Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 97


__ADS_3

Dina terduduk di atas sofa, kepergian kedua anaknya dan suaminya membuat luka di hatinya kembali tersayat. Pernikahan yang sudah diperjuangkannya bertahun-tahun ternyata tidak mendapatkan balasan dari suaminya sendiri.


"Ya Allah…sebenarnya saya ini dianggap sebagai apa oleh mas Irwan, apakah hanya ada Mbak Dewi di hatinya suamiku sedangkan aku yang sudah hampir dua puluh tahun menemaninya sama sekali tidak dianggapnya, ya Allah bagaimana caraku lagi untuk meyakinkan mas Irwan jika saya adalah istri sahnya bukan wanita lain, tidak mungkin saya membenci Mbak Dewi bukan dia yang bersalah tapi mas Irwansyah yang memiliki hati yang begitu sempit dan piciknya."


Air matanya terus-menerus menetes membasahi pipinya itu, dia juga sedih melihat kedua sikap putrinya yang dominan mirip papanya.


"Hanya Ahsan putraku yang selalu bisa mengerti kondisiku dan hanya dia yang paling memahamiku, astagfirullahaladzim ya Allah ampunilah segala dosa dan khilaf ku yang selama ini aku perbuat,"


Irwansyah berjalan terus ke arah dalam ruangan pribadinya, ruangan yang tidak pernah didatangi oleh siapapun itu termasuk Dina sang istri.


Ruangan yang didalamnya penuh dengan foto-foto, pernak-pernik tentang Dewi Kinanti Mirasih. Kamar tempat Irwansyah diam-diam mengagumi istri orang lain.


Semua foto keseharian Dewi diambil gambarnya diam-diam oleh Irwansyah. Hingga hampir memenuhi seluruh ruangan tembok ruangan itu.


Irwansyah mencium satu persatu fotonya Dewi yang terpasang di salah satu tembok yang dipenuhi oleh foto-fotonya Dewi.


"Dewi sampai kapanpun kamu tetap satu-satunya wanita yang aku cintai dan sayangi di dunia ini, aku tidak akan pernah bisa mencintai perempuan lagi didunia ini, hanya kamu yang mampu menggetarkan hatiku termasuk Dina hanya sebagai alat untuk menutupi perasaanku pada kakaknya,"


Irwansyah berkeliling melihat-lihat semua koleksi fotonya Dewi yang terpampang di sekitar ruangan pribadi rahasianya Irwansyah.


Sedangkan di tempat lain, yang terdapat di belahan dunia lain tepatnya di salah satu negara Eropa yaitu London UK Inggris.


Seorang gadis baru berusia 20 tahun itu betapa bahagianya setelah melewati beberapa mata kuliahnya hari ini. Awalnya dia menyangka hari pertama kuliah akan lebih sulit karena berada di negara lain dengan adat istiadat, budaya, kebiasaan, hingga iklim dan cuacanya yang siang hari itu cukup cerah.


Musim panas bulan juni cukup indah, kebanyakan warga asli Inggris mengisi libur musim panasnya dengan berbagai aktivitas seperti halnya dengan Shaira Innira Abidzar Iskandar.


Gadis cantik berhijab itu tersenyum penuh kelegaan karena mata kuliahnya yang cukup rumit dapat dilewati dan diselesaikan olehnya dengan baik.


"Alhamdulillah lumayan menguras pikiran hari ini, Abang Hans gimana kabarnya apa yang dilakukannya? Terakhir kami berkomunikasi satu minggu lalu," gumamnya Shaira seraya mengecek whatsapp di hpnya itu.

__ADS_1


Shaira berjalan ke arah halte bis, karena untuk sampai ke asrama mahasiswa ia harus memakai kendaraan umum. Sedang kedua kakaknya itu masing-masing tinggal di asrama khusus pria yang disediakan oleh pemerintah Indonesia.


Abyasa Akhtam dan Aidan Akhtar masing-masing sibuk menjalani kehidupan baru mereka di luar negeri. Keduanya memilih untuk mengisi waktu senggang mereka dengan bekerja paruh waktu di salah satu cafe dan resto yang tidak jauh dari tempat asrama mereka.


Keduanya tidak ingin terlalu memberatkan biaya hidup mereka kepada kedua orang tuanya sehingga diam-diam memutuskan untuk bekerja ontime saja.


"Abang Abya dan Aidan pasti sibuk rencananya mau ke asramanya Abang, tapi setahuku hari ini mereka sibuk bekerja," cicitnya Shaira sambil terus melangkahkan kakinya menuju ke arah seberang jalan bersama dengan beberapa orang yang kebetulan juga menyebrang ke zebra cross.


Shaira melangkahkan kakinya dengan penuh bahagia suka cita, hingga tanpa sengaja sudut ekor matanya melihat seorang anak kecil terjatuh ke atas aspal.


"Ahh!!" Jerit anak kecil itu.


Beberapa orang hanya melirik saja tanpa ada niatan untuk menolongnya, sedangkan Shaira tanpa ragu segera berlari cepat menuju ke tempat anak kecil berkuncir dua itu.


"Hiks!! Hikss!! Dad help me!" Ratapnya anak kecil yang kira-kira baru berusia empat tahun itu.


Shaira tidak peduli dengan tatapan aneh ditujukan padanya dengan sikapnya yang berlari kencang di trotoar hingga beberapa orang disenggolnya.


"Daddy!" Lirihnya anak kecil itu yang mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencari keberadaan papanya sambil sesekali mengucek matanya yang terus meneteskan air mata.


Shaira segera membantu anak itu berdiri setelah sampai di depan anak kecil yang sangat imut dan cantik itu di matanya.


Shaira berjongkok di depannya anak itu, dia segera mengulurkan tangannya untuk membantu anak itu berdiri. Sedangkan sang anak terkejut melihat ukuran tangan tersebut. Tanpa ragu dan banyak pikir, sang anak tersebut segera menyambut uluran tangannya Shaira.


"Terima kasih aunty," cicitnya anak kecil yang sudah berdiri di depan Saira yang masih dalam posisi berjongkok.


Shaira terkejut mendengar ucapan anak itu,ia mengerutkan keningnya karena anak kecil itu awalnya ketika meminta tolong memakai bahasa Inggris. Tetapi selanjutnya memakai bahasa Indonesia.


Shaira membantu membersihkan seluruh pakaiannya anak kecil itu yang terkena kotoran debu dengan kedua tangannya. Sedangkan anak itu terus memperhatikan dengan seksama wajahnya Shaira.

__ADS_1


"Ya Allah adek kok bisa terjatuh seperti ini, emangnya Papa dan mamanya ada di mana cantik?" Tanyanya Syaira yang masih merapikan seluruh pakaiannya anak kecil itu.


"Bunda," ucapnya anak itu seraya memeluk langsung tubuhnya Shaira.


Shaira kembali dibuat tercengang oleh kelakuan anak itu, tadi dikejutkan ketika anak kecil yang mirip orang Inggris asli pribumi memakai bahasa Indonesia untuk menyapanya sedang sekarang adalah memeluknya dan menyebutnya dengan sebutan bunda.


"Bunda!" Beonya Shaira.


"Bunda cakit, atu takit tekali,kaki cakit," keluhnya anak kecil itu dalam bahasa masih terbata dan cadel tersebut.


"Ohh adek kakinya sakit yah,gimana kalau kakak antarin kamu menemui bunda dan papa kamu yah," pintanya Shaira sambil menggendong tubuhnya anak itu yang menyebutnya sebagai bundanya.


Shaira mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya dan mencari keberadaan perempuan yang mungkin mamanya anak kecil itu.


"Bundanya ada dimana dede cantik? Apa kamu ingin kakak antar menemui bunda atau papanya mungkin," usulnya Saira yang hendak mengajak anak itu berkeliling mencari keberadaan kedua orang tuanya.


Anak itu segera menggelengkan kepalanya," tatak tantik adalah bundaku, bukan olang lain," ujarnya anak kecil itu sembari menggelengkan kepalanya dengan berbicara gaya anak-anak kecil yang masih tidak fasih dalam berbicara.


Shaira tersenyum simpul mendengar perkataan anak itu yang menganggapnya sebagai bundanya.


"Adek cantik, dedek manis yang tanpa gula dan pemanis buatan kakak bukan bundanya, kau pasti salah mengenali orang, kalau gitu gimana kalau kakak ajak kamu mencari kedua orang tuamu," sarannya Shaira seraya menampik perkataannya anak itu.


Anak itu malah terdiam bukannya menjawab perkataannya Shaira atau pun menyanggahnya,tetapi malah terdiam sambil mengarahkan pandangannya ke arah toko ice cream.


"Bunda ice cream penen makan itu!" Tunjuknya anak itu.


Shaira segera mengarahkan pandangannya ke arah tempat area yang ditunjuk oleh anak itu.


"Ooh kamu pengen makan es krim rupanya,kalau gitu kakak ajak kamu ke sana, ayok let's go!"

__ADS_1


Shaira dengan anak kecil berkepang dua yang lebih mirip ekor kuda itu berjalan bergandengan tangan menuju ke arah kafe terdekat dari kampus.


__ADS_2