
oek... Owek..
Suara tangisan seorang bayi yang begitu kencang dan lantang di tengah malam buta membuat sepasang suami istri yang baru saja sampai di dalam carport mobilnya.
Sahnun dan Arion sangat gembira menemukan bayi mungil, cantik, putih dengan bulu matanya yang lentik, hidungnya yang mancung serta bibirnya mungil berwarna merah membuat kedua pasutri itu jatuh hati pada pandangan pertama.
"Entah siapa yang menaruh bayi ini depan rumah? Aku sungguh prihatin dengan sikap segelintir perempuan yang diberikan kepercayaan oleh Allah SWT untuk menjadi seorang ibu tapi malah mereka menyia-nyiakan kesempatan tersebut," sungutnya Shanum.
Shanum menggendong bayi malang berbedong warna pink itu. Dia sesekali menciumi pipi gembulnya bayi yang ditaksirnya kira-kira berusia dua minggu.
"Bang Ar, gimana kalau Mama dan papa bertanya, kita dapat bayi cantik ini dari mana?" Tanyanya Sahnun yang berjalan beriringan dengan suaminya menaiki tangga.
"Kamu ngomong saja sama mereka, jika sore tadi kita ke panti asuhan yang mengadopsinya,"jawab Arion yang sesekali menoel hidung mancungnya bayi itu yang lebih mirip orang blasteran Eropa.
Shanum menghentikan langkahnya ketika mendengar perkataan dari suaminya itu, sejujurnya dia tidak menduga jika suaminya akan berkata seperti itu.
Tumben Abang berfikiran seperti itu, tapi memang sih pada kenyataannya abang memang selalu mendukung apapun yang aku lakukan dan putuskan.
Kedua matanya Sahnun berbinar binar seketika mendengar perkataan dari suaminya itu.
"Seriusan tidak masalah kalau aku ngomong begitu dengan siapa saja yang bertanya tentang asal usul bayi cantik kita?" Tanyanya balik Shanum yang seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh suaminya itu.
Shanum berharap suaminya tidak menentang keputusan untuk mengangkat anak yang tidak jelas asal usulnya itu.
Shanum menunggu beberapa saat, karena Arion tidak langsung menjawab pertanyaan dari istrinya itu.
Arion mengecup sekilas bibirnya Shanum sebelum menjawab pertanyaan dari istrinya itu.
Shanum melototkan matanya saking terkejutnya karena Arion berani menciumnya di luar kamar. Padahal biasanya mereka akan melakukan itu jika berdua saja, bukan di tempat umum.
__ADS_1
"Serahkan saja semua kepada suamimu ini, masalah administrasi dari putri cantik kita, besok pagi sudah ada berkasnya jadi kamu tidak perlu merisaukan itu semua, Abang akan lakukan apapun yang paling penting kamu bahagia karena itu tujuan utamaku menikahimu Shanum Inshira Yahya,"
"Tapi, Abang sudah ikhlas berbagi waktu, kasih sayang dan cintaku untuk princess kita ini?" Sahnum menatap intens ke arah suaminya itu.
Arion yang hendak merogoh ponselnya di saku celananya itu terhenti mendengar perkataan dari istrinya itu.
"Apapun itu abang sudah siap mental hadapi kedepannya hidup kita, tidak perlu kamu ragukan masalah itu sayang, karena abang juga baru melihat bayi ini sudah seperti anak kandung kita sendiri, mungkin Allah SWT telah mengirimkan bayi mungil ini untukku dan terkhusus untuk kamu sayangku, jadi jangan sekali-kali ada niat dan pikiran kamu jika abang tidak bisa menjadi papa yang baik dan bijaksana seperti papa lainnya di luar sana," tuturnya Arion dengan mantap.
Arion menyakinkan kepada Shahnum jika dia sanggup menjadi bapak yang penuh tanggung jawab dan kewajibannya akan dapat penuhinya setulus hatinya,walau anak ini bukan darah dagingnya mereka.
Arion kembali mengecup sekilas bibir mungilnya Sahnum, awalnya Arion ingin memperdalam ciumannya tetapi, mengingat bayi itu butuh istirahat apalagi sudah jam dua belas lewat tengah malam.
"Makasih banyak suamiku, aku semakin yakin jika di dunia ini aku sangat beruntung bisa bertemu dan menikah dengan pria seperti Arion Sneider Oesman," imbuhnya Sahnum yang membalas ciuman suaminya.
Keduanya segera melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda. Arion segera menghubungi nomor ponsel asisten pribadinya untuk meminta segera dibelikan perlengkapan bayi perempuan tanpa terlewat satu barangpun.
Arion juga berpesan agar mendekorasi kamarnya dengan nuansa kamar bayi girl, walau sudah tidak ada lagi kamar kosong, kecuali kamar tamu satu yang tersisa. Tapi, mengingat dia hanya punya bayi seorang saja sehingga tidak mempermasalahkan berbagi kamar dengan bayinya.
Pintu terbuka lebar setelah Arion membantu memutar kenop pintu kamarnya. Shanum segera menidurkan bayinya ke atas ranjangnya.
"Sha kamu punya dot gak?" Tanyanya Arion yang baru teringat bagaimana apabila bayi itu lapar dan kehausan di tengah malam.
Shanum yang baru saja membaringkan tubuhnya bayi perempuan itu," iya juga yah bang, Shanum menepuk jidatnya dengan pelan. "Astaughfirullahaladzim aku kok sampai lupa yah, tunggu dulu cucunya Tante Kania keponakannya Amar pernah nginep di sini, kayaknya ada botol susu tapi, ngomong-ngomong masalah susunya gimana bang?" Tanyanya balik Shanum yang masih menoel hidungnya bayi itu.
Arion kembali menghubungi nomor ponselnya Antoni untuk membelikan beberapa dos susu formula dan botol dot paling bagus kualitasnya.
"Anton, tolong belikan beberapa dos susu formula bayi dan dotnya juga, aku tunggu secepatnya sebelum putriku nangis karena kelaparan," titahnya Arion.
Anton yang sudah tidur sekejap langsung terjingkak dari tidurnya saking terkejutnya mendengar perkataan dari atasannya.
__ADS_1
"A-pa susu formula! Bayinya Tuan Muda Arion!" Beonya Antoni yang membulatkan matanya saking terkejutnya mendengar perkataan dari atasannya itu.
"Iya tepat sekali apa yang kamu katakan, aku tunggu kamu secepatnya! Jika kamu terlambat aku akan potong gaji dan tidak ada bonus khusus bulan ini," ancamnya Arion.
"Ba-ik… baik Tuan Muda saya akan segera pergi," Antoni gelagapan dan segera menyibak selimutnya sehingga terlihatlah boxer pendek bermotif Spongebob itu berwarna kuning.
"Iya aku tunggu sekarang juga, tidak pakai lama," ucapnya Arion sebelum menutup sambungan teleponnya itu.
Shanum hendak berjalan ke arah luar untuk mencari dot bekas pakai cucunya Ibu Kania istri dari Syafiq Fatahillah segera dicegah oleh Arion.
"Sha stop! Aku tidak ingin barang bekas pakai di berikan kepada putri kita! Aku mau semuanya serba baru ingat itu tidak boleh bekas dari orang lain!" Ucapnya Arion dengan penuh ketegasan.
Sahnun terharu sekaligus tersenyum kegirangan saking bahagianya dia berlari cepat ke arah suaminya langsung mendekap erat tubuh tegap pria yang sudah berjanji padanya sehidup semati itu.
"Makasih banyak suamiku, aku sungguh sangat bahagia karena kamu selalu mengerti apa yang aku butuhkan, aku tidak tau harus membalas bagaimana kebaikan kamu bang," ucap Sahnum yang memeluk tubuh suaminya itu disertai dengan air matanya yang terus menetes membasahi pipinya.
Arion melingkarkan tangannya ke pinggangnya Sahnum dan mendekatkan wajahnya ke telinganya Sahnum. Hingga hembusan nafasnya mengenai leher jenjangnya dan telinganya Sahnum yang membuat geli seolah menggelitik permukaan kulitnya.
"Kalau gitu pu*skan Abang malam ini,abang ingin menikm*ti tub*hmu malam ini," bisiknya Arion dengan tatapan matanya yang sayu.
Sahnun tersenyum penuh arti karena sudah paham apa yang akan diminta oleh suaminya itu.
Sahnun segera berjalan ke arah ke dalam kamar mandi, dia menarik tangannya Arion agar mengikuti langkahnya.
"Kita di dalam kamar mandi saja bang,malu sama princess entar kebangun lagi jika ranjangnya bergoyang," cicitnya Shanum yang raut wajahnya sudah memerah menanggapi perkataannya sendiri.
Arion tanpa ragu segera menggendong tubuhnya Sahnum sehingga Sahnun berteriak kencang.
"Aahh takut jatuh bang!" Teriak Sahnun yang merasa dirinya seperti terbang melayang karena Arion yang tidak meminta ijin kepadanya terlebih dahulu.
__ADS_1
Sahnun melingkarkan tangannya ke lehernya Arion, Shanum menyentuhkan sisi wajahnya ke dada bidangnya Arion yang masih terbungkus pakaian itu.
"Kamu tidak akan jatuh kok istriku, karena ada aku yang akan selalu berdiri di sampingmu dalam suka dukamu," imbuhnya Arion.