Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 35


__ADS_3

Syam kembali duduk di meja makan sambil memainkan hpnya memeriksa beberapa pesan chat yang masuk ke dalam hpnya itu. Dewi memberikan kode dan menunjuk ke arah tubuhnya Syam.


"Apa?!" Tanyanya Syam yang malah tidak mengerti dengan maksud dari kode yang diberikan oleh istrinya itu.


Dewi segera berjalan ke arah suaminya setelah mengeringkan tangannya setelah mencuci piring dan beberapa perlengkapan dapur dan juga peralatan makannya. Dewi tidak perlu repot-repot karena mereka menggunakan mesin pencuci piring khusus dibelikan oleh Dokter Irwansyah khusus untuk Dewi dengan alasan yang khusus.


Dewi dengan santai dan tenangnya membuka pengikat tali celemek yang terpasang di tubuh sispack nya Samuel. Saya kira apa yang akan ditunjukkan dengan memberikan kode dengan kepalanya yang manggut-manggut itu hampir saja aku salah paham dan keliru dengan menunjuk ke arah tubuhku ternyata yang dia maksud adalah apron yang dipakaikan tadi sebelum kami bertempur untuk memasak makanan


Aku tersenyum kikuk karena salah paham padanya, tapi sudahlah mungkin pikiranku lagi tidak konsisten karena memikirkan masalah Nadia yang menginginkan aku kembali ditambah lagi dengan desakan dari CEO Pak Willy yang mengharuskan saya segera kembali ke Ibu Jakarta.

__ADS_1


Bagaimana caranya aku menyampaikan kepadanya jika aku harus balik sekarang ke Jakarta,tiket sudah berada di dalam genggaman tanganku. Semoga saja Dewi mengerti dengan kepulanganku yang tiba-tiba tidak sesuai dengan jadwal yang semestinya.


Saya perhatikan abang ingin menyampaikan sesuatu padaku seperti enggan dan sulit untuk berbicara. Apa sebenarnya yang terjadi di Jakarta, saya berharap semoga saja keluarganya Abang baik-baik saja. Terutama dengan istrinya, tapi ada kaitannya dengan Mama sambungnya Abang atau siapa, entahlah itu apa, saya hanya berharap mereka semua selalu dalam lindungan Allah SWT.


"Sepertinya ada yang ingin Abang katakan," tebaknya Dewi sambil duduk di depan suaminya itu.


Syam menghela nafasnya dengan kasar seolah ada banyak beban pikiran yang mengganjal di pikirannya itu.


Setelah aku berbicara seperti itu, aku diam-diam perhatikan perubahan dari raut wajahnya Dewi. Aku yakin pasti dia sedikit kecewa dengan kepulanganku yang mendadak ini. Walau dia pintar dan dengan entengnya mengubah mimik wajahnya dari kecewa menjadi santai, rileks dan selow yang aku perhatikan dan menangkap dari raut wajahnya itu.

__ADS_1


Maaf, hanya kata itu untuk saat ini yang mampu aku berikan padamu. Insya Allah jika kondisi sudah aman aku akan mengajak kamu ke Jakarta untuk tinggal bersamaku. Dewi Kinanti Mirasih, jika Abang sudah dapat rumah yang paling cocok, aman untuk kita berdua Abang akan memanggil kamu menyusul ke Jakarta.


"Kalau gitu saya bereskan barang-barang miliknya Abang, tapi apa aku boleh ikut ke bandara untuk mengantar Abang," harapnya Dewi.


Syam menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan dari istrinya itu untuk pertama kalinya selama dia pernikahannya yang sudah jalan lima bulan itu.


"Aku mandi kalau gitu, pakaian yang ada taruh di sini saja yang akan aku pakai kamu persiapkan terutama alat-alat kerjaku cukup itu, jadi kalau kapan-kapan aku balik kan ada pakaian yang bisa aku pakai tidak perlu repot-repot bawa lagi," imbuhnya Samuel.


Dewi hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan dari suaminya itu. Tanpa banyak kata, protes, koment,ba bi Bu lagi Dewi segera berjalan tergesa-gesa ke arah dalam kamar tidurnya bersama suaminya itu.

__ADS_1


Syamuel berjalan ke arah dalam kamar mandi,ia ingin segera membersihkan seluruh tubuhnya yang sudah lengket penuh dengan keringat.


__ADS_2