
Malam harinya mereka duduk bersantai di ruang tengah sambil berbincang-bincang santai sembari menyantap kue buatannya Dewi sore tadi. Yaitu ada kue lapis legit, brownies keju panggang, putu ayu sudah tersaji di atas meja sofa.
Pak Gilang dan Bu Rina meminta kepada Syam untuk menemani Dewi hingga melahirkan ketiga cucunya itu. Sehingga mereka akan menetap beberapa hari kedepannya di rumahnya Dewi.
"Syukur Alhamdulillah saya sangat gembira mendengar Papa dan Mama akan tinggal bersama kami, jujur saja ini satu kebanggaan dan kehormatan bagiku karena kalian sudi tinggal bersama kami, semoga Papa dan Mama betah dan kerasan tinggal disini," imbuhnya Dewi.
Dewi sangat bahagia karena kedua mertuanya sangat baik dan perhatian padanya, padahal mereka mengetahui kisah dan latar belakang kenapa sampai mereka menikah. Keduanya tidak mempermasalahkan hal ini, karena baginya yang paling penting adalah putra sulung mereka bahagia itu sudah lebih dari cukup.
"Kamu itu putri kami jadi tidak perlu sungkan untuk berterima kasih kepada kami, iya kan pak," ujarnya Bu Rina.
"Betul sekali apa yang mama katakan, Papa ingin orang yang pertama gendong cucu-cucuku adalah saya bukan orang lain, karena semua anaknya Papa tiga orang adik-adiknya Syam itu selalu Papa bertugas di luar daerah sehingga mamanya Syam melahirkan papa selalu tidak mendampingi Istriku melahirkan anak-anakku, jadi papa mohon pada kalian berdua ijinkan papa yang menggendong mereka dan mengadzani mereka juga," pintanya Pak Gilang dihadapan anak sulung dan menantunya itu.
Syam melihat ke arah Dewi yang seolah meminta persetujuan padanya itu. Dewi menyentuh punggung tangannya Syam sambil tersenyum lembut penuh kasih sayang.
"Alhamdulillah, ini satu anugerah dan kehormatan untuk saya dan Abang Syam, kami tidak keberatan dan setuju dengan permintaan dari Papa malahan saya sangatlah bahagia karena saya tidak menyangka jika calon anak kami belum lahir ke dunia ini sudah mendapatkan banyak limpahan kasih sayang dari kakek dan neneknya," ucapnya Dewi sambil menitikkan air matanya itu.
Syam yang melihat istrinya terharu segera memeluk Dewi dari samping, sembari menyeka air matanya Dewi.
"Ya Allah… syukur alhamdulillah makasih banyak nak jika kamu setuju, sebenarnya Papa juga meminta hal yang serupa dengan Nadia, tapi Nadia malah dengan lantangnya menentang dan menolak keras keinginannya Papa, tapi dengan kamu semua harapan besarnya papa bisa terwujud dalam beberapa hari lagi," gerutunya Pak Gilang yang secara tidak langsung mengatakan jika dia tidak menyukai sifat dan perangainya Nadia.
"Papa tidak boleh seperti itu, gimanapun juga Nadia akan melahirkan cucu kita juga, mungkin Nadia punya alasan sendiri sehingga menolak permintaannya papa, jadi jangan dzudzon dengan penolakannya Nadia, Papa patut bersyukur karena Syam masih memiliki istri lain yang akan memberikan papa cucu langsung sekaligus tiga orang loh," tukasnya Bu Rina yang berusaha untuk menenangkan dan meredam amarahnya suaminya itu.
__ADS_1
Syam hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan dari mulut kedua orangtuanya itu," aku pun merasa Nadia seperti menyembunyikan sesuatu masa hanya masalah sepele seperti itu harus menolak permintaannya Papa, padahal itu hanya masalah kecil saja,"
Perbincangan mereka berlanjut hingga beberapa jam kedepannya. Mereka sesekali tertawa terbahak-bahak dan riang penuh kegembiraan karena mendengar celotehan Bu Jubaedah dan Bi Minah Hasmia yang ikut menimpali percakapan mereka berempat. Waktu terus berjalan, hubungan anak menantu dan mertua itu semakin akrab saja.
Bu Rina pun meminta kepada Syam untuk mengadakan tujuh bulanan kandungan Dewi Kinanti Mirasih, walau hanya mengundang beberapa anak yatim piatu dan juga ibu-ibu majlis ta'lim di sekitar komplek perumahan Dewi.
Bu Rina meminta maaf kepada anak menantunya karena terlambat mengadakan acara syukuran tersebut, tapi Dewi sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut. Hanya kedua adiknya Syam yang datang yaitu Samil Alfarizi dan Saskia Rindra Az-zahra.
Karena mereka tidak mungkin mengatakan kepada siapapun jika Syam memiliki dua orang istri. Sehingga mereka memutuskan untuk menutup rapat-rapat dan merahasiakan segala-segalanya apa yang mereka ketahui demi kebaikan mereka juga.
Bab Rina bahkan tidak tanggung-tanggung membelikan segala macam perlengkapan bayi untuk ketiga calon cucunya itu. Sehingga semakin membuat Dewi terharu dengan kebaikan kedua mertuanya itu. Anggota keluarganya yang di kampung hanya Dinar, Bu Halimah, Pak Hamid saja yang datang sedangkan keluarganya yang lain tidak sempat datang.
Dina dan Dewi duduk berdampingan setelah semua tamu undangan telah bubar, sedangkan kedua paman dan bibinya itu berbincang-bincang dengan kedua mertuanya Dewi.
"Kalau saya diposisinya kamu pertama kalinya yang saya lakukan adalah mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas anugerah dan rezeki tersebut, kedua tanya pada hatimu apa kamu juga mencintainya, apa kamu sudah siap dengan segala konsekuensinya, kalau semuanya sudah kamu tanyakan pada hatimu kau bisa mengatakan kepada pria itu apa yang akan kamu jawab," imbuhnya Dewi yang tersenyum penuh bahagia karena mendengar adiknya akan menikah dengan pria pilihannya sendiri.
"Kalau gitu saya terima lamarannya yah mbak dan saya akan suruh dia datang melamar langsung di depan paman Hamid saja sebagai gantinya ayah dan ibu," tuturnya Dina.
"Iya itu bagus karena kalau kamu menikah akan ada pria yang menjaga dan melindungi dirimu kelak, kakak pasti akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu, tapi ngomong-ngomong pria itu asli mana dan pekerjaannya apa dek?" tutur Dewi yang cukup penasaran karena tiba-tiba Dina mengatakan jika akan menikah sedangkan selama ini Dina tidak pernah diketahui dekat dan menjalin hubungan dengan pria manapun.
"Katanya dia orang asli Jakarta, kerjanya di rumah sakit Mbak tapi kurang tahu apa, karena akum enggak mau terlalu banyak ikut mencampuri urusan pribadi dia, yang paling penting adalah dia kerjanya halal itu sudah cukup bagiku Mbak," jelasnya Dina.
__ADS_1
"Tapi, ngomong-ngomong namanya siapa calon adik iparnya Mbak?" Tanyanya lagi Dewi yang semakin penasaran dengan calon suaminya Dina yang serius akan melamarnya itu.
"Namanya…" ucapannya terpotong karena kedatangan Syam bersama dengan yang lainnya sehingga Dina melupakan akan menjawab apa pertanyaan kakaknya itu.
"Dina katanya paman sudah siap mau balik ke kampung," ucap Syam seraya mendudukkan dirinya ke atas sofa disebelah kanannya Dewi.
"Nanti dilanjutkan bincang-bincangnya kita, tapi Mbak gak bisa datang ke acara lamaran kamu dan kemungkinan besarnya di acara akad nikah dan resepsi pernikahannya kamu dengan kekasihmu itu, Mbak selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua, tapi ingat setelah menikah datanglah ke Jakarta untuk melihat calon keponakan kalian," permintaannya Dewi kepada adik tunggalnya itu.
"Insya Allah Mbak, amin ya rabbal alamin, assalamualaikum," Dina dan Dewi saling melepas kepergian mereka.
Rumah itu kembali sunyi seperti sebelumnya. Pak Gilang yang mantan salah satu anggota TNI itu semakin tidak sabar menunggu kelahiran ketiga cucunya.
Dua minggu kemudian, Dewi pagi itu berencana untuk shalat tahajud terlebih dahulu sambil menunggu adzan shalat Subuh. Tapi, baru saja selesai membaca doa, perutnya tiba-tiba sakit. Padahal rencananya esok hari mereka akan segera ke rumah sakit.
Awalnya Dewi tidak terlalu memusingkan dengan rasa sakitnya itu, karena baginya itu sudah biasa beberapa hari belakangan ini. Dia masih melanjutkan membaca surah pendek terutama surah Yunus ketika berada di dalam perut Ikan paus. Hingga ia tidak kuasa menahan rasa sakitnya itu.
Sedangkan hari ini juga akan diadakan acara ijab kabul sekaligus resepsi pernikahan Dina dengan kekasihnya itu.
"Abang Syam!" Jeritnya Dewi yang semakin merasakan kesakitan.
Syam yang mendengar teriakannya Dewi segera bangun dari tidurnya dan refleks melompat dari atas ranjangnya itu dengan hanya memakai celana boxer saja seperti kebiasaannya jika sedang tertidur.
__ADS_1
ingat setiap hari Jum'at akan ada reader yang terpilih sebagai pembaca yang beruntung dapat give away kecil-kecilan.