Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 171. Kedatangan Hanzal Abdul Djailani


__ADS_3

Bu Rina melototkan matanya saking terkejutnya mendengar perkataan dari anak menantunya itu.


"Biarkanlah saja seperti itu, mereka pantas mendapatkan hukuman dan karma atas perbuatannya sendiri, Irwansyah Hatif terlalu sombong dan inilah akibatnya jika selalu saja jahat! Ingat kalian berdua harus diam seolah-olah kalian tidak mengetahui apa yang terjadi pada mereka," Cibirnya Bu Rina.


"Tapi kasihan mereka Bu, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Arabela Aqila dan Ariela Ziudith," ucapnya Karina.


"kalau kamu kasihan pada mereka pergilah jangan disini terus! Kamu lebih baik diamlah,rasa sedih dan amarah yang menggebu-gebu di dalam hatiku ketika putra, menantu dan cucu-cucuku dihina dan dipermalukan oleh mereka di depan umum, apa kamu sudah melupakan semua itu padahal baru tiga hari kejadiannya," kesalnya Bu Rina Amelia.


"Tapi Bu," ucapannya Karina Ranau terpotong karena segera dicegah oleh suaminya itu.


Karina menatap ke arah suaminya yang terus menggelengkan kepalanya itu untuk tidak menentang apapun yang dikatakan oleh ibunya, karena berbuntut panjang kali lebar kedepannya.


"Ibu tidak akan menyampaikan berita ini kepada siapapun, Ibu sudah muak dengan kelurganya Irwansyah, mereka terlalu jahat kepada keluarga kakakmu,sejak dulu hingga sekarang dia sama sekali tidak ingin melihat kakak dan kakak iparmu bahagia," ketusnya Bu Rina Amelia.


"Irwansyah memang jahat dan ini buah dari sifat jahatnya, semoga setelah kejadian ini mereka akan segera sadar dan bertaubat dengan apa sifat keliru dan salahnya selama ini, apa yang dikatakan oleh ibu ada benarnya juga, Irwansyah sudah kelewatan dan keterlaluan selama ini mas Syam dan Dewi terlalu baik kepada mereka mengingat Dina adalah istrinya Irwansyah," ujarnya Syamil panjang lebar.


"Kasihan sekali dengan mbak Dina untungnya mereka sudah bercerai jika tidak, Mbak Dina bisa-bisa mati berdiri dan mati muda nantinya," sahutnya Karina.


"Jadi kalian berpura-pura saja tidak mengetahui apa yang terjadi kepada keluarga pembawa sial dan malapetaka itu!" Ucapnya Bu Rina.


"Ibu, apa maksud dari perkataannya ibu, siapa yang pembawa malapetaka dan sial itu!?" Tanyanya Dewi yang baru muncul di belakang ketiga orang itu.


Bu Rina, Karina dan Samil segera mengarahkan pandangannya ke arah kedatangan Dewi Kinanti Mirasih.


Syamil melirik sekilas ke arah istrinya itu sebelum menjawab pertanyaan dari Dewi sambil mengangkat ponselnya ke arahnya Karina sedangkan Karina segera tanggap darurat dengan kode yang diberikan oleh Samil suaminya itu.


"Eh itu Mbak, Karina melihat berita di salah satu sosial media, biasalah ibu-ibu suka bergosip," kilahnya Syamil yang tidak mungkin berkata jujur sesuai dengan peringatan dari mamanya sendiri.


Bu Rina segera merangkul lengan anak menantu pertamanya itu, "Iya Dewi,kamu tahu kan kalau Karina suka buka-buka facebooknya dan selalu mengomentari kejadian yang terjadi di jaman sekarang ini, iya kan Karina?" Bu Rina melototkan matanya ke arah menantunya itu.

__ADS_1


Karina berusaha menahan tawanya," iya i-ya mbak aku hanya melihat story teman di fb, tidak ada hal lain kok," elaknya Karina yang terpaksa berbohong demi keamanan mereka bersama dan berdasarkan ultimatum dari Bu Rina tersebut.


"Kalau begitu kita masuk yuk, sudah waktunya gilirannya Amar Alfarizi yang akan menikah dengan Vela Angelina kasihan Syafiq Fatahillah jika ibu dan kalian berada di luar sini," ajaknya Dewi.


Semuanya masuk ke dalam dan melihat pernikahan selajutnya. Pagi hingga siang hari ada empata akad nikah kembar yang berlangsung di dalam masjid nan megah besar itu.


"Saya terus terang dalam sejarah hidup kami menjadi penghulu dan bekerja di kantor urusan agama kelurahan, baru kali ini merasakan menikahkan dan menyaksikan langsung pernikahan sekaligus empat pasangan, sungguh luar biasa hari jum'at ini," ujarnya pak Lutfi Ismail.


"Benar sekali, saya pun seperti bermimpi kecuali nikah massal itu sudah biasa terjadi, tapi ini tiga anak kembar dan satu sepupunya akan menikah di hari yang sama dan di tempat yang sama pula," tukasnya Pak Hasan Ishaaq.


"Ngomong-ngomong sudah jam sebelas pagi lewat beberapa menit, diusahakan sebelum adzan shalat jumat berkumandang, kita harus selesaikan akad nikahnya," ucap pak Hamid Karzai.


"Kalau gitu Pak Danu Cahyono silahkan maju untuk menikahkan putri Anda dengan pria pilihannya ini," pintanya Pak Lutfi.


Pak Danu segera berjalan ke arah mimbar altar pernikahan yang dimana Amar Alfarizi sudah berada di tempat yang diduduki oleh ketiga mempelai pengantin baru yang sebelumnya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Vela Angelina Danu binti Cahyo Nugroho dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" Ucapnya Amar dengan sekali tarikan nafas tanpa ada hambatan apapun halangan yang menghambat Ijab kobul mereka.


Pak Hamid Karzai mengedarkan penglihatannya kesekeliling seantero masjid termegah kedua di Jakarta.


"Bagaimana para saksi apakah sah?" Tanyanya pak Hamid Karzai yang melihat satu persatu ke arah para tamu undangan yang masih setia menjadi saksi dari pernikahan antara Adelio Arsene Smith dengan Shaira Innira.


Aidan Akhtar dan Maryam Nurhaliza dari negeri tetangga Jiran Malaysia, Shanum Inshira Hanif suaminya bernama Arion Sneider Oesman. Serta yang terakhir adalah Vela Angelina dan Amar Alfarizi.


"Sah!!" Teriak semuanya bersamaan dengan kedatangan seorang laki-laki tanpa diundang terlebih dahulu dalam keadaan mabuk.


"Hentikan!! Pernikahan Dede Aira tidak boleh terjadi!! Tidak sah pernikahan mereka karena bukan aku pria yang dinikahinya itu!" Jeritnya pria yang tidak lain adalah Hanzal Abdul Djailani pria yang berselingkuh dengan Ariela Ziudith salah satu putri kembarnya Dina Anelka Mulya.


Hanzal berjalan sempoyongan ke arah Adelio yang berdiri tepat di samping kanannya Sahira istrinya yang baru dinikahinya itu.

__ADS_1


"Astaughfirullahaladzim, Hanzal apa yang terjadi padamu nak kenapa bisa seperti ini!" Tanyanya Pak Hanif papa angkatnya Hansal.


Pak Hanif segera berjalan terhuyung-huyung ke arah Hans karena dia tidak ingin semakin dipermalukan oleh Hanz di depan orang banyak.


Prang!!


Brak!!


Suara benda yang dilemparkan oleh Hanzal ke atas lantai saking marahnya melihat Shaira yang memegangi tangannya Adelio suaminya itu.


"Stop!! Papa tidak perlu menghalangi apa yang akan aku lakukan, hatiku terlalu sakit karena Shaira menikahi pria lain, seharusnya aku yang menjadi suaminya bukan pria jelek itu!!" Caci makinya Hansal yang berteriak kencang agar semua orang mendengar perkataannya itu.


"Ya Allah bukannya sadar diri dan introspeksi atas kekurangannya malahan memaki dan menghina orang yang paling tampan di dalam sini, dasar anak muda tidak tahu diri!" Sarkasnya seorang pria yang menjadi tetangganya Hansal sebelum menikah.


Hans menunjuk ke arah Adelio yang sama sekali tidak terusik ataupun terpengaruh dengan perkataan dari Hanzal itu.


"Kamu tidak boleh menikah dengan pria bule itu!! Dia itu tidak sama dengan kita Syaira,dia berbeda dengan kepercayaanmu kenapa kamu bego menikahi pria yang memiliki seorang putri kecil,apa duda seperti dia lebih kaya,tajir dan lebih menggoda dari saya!!" Jeritnya Hanzal.


Astauhfirullah aladzim pantesan istrinya tidak ada yang menolongnya dan membawa ke rumah sakit, karena dia mabuk-mabukan dan hendak mengacaukan pesta pernikahan cucuku.


Adelio hendak berjalan ke arah Hanzal yang seperti orang yang tidak waras. Tapi, segera dicegah oleh adiknya Andrew Parker.


"Tidak perlu ladenin pria macam dia kak, dia itu Pria yang tidak berguna dan tidak waras jadi tidak usah buang tenaga apalagi meladeninya," cegahnya Andre.


Shaira sedih melihat mantan kekasihnya lebih enam tahun itu, dia merasa sedih bukan karena masih suka, sayang atau masih mencintainya. Tetapi sebagai teman dia merasakan Hanzal sangat jauh berbeda dengan dahulu.


Mas Hanzal ini pilihan mas sendiri,kita memang tak sejodoh jadi jangan seperti ini aku mohon padamu.


Shaira menatap nanar ke arah Hanzal, tetapi yang lainnya menatap mencemooh, menghina bahkan merendahkan itu yang didapatkan oleh Hansal.

__ADS_1


__ADS_2