
Maryam segera membuka lemarinya itu kemudian mengambil beberapa pakaian piyama malamnya untuk suaminya itu.
Maryam memperhatikan suaminya yang merebahkan tubuhnya ke atas ranjangnya dengan memejamkan matanya saking lelahnya seharian beraktivitas seperti tulangnya mau remuk saja.
Aku akan melakukan apapun demi kebahagiaan rumah tanggaku. Termasuk membuat suamiku untuk melupakan Cindy Clara Smith perempuan masa lalunya suamiku.
Kata orang kemampuan seorang istri ketika berhubungan di ranjang itu membuat pria melupakan semua tentang dunianya apalagi dengan masa lalunya.
Makanya aku akan menuruti semua kemauan suamiku termasuk dengan gaya yang akan kami lakukan, selama itu baik dan makruh aku akan mengiyakan permintaannya.
Maryam sudah bertekad untuk membuat Aidan Akhtar meninggalkan masa lalunya di London Inggris UK. Pakaiannya Maryam Nurhaliza diluar sana sangat tertutup, tapi jika hanya berdua saja dengan suaminya dia akan memperlihatkan sisi lainnya.
Maryam sudah berganti pakaian yang cukup terbuka dan seksi. Piyama berwarna cokelat itu kontras dipakainya ditubuhnya yang berkulit putih khas orang asli Malaysia negeri Jiran itu.
Dia membantu menbuka sepatu dan kaos kaki suaminya itu dengan sangat hati-hati. Karena dia tidak ingin menganggu aktifitas tidurnya Aydan Akhtar.
"Ya Allah suamiku ternyata sisi lainnya seperti bocah kecil saja, lihatlah tingkahnya yang tiduran tanpa melepas sepatu, berganti pakaian dan juga membersihkan seluruh tubuhnya," cicitnya Maryam.
Dengan telaten membuka satu persatu pakaian yang dipakainya Aidan mulai dari kemeja, jasnya, sepatu, hingga celananya.
"Aku sebaiknya mengambil air hangat dalam wadah khusus untuk membersihkan tubuhnya mas Aidan," lirihnya Maryam yang segera bangkit dari posisi duduknya tepat di sampingnya Aidan.
Tetapi, tangannya segera ditarik oleh Aidan hingga tubuhnya Maryam jatuh ke atas tubuhnya Aydan yang hanya memakai boxer dan kemeja tipis saja.
"Augh!!" Jeritnya Maryam yang terkejut bukan main ketika menyadari tubuhnya tepat jatuh ke atas dada bidangnya Aidan.
Aidan tersenyum smirk melihat kondisi Maryam yang raut wajahnya sungguh pucat pasi karena ulahnya suaminya sendiri. Aidan mengecup sekilas bibirnya Maryam yang sudah monyong karena terkejut tapi suaminya malah tertawa terpingkal-pingkal.
Aidan memainkan ujung rambut panjangnya Maryam dengan menggunakan jari jemarinya yang lembut seperti jari perempuan saja.
__ADS_1
"Kamu mau kemana? Apa kamu ingin meninggalkan suamimu dalam keadaan seperti ini! Atau apa kau berbuat seperti ini padaku setelah membuka segalanya dan pergi begitu saja!" Sungutnya Aydan.
Aidan menunjuk ke arah dadanya yang polos itu tanpa sehelai benang kainpun yang menutupi seluruh tubuhnya itu kecuali yang paling terbawahnya.
Maryam hanya tersenyum simpul menanggapi perkataannya dari suaminya itu. Maryam memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Tadi kamu sungguh sangat pede dan berani membuka semuanya satu persatu dan bahkan kau aku lihat sama sekali tidak malu, tapi sekarang wajahmu merona memerah malu bak kepiting rebus saja yang siap dihidangkan," candanya Aidan yang mempermainkan isterinya itu.
Maryam reflek menyembunyikan wajahnya dengan menundukkan kepalanya karena tidak sanggup menatap ke arah suaminya itu yang terus tersenyum smirk.
Aidan terduduk bersila di atas ranjangnya setelah Maryam bangkit dari posisi baringnya di atas tubuhnya Aidan.
"Kamu sangat cantik dan seksi, sejujurnya aku sangat…" ucapannya Aidan sengaja digantungnya.
Maryam mendelikkan kedua matanya itu saking kesalnya dengan sikap suaminya yang sebenarnya sangat disukainya itu.
"Apa kau enggak pengen denger kelanjutan perkataanku ini?" Tanyanya Aidan yang mengangkat ke atas wajahnya Maryam menggunakan salah satu tangannya itu.
Aydan gemes melihat tingkah lakunya Maryam," kamu sungguh sangat cantik dan semakin seksi saja, sejujurnya mas sangat menyukai caramu membahagiakan suamimu dengan berinisiatif seperti ini," tuturnya Aydan.
Maryam sangat bahagia seolah-olah banyak bunga mawar merah yang bermekaran mewarnai dan menghiasi taman bunga di dalam hatinya itu.
Aydan segera mulai menyentuhkan hidungnya Maryam dengan hidung mancungnya itu. Dia menggesekkan hidungnya sedangkan Maryam hanya terdiam sesaat sambil menunggu apalagi yang akan dilakukan oleh Aidan selajutnya.
Aidan mulai mengulum dan mee luuu maaat bibir merah meronanya bak buah delima itu. Sedangkan tangannya Aydan sudah mulai menyusup ke dalam piyamanya Maryam yang sangat tipis dan tembus pandang.
Hingga hanya suara dee saa haann dan nafas yang memburu serta nafasnya yang tersengal mampu terdengar dari dalam kamar itu. Aidan melakukan berbagai penetrasi gaya sedangkan Maryam sama sekali tidak mempermasalahkan gaya dari suaminya itu, karena baginya dirinya tidak terganggu.
Sedangkan di kamar sebelah, tepatnya di dalam kamarnya Shanum yang terkunci rapat itu. Tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada suami istri dan sebelah ruangan.
__ADS_1
"Sayang gimana kalau nanti kita adopsi bayi saja agar saya enggak kesepian kalau suatu saat nanti Abang bepergian ke luar negeri," usulnya Sahnum setelah mereka menyelesaikan aktifitas malemnya yang sungguh panjang itu.
Shanum tidur rebahan di lengannya Arion, sedangkan suaminya Arion membelai rambut panjang nan hitam legam bergelombang milik Sahnum itu dengan senyuman yang terus tersungging di sudut bibirnya Arion.
"Menurut abang nanti sajalah kita pikirkan masalah itu, aku tidak pernah berpikiran menikahimu itu karena anak ataupun memiliki keturunan, bagiku selama kita bersama kebahagiaan itu pasti akan menyusul, jadi tolong jangan sembarang berfikir macam-macam lagi kamu tenanglah jangan terbebani dengan masalah anak kita kelak," nasehatnya Arion.
Arion mengecup berulang kali keningnya Sahnun, sedangkan Sahnum memainkan dada bidangnya Arion.
"Masalah mengadopsi anak nantilah kita bahas lagi, tujuan utamanya abang menikahimu karena ingin bahagia bersamamu hingga kakek nenek sampai akhir hayat kita selalu bersama selamanya, kamu tidurlah sudah larut malam," pintanya Arion.
Dengan sikap dewasa dan bijaksananya tidak ingin membebani diri istrinya itu mengingat dia juga tidak akan pernah dan mustahil akan memiliki seorang anak dengan kondisinya yang sudah divasektomi atas kemauannya sendiri.
Sahnum pun memejamkan kedua pasang matanya menuju mimpi indahnya yang tubuh dan tulangnya seperti akan patah saja saking padatnya jadwal aktifitasnya hari ini.
Berbeda dengan ketiga kamar lainnya yang masing-masing memiliki pasangan sendiri. Sedangkan Abyasa Akhtam tidak bisa memejamkan matanya bukan karena suara dari seberang kamar adik-adiknya melainkan dia tidak bisa tidur pulas dan nyenyak karena memikirkan seseorang.
Abiayasa sudah berbolak balik kanan kiri tapi, tetap saja sama tidak bisa tidur nyenyak. Abiyaza mengusap wajahnya dengan gusar.
Astauhfirullah aladzim kenapa bayangan Shaista Tanisha selalu menghantuiku ya Allah. Aku seharusnya tidak mengingatnya lagi, karena kami hanya berteman satu kantor saja. Sedangkan Shaista akan menikah dengan pria jodoh pilihan kedua orang tuanya.
Abiyaza memegangi hpnya dan kembali membuka aplikasi berkirim pesan chatnya itu.
"Tolong jemput aku malam ini Du jalan XX, aku tidak ingin menikahi pria pilihan mamaku, aku mohon bantulah aku, kamu kan temanku,"
Pesan yang dikirim oleh Shaista Tanisha padanya sekitar lima menit lalu. Padahal baru dalam hitungan menit dia terlelap dalam tidurnya dan kembali terjaga karena pesan chat itu.
Hari ini sungguh banyak cobaan yang menghampiri keluarga kami, mulai dari Arabela Aqila dan Ariela Ziudith yang masih terbaring koma, Paman Irwan yang manjadi otak pelaku dari kejadian itu hingga penghinaan yang diberikan Bu Karisma untuk Sha.
Abyasa terduduk di ujung ranjangnya dan segera meraih kunci mobilnya setelah melihat jarum jam di dinding kamarnya menunjukkan pukul sebelas malam.
__ADS_1
Saya harus segera menolongnya, Tanisha tidak boleh menikah dengan pria yang tidak dicintainya itu.
Fania Mikaila Az-zahra ucapkan "Selamat hari kemerdekaan untuk seluruh rakyat Indonesia dimanapun berada. Merdeka sekali merdeka tetap merdeka.. semangat meraih kemerdekaan yang sesungguhnya.