
Dewi menutup mulutnya saking tidak percayanya dengan apa yang dijelaskan oleh mama mertuanya itu.
"Astaghfirullah aladzim, saya tidak menduga jika Mbak Nadia mengalami keguguran dan juga sudah berani membohongi Abang Syam,"ucapnya Dewi yang masih menggendong tubuh kecilnya Shaira Innira.
"Semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi dikemudian hari, Mama berharap pernikahanmu dengan Samuel berjalan dengan bs, selalu sakinah mawadah warahmah sampai kalian kakek nenek dengan keempat anak kalian," ucapnya tulus Bu Rina Amelia yang berharap besar terhadap pernikahan anaknya itu.
"Amin ya rabbal alamin," ucapnya semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut.
Beberapa jam kemudian, Dewi pun berjalan ke arah kembali ke kamarnya setelah keempat anaknya tertidur pulas. Dewi bersyukur karena keempat putra putrinya itu cukup anteng dan tidak rewel. Mereka akan menangis jika kelaparan dan selebihnya lebih banyak tenangnya.
Mungkin Abang sudah tertidur, tapi Abang tadi belum sempat makan malam, apa aku bawakan saja makanan ke dalam kamar, aku yakin dia itu lapar.
Dewi segera berputar arah menuju ke arah dapur rumahnya. Dewi memeriksa beberapa masakan yang sudah masak sebelumnya, apakah harus dipanaskan terlebih dahulu atau langsung disajikan saja.
Dewi dengan terampil dan cekatan menyediakan makanan untuk suaminya itu ke dalam wadah khusus yang sudah disiapkan. Walaupun sedikit tidak leluasa bergerak karena bekas jahitan operasi cesarnya di perutnya, tetapi Dewi tetap menyiapkan makanan tersebut.
Berselang beberapa menit kemudian, Dewi sudah menaiki undakan tangga satu persatu. Ia memutar handle pintu kamarnya dengan sedikit pelan karena tidak ingin menggangu kenyamanan istirahat suaminya itu.
Dewi mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tersebut,dia pun mendapati suaminya masih berdiri di balkon kamarnya seperti semula. Tapi, Syam sudah tidak merokok.
Dewi melihat ada beberapa sisa puntung rokok tercecer di atas lantai keramik rumahnya itu. Ia hanya tersenyum tipis menanggapi sikapnya Syam kali ini.
Siapapun yang berada di posisinya Abang Sam pasti akan bersikap seperti Abang. Hati mana yang tidak akan hancur, sedih,kecewa jika harus menghadapi perceraian dengan perempuan yang kita sayangi.
Pasti Abang pusing dan stres memikirkan pernikahannya dengan Mbak Nadia Yulianti yang sudah di ujung tanduk itu
__ADS_1
Dewi menyimpan nampan yang berisi beberapa piring makanan ke atas meja sofa yang kebetulan ada di dalam kamarnya itu.
"Saya harus berpura-pura tidak mengetahui yang sudah terjadi pada Abang, takutnya nanti dikira Saya terlalu mencampuri kehidupannya bersama Mbak Nadia,"
Syam mengetahui kedatangan istrinya itu, dia segera menetralkan perasaannya dan tidak ingin diketahui oleh Dewi jika dia sedang kalut dan prustasi dengan kisruh kehidupan rumah tangganya bersama Nadia.
Saya tidak ingin banyak bertanya,saya tidak ingin menambah beban pikiran untuk Abang. lagian saya sudah mengetahui semuanya. biarkan saja Abang sepuasnya seperti ini terus. kalau dia rasa sudah waktunya bicara pasti akan terbuka juga padaku.
Dewi langsung memeluk tubuhnya Syam dari arah belakang dengan penuh kelembutan dan kehangatan.
"Abang sudah hampir jam sembilan malam, tapi Abang belum makan malam loh," imbuhnya Dewi yang sejujurnya sangat mengkhawatirkan keadaannya Syam.
"Maafkan Abang, tadi terlalu capek jadi tidak sempat gabung dengan kalian untuk makan," kilahnya Syam yang berusaha menutupi apa yang sudah terjadi padanya.
"Kalau gitu Abang makan yah, saya sudah persiapkan makanan untuk Abang di meja sana," ucapnya Dewi.
Aku yakin kamu sudah mengetahui apa yang terjadi pada kami berdua,tapi maafkan Abang yang tidak bisa mengungkapkan semuanya di depanmu.
Belum saatnya aku terbuka denganmu Dewi bukannya aku tidak percaya,tapi aku terlalu segan dan malu jika kamu mengetahui kejelekan dan keburukan sifatnya Nadia Yualianti.
Syam segera memutar tubuhnya agar saling berhadapan dengan istrinya itu.
Syam menangkupkan kedua tangannya di dagunya Dewi yang tertutupi sedikit hijab itu, "Kamu memang selalu bisa mengerti dengan apa yang aku rasakan dan alami, Dewi makasih banyak sudah bersedia menjadi istriku dan mendampingi hidupku dikala bahagia, susahnya yang Abang alami, terima kasih Dewi semoga kelak kamu masih seperti ini selalu bijak dewasa dan hidup bersamaku selamanya dengan segala kekuranganku," pintanya Syam.
Dewi tidak membalas semua ucapan dari suaminya itu tapi,dia langsung mengecup bibir suaminya itu tanpa ragu sedikitpun. Syam membelalakkan matanya karena Dewi jarang sekali berinsiatif duluan untuk melakukan hal semacam ini.
__ADS_1
Keduanya menyalurkan perasaan masing-masing dalam ciuman hangat di malam hari itu. Hingga tangannya Syam yang tidak terkontrol membuat keduanya harus segera mengakhirinya sebelum berlanjut kemana-mana, mengingat Dewi belum pulih total setelah melahirkan.
Syam sedikit kecewa karena kesenangannya terganggu, tapi Dewi hanya tersenyum menanggapi sikap merajuknya Syam.
"Tunggu tiga minggu lagi Abang, sekarang masih harus puasa dulu lagi, Abang harus sabar yah,"ujarnya Dewi sambil terkekeh melihat reaksinya Syam yang seperti anak kecil saja.
"Oke tapi ingat Abang akan lakukan apapun diatas sini kamu tidak boleh menolaknya, jujur saja Abang sangat tergoda melihat ukurannya yang cukup gede tidak seperti biasanya," tuturnya Syam dengan sejujurnya.
Dewi tertawa cekikikan mendengar perkataan dari suaminya itu," saya akan penuhi keinginannya Abang yang paling penting tidak melanggar larangan yang tidak boleh dilakukan, bagiku kenapa tidak suamiku tersayang," imbuh Dewi.
Sam mendekatkan bibirnya ke telinganya Dewi, "Kamu harus janji, tidak boleh ingkar janji lagi dan saat itu Abang membuat kamu berteriak kencang memanggil namaku dengan lantang,"
Dewi bergidik ngeri sedap jika harus membayangkan bakal apa yang akan terjadi kalau mereka berduaan dan melakukan masing-masing tanggung jawab mereka sebagai pasangan suami istri.
Syam mengerang keras saking prustasinya apa yang ingin dilakukannya harus tertunda dan tidak boleh terjadi mengingat Dewi yang belum pulih dan sembuh total setelah melahirkan tiga anak kembarnya sekaligus melalui operasi sesar.
Syam kembali memeluk pinggangnya Dewi," maafkan Abang sayang," cicitnya Syam kemudian segera melerai pelukannya itu.
"Tidak apa-apa kok, itu wajar terjadi saya memakluminya tapi sekarang waktunya isi amunisi bagian kampung tengah dulu," ajaknya Dewi yang menarik tangannya Samuel Abidzar Al-Ghifari.
Keduanya pun sudah duduk bersebelahan di atas sofa buludru berwarna hitam itu, Dewi segera melayani suaminya dengan telaten.
"Abang harus makan yang banyak untuk menghadapi tantangan dunia ini tanpa makan itu sepertinya Abang tidak akan mampu, jadi Abang harus makan banyak. Coba lihat makanannya pada enak-enak kan, ini dimasak oleh Mama Rina katanya spesial dan khusus untuk saya," ungkapnya Dewi yang sedikit bercanda dengan suaminya.
Syam akhirnya tersenyum juga walau senyumannya sangat tipis tapi Dewi sudah bersyukur, setidaknya perasaan galau, sedih, kacau, gegana dan stres sedikit menghilang dengan candaannya Dewi.
__ADS_1
"Abang akan makan kalau disuapi oleh kamu," pintanya Syam dengan manja.