu Rina Amelia dan Nadira memutuskan untuk pulang dari kediamannya Irwan yang tidak terlalu jauh dari rumahnya Samuel dengan Dewi karena masih dalam satu blok.