
Semua prosesi pemakaman telah dilaksanakan sesuai dengan tuntunan dalam ajaran Islam. Semua pelayak meneteskan air matanya saking sedihnya yang kembali kehilangan orang yang mereka sayangi.
Sejak pulang dari rumah sakit tiba di rumah duka, Shaira tidak pernah menjauh dari jenazah almarhum Adelio Arsene Smith. Air matanya pun seperti tak ada habisnya tak berhenti untuk menangis.
Shaira juga sesekali mengecup keningnya, pipi dan bibirnya Adelio sebagai penghormatan terakhir kepada suaminya itu.
"Dede Aira, jangan seperti ini kasihan sekali dengan suamimu langkahnya dan jalannya ke akhirat tidak mulus jika kamu seperti ini terus nak," nasehatnya Syamuel yang membujuk putri bungsunya itu.
Shaira langsung memeluk tubuh ringkih papanya itu dengan suara isakan tangisannya itu.
"Bagaimana Pak Syam apa jenasahnya sudah siap kita bawa ke masjid untuk disholatkan? Kasihan beliau kalau terus ditunda-tunda lebih lama lagi," ucapnya pak RT setempat.
"Iya Pah, kasihan mas Adelio kalau ditunda terlalu lama, lagian keluarga besarnya juga sebagian sudah datang. Apa lagi yang kita tunggu," sahutnya Abyasa dengan bijak.
"Dede gimana apakah kamu sudah siap melepas kepergian suamimu Nak? Takutnya nanti gelap sudah hampir jam lima soalnya Nak," imbuhnya Bu Rina Amelia yang ikut memeluk tubuhnya Shaira yang tidak berdaya itu.
Shaira mengusap wajahnya dengan gusar menggunakan ujung hijabnya karena stok tisunya sudah habis.
"Silahkan berikan yang terbaik untuk suamiku dan silahkan lakukan saja. Aku ingin suamiku mendapatkan keringanan proses perjalannya," cicitnya Shaira yang suaranya sudah serak dan wajahnya sembab.
__ADS_1
"Baiklah, ayo kita cepat angkat almarhum dan bawa ke masjid untuk segera disholatkan sebelum magrib datang," perintahnya Pak Abdul sebagai selaku kepala RT di lingkungan setempat.
Ahksan Haydar, Aidan Akhtar, Arion Sneider, Andrew Parker, Abyasa Akhtam, Fariz Fatahillah, Ade Nugraha sang dokter spesialis mata, Amar Alfarizi berbondong-bondong mengangkat tubuhnya Adelio menggunakan keranda.
Shaira dipapah dibantu berjalan oleh Vela Angelina, sedangkan saudarinya yang lain mengikuti kemanapun perginya keranda itu.
Bang aku tidak pernah menyadari jika kamu itu sakit. Ini semua salahku karena sudah terlalu sibuk dengan pekerjaanku.
Berselang beberapa menit kemudian, jenazah sedang disholatkan secara berjamaah di dalam area mesjid dengan jemaah yang sungguh luar biasa banyaknya.
Tanah liat itu perlahan-lahan menutupi liang lahat yang didalamnya terdapat Adelio yang sudah beristirahat dengan tenang. Satu persatu kelopak bunga khusus pemakaman itu bertaburan di atas pusara makam Adelio yang masih basah.
"Selamat jalan Pak Adelio, kami sungguh berasa kehilangan sosok pemimpin yang cerdas, bijaksana dan baik hati," ucapnya Ade Nugraha selaku dokter yang bekerja di bawah naungan yayasan rumah sakit swasta miliknya Adelio.
"Selamat tinggal semoga Allah SWT senantiasa mengampuni segala salahmu bang, kami sungguh sangat kehilangan adik ipar yang patut kami teladani ahklakmu," Aidan berucap.
"Moga Husnul khatimah kepergian mas menyisakan luka mendalam bagi kami terutama Shaira adikku, Tapi Allah SWT lebih menyayangimu daripada kami semua yang hadir di sini," ucapnya Arion dengan kuat dan tegar tidak seperti laki-laki lain yang datang memperlihatkan air matanya mengiringi kepergiannya Adelio.
"Bang, selama engkau menikahi mbak Shaira kamu sungguh menjadi panutan dan teladan ku berharap aku juga punya suami yang bijaksana, penyayang dan baik hati sepertimu dan Alhamdulillah dalam sosok mas Ade aku menemukannya," ujarnya Adisty yang menabur bunga mawar merah yang sengaja dibawanya khusus untuk Adelio bunga kesukaannya.
__ADS_1
Shanum tak kuasa menahan air matanya itu dengan menyiram air diatas batu nisan yang bertuliskan Adelio Arsene Smith.
"Semoga kepergian mu membuat kami lebih tabah dan sabar, terutama Shaira. Mungkin inilah alasan Allah SWT belum memberikan kalian momongan," cicit Shanum Inshira.
Maryam Nurhaliza jongkok di samping pusara makam Adelio seraya melafalkan beberapa doa termasuk di dalamnya surah Al-fatihah.
"Tenanglah di alam sana pak Adelio, insya Allah ada kami sekalian yang akan menjaga Shaira istrimu," Maryam sesekali menyeka air matanya itu.
Satu persatu pelayak telah meninggalkan area pemakaman umum tersebut yang tertinggal hanyalah beberapa sanak saudara keluarga terdekatnya Shaira saja.
Andrew semakin mencoba berusaha untuk menahannya, semakin air mata itu mengalir sebagai mana mestinya.
"Kakak aku sungguh tak berhasil menjadi adikmu, karena aku tidak bisa membantu kakak untuk mengobati penyakitmu. Aku sungguh tak berdaya dengan semua ini." Andrew berjuang untuk tabah dan tegar demi kebaikan kakaknya yang telah tiada.
Shaira hanya menitikkan air matanya tidak mampu berkata-kata lagi. Hatinya terlalu sedih dengan penuh penyesalan, karena baginya sudah gagal menjadi seorang istri yang tidak seperti mamanya Dewi Kinantii Mirasih.
"Aira ayo pulang, sudah gelap mau magrib," ajaknya Tanisha.
Shaira yang sedari tadi dibantu berjalan sungguh sangat lemah dan tak berdaya. Dia seperti mayat hidup saja.
__ADS_1