
Kematian adalah hal yang mutlak terjadi pada tiap-tiap jiwa.
"Sesungguhnya sholat ku ibadah ku hidupku dan matiku hanya Allah untuk allah Tuhan semesta alam."
Kematian tidaklah menunggu kita untuk bertaubat, tetapi kita lah yang menunggu kematian dengan bertaubat.
Sebelum jenazah Dewi dimandikan, semua anak-anaknya, menantunya dan keponakannya satu persatu menciumi wajahnya perempuan yang teramat mereka sayangi. Tetapi, Allah SWT lebih menyayangi Dewi.
"Mama, harus tenang di alam sana yah," cicitnya Shaira yang pertama mengecup kening mamanya.
"Mah, maafkan Aidan yah Ma. Ini mungkin semua kesalahanku karena gara-gara aku mama mendapatkan hinaan dari Bu Karmila," lirih Aidan yang mencegah air matanya untuk tidak jatuh ke atas wajah mayat mamanya itu.
Shanum membelai lembut wajah mamanya untuk terakhir kalinya sambil memangku putrinya Nafeesa Samara. Air matanya terus luruh saking sedih dan kehilangannya atas kepergian perempuan yang tidak melahirkannya ke dunia ini, tapi melebihi ibu kandungnya.
"Mah, aku sungguh sulit untuk menerima kenyataan jika kau sudah pergi meninggalkan kami di sini, tapi aku sangat bersalah dan berdosa jika aku dan yang lainnya tidak mengikhlaskan kepergianmu," ucapnya Shanum Inshira yang berulang-ulang kali mengecup pipi dan keningnya Dewi.
Tiba gilirannya Abiyasa dia tidak sanggup untuk mendekati mamanya yang sudah terbujur kaku.
Tanisha mengelus lengan suaminya itu,"Daengku, ini hari terakhir kamu melihat mamah Dewi apa kamu tidak ingin melakukan perpisahan dengannya?" Tanyanya Sanika Tanisha.
Abiyasa terus tertunduk lesu dengan air matanya yang satu persatu membanjiri wajahnya yang kacau karena sudah sembab, hidung dan matanya memerah.
__ADS_1
Abyasa pun mendekati mamanya itu, dia tidak ingin mempercayai jika mayat yang terbaring di hadapannya adalah perempuan yang begitu tulus mencintainya, menyayangi dan perhatian kepada anak-anaknya tanpa pamrih ataupun membeda-bedakannya satu sama lainnya.
"Ma, maafkan anakmu ini yang belum sanggup membalas kebaikanmu,kami masih sering menyusahkan kamu Mah, tapi aku tak sanggup melepas kepergianmu, tapi sesulit apapun aku akan berusaha untuk melepaskan kepergian Mama untuk selamanya," ujarnya Abiyasa.
Arion Sneider Oesman,Adelio Arsene Smith pun mengucapkan kata perpisahan kepada ibu mertuanya itu. Maryam Nurhaliza, Tanisha pun tak sanggup berkata-kata. Hanya air matanya yang menunjukkan betapa pedih hatinya mereka.
Tubuh yang sudah dingin dan tak bergerak pun itu terus dipandangi oleh semua anggota sanak saudaranya maupun sahabatnya dan para tetangga yang akrab dengan Dewi.
"Tante, besok aku akan menikah. Tapi, Tante Dewi malah pergi untuk selamanya. Tante begitu kejam padaku sampai-sampai akan pergi begitu saja tanpa berpaling pada kami yang begitu tulus mencintaimu,hiks… hiks… Tante Dewi," ucap sendu Adisty Ulfa yang menyeka air matanya sebelum mencium pipinya Dewi Kinanti.
Semua berwajah murung, sedih dan tertunduk lesu dengan wajah mereka yang tidak karuan saking sedihnya. Pakaian serba gelap sudah mereka pakai. Warna pakaian yang mereka pakai pertanda kesedihan dan kedukaan.
Rumah duka sudah dipadati oleh orang-orang bahkan semakin sore semakin banyak pelayak yang datang secara bergantian dan berbondong-bondong.
"Mbak Dewi, sekarang di dunia ini aku hanya seorang sebatang kara saja. Dulu ketika ibu pergi masih ada Mbak Dewi dan bapak. Tetapi ketika aku berusia sekitar delapan tahun. Bapak pun menyusul kepergian Bapak. Dina Anelka mengusap wajahnya dengan gusar,
"Dan hari ini Mbak meninggalkan aku seorang diri, aku sudah jadi anak yatim piatu dan sekarang satu-satunya saudari yang aku miliki di dunia ini pun pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya," Dina menumpahkan kesedihannya di depan jenazah kakak semata wayangnya itu.
Semua orang tak henti-hentinya sesegukan,tapi sesekali juga mereka membaca surah Yasin untuk menenangkan hatinya mereka.
Kehadiran Ustadz Mansyur membawakan ceramah tausiah membantu hati mereka untuk lebih tenang dan damai serta keikhlasan berangsur-angsur mereka rasakan. Suara dzikir pun terus mereka kumadangkan disela tangisan sanak familinya Dewi.
__ADS_1
Kematian selalu menyisakan luka yang mendalam bagi setiap orang. Terlebih saat keluarga atau orang-orang terdekat telah menemui ajalnya, tentu hal ini menjadi peristiwa yang sangat memilukan.
Sebagai manusia yang masih diberi kesempatan untuk hidup, sudah seharusnya selalu mendoakan orang yang sudah meninggal agar diberi tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.
Syam berjalan sempoyongan ke arah istrinya,ia ingin memberikan penghormatan terakhir untuk terakhir kalinya untuk istrinya tersayang.
Syamil dan Taufik memapah tubuhnya Syamuel Abidzar untuk berjalan ke arah istrinya itu. Dia baru kali ini sangat lemah tak berdaya. Syam terduduk bersimpuh di hadapan istrinya, air matanya sudah beranak sungai disudut pelupuk matanya itu.
"Dewi, mungkin aku lelaki terlemah di dunia ini. Untuk kedua kalinya kita terpisah jarak dan waktu. Awal kita menikah aku meninggalkanmu di kampung dan setelah itu barulah kita bersatu setelah terlalu banyak kejadian sebelumnya. Tetapi, hari ini kamu pergi lebih duluan menghadap Sang Maha Pencipta Sang Pemilik raga dan jasad ini." Sam mengatur nafasnya yang tersengal-sengal karena sudah seharian ini belum makan apapun hanya ketika mereka sarapan saja.
Sam membelai lembut puncak rambut Dewi seperti yang sering dilakukannya,"Aku begitu tak berdaya melihatmu seperti ini. Padahal kita sudah berjanji jika aku yang akan lebih duluan pergi dari sini, tapi malah kamu yang terlebih dahulu meninggalkanku," Sam berucap sepatah kata di hadapan sang istri.
"kamu telah menemaniku penuh kesabaran, kesetiaan dan selalu mampu menyejukkan hatiku, bukannya aku menyesali akan kehendak Sang Maha Kuasa, tapi aku sebagai seorang suami belum sanggup dan mampu membahagiakanmu istriku, dan kamu akhirnya pergi meninggalkan aku dengan keempat anakmu."
Sesekali Sam menyeka air matanya itu,dia hanya sedih dan menyesal karena baginya sebagai seorang suami, ia belum mampu memenuhi keinginannya Dewi.
"Papah itu adalah suami yang paling baik di dunia ini, kenapa Papah mengatakan jika papa belum membahagiakan Mama? padahal sikapnya Papa sudah sangat baik memperlakukan Mama Dewi dengan begitu istimewa," Sahnun berucap.
Sam mengelus puncak surau cucu pertamanya itu dengan penuh kasih sayang. Nafeesa Samara memegangi pipinya Sam yang terlihat buliran air matanya itu.
Bayi berusia delapan bulan itu bagaikan bayi yang sangat mengerti dengan apa yang terjadi pada kakeknya saat ini.
__ADS_1
"Kek... Nek." ucapnya Nafesa yang baru belajar berbicara walau masih cadel.
Sam segera menggendong tubuhnya Nafesa ke atas pangkuannya," cucuku lihat sana Nenek, kamu harus ingat wajahnya nenekmu dan ini yang terakhir kalinya kamu melihatnya, sebentar, besok dan seterusnya dia akan tenang bersama Allah SWT," Sam seperti itu terlihat jelas duka kehilangan yang begitu dalam.