Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 207


__ADS_3

Kepergian kali ini Adelio ke luar negeri menyisakan kesedihan yang cukup mendalam. Adelio juga enggan untuk meninggalkan istrinya dimana lagi bucin-bucinnya.


Tunggu aku pulang ke Jakarta, aku pasti akan balik lagi setelah semua pekerjaan aku di luar negeri beres.


Adelio menatap kota Jakarta dari atas ketinggian yang paling tertinggi. Pesawat perlahan meninggalkan ibu kota negara tercinta.


Shaira tersenyum tipis di depan anggota keluarganya yang berjalan meninggalkan area lobi bandara internasional Soekarno Hatta. Dewi merangkul lengannya Shaira putri paling bontotnya itu.


Dewi mengelus lengannya Shaira," berdoalah kepada Allah SWT agar suamimu aman dan selamat sampai ditujuan, yakinlah Adelio akan menepati janjinya, jadi tenangkan pikiran dan hatimu jangan berpikiran yang tidak-tidak," ucapnya Dewi yang membujuk anaknya agar tenang dan ikhlas melepas kepergian suaminya itu dalam rangka pekerjaan.


Shaira berusaha tersenyum walau hatinya sedih dan kecewa karena tidak bisa ikut bareng dengan suaminya untuk pergi. Padahal sudah berencana sebelumnya jika pertengahan tahun ini berencana untuk honeymoon,tapi sayangnya ada kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan ataupun diwakilkan kepada orang lain untuk ke Surabaya.


"Apa kamu sanggup mengendarai mobilmu seorang diri saja?" Tanyanya Syamuel yang sedikit khawatir dengan keadaannya Shaira.


Syaira tersenyum lebar walau dalam hatinya berbeda dengan yang diucapkannya itu.


"Insha Allah aku masih mampu kok Pa, lagian aku ada keperluan sebentar di rumah sakit," balasnya Shaira.


"Kalau gitu kamu berhati-hati lah, jika kamu butuh bantuan dari kami jangan pernah sungkan ataupun segan untuk mengatakan apa yang kamu inginkan, karena papa,mama, nenek dan saudara saudarimu tidak akan pernah mempermasalahkannya kok," pintanya Dewi.


"Makasih banyak Ma, Papa dan untuk kalian semua, aku pamit dulu, assalamualaikum," ucapnya Shaira yang berpamitan kepada anggota keluarganya itu tanpa menolehkan kepalanya ke arah Andrew Parker yang sedari tadi selalu bersamanya tanpa berbicara apapun.


"Kamu hati-hati Nak," wejangan dari Bu Rina Amelia yang cukup prihatin melihat kesedihan cucunya.


Shaira segera masuk ke dalam mobilnya dan bergegas menyalakan mesin mobilnya itu. Shaira hanya melirik sepintas lalu ke arah adik iparnya tanpa berbicara sepatah katapun.


"Baru kali ini aku melihat anakku sedih seperti ini, dia sangat bermanja-manja pada suaminya mungkin itu penyebabnya sehingga bersikap seperti itu Bu, Adelio terlalu mencintai Shaira kita sehingga ia sangat kehilangan suaminya walau hanya sementara waktu saja," ujarnya Samuel.


Semua menatap badan mobilnya Shaira meninggalkan area parkiran airport Soekarno Hatta dengan tatapan mata yang berbeda-beda.


Adisti sejak tadi tidak mau berjauhan dengan Andre,dia semakin nempel seperti cecak saja yang diam-diam merayap di dinding.


Aku akan manfaatkan kesempatan ini untuk berdekatan dan berduaan dengan mas Andrew pria paling ganteng dimataku ini.

__ADS_1


Adisty menatap liar ke arah Andrew, sedangkan yang ditatap malah seperti orang yang kegenitan saja.


Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil masing-masing dan bersiap pulang. Tetapi, mereka semua mengerutkan keningnya melihat sikap dan perilakunya Adisti yang aneh dimata mereka.


"Adisti, kamu nggak mau pulang bareng kami?" Tanyanya Sam.


Adisti yang terus memandangi wajah gantengnya Andre kelabakan karena kedapatan memperhatikan pria muda dengan sejuta pesona dimatanya semua perempuan di luar sana.


"A-nu i-tu boleh aku ikut bareng dengan pak Andrew Tantemu Dewi? Soalnya kebetulan arah jalan yang dilaluinya itu mengarah ke kampusku, jadi aku mau minta tolong nebeng dengan pak Andrew saja," kilahnya Adisty yang gagap karena ketahuan.


"Nak Andre apa kami bisa meminta tolong kepadamu untuk mengantarkan Adisti hingga ke kampusnya? Kasihan jika cucuku ini harus capek-capek naik taksi online," pintanya Bu Rina Amelia yang berharap agar Andrew mengabulkan permohonannya itu.


Andrew sebenarnya sangat ingin menghindar dari gadis satu ini, hanya saja tidak mungkin dengan terang-terangan memperlihatkan ketidaksukaannya pada perempuan muda yang bernama Adisti Ulfah Syafira.


"Kami tidak keberatan kok nak, malah kami senang jika kamu bisa membantu masalah kami ini, anggap saja ini permintaan dari Shaira kakak iparmu," pintanya Dewi lagi menambahkan.


Andre membuang nafasnya dengan gusar dan sangat keras, entah kenapa dia sangat tidak menyukai sifatnya Adisti yang baginya sangat berbeda jauh dengan Shaira gadis pujaan hatinya.


"Baiklah kalau gitu, saya pamit lebih duluan Tante,Om Sam, nenek Rina, assalamualaikum selamat sore,"ucap Andre sebelum meninggalkan baseman parkiran.


Yes, akhirnya aku akan memiliki waktu luang yang cukup banyak untuk mengatakan padanya jika aku sungguh sangat mencintainya.


Alhamdulillah kepergian mas Adelio ke luar negeri sungguh membawa kesedihan untuk Mbak Shaira, tapi kebahagiaan dan keberkahan untukku. Tapi aku juga sedih melihatnya terpuruk dalam duka nestapa.


Semua orang bersama-sama meninggalkan area bandara menuju ke tujuan terakhir mereka sore hari itu. Perbincangan di dalam mobil kembali terjadi antara Dewi, Samuel dan mamanya Bu Rina Amelia.


Ibu Rina Amelia sebagai perempuan tertua di dalam mobil itu kembali membuka percakapannya. Tapi, belum mampu ia berbicara ponselnya Dewi berdering. Semua orang mengarahkan pandangannya ke arah Dewi.


Sedangkan yang dilihat dengan berbagai pertanyaan, mengangkat telponnya sambil memperlihatkan siapa yang menelponnya.


"Sahnum yang menelpon," tuturnya Dewi yang segera menekan tombol hijau di layar ponselnya itu.


"Cepatlah bicara takutnya ada hal mendesak dan penting ingin disampaikan oleh putrimu itu," titahnya Bu Rina Amelia.

__ADS_1


"Assalamualaikum Nak Sha, ada apa?" Tanyanya Dewi setelah sambungan teleponnya terhubung.


"Waalaikum salam Mama, apa Adelio sudah berangkat Ma?" Tanyanya Sahnum dari seberang telpon.


"Alhamdulillah Adelio baru saja pesawat tinggal landas menuju London, emangnya kenapa Nak?" Tanyanya balik Dewi.


"Syukurlah kalau seperti itu, saya dan suamiku pengen dengar saja, kalau dede Aira ada dimana ma? Aku hubungi nomor ponselnya tapi, enggak aktif selalu operator seluler yang menjawab panggilanku," imbuhnya Sahnun.


"Sepertinya changer baterai hpnya lowbet nak, mungkin seperti itu jadinya kamu enggak bisa bicara dengan adikmu," tuturnya Dewi.


"Ohh gitu ma, kalau gitu aku tutup dulu telponnya, kebetulan aku dan bang Arion sudah selesai mengurus administrasi keberangkatan kami dua minggu lagi ke Turki untuk bulan madu," jelasnya Shanum Inshira yang hendak mematikan sambungan teleponnya itu.


"Alhamdulillah kalau gitu selamat nak,semoga saja keberangkatan kalian untuk berbulan madu lancar dan balik ke Indonesia dengan selamat," ujar Dewi yang tersenyum tipis karena apa yang dikerjakan anaknya hari ini berjalan lancar dan sesuai dengan keinginannya.


Perjalanan siang hari itu cukup melelahkan dan mengharu biru. Semuanya bisa bernafas lega setelah mereka mendengar perkataan dari Shanum yang menyiapkan segala sesuatunya seperti paspor, visa dan lainnya untuk rencana mereka ke Turki dan ke Paris Perancis.


"Syamuel kamu sangat beruntung Nak memiliki tiga orang anak menantu sekaligus yang baik dan sholeh sholehah. Bahkan mereka sangat membanggakan satu sama lainnya, mereka memiliki jiwa kepedulian antara saudaranya yang lain," jelasnya Bu Rina Amelia.


"Iya Ma, aku sangat beruntung mendapatkan mereka yang menyayangi kami tidak hanya seperti mertuanya saja, tapi mereka memperlakukan kami seperti orang tua kandungnya," balasnya Samuel lagi.


"Kalian memang pantas mendapatkan anak mantu yang baik hati karena kalian juga baik pada mama dan orang lain, kalau menurut Mama kamu berharap kebaikan maka berikan kebaikan pula kepada orang lain, itulah prinsip yang seharusnya kita tanamkan dalam diri kita," nasehatnya Bu Rina Amelia.


Perjalanan mereka siang hari itu penuh dengan kejadian yang cukup membuat mereka sedih, bangga, bahagia juga. Mereka sudah sampai di rumahnya itu dengan selamat.


Sedangkan Adisti dalam hatinya selalu berbunga-bunga bagaikan taman bunga terindah yang semua bunga-bunganya bermekaran.


"Pak Andrew apa sudah punya pacar?" tanyanya Adisti yang memberanikan diri untuk berbicara mengutarakan keinginannya itu untuk berterus terang kepada pria yang sejak pertama kali dilihatnya sudah buat dia jatuh cinta.


Andrew Parker yang mendengar perkataan dari Adisti segera menghentikan mobilnya yang melaju dengan kecepatan tinggi. Untungnya tepat bersamaan dengan lampu merah yang menyala sehingga apa yang dilakukan oleh Andre tidak membuat kekacauan di tengah jalan protokol ibu kota.


Ciiit!!


Suara decitan ban mobil yang bergesekan dengan aspal sore itu memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya.

__ADS_1


Mobil yang berhenti tiba-tiba membuat tubuhnya Adisty terhuyung ke arah depan hingga mengenai dasboard mobilnya Andrew pria single diusianya yang sudah 27 tahun itu.


"Aku tidak perlu menjawab pertanyaan dari kau, bagiku urusan pribadiku tidak perlu kamu ketahui, karena masalah pribadiku bukan untuk konsumsi publik terutama kamu Adisty Ulfa Sabila jangan pernah melampaui batasanmu!" tegasnya Andrew yang sedikit meninggikan volume suaranya beberapa oktaf.


__ADS_2