Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 227


__ADS_3

Sudah dua bulan lebih aku mencari keberadaanmu ternyata kamu adiknya dokter Shaira.


Ade Nugraha menatap intens ke arah yang Adisti.


Allah SWT telah mempertemukan kita kembali dengan jalan yang lebih mudah lagi. Aku tidak akan pernah bisa melupakan kenangan kita malam itu.


Kenapa lagi-lagi aku dekat dengan pria yang sudah memiliki pasangan, dulu mas Andrew Parker katanya mencintai perempuan lain yang membuat aku akhirnya bertemu dengan Ade yang seorang dokter muda.


Apalagi dia sudah menikah, kenapa aku selalu masuk ke dalam lingkaran yang sama lagi. Selalu berada di tengah-tengah hubungan wanita lain.


Adisti merutuki dirinya sendiri saking kesalnya dengan jalan hidup yang dipilihnya.


Adisti berdiri dari duduknya, padahal makanan yang ada di atas piringnya belum habis, masih tersisa banyak.


"Adisty, kenapa makanannya enggak dihabiskan?" Tanyanya Dewi.


Adisti Ulfah salah tingkah dan grogi dengan kehadiran teman kerjanya Shaira dari rumah sakit tempat dia bekerja, sekaligus rumah sakit milik suaminya sendiri Adelio Arsene Smith.


"Ah a-nu a-ku sudah terlambat ke kantor Tante, ini kan hari pertama aku bekerja jadi meski harus datang lebih awal," kilahnya Adisty yang menutupi kegugupannya itu.


"Kalau gitu kamu berangkat saja nak, tapi ingat hati-hati mengemudinya jangan sekali-kali berniat untuk balapan di jalanan," nasehatnya Dewi yang punggung tangannya dicium oleh Adisty.


"Iya Tan, assalamualaikum," ucapnya Adisti yang berpamitan.


Adisti segera berjalan cepat ke arah pintu keluar tanpa berniat untuk menolehkan kepalanya walau hanya sekilas saja.


Adisti menepuk jidatnya dengan pelan, kenapa bisa dia berteman dengan Mbak Shaira, semoga saja dia bisa tutup mulut,tapi tadi katanya sudah menikah berarti apa yang dikatakan di club dua bulan lalu hanya omong kosong doang saja!


Adisti melirik sepintas lalu ke arah Ade Nugraha yang barusan mendudukkan tubuhnya ke atas kursi meja makan.


Kenapa aku bisa melakukan dengan pria beristri,ya Allah aku tidak menduga jika pria tempat aku curhat beberapa bulan lalu adalah pria beristri.

__ADS_1


Aku berharap semoga dia sudah melupakan yang terjadi pada kami malam itu.


Ade terus menatap ke arah kepergian perempuan yang mampu membuatnya mengenal cinta, padahal dia sudah beristri.


"Silahkan Nak Ade dicicipi makanannya, itu masakan sahabat kamu loh," ucapnya Bu Rina Amelia neneknya Shaira.


"Iya Nak kamu sudah lama Ndak pernah datang ke sini loh, jadi kamu nikmati saja masakannya Shaira. Tapi, ngomong-ngomong gimana dengan hubungan kau dengan Alona?" Tanyanya Dewi lagi.


"Ya Allah Nenek, Mama juga kasihan Ade loh kalau diberondong dengan banyak pertanyaan, kapan makannya," candanya Shaira yang memang seperti adik kakak saja hubungan mereka.


Apalagi Ade sejak dulu sering bertandang dan menginap di rumahnya Shaira karena dia berteman juga dengan Abiyasa. Waktu itu Adisti dan adiknya Fariz belum datang.


"Hubunganku dengan Alona sudah kandas di tengah jalan, insha Allah bulan ini kami akan menghadiri sidang perdana perceraian kami Nek," ungkapnya Ade yang sangat santai tanpa beban ketika mengatakan masalah kisruh rumah tangganya.


"Apa cerai!? Astaughfirullahaladzim kenapa bisa seperti itu! Saya baru tiga bulan nikah ehh kamu malah bercerai, kayak beli permen saja kamu permainkan pernikahan kalau gini," dengusnya Shaira yang memang orangnya to the poin mengatakan yang sejujurnya jika ada temannya yang salah langkah.


"Kamu punya anak Nak?" Tanyanya Dewi yang penasaran dengan kehidupan salah satu sahabat anak kembarnya.


Ade pun mulai mengisi makanannya sambil sesekali menjawab pertanyaan dari orang-orang yang cukup penasaran dengan kehidupan pribadi pria yang masih ganteng di usianya yang hampir sama dengan Shaira.


Aidan dan Maryam hanya mendengar perkataan mereka tanpa ikut menimpali pembicaraan mereka.


"Kami memang sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungan pernikahan kami, karena sejak awal kami memang tidak pernah saling mencintai, pernikahan kami terjadi karena memang perjodohan dari kedua orang tua kami, aku memilih untuk segera mengakhirinya apalagi aku mencintai perempuan lain," jelasnya Ade Nugraha panjang lebar.


"Kalau tidak cinta untuk apa dipertahankan pasti akan sama-sama saling menyakiti ujung-ujungnya. Karena hidup ini pilihan jadi lakukan saja apa yang kamu anggap terbaik untuk kehidupan kamu sendiri," imbuhnya Syam yang ikut berbicara mengeluarkan pendapatnya.


Ade sesekali hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan dari orang-orang yang sudah dianggapnya saudara sendiri.


"Maafkan saya yah dede Aira, saya enggak bisa hadir waktu kamu nikah dengan pak Adelio, waktu itu saya ada di Tokyo Jepang, hanya Mama aku yang wakili aku untuk hadir," ucap sesalnya Ade.


Shaira segera menyelesaikan acara makannya itu dan menyimpan garpu dan sendoknya, "Haha, santai saja kamu seperti dengan orang lain saja harus berkata seperti itu, tapi Hem! Shaira nenganggantung pertanyaannya.

__ADS_1


Ade yang menenggak minumannya itu sehingga Shaira berhenti sesaat untuk berbicara.


"Ngomong-ngomong perempuan yang tadi sempat kamu katakan bagaimana ciri-cirinya apa aku mengenalnya?" tanyanya Shaira yang memang rasa keponya muncul jika berhubungan dengan orang terdekatnya.


Ade baru saja hendak berbicara dan mengatakan siapa orang yang telah membuatnya jatuh cinta. Tetapi, suara seseorang yang muntah-muntah membuat mereka berhenti berbicara.


Owek.. oek..


Maryam yang baru saja minum air putih tiba-tiba merasa mual sehingga dia gegas berlari cepat ke arah westafel. Aidan yang melihat istrinya muntah-muntah sangatlah khawatir.


Aidan memijit tengkuk lehernya istrinya itu, sedangkan yang lain segeralah berjalan ke arah Maryam Nurhaliza.


"Bibi Siti, boleh minta minyak kayu putihnya?" Teriaknya Aidan yang mulai panik melihat raut wajahnya Maryam yang pucat pasi.


Maryam terus memuntahkan semua makanan yang barusan dikonsumsinya hingga tak tersisa. Bahkan yang dimuntahkan oleh Maryam hanya cairan bening saja.


Dewi membantu putranya memijit tengkuk lehernya Maryam menggunakan balsem juga.


"Gimana Nak, apa yang kamu rasakan sekarang?" Dewi cukup takut melihat anak menantunya seperti ini.


"Sepertinya Mama akan segera mendapatkan calon cucu kedua nih, Mbak Maryam aku yakin dia sedang hamil," tebak Shaira yang melihat ciri-ciri di tubuhnya Maryam menandakan hal seperti itu.


Semua orang mengarahkan pandangannya ke arah Sahira yang entengnya mengatakan bahwa kakak iparnya sudah hamil.


"Mama dan nenek tanya Mbak Maryam saja pasti dia lebih mengetahui apa yang terjadi pada tubuhnya sendiri dibandingkan saya," ujarnya Shaira.


Semua orang kembali mengarahkan tatapannya ke arah Maryam sedangkan yang ditatap seolah mengerti dengan arti tatapan mereka semua.


"Apa yang dikatakan oleh Shaira mungkin memang benar adanya Ma, aku sudah dua bulan lebih belum datang tamu bulanan," cicitnya Maryam seraya menyeka ujung sudut bibirnya yang ada sisa muntahannya itu dengan menggunakan tissue yang disodorkan oleh Shanum.


Seperti itulah di dalam keluarga besar Syamuel Abidzar dan Dewi Kinanti, mereka akan berbagi suka dan dukanya. Akan silih berganti dan bahu membahu membantu untuk menyelesaikan masalah setiap anggota keluarganya mereka, tanpa ada yang merasa terbebani dengan apapun dan juga tidak akan ada yang mengadili atas kekurangan ataupun kekhilafan dari setiap anggota keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2