Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 126


__ADS_3

Shaira selalu menjaga jarak dari Adelio pria yang bukan mahramnya. Dia memang akrab dengan semua orang yang dikenal maupun mengenalinya. Tapi, selalu menjaga jarak dan pintar menjaga diri dari pergaulan bebas dimanapun berada.


"Adeline dimana kok enggak aku lihat yah?" Tanyanya Cindy yang mencari temannya itu.


"Dia tadi pamit mau ke toilet sih katanya, tapi entah ke toilet beneran atau lagi diam-diam ketemuan dengan seseorang," jawabnya Vela Angelina.


Cindy berasa tidak enak hati dan tersentil atas perkataannya Vela karena tadi ia juga pamitan ke toilet, tapi berakhir dengan adegan pertemuan yang sangat intim dengan kekasih masa lalunya itu.


"Apa jangan-jangan Vela melihat apa yang kami perbuat, tapi itu tidak mungkin banget karena aku dengan bang Aidan melakukannya di tempat tersembunyi kok,"


Maryam Nurhaliza yang mendengar perkataan dari Vela sahabatnya itu, dia hanya terdiam mendengarkan perkataannya Vela dan sangat paham siapa orang yang disindir dan disentil itu. Maryam berdiri di samping kanannya Aidan Akhtar dan di sebelah kirinya adalah Cindy Clara yang sedang memanggang steak daging sapi.


"Entah bagaimana jadinya kisah perjalanan cinta mereka bertiga, Aidan seharusnya tidak boleh hidup diantara dua orang perempuan, apakah Aidan hendak menikahi keduanya, kalau dengan Maryam kami seiman tapi dengan Cindy jelas-jelas mereka berbeda keyakinan, aah kalau mikirin mereka bikin mumet dan pusing saja mendingin mikirin masa depan saya dengan Bang Akhsan saja," Vela kembali membolak-balik ikan yang dibakarnya itu.


"Ohh apinya kegedean nih Shasa," ucapnya Adelio yang memang agak takut dengan api.


"Hahaha pak Adelio ini api kecil saja dibilang besar, apa Pak Adelio takut dengan api besar ini?" Tanyanya Shaira yang tersenyum lebar melihat tingkahnya Adelio pria dewasa yang pobhia dengan api.


"Intinya apinya kecil apa gede saya takut dan tidak menyukai api,kamu juga kenapa milih bakar jagung daripada panggang steak saja sih," kesalnya Adelio yang terkadang membuatnya menghindari api jika angin bertiup sehingga api mengarah padanya.


Semua orang malam hari itu menikmati malam minggu yang sungguh berbeda dari pada malam-malam lainnya. Semua orang tertawa bersama, bersenda gurau bersama tanpa ada perbedaan jarak yang memisahkan mereka semua.


Walau dengan sangat jelas jika banyak pembeda antara semua orang yang hadir. Semua berbaur dan menyantap makanan yang sudah mereka buat sendiri.


"Ya Allah Pak Adelio apa yang terjadi pada wajahnya bapak? Hahaha!" Tunjuknya Shaira yang kesulitan untuk menahan laju tawanya.


Shaira tertawa terpingkal-pingkal melihat wajahnya Adelio yang hampir seluruh wajahnya terkena arang hitam. Adelio yang melihat Shaira tertawa seperti itu hanya tersenyum lebar. Karena ia sungguh bahagia melihat senyuman, tawa Shaira perempuan yang sudah membuatnya jatuh cinta dan rela melakukan apapun asalkan Shaira bahagia.


"Kamu kenapa?" Tanyanya Adelio.

__ADS_1


"A-nu i-tu Pak wajahnya bukan glowing lagi tapi malah seperti pantat panci yang tidak pernah digosok sedikitpun," balasnya Shaira yang tergagap saking tidak kuasanya menahan rasa tawanya itu.


Adelio segera merogoh sakunya untuk mencari keberadaan ponselnya, akhirnya ia menemukan benda pipih tersebut. Adelio pun tersentak terkejut melihat wajahnya langsung berubah menjadi hitam hampir keseluruhan.


"Hahaha lucu yah," ujarnya Adelio yang seumur hidupnya baru kali bisa tertawa lepas.


Sedangkan Maryam dan Cindy berbagi dan bergantian memberikan perhatian kepada Aidan. Pria yang diperlakukan seperti itu malah sangat gembira karena bisa mendapatkan dua perempuan yang cantik dan sama-sama hatinya baik.


"Kalau aku nikahi keduanya pasti sungguh bahagia hidupku ini, seperti lagunya Dewa 19 senangnya dalam hati kalau beristri dua, mendapat banyak kasih sayang yang tulus, mungkin ini ide yang sangat bagus," Aidan tersenyum penuh arti.


Gimana nih readers Aidan pengen poligami katanya,hemm… semoga readers tidak ngambek yah dengan cowok ganteng satu ini.


Shaira kemudian berhenti tertawa dan mengambil tissue untuk membersihkan wajahnya Adelio.


"Maaf, saya akan berhenti untuk tertawa," ucapnya Shaira yang segera menghentikan tawanya itu.


Shaira berjalan ke arah meja dimana ada beberapa kotak tissue terletak di atasnya.


"Dulu aku menikah tanpa cinta dengan Andien hingga ia meninggal dunia ketika melahirkan Brianna sampai detik ini entah kenapa aku tidak sanggup dan mampu untuk mencintainya sedikit pun, aku hanya merasa iba dan kasihan padanya waktu itu yang hamil di luar nikah sedangkan suaminya mengalami kecelakaan kala itu,"


Adelio menikahi Andien di Jakarta waktu itu karena terpaksa. Ia harus menikah dengan perempuan yang sama sekali tidak dicintainya karena suaminya meninggal dunia karena gara-gara kecelakaan maut yang disebabkan oleh supir pribadinya waktu itu.


Sebagai rasa tanggung jawabnya dia harus menikahi Andien Adista Adiyaksa yang sudah hamil enam bulan waktu itu. Setelah tiga bulan,masa Iddah dari Andien sehingga Adelio yang iba dan sedih melihat Andien yang anak yatim piatu hidup tanpa suami dan hamil besar.


Akhirnya Adelio pun meminta ijin kepada kedua orang tuanya untuk menikahi perempuan itu. Padahal keyakinan mereka berbeda.


Teriakkan perempuan dari arah toilet membuat semua orang terkejut sehingga berhamburan keluar ke arah depan asrama untuk melihat apa yang terjadi. Semuanya berlari cepat ke arah depan.


"Astaghfirullahaladzim apa yang terjadi? Siapa yang berteriak kencang!?" Shaira yang sedang membersihkan wajahnya Adelio segera berlari tanpa peduli dengan apa yang sedang dilakukannya itu.

__ADS_1


Semua orang tanpa terkecuali berlarian ke arah tepatnya toilet, hingga kedua pasang mata semua orang terbelalak melihat apa yang terjadi di depan kamar mandi.


Seorang perempuan terjatuh tepat di atas tubuh seorang pria muda yang ganteng dengan mulut menganga lebar melihat siapa perempuan yang menindih tubuhnya dan kedua bibir mereka saling bertemu.


Adeline bukannya bangun dari posisinya itu, tetapi malah terdiam sambil menghayati wajahnya pria muda yang ganteng dan tampan itu.


"Kenapa wajahnya semakin aku perhatikan semakin enak dipandang mata, entah kenapa aku semakin mencintaimu penyelamat duniaku,"


Adeline semakin asyik diatas tubuh atletis pria yang sebenarnya sangat membencinya itu.


"Hey! Apa kamu sudah selesai menikmati wajahku! Kalau sudah tolong turunkan dari atas tubuhku kamu sangat cukup berat," sarkasnya Abyasa Akhtam.


"Hemm!! Ya Allah Adeline Amalia Hamilton apa yang kamu lakukan!?" Teriak Vela.


"Abang Abya!" teriaknya pula Shaira yang ikut lata berteriak juga karena Vela tepat dekat telinganya berteriak kencang dengan suara yang cukup menggema memenuhi seantero asrama malam itu.


"Apa! Wajahnya mirip dengan Aidan," cicitnya Cindy Clara yang terperangah melihat wajahnya pria bangkit dari rebahannya di atas lantai keramik tanpa alas sedikitpun.


Abyasa spontan mendorong tubuhnya Adelin dari atas tubuhnya dengan sedikit menggunakan kekuatannya itu. Abyaza segera menyeka dan menghapus jejak ciuman sepantasnya Adelin di atas bibirnya itu.


"Auhh sakit!" jerit Adelin yang tubuhnya sudah mendarat bebas karena terdorong kuat oleh Abyasa yang tidak ingin orang lain berfikiran negatif terhadapnya.


Shaira segera membantu temannya itu, "ya Allah Abang Abya tidak perlu seperti itu juga dorongnya,kan pakai sedikit kelembutan pasti Adeline tidak perlu berteriak histeris seperti itu juga," gerutunya Shaira seraya memukul lengan kakak sulungnya itu.


Abyasa membersihkan pakaiannya yang terkena kotoran debu dan sedikit air," Abang akan memperlakukan seperti ini juga kepada semua perempuan jika bersikap kegenitan padaku! Intinya saya tidak suka dengan sifat perempuan manja dan gak tahu adab sopan santun ketimuran kita!" Cibirnya Abyasa sembari menunjuk ke arah Adeline dengan penuh amarah.


"Bang Aidan jadi kalian itu kembar bertiga?" Tanyanya Cindy Clara yang masih tidak menyangka jika kekasihnya itu punya kembaran.


"Mas Aidan punya kembaran empat orang, mas Aidan masih punya adik perempuan satu orang di Indonesia Jakarta kalau bggak salah namanya Sahnum Inshira Abidzar Al-Ghifari," ucapnya Maryam langsung mendahului Aidan berbicara sambil melingkarkan tangannya ke lengannya Aidan.

__ADS_1


"Ternyata Maryam lebih mengetahui selak beluk kelurganya Aidan dari pada saya yang pacaran lebih lama dari pada perempuan itu,"


__ADS_2