
Flashback on…
Irwansyah berjalan mencari istrinya karena ia ingin menyantap santap malamnya malam ini. Tapi sudah dua jam berlalu, Dina sama sekali tidak menyediakan makanan untuknya.
"Sial!! Kemana perginya perempuan pemalas itu pergi! Apa dia tidak mengetahui jika saya sudah lapar! Dina kamu dimana! Saya sudah lapar!" Kesalnya sang dokter bedah itu.
Ara yang mendengar perkataan dan teriakan dari papanya segera berjalan ke arah Irwansyah.
"Ada apa sih Pak, kenapa hari ini selalu saja marah-marah dan teriak-teriak! Apa tidak malu jika orang-orang dan tetangga mendengar perkataan dari papa," gerutunya Arabela Aqila.
Irwan hanya menatap jengah putri bungsunya itu," Papa tidak peduli dengan tanggapannya orang-orang, yang aku pikirkan adalah kenapa Mama kamu yang pemalas itu belom menyiapkan makanan padahl sudah jam 7 lewat," ketusnya Irwansyah.
"Papa duduk dengan tenang saja dulu, Ara akan melihat apa masakannya mama sudah siap" bujuknya Arabella.
Irwansyah mendengarkan perkataannya dari Ara anak bungsunya itu dan segera duduk di atas sofa ruang tengah.
"Kalau seperti ini aku harus menyusun Hans dan Ariella kembali ke rumah di Jakarta, daripada harus menetap di London Inggris,"
Arabella mencari keberadaan mamanya itu, tapi dari rumah bagian depan, samping, belakang dan juga dapur hingga lantai dua tumbang. Tanda-tanda keberadaan Dina tidak ada di dalam rumahnya.
Astaughfirullahaladzim Mama ada dimana kenapa setiap tempat yang aku datangi Mama tidak berada di dalam sana,apa jangan-jangan Mama sedang bepergian ke luar tanpa peduli dengan papa yang kelaparan disini.
Arabela mulai mengomel tentang sikap mamanya itu. Tapi ia masih berniat untuk mencari mamanya di dalam kamarnya, dan mengecek beberapa benda milik mamanya itu.
Ara kembali masuk ke dalam kamar mamanya dengan ingin mengecek semua barang-barang miliknya Dina. Karena merasa ada yang ganjil, tidak biasanya mamanya bersikap seperti ini.
Aku yakin Mama pergi ke luar karena firasatku mengatakan ada keanehan di dalam kamarnya mama.
Arabella segera berjalan ke arah dalam kamar Dina dan Irwansyah. Tapi ia melupakan jika harus mengecek barang-barang penting milik mamanya di dalam lemari.
Hingga teriakannya mampu memecahkan kesunyian malam itu di dalam kamarnya Dina ketika Ara tidak melihat beberapa barang-barang milik mamanya tidak ada. Terutama pakaiannya yang sudah kosong melompong di dalam lemari.
"Papa!! Mama tidak ada Pa!" Pekiknya Arabela Aqila yang segera berlari cepat ke arah tangga.
__ADS_1
Irwansyah terkejut mendengar suara teriakannya Ara yang sungguh menggema memenuhi seluruh penjuru ruangan itu.
"Apa yang terjadi padamu! Kenapa meski berteriak-teriak kencang!" Sarkasnya Irwansyah.
Nafasnya Ara ngos-ngosan dan tersengal-sengal peluh keringat bercucuran membasahi sekujur tubuhnya karena saking kencangnya berlari menuruni tangga di dalam rumahnya itu.
"Mama Dina Pa, sepertinya Mama sudah pergi dari sini," teriak Ara kembali.
Irwansyah terlonjak kaget mendengar perkataan dari anaknya itu," apa!! Itu tidak mungkin pasti kamu hanya bercanda atau berbohong kan?" Tanyanya Irwan dengan suaranya yang cukup tinggi dan besar itu.
"Mama pergi dari rumah dan membawa banyak barang-barang seperti pakaiannya sendiri, saya yakin Mama tidak akan kembali lagi," ujarnya Ara yang terduduk lemas dan lesu Ira atas sofa.
"Ini tidak mungkin terjadi, aku harus segera mengecek semua barang-barang mewah yang pernah aku belikan untuknya, jangan sampai dia membawa semua perhiasan mewah yang dulu aku berikan untuknya!" Dengusnya dokter Irwansyah yang segera berjalan menaiki satu persatu undakan anak tangga.
"Ya Allah Mama kenapa harus pergi dari sini tanpa berpamitan, apa Mama marah dengan kami anak-anakmu yang sudah mengecewakanmu seperti ini, Mama maafkan Arabella Ma, aku janji tidak akan mengecewakan Mama lagi,hiks… hikss.. Mama pulanglah aku mohon.
Irwansyah bukannya khawatir dan takut dengan kondisi kepergian istrinya tanpa berpamitan kepadanya, melainkan hanya memikirkan masalah harta bendanya itu.
Irwansyah membuka dengan sangat kuat dan kasar pintu lemarinya itu dan segera membuka brankas penyimpan harta berharga miliknya itu. Dia baru bisa bernafas lega ketika sudah berhasil menghitung dan mengecek beberapa benda perhiasan emas permata dan berliannya.
Dua minggu kemudian hari ini bertepatan dengan hari akad nikahnya Arabela putri kembarnya Irwansyah dan Dina. Mereka sibuk mengurus persiapan acara sakral tersebut di salah satu gedung serba guna dan cukup mahal dan elit itu.
Irwansyah sama sekali tidak memikirkan kepergian istrinya itu, malahan dia lebih bahagia jika Dina pergi berarti tidak akan ada lagi yang menghalangi dan mengganggunya untuk merebut Dewi Kinantii Mirasih dari dalam pelukannya Samuel Abidzar Al-Ghifari.
Sehari sebelum acara akad nikah kembar tiga antara anak kedua dan ketiganya Dewi dan Syam bersama salah satu keponakannya yaitu Amar Alfarizi dan Vela Angelina di masjid terdekat yang memang mesjid tersebut sering kali dipakai untuk mengadakan akad nikah dari masyarakat yang menginginkan tempat tersebut.
"Apa kalian sudah siap ke pesta resepsi pernikahannya Arabela dengan Desta?" Tanyanya Dewi yang melihat ke-empat anak-anaknya sudah siap untuk berangkat ke salah satu gedung perhelatan acara resepsi pernikahannya Arabela.
Keempatnya saling bertatapan satu sama lainnya dan kebingungan apakah masalah pelik itu harus disampaikan kepada mamanya atau nanti saja.
Dewi menautkan kedua alisnya melihat keanehan dari sikap dan kekakuan dari keempat anak-anaknya.
"Kok kalian diam, apa kalian enggak jadi temani mama dan papa ke acaranya Ara?" Tanyanya Dewi penuh selidik.
__ADS_1
Dewi menatap intens satu persatu buah hatinya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Jangan katakan kepada Mama jika kalian tidak jadi pergi karena masalah Shaira dengan Hansal Abdul Djailani itu? Aira apa kamu belum bisa melepaskan dia Nak dan segera move-on dari pemuda kurang ajar seperti Hanz putriku," tebaknya Dewi.
Syam yang baru muncul segera menengahi perdebatan dan kemarahan istrinya.
Aku yakin mereka seperti ini karena masalah perceraian tantenya sendiri yaitu Gina Anelka Mulya.
Aku merasa terkadang heran dengan semua ini, kenapa bisa-bisanya ada Pria yang sikap dan kelakuannya seperti dokter Irwansyah! Sungguh membuatku kehilangan kesabaran jika mengingat tentang orang itu!.
"Mama bukannya begitu kami siap kok menghadiri pernikahannya Ara dengan mas Desta, hanya saja ini tidak semudah yang kami bayangkan, lagian kenapa kami enggak datang, nggak ada alasan khusus yang bisa menghalangi kami ke tempat pesta, kalau masalah Hanz bagiku dia hanya sekedar teman saja enggak lebih dari itu, bagiku masa kami sudah terlewat dan berganti dengan persaudaraan saja," jelas Shaira yang tidak ingin orang-orang beranggapan jika sulit untuk melupakan masa lalu keduanya.
"Jadi apa masalahnya kalian belum berangkat nak? Apa karena Shanum yang mantan tunangannya Desta sehingga kalian memutuskan untuk tidak pergi?' terkanya lagi Dewi dengan sepihak tanpa mendengarkan perkataannya Shanum terlebih dahulu.
Sahnun tersenyum mendengar perkataan dari mamanya itu, "Astaughfirullahaladzim Mama bukan begitu loh sehingga kami belum berangkat itu hanya karena menunggu papa datang, itu saja kok nggak lebih kok Ma, jadi tidak perlu terlalu banyak pikiran apa lagi mengkhawatirkan sederhana Sha mama, Insya Allah kami akan segera ke sana asal mama stop berfikiran yang tidak-tidak," tukasnya Shanum.
"Kalau bukan karena kedua anak gadisku terus gara-gara apa kalian belum berangkat?" Tanyanya lagi Dewi.
Sam akhirnya angkat bicara dan buka suara mengenai biduk rumah tangga adik ipar semata wayangnya itu.
"Dina sudah bercerai dengan dokter Irwansyah," terangnya Samuel.
Jedeer..
Keder..
Dewi tersontak kaget mendengar perkataan dari mulut suaminya itu yang mengatakan jika adik satu-satunya telah berpisah dengan suaminya.
"Astaughfirullahaladzim ini tidak mungkin!"
Dewi berteriak histeris mendengar kenyataan pahit dan memilukan itu.
"Mama!" teriak semua orang setelah melihat tubuhnya Dewi terjatuh ke atas sofa.
__ADS_1