Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 141


__ADS_3

Semua orang nampak panik dan ketakutan melihat kondisi dari Vela.


"Apa kita sebaiknya hubungi nomor ponselnya Pak Danu dan Bu Fina untuk menyampaikan apa yang terjadi kepada Vela?" Usulnya Sam.


Shaira menatap ke arah papanya itu sambil membuka pintu mobilnya, "Papa jangan hubungi nomor kedua orang tuanya Vela, takutnya mereka akan sangat khawatir, abinya Vela itu punya riwayat penyakit jantung," cegahnya Shaira.


Semuanya segera masuk ke dalam mobil, kecuali Bu Rina dan Adisti keduanya tinggal bersama dengan Bi Siti dan mang Joko di rumah saja. Dua mobil berangkat segera ke rumah sakit terdekat. Amar yang awalnya naik motor menjadi pengemudi mobil yang didalamnya terdapat Shaira, Maryam dan Vela Angelina yang masih tidak sadarkan diri.


Sedangkan mobil sedan hitam itu Syamuel bersama istrinya Dewi Kinanti Mirasih, dan putri sulungnya Shanum Inshira. Mereka sangat mengkhawatirkan kondisi Vela yang sudah dianggap seperti anak mereka sendiri.


"Ya Allah kenapa bisa Vela mencoba untuk bunuh diri? Apa yang terjadi dengannya kenapa berfikiran sempit seperti itu?" Ujarnya Dewi yang masih tidak percaya dengan gadis lulusan sarjana luar negeri melakukan hal semacam ini.


"Sepertinya ini ada kaitannya dengan Ahsan deh ma, apa jangan-jangan Ahksan menolak untuk bertanggung jawab," tebaknya Shanum yang sangat mengerti dan mengetahui tipikal dan karakternya Ahksan karena besar bersama sepermainan bersama sejak mereka masih kecil.


"Jangan asal nebak sayang enggak baik dzuudzon dengan saudara sendiri," sanggahnya Dewi.


Syam fokus mengendarai mobilnya tanpa mengalihkan perhatian dari jalan raya yang dilaluinya ikut menimpali percakapan kedua perempuan yang paling berharga dan penting dalam hidupnya.


"Tapi tadi kalau enggak salah papa lihat tantemu Dina naik mobil yang tidak aku kenal waktu aku mau ke masjid shalat berjamaah magrib," tuturnya Syam.


"Tumben Dina pergi tanpa diantar oleh supir pribadinya, mungkin saja dia lagi ada keperluan mendadak bang sehingga tidak diantar oleh supirnya sendiri," sahutnya Dewi.


Dewi gelisah setelah mendengar perkataan dari suaminya itu dan mengenai kondisi kesehatannya Vela.


"Aku juga pernah diposisinya Vela Mae,tapi aku tidak pernah sedikitpun untuk mengakhiri hidupku walau pernah terlintas dalam benakku tapi aku ingat Allah SWT tidak bakalan memberikan ujian dan cobaan dalam hidupku tanpa ada maksud dan kebaikan di dalamnya," ucapnya Shanum dengan bijak.


Dewi mengelus puncak hijabnya Shanum," Alhamdulillah kamu memang putri Mama yang selalu Bukaka dalam bertindak walau pernah sih nakal," candanya Dewi yang berusaha untuk menetralkan suasana hatinya yang mengkhawatirkan Vela dan rumah tangga adiknya itu.

__ADS_1


Syam menatap sekilas ke arahnya Dewi istrinya itu," Maaf aku harus menyembunyikan kebenarannya jika aku lihat tadi Dina pergi dengan dua koper besar di tangannya, nantilah kalau ada waktu yang tepat aku akan mengatakan kepadanya apa yang terjadi enggak enak saat ini menceritakan apa saja yang aku lihat tadi magrib,"


Sedangkan di dalam mobil satunya, Shaira tak henti-hentinya berusaha untuk menyadarkan Vela temannya itu.


"Ya Allah apa yang terjadi padamu? Kenapa sampai-sampai kamu memilih jalan sesat untuk mengakhiri hidupmu, kamu tahu tidak kami sangat khawatir dan takut terjadi sesuatu padamu Bel," ratapnya Syaira yang terus memegangi tangannya Vela.


"Aira kenapa aku merasa jika kejadian ini ada sangkut pautnya dengan Ahsan, aku yakin anak itu berbuat ulah lagi!" Gerutunya Amar Alfarizi.


"Ya Allah apa yang aku dengar pagi tadi tanpa sengaja di dalam kamar mandi jika Akhsan menolak untuk bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri dan kehamilannya Vela, ya Allah kenapa semakin rumit masalah ini, aku berharap semoga saja semuanya cepat beres takutnya kehamilannya Vela semakin membesar,tapi kalau Aksan tidak menikahi Vela gimana sudah nasibmu Vel," Maryam menyembunyikan kenyataan itu dari orang-orang agar semuanya tidak semakin keruh dan parah.


"Semua akan terjawab jika temanmu akan pulih total dan sadar, tapi kalau menurut aku bang Akhsan sepertinya tidak…ah sudahlah enggak etis menduga-duga takutnya bakal jadi kenyataan apa yang kita takutkan," tukasnya Amar.


Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di rumah sakit. Vela segera dilarikan ke dalam UGD untuk segera mendapatkan penanganan dan perawatan terhadap penyakitnya.


Shaira mondar mandir di depan pintu masuk ruangan unit gawat darurat. Semua sangat mencemaskan keadaannya Vela Angelina.


Tring…


Triing…


Suara dering ponselnya Vela membuat Maryam Nurhaliza yang memegangi hpnya Vela tersentak terkejut karena ada benda pipih di dalam tangannya yang tiba-tiba bergetar dan juga berdering.


"Astaughfirullahaladzim," ucapnya Maryam yang benar-benar kaget.


"Mar Ada apa?" Tanyanya Syaira sambil menyentuh pundaknya Maryam yang raut wajahnya pucat pasi.


"Ehh a-nu a-ku ini ada hpnya Vela berbunyi, ini telponnya Ahsan," ujarnya Maryam yang tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya.

__ADS_1


"Sini hpnya biarkan aku yang berbicara dengan anak itu!" Pinta Shaira sambil mengulurkan tangannya ke arah hadapan Maryam.


Maryam tanpa ragu segera menyerahkan benda pipih itu ke dalam genggaman tangannya Shaira yaitu teman sekaligus calon kakak iparnya itu.


Shaira belum berkata sepatah katapun sedangkan orang yang berada dibalik telpon tanpa memberikan waktu dan kesempatan kepadanya untuk berbicara.


"Aku harus mengatakan padamu jika saya tidak akan bertanggung jawab atas anak yang ada di dalam perutmu apalagi untuk menikahimu, Vela saya masih sangat muda untuk menikah dan juga saya tidak punya pekerjaan kau dan anakmu akan makan apa nantinya, lagian aku tidak punya pikiran atau niat untuk menikah secepat ini, jadi aku mohon kamu gugurkan saja dulu kandunganmu sebelum orang-orang lain mengetahui segalanya. Papaku pasti akan membunuhku jika aku menikah tanpa persetujuan darinya, jadi aku mohon maafkan aku dan tolong mengertilah dengan kondisiku ini, aku tidak bermaksud untuk menolakmu, tapi aku hanya belum siap dan kita sebaiknya menunda dulu," terangnya Ahksan.


Shaira mengepalkan tangannya saking marahnya mendengar perkataan dari adik sepupunya itu.


"Akhsan saya tidak menyangka jika kamu ternyata sangat bejak, tidak tahu diri dan tidak pantas untuk dicintai! Saya sudah mendengar perkataan dan kejujuran kamu ini, saya sudah paham dan mengetahui dengan jelas kenapa Vela seperti ini. Kalau gitu assalamualaikum dan tolong jangan sekali-kali menghubungi nomor hpnya Vela lagi jika tidak kamu akan berurusan dengan ku, siapapun yang berani mengusik kehidupan anggota keluargaku maka kalian akan berurusan dengan saya sekalipun adikku sendiri!" Beramnya Shaira.


Maryam menyentuh lengannya Shaira sedangkan Shaira menatap nanar ke arah sahabatnya.


"Kamu baik-baik saja kan, apa yang dikatakan oleh Ahsan?" tanyanya Maryam yang mulai kepo dan tidak sabaran menunggu Shaira untuk berbicara.


Pintu ruangan UGD terbuka lebar," maaf siapa keluarga pasien yang bernama Vela Angelin" tanyanya dengan suster.


Shaira dan yang lainnya segera berjalan ke arah suster tersebut. ucapannya Shaira terhenti dan malahan tidak jadi berbicara karena kedatangan seorang perawat berjalan ke arahnya.


"Kami Sus, ada apa?" tanyanya Shaira.


"Kami kekurangan donor darah dengan golongan darah B resus, apakah diantara kalian ada yang golongan darahnya sama dengan pasien,kalau ada segera ikut bersama kami," imbuh suster itu.


"Ambil saja darahku sebanyak apapun kebetulan golongan darah kami sama Sus," ucap seorang pria yang baru muncul di hadapan suster itu.


Selamat Tahun Baru untuk semua reader setiaku yang ada di seluruh dunia...

__ADS_1


__ADS_2