
Dewi dan Syam awalnya setiap saat sering was-was dengan sikapnya Irwansyah yang akan mengganggu kenyamanan dan ketentraman keluarganya itu.
Tapi, apa yang mereka takutkan tidak menjadi kenyataan. Untungnya Dina juga pintar menjaga suaminya sehingga kemungkinan hal tidak baik sampai detik ini tidak terjadi.
Apakah karena seiring berjalannya waktu, Irwan sudah menyadari kenyataan jika cintanya tidak mungkin terbalas. Atau kah Dina pintar menjaga hati suaminyadan rumah tangganya sehingga ketakutan itu tidak terbukti.
Satu minggu kemudian…
Ketika Dewi hendak mengantar ke empat anaknya ke sekolah dasar untuk pertama kalinya. Karena hari ini bertepatan dengan hari pertama keempat anaknya itu masuk sekolah dasar.
Kalau mengingat usia mereka yang baru enam tahun lebih itu akan banyak sekolah yang menolak, tetapi karena otak jenius dan kecerdasan mereka sehingga keempat anak-anaknya yang ditawarkan langsung untuk sekolah di SD.
"Mama apa Mama akan temani Sha di sekolah sampai pulang?" Tanyanya Shanum anak perempuan paling bontotnya itu.
Dewi yang sedang mengambil kunci mobil diatas mejanya itu segera menolehkan kepalanya ke arah putrinya berada.
"Kenapa emangnya nak?" Tanyanya balik Dewi.
"Sha takut Ma entar ada yang jahatin dan usil dengan Sha," jawab Shanum.
"Dede Sha kan ada Abang, kenapa meski takut Abang akan jagain kamu dek," timpalnya Abyasa yang baru saja menyelesaikan memasang sepatunya dibantu oleh Bi Siti.
"Alhamdulillah Mama bangga sama bang Abi yang bisa jagain adek-adeknya, jadi mulai sekarang Abang Aby harus berusaha lebih keras jagain adek kamu nak yang tiga orang ini, semoga dengan Abang ikut kursus taekwondo bisa menjadi kuat dan jadi jagoannya Mama dan adik-adikmu kelak sayang," ucapnya Dewi sambil memeluk tubuhnya keempat anaknya secara bersamaan.
Apa yang mereka lakukan tanpa sengaja dilihat oleh seseorang yang baru saja datang bertamu di rumahnya itu.
"Keakraban mereka sungguh membuatku terkadang sedih, karena saya tidak bisa punya anak seperti Mbak Dewi, sudah berulang kali saya keguguran dan berusaha juga berobat tapi hasilnya masih seperti ini,tapi untungnya ada Hanzal anak angkat kami sehingga sedikit mengurangi kesedihan yang aku rasakan setiap harinya." Citra menyeka air matanya itu yang menetes membasahi pipinya yang sedikit chubby dibanding beberapa bulan yang lalu yang lebih tirus.
Citra Hanifah memperhatikan dengan seksama apa yang dilakukan oleh Dewi dengan keempat anak kembarnya itu tanpa berniat untuk mengusik kegiatan dan aktivitasnya Dewi dan twins.
Ya Allah… apa ini karma yang aku dapatkan karena menyuruh selingkuhannya Mas Hanif untuk menggugurkan kandungannya waktu itu sehingga semua calon bayiku setiap aku hamil selalu saja keguguran.
Astaghfirullah aladzim, maafkan hambaMu ini ya Allah.. aku sudah terlalu banyak dosa dan salah.
__ADS_1
Tapi, jika memang aku ditakdirkan untuk tidak bisa menjadi ibu dari anak yang lahir dari rahimku sendiri. Maka jadikanlah aku ibu yang baik untuk anak angkat ku Hans.
Hanzal yang menemani bundanya itu hanya terdiam memperhatikan apa yang dilakukan oleh Bundanya tanpa banyak kata. Dia hanya memperlihatkan wajah sedihnya dan khawatir melihat bundanya bersedih.
Hanz menyentuh punggung tangan bundanya itu, sedangkan Citra yang merasakan tangan lembut dan dingin anaknya itu segera memperlihatkan senyuman dipaksanya.
Citra hanya menyentuh puncak rambut putranya yang tertutup topi berwarna merahnya.
Citra segera memperbaiki penampilannya sebelum menemui Dewi. Suaranya yang serak itu segera dinetralkan agar tidak ketahuan oleh orang lain termasuk Dewi dan anaknya.
"Assalamualaikum Mbak Dewi," sapanya Citra yang sudah berdiri di belakangnya Dewi.
Dewi dan keempat anaknya yang sudah bersiap masuk ke dalam mobilnya segera menolehkan kepala mereka secara bersamaan.
"Waalaikum salam," jawab mereka serentak.
"Hey Mbak Citra masuk sini, Hanz juga datang rupanya," ujarnya Dewi yang menyambut kedatangan kedua tamunya itu.
"Insya Allah Cut, mereka inginnya saya yang mengantar mereka di hari pertamanya masuk sekolah, awalnya akan diantar oleh Abang Syam tapi Abang ternyata ada meeting mendadak jadinya saya yang harus turun tangan langsung." Jelasnya Dewi.
"Dewi apa aku bisa nebeng dengan kamu,mobilku belum diganti olinya jadinya aku terpaksa harus ikut kalian deh, tapi ngomong-ngomong kami tidak merepotkan kamu kan?" ungkapnya Citra yang meminta tolong kepada Dewi.
Dewi tersenyum lembut dan ramah, "Ya Allah kenapa meski begitu sungkan, silahkan gabung dengan kami, lagian mereka kan satu sekolah dengan anak-anakku juga jadi tidak merepotkan kali Mbak,"
"Syukur Alhamdulillah kalau seperti itu Mbak, Hanz ikut masuk dengan temanmu," pintanya Citra.
"Siap Bunda, tapi aku pengen duduk dan sampingnya Shaira boleh kan?" Rengeknya Hanz sambil menunjuk ke arah Shaira anak kecil memakai hijab itu yang sejak ia berniat masuk sekolah dasar sudah meminta kepada kedua orang tuanya untuk memakai hijab dalam kesehariannya itu.
"Kenapa meski dekatnya dedek Aira,kan di belakang masih kosong," ketusnya Aidan yang tidak menyukai jika Hanz berdekatan dengan adiknya itu.
Dewi terkekeh melihat sikapnya Aidan yang memang lebih dingin, oper protektif dan sedikit jutek dibandingkan dengan saudara kembarnya itu.
"Aidan tidak apa-apa sayang kalau Hanz duduk di sampingnya dede Aira kan kebetulan disitu kosong karena depan yang duduk di sampingnya mama adalah bundanya Hanz," bujuknya Dewi.
__ADS_1
Aidan akhirnya mengalah dan menuruti perkataan dari mamanya dengan menatap tajam ke arahnya Hanz.
Saya tidak akan biarkan kamu dekat-dekat dengan adikku, saya akan halangi kamu.
Tatapannya Aidan sungguh mengintimidasi Hanz, tapi Hanz pembawaannya tenang sama sekali tidak terpengaruh oleh tatapan mematikannya Aidan anak keduanya Dewi dengan Syamuel.
Aku suka senang bermain dengan adikmu dan adikmu juga tidak merasa keberatan kok jadi kamu cukup diam dan menyaksikan kedekatan kami berdua.
Perang urat syaraf terjadi antara keduanya. Tapi yang lain sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi diantara mereka berdua.
Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di tempat sekolah kelima anak kecil itu. Setiap hari mereka menjalani aktivitas dan kegiatan mereka seperti itu.
Berbagai kursus dikuti oleh mereka dengan kemauan mereka sendiri, bukan paksaan dari Dewi atau pun Syam sebagai kedua orang tua mereka.
Hubungan Dina dan dokter Irwansyah semakin memperlihatkan dan menunjukkan bahwa, hubungan mereka semakin membaik saja. Tidak pernah terdengar lagi kabar jika Irwan bertindak kasar terhadap Dina ataupun mendekati Dewi secara terang-terangan.
Entah apa yang sudah terjadi padanya sehingga ketakutan yang dirasakan oleh Sam dengan Dewi tidak menjadi kenyataan.
Sedangkan Citra hingga detik ini belum mengandung juga,ia sudah pasrah dengan takdir dan garis tangan yang diberikan oleh Allah SWT kepadanya. Suaminya pun sudah tidak berhubungan dengan selingkuhannya atau pun dengan perempuan lainnya.
Hanif terlalu malu dengan beberapa sahabat dan rekan kerjanya setelah isu perselingkuhannya terendus ke publik. Rasa malu membuatnya segera introspeksi diri untuk menjadi suami yang lebih baik lagi dari sebelumnya.
Ya Allah.. bagaimana kabarnya Gina dengan calon anakku,apa dia menggugurkan kandungannya atau malah mempertahankan kehamilannya setelah aku memaksanya untuk membuang calon bayi kami dengan sejumlah uang,"
Hanif menatap ke arah luar jendela mobilnya ketika berada di bawah lampu merah.
Andaikan kehidupanku lebih mujur dan beruntung seperti Mas Sam yang menikahi dua perempuan sekaligus, kedua istrinya dulu hidup dengan damai tapi sayangnya hanya pria beruntung saja yang bisa seperti itu.
Maafkan Mas Gina aku tidak bisa memilihmu, jadi aku mohon kamu mengerti dengan apa jalan yang sudah aku pilih ini.
Suatu saat nanti aku yakin kamu mengerti dan memahami apa yang sudah aku putuskan. Kamu dengan Citra sama-sama aku cintai dan sayangi, aku berharap kamu tidak membenci keputusanku ini.
Semoga kamu bisa hidup lebih baik dan layak, aku hanya bisa berharap agar anak kita kamu lahiran dengan selamat.
__ADS_1