
Semua orang kembali ke dalam kamar masing-masing setelah seharian penuh menonton dan menyaksikan drama kolosal rumtang Aydan Akhtar, Maryam Nurhaliza dan Rachel Amanda.
Maryam menidurkan kedua bayi kembarnya ke dalam box masing-masing. Dengan sesekali menyeka air matanya itu.
"Baby Archelo, kamu enggak boleh niru kesalahannya papa yah putraku, Abang Archenio juga yah, ingat kehormatan seorang perempuan harus kamu jaga dengan baik Nak, jangan mudah tergoda oleh apapun di dunia ini hingga kalian merusak dan menghancurkan masa depan perempuan," ucapnya Maryam Nurhaliza yang berbicara dengan kedua putranya itu.
Shaira yang baru saja membuka pintu kamar kakak iparnya itu ikut menitikkan air matanya saking sedihnya melihat perlakuan kakaknya terhadap sahabatnya.
"Mbak, apa Debay sudah bobo?" Tanyanya Shaira yang berpura-pura tidak mengetahui dan melihat langsung apa yang terjadi pada Maryam.
Maryam buru-buru menyeka air matanya mengunakan ujung hijabnya itu supaya tidak kelihatan oleh adik iparnya.
"Alhamdulillah mereka berdua barusan saja tertidur pulas, aunty Aira lambat datang sih jadinya mereka sudah tidur," ucapnya Maryam dengan berbicara seperti anak kecil.
"Mbak jangan dipendam sendiri kesedihannya, berbagi saja dengan kami. Walaupun kakakku menyakiti kakak aku kan masih temanmu jadi kalau butuh teman berbagi aku siap sedia mendengar keluh kesahmu," imbuhnya Shaira sembari menoel hidungnya Archenio.
Maryam berusaha untuk tersenyum walaupun itu sangat sulit untuk dia lakukan, tetapi ia terus berusaha untuk tetap tenang dan bertahan.
"Insha Allah aku baik-baik saja, karena kalian bersamaku sehingga aku sanggup menghadapi semuanya dengan hati yang lapang dan penuh ketegaran, makasih banyak atas semuanya. Tanpa kalian aku sungguh tak sanggup untuk menghadapi sikapnya Mas Aidan," ucapnya Maryam yang mulai duduk di tepi ranjangnya diikuti oleh Shaira.
"Alhamdulillah kalau Mbak baik-baik saja, kami semua sangat mengkhawatirkan kondisi Mbak dengan si kembar," ujarnya Shaira seraya memeluk tubuhnya Maryam.
Maryam membalas pelukannya Shaira dengan mulai terisak hingga suaranya terdengar dengan jelas.
"Maafkan aku yah Mbak, semua ini terjadi karena gara-gara ulahku yang menjodohkan kalian berdua sehingga masalah besar ini akhirnya terjadi," ucapnya sesal Shaira.
"Hiks… semua ini bukan karena kesalahan kamu, tapi karena memang garis tangan dan takdirnya kami yang memang sudah seperti ini dari sononya, lagian mana mungkin kami mengubah kehendak Sang Maha Kuasa berkehendak atas segalanya," tuturnya Maryam.
"Entah kenapa aku melihat Rachel Amanda itu cintanya pada kak Aydan tidak seperti sebesar cintanya Mbak, aku melihat dia hanya terobsesi untuk hidup enak dengan kak Aidan semata," terangnya Shaira.
"Entahlah dede Aira, mungkin seiring berjalannya waktu semuanya akan terjawab bakal siapa perempuan yang berhak menjadi istrinya mas Aidan Akhtar yang paling pantas dan cocok," tukasnya Maryam.
"Benar sekali, Shaira menatap ke arah jam dinding. "kalau gitu aku pamit dulu enggak enak lama-lama tinggalkan Abang Adelio seorang diri, apalagi bang Adelio belum sarapan pagi ini," pamitnya Shaira.
"Jaga baik-baik suami kamu sebelum ada perempuan lain yang mengusik kebahagiaan kalian berdua," nasehatnya Maryam yang berusaha tersenyum tipis diakhir ucapannya itu.
__ADS_1
Maryam menghela nafasnya dengan cukup keras, hidupnya seperti rollcoster saja yang berputar begitu cepatnya.
Shaira sedih melihat kesedihan temannya itu yang selalu menyalahkan dirinya sendiri karena, gara-gara perjodohannya yang dia lakukan akhirnya membawa kesedihan pada keluarnya tercinta.
Shaira melangkahkan kakinya menuju ke arah kamarnya yang hendak menemui suaminya itu. Tapi, dia melihat suaminya sedang bersiap untuk berangkat ke suatu tempat.
Adelio melihat sekilas kedatangan istrinya itu," sayang apa aku boleh meminta sesuatu padamu?" Tanyanya Adelio.
Shaira segera menutup pintu kamarnya itu sebelum menjawab pertanyaan yang bernada permintaan dari suaminya itu.
"Minta saja bang, apapun itu insha Allah akan aku penuhi dan kabulkan asalkan jangan memintaku untuk meninggalkan Abang ataupun merestui Abang untuk menikah lagi," balasnya Shaira.
Adelio menghentikan kegiatannya itu yang sedang memakai pakaiannya setelah mendengar perkataan dari istrinya. Dia segera berjalan ke arah Shaira dan memeluk tubuh ramping dokter anak itu.
"Tidak akan pernah ada wanita lain yang akan menggantikan posisimu di hati dan hidupku selamanya hingga hanya maut yang bisa memisahkan tubuh dan raga ini tapi cintaku tak akan pernah terbatas oleh ruang dan waktu," ungkapnya Adelio seraya mengendus wangi aroma tubuhnya Shaira melalui tengkuk lehernya itu.
"Ish geli bang, Shaira membalik tubuhnya itu hingga mereka saling bertatapan satu sama lainnya, "sudah ah katakan padaku apa yang Abang inginkan padaku?"
Adelio mengecup puncak hijabnya Shaira sebelum berbicara," kamu berganti pakaian kita akan menemui seseorang di restoran favorit kamu istriku," ujarnya Adelio.
"Aku mandi dulu yah bang, sekejap saja," ucap Shaira yang segera meninggalkan suaminya itu yang sudah berpakaian lengkap tapi cukup santai dan casual.
Shaira segera melerai pelukannya itu dan berjalan menuju ke arah dalam kamar mandi.
Sudah saatnya kamu mengetahui jika Aidan punya putri dan hari ini aku akan bertemu dengan detektif handal yang aku sewa untuk mencari keberadaan putrinya Cindy Clara adik sepupuku yang bernama Nafeesa Samara Abidzar.
Adelio diam-diam melakukan pencarian terhadap keponakannya yang baru saja lahir itu. Untungnya Cindy Clara melahirkan di Indonesia, mungkin karena itulah bayinya lebih mudah untuk dicari di bandingkan di luar negeri Inggris London asal usulnya Cindy dan Adelio.
Sedangkan di tempat lain, Rachel Amanda mulai memerankan karakter tokoh istri yang kesepian.
"Sayang, apa aku boleh meminta sesuatu padamu?" Tanyanya Rachel yang sudah rebahan di atas ranjangnya sedangkan Aidan mengerjakan pekerjaannya melalui laptopnya.
Aku tidak boleh ijinkan suamiku menemui perempuan tua itu bersama dengan kedua bayi kembarnya. Aku akan melakukan segalanya agar hubungan mereka semakin terpisah, renggang dan menjauh.
Aydan membuka kacamata kerjanya itu sebelum menjawab pertanyaan dari istri keduanya. Dia memijit ujung hidungnya itu yang cukup kelelahan karena memakai kacamata dalam waktu yang cukup lama.
__ADS_1
Rachel mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit diusianya kehamilannya yang sudah empat bulan,"Mas sepertinya bayi kita sedang lapar, apa Mas bisa ambilkan aku makanan di dapur?" Pintanya Rachel yang sengaja bermanja-manja di depan suaminya agar Aydan tidak menemui Maryam.
"Baiklah, kamu tungguin mas disini yah, ingat kamu enggak boleh banyak pikiran atau gerak, jaga baik-baik calon bayiku," nasehat Aidan.
Rachel mengalungkan kedua tangannya ke lehernya Aidan sebelum suaminya pergi ke dapur.
"Itu sudah pasti suamiku, tanpa Mas minta pasti akan aku lakukan," balas Rachel Amanda yang tersenyum penuh arti.
Aydan segera berjalan ke arah bawah untuk mengambilkan makanan untuk istri barunya itu. Dia berjalan serius tanpa memperhatikan sekitarnya. Hingga dia melewati kamar tidur Maryam dan kedua anaknya.
Aidan ingin masuk ke dalam kamarnya itu karena ingin bertemu dengan kedua putranya untuk pertama kalinya, tapi usahanya itu terhenti karena gagang kenop pintu kamarnya terkunci rapat.
"Tumben sekali Maryam mengunci rapat pintu kamarnya ketika aku masih ada di rumah. Tidak seperti biasanya," keluhnya Aydan Akhtar yang terpaksa berlalu dari hadapan kamarnya.
Shanum tanpa sengaja melihat apa yang dilakukan oleh kakaknya itu, kak ini baru permulaan saja. Aku yakin Mbak Maryam akan melakukan apapun untuk membuat kamu dan kedua putramu itu tidak bertemu.
Shanum pun diam-diam mengikuti kemana perginya kakaknya itu hingga ke dapur. Dimana bi Siti dan bi Ijha berada. Aidan mengambil sebuah piring untuk dia isi makanan.
"Den Aidan mau apa, ada yang boleh aku bantu?" Tanya bi Ijah.
"Aku hanya ingin mengambil makanan untuk istriku bi," jawab Aidan.
"Kalau Non Maryam memang belum makan seharian sejak balik dari rumah sakit," sahutnya Bi Siti.
Aidan menatap ke arah bi Siti," ini bukan untuk Maryam tapi untuk istriku Rachael,"
"Tumben kak Aydan masuk ke dapur, biasanya aku lihat dan perhatikan selama Mbak Maryam hamil sekalipun kak Ndak pernah menginjakkan kaki di dapur. Beruntung banget perempuan yang baru saja datang ke sini mendapatkan perlakuan istimewa dari kamu kak, atau kakak akan jadi jongosnya memerintah kakak ambil ini ambil itu karena enggak mau ke dapur,"sarkasnya Sahnum.
Bu Siti dan bibi irjawanti terdiam saja tanpa mengucapkan sepatah katapun hanya mendengarkan perdebatan keduanya.
"Aku berharap semoga saja ini pertama dan terakhir kalinya kak Aidan diperintah dan diatur oleh istri sirinya kakak!" Ketusnya Shanun yang segera angkat kaki dari dapur setelah mengambil sebotol air mineral dari dalam lemari pendingin.
Aydan tidak ingin menanggapi perkataan dari adiknya itu karena pasti akan berbuntut panjang lebar. Dia lebih memilih mengalah karena memang faktanya seperti itu. Ia hanya menunggu Bu Siti mengisi beberapa piring dan mangkuk yang sudah terisi penuh dengan beberapa macam makanan.
"Sungguh heran,apa sih istimewanya perempuan pelakor itu hingga diperlakukan sangat lembut romantis oleh kak Aidan, aku sungguh jengkel melihatnya, tapi aku akan membuat wanita beracun itu angkat kaki dari sini! Itu janjiku!"
__ADS_1