Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 224


__ADS_3

"Assalamualaikum Tante," ucap Shaira Innira yang tersenyum sebelum meninggalkan tempat pemakaman umum tersebut.


Mereka ke tempat wc umum untuk membersihkan tangan,kaki dan wajah mereka terlebih dahulu sebelum balik ke rumah masing-masing. TPU tersebut berdekatan dengan salah satu masjid, sehingga mereka membersihkan anggota tubuh mereka sebelum masuk ke dalam mobil.


"Ambil pelajaran berharga dalam kematian papanya Ahksan Nak, bahwa semua yang bernyawa di dunia ini akan mengalami namanya kematian, hanya saja setiap yang bernyawa itu cara kematiannya berbeda-beda,maka jika ingin mendapatkan kematian yang husnul khotimah maka perbaikilah sisa kehidupan kalian di dunia ini," nasehatnya Syamuel sambil mengemudikan mobilnya.


Shaira dan Dewi yang berada satu mobil dengannya mendengarkan dengan seksama semua yang dikatakan oleh papanya itu.


Sedangkan di mobil lainnya, ada Abiyasa dan Aidan bersama Maryam sedangkan Shanum dan Arion tidak ikut bersama mereka ke pemakaman, mengingat Shahnum dan debay Sahnaz masih sangat kecil. Sehingga tidak bisa diajak bepergian dan juga ini adalah pemakaman di kuburan bukan tempat yang cocok didatangi oleh seorang bayi.

__ADS_1


"Alhamdulillah yah Mas Om Irwansyah sudah meninggal dunia, jadi kita bisa bernafas lega karena buronan sudah tertangkap dalam keadaan tidak bernyawa," ucapnya Maryam Nurhaliza.


"Iya sayang, untungnya dia sudah meninggal dunia, sisa yang menjadi ancaman kita adalah Bu Nadia Yualianti yang ternyata dia adalah istri pertamanya papa," ungkapan Abyasa.


"Apa!?" Teriaknya Maryam dan Aidan Akhtar yang terkejut mendengar perkataan dari kakaknya itu.


"Iya aku dapat informasi ini dari Arion,dia sudah menyelediki siapa sebenarnya Bu Nadia, tanpa bertanya kepada Mama ataupun papa, dan rencananya dia akan dijobloskan ke dalam penjara bersama dengan Ariela Ziudith yang sudah bekerja sama dengan Bu Nadia, untungnya Arabela Aqila tidak ikut perencanaan kecelakaan tersebut, andaikan dia bergabung juga dengan mereka mungkin nasibnya akan di dalam penjara!" Jelasnya Abyasa panjang kali lebar sama dengan luas.


Dina masih butuh keberadaan kakak tunggalnya bersamanya. Ia sangat butuh teman berbagi suka dan duka, tetapi Dina Anelka Mulya tidak mungkin menahan kepergian kakaknya apalagi dua hari lagi keponakannya Abiayasa Akhtam akan menikah dengan Sanika Tanisha Hermasyah, tepatnya hari minggu.

__ADS_1


Mbak Dewi aku butuh banget kakak menemaniku,tapi aku tidak boleh egois sedangkan anak-anak yang aku miliki tiga-tiganya tidak ada yang bisa aku andalkan.


Dina mengusap air matanya yang menetes membasahi wajahnya dengan gusar memakai punggung tangannya itu. Dina menatap intens kepergian kakak dan semua anggota keluarganya yang sedari tadi menemaninya dari rumah duka hingga ke tempat pemakaman umum tpu yang tidak jauh jaraknya dari kediamannya Dina dan Dewi Kinanti.


Mereka sudah cukup aku bebani dengan permasalahan anak-anak dan suamiku. ya Allah sungguh berat cobaan yang Engkau berikan padaku.


Dina mengusap nisan batu suaminya dengan tetesan air matanya yang terus menerus beranak sungai.


Aku berharap, semoga saja anak-anakku tidak lagi bersikap seperti dulu. Aku sudah cukup kecewa dengan perilaku ketiga anakku.

__ADS_1


Perjalanan pun mereka tempuh dalam perbincangan hangatnya. Mereka sesekali membicarakan masalah Dina Anelka dan ketiga putra putrinya itu.


__ADS_2