Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 105


__ADS_3

Dewi dan Syam yang baru sampai dari perjalanan cukup jauhnya dari luar daerah baru balik sudah disuguhi berita yang cukup membuat mereka semakin dibuat kelimpungan saja. Berita langsung dari tempat Shanum mengalami kecelakaan maut tertabrak oleh sepeda motor melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi dan ugal-ugalan pula.


"Maksudnya Bu apa yang terjadi pada putriku?" Tanyanya Syam yang mulai merasakan ketakutan.


"Putri bapak yang bernama Shanum Inshira mengalami kecelakaan dan sekarang menjalani operasi, tapi kami sangat menyesal karena stok darah di bank darah di rumah sakit kami kosong, jadi tolong secepatnya datang segera ke klinik Pak," ucapnya perawat yang menelpon ke nomornya.


Tubuhnya Syam lemas, lunglai dan lemah mendengar penjelasan dari salah satu perawat di klinik bersalin tersebut. Samuel mengusap wajahnya dengan gusar mendengar perkataan dari salah satu suster yang bekerja di klinik tersebut


"Baik Bu kami akan segera ke sana, tapi ngomong-ngomong rumah sakit mana? Kalau bisa di sharelock yah Bu," pintanya Syam yang tubuhnya semakin bergetar dan juga gemetaran seketika.


"Klinik X di jalan XX Pak," ucapnya Perawat itu lagi.


Dewi dan kedua asisten rumah tangganya itu menjadi pendengar setia yang tidak ada yang berani berkomentar sedikitpun.


"Apa klinik bersalin!" Beonya Sam.


"Benar sekali Pak, kami tunggu kedatangannya beserta anggota keluarganya yang lain yang cocok dengan darahnya pasien," ujarnya perawat itu lagi.


"Makasih banyak," cicitnya Syam.


"Sama-sama pak, selamat siang," ujar perawat itu lagi sambil mengakhiri perkataannya.


Syam segera terduduk di atas salah satu kursi meja makan. Ia menitikkan air mata saking takut dan paniknya hingga bukannya berangkat ke klinik malah terduduk dengan air matanya yang terus menerus menetes membasahi pipinya.


"Abang apa yang terjadi dengan Shanum putriku?" Tanyanya Dewi yang tidak bisa menyembunyikan rasa takut, cemas dan paniknya itu.


Sam mendongakkan kepalanya ke arah istrinya itu," Sahnun mengalami kecelakaan dan sekarang bertaruh nyawa di atas meja operasi, tapi stok darah dari golongan darahnya Shanum kebetulan sudah habis hari ini," jelas Sam.


"Ya Allah Abang, kalau begitu kenapa meski terduduk di sini? Mang Jono tolong cepat persiapkan mobil kita akan segera berangkat ke,"


Dewi menghentikan ucapannya setelah melihat kedatangan Mang Jono, sedangkan Sam masih tidak mampu nrtundak cepat karena pikirannya masih tertuju tentang apa yang sedang dikerjakan dan diperbuat oleh Shanum Du sebuah klinik bersalin apalagi lokasinya cukup jauh dari tempat tinggal mereka.


"Ya Allah apa yang sebenarnya terjadi kenapa Shanum putriku ada di klinik tersebut?"


"Abang kenapa bisa Shanum berada di klinik bersalin tersebut sehingga mengalami kecelakaan? Seingat saya tidak ada temannya yang tinggal Dy daerah xxx," tukasnya Dewi yang menggoyang tangannya Syam.

__ADS_1


Apa yang terjadi di dalam dapur tersebut tanpa sengaja di dengar oleh orang lain yang kebetulan datang bertamu yang kebetulan berjalan beriringan dengan Mang Jono.


Bu Siti menatap tajam ke arah pak Jono," "Mang Jono kenapa meski terdiam mematung seperti itu? Cepat pergi ke garasi untuk persiapkan secepatnya agar kedua Nyonya Dewi dan Tuan Syam segera berangkat!" Pintanya Bu Siti.


"Eh siap Bu Siti, tapi ngomong-ngomong tadi bapak kedatangan tamu loh," ucapnya Mang Jono malah tinggal berbicara dan masih belum bergerak untuk menyiapkan mobil.


"Ngomong-ngomong siapa yang datang? Karena mang Jono hanya seorang diri kok sedari tadi," gerutunya Bi Siti.


Mang Jono terkekeh sebelum menjawab pertanyaan dari Bu Siti, "Tadi aku bareng Pak Hanif Yahya, tapi ketika mendengar perkataan bapak lewat telepon yang mengatakan jika Non Sha mengalami kecelakaan di salah satu klinik bersalin," jelasnya Mamang Jono.


"Apa klinik bersalin! Kenapa bisa!?" Dewi membelalakkan matanya mendengar perkataan dari mang Jono tentang kata klinik bersalin.


Bi Mina sudah mengetahui dengan penyebab kenapa Shanum ada di klinik tersebut, "Nyonya, Tuan sepertinya kalau kita disini saja terus memperdebatkan masalah kliniknya akan membuat non Sha kondisinya semakin parah, kasihan Nona muda loh kalau kita datang terlambat," imbuhnya Bi Mina.


"Benar apa yang dikatakan Minah tuan dan nyonya jika hanya terus memikirkan masalah kenapa dan mengapa apa yang dilakukan oleh Non Sha di klinik tidak akan menjawab pertanyaan dari kita semuanya, saran saya adalah gimana kalau kita bergerak cepat janganlah sampai kita terlambat," ujar Bu Siti yang sangat mencemaskan keadaan keponakannya yang belum pasti keponakannya sendiri.


"Ya Allah... apa non Sha memeriksakan kondisi kesehatannya, apa jangan-jangan Non hamil betulan seperti yang kami khawatirkan sejak tadi pagi,"


Sedangkan tamu yang datang itu tapi bergegas pergi menyusul dan mencari letak klinik tersebut. Ia tidak ingin terlambat sampai di lokasi kejadian tempat operasi tersebut.


"Astaughfirullahaladzim,ya Allah jaga dan lindungilah putri kandungku, aku sudah mengetahui kalau Shanum Inshira adalah putri biologisku yang baru beberapa hari yang lalu aku ketahui, aku tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh putriku di klinik tersebut.


"Gina, kamu ada di mana? Tolong kembalilah, aku sudah hidup seorang diri tanpa istri dan anakku, mereka semua satu persatu meninggalkan aku, Gina kamu itu masih istriku kita belum bercerai," gumamnya Hanif Yahya yang akhirnya air matanya membasahi pipinya itu.


Sedangkan Dewi dan Samuel Abidzar segera meninggalkan rumahnya bersama dengan Siti. Mina disuruh tinggal untuk berjaga-jaga di rumah saja, sedangkan mereka berempat secepatnya menuju klinik bersalin.


"Ya Allah lindungilah anakku, saya tidak tahu harus berbuat apa lagi jika terjadi sesuatu pada putri sulungku," sesekali Syam menatap ke arah luar jendela karena tidak ingin membuat istrinya Dewi semakin khawatir jika melihat kondisinya itu.


Dewi memegangi punggung tangan suaminya itu yang ia ingin agar suaminya lebih tenang, sabar dan tidak berputus asa dengan kenyataan yang ada agar mereka bisa berfikir lebih fokus dan jernih tidak sembarang berfikir aneh-aneh.


"saya mengerti dengan apa yang terjadi dengan Abang, ingat Allah SWT pasti memiliki maksud tertentu sehingga memberikan cobaan yang begitu besar kepada kita," Dewi mengecup punggung tangan itu.


Syam menatap intens ke arah istrinya itu," makasih banyak sayang kamu sangat mengerti dengan kondisi ku ini, tapi semakin aku tidak melihat tubuhnya putriku aku semakin hancur lebur hatiku memikirkan semuanya ini,"


Syam tersenyum menanggapi perkataannya," Dewi kamu memang sanggup membuat aku bisa melupakan segala kegelisahan hati dan pikiranku ini, aku berharap semoga hari ini bisa kami lalui dengan baik pula." harapnya Syam.

__ADS_1


"Abang suamiku wajarlah aku perlakukan seperti ini, lagian sejujurnya saya juga sedih, takut, panik, cemas yang mungkin apa yang kita rasakan ini sama, tapi entahlah Bang ada yang sedari tadi mengganjal pikiranku ini," tuturnya Dewi yang sebenarnya segan untuk berbicara.


Tapi mau tidak mau keduanya harus berkata jujur dan terbuka saja agar mereka bisa hidup tenang dan damai kedepannya tidak ada lagi perselisihan antara mereka berdua.


Pak Jono dan Bi Siti hanya menjadi pendengar setia dari perbincangan kedua pasangan suami istri tersebut.


"Kasihan juga melihat Nyonya dan Tuan yang harus menderita seperti ini, tapi kapan yah ketahuan jika non Shanum adalah putri dari orang lain," Mang Joko menatap satu persatu majikannya dengan tatapan mengibah.


Tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Mang Jono," saya meminta maaf kepada kalian berdua, ini semua salah saya yang sudah memberikan jalan kepada Gina untuk memberikan anaknya pada Nyonya Yualianti dulu, saya letak kesalahan sehingga kejadian seperti ini tidak terjadi, semoga saja kedepannya nyonya dan tuan tidak marah sama saya,"


Pak Hanif Yahya sudah sampai di dalam area klinik bersalin tersebut sesuai informasi yang di dengarnya di dalam dapur di rumah salah satu sahabatnya sekaligus mantan rekan kerjanya dulu.


"Ya Allah selamatkan lah putri semata wayangku, aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya, hanya dia di dunia ini yang aku miliki, andaikan dia bersama dengan orang tua yang tidak beres sudah lama aku rebut Sahnun dari dalam keluarganya tapi, sayangnya dia adalah sahabatku terbaik yang aku miliki di dunia ini," cicitnya Hanif.


Pak Hanif segera berjalan ke arah dalam klinik. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling penjuru klinik. Hingga dia melihat ada beberapa suster yang berjalan ke arahnya.


"Siang Mbak suster, apa boleh saya bertanya sesuatu kepada kalian?" Pintanya Pak Hanif.


Keduanya langsung spontan berhenti tepat di depannya Pak Hanif," boleh pak, silahkan pak,"


"Maaf pasien yang bernama Shanum Inshira Abidzar Al-Ghifari yang mengalami kecelakaan maut dan sedang dioperasi, letak ruangannya ada dimana?" Tanyanya Hanif.


"Di depan koridor lorong sana, bapak belok kanan, sekitar sepuluh meter belok kiri itu sudah tempatnya Pak," jelas perawat itu yang sambil menunjuk ke arah ruangan yang lampunya masih sedang menyala.


"thanks Sus atas informasinya, kalau begitu saya ke sana," tuturnya Pak Hanif.


"Sama-sama Pak," Jawabnya keduanya yang sudah meninggalkan Hanif yang segera berjalan cepat karena tidak ingin ia datangi sampai di tempat ruang operasi.


Pak Hanif berlari cepat hingga nafasnya ngos-ngosan, keringat mengucur deras mengalir membasahi pipinya hingga ke sekujur tubuhnya.


Pak Hanif membungkukkan sedikit badannya karena sedang mengatur nafasnya yang tidak beraturan, "Maaf apa si dalam sana yang dioperasi itu adalah Sahnum Inshira?" tanya Pak Hanif.


Arion yang mendengar perkataan dari mulut pria tua yang berusia kira-kira sekitar 40an itu segera berjalan ke arah Pak Hanif.


"Benar sekali, tapi ngomong-ngomong ada hubungan apa dengan perempuan di dalam sana yang bernama Shanum?" tanyanya Hanif dengan penuh menelisik.

__ADS_1


"Saya papanya, tepatnya papa biologisnya," ungkap Pak Hanif.


"Apa! bukannya yang menjadi papanya Shanum adalah Syamuel Abidzar Al-Ghifari bukan pria yang baru saja berbicara dan mengaku adalah papanya, apa yang terjadi sebenarnya Di sini?"


__ADS_2