Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 128.


__ADS_3

Universitas Oxford, London Inggris, 13 Juli 2023.


Hari ini bertepatan dengan hari wisuda yang telah lama ditunggu oleh Shaira Innira Abidzar Al-Ghifari. Walau kedua orang tuanya tidak bisa hadir terkendala dengan paspor yang belum sempat diperpanjang dan juga masalah biaya.


Hubungannya dengan Adelio tiba-tiba putus di tengah jalan. Mereka tidak pernah berkomunikasi lagi selama tiga minggu terakhir ini.


Untungnya ada Akhsan Khaidir, Abyasa Akhtam dan Aidan Akhtar mendampingi proses demi prosesi yang harus dijalani Shaira di hari terbaik, terpenting dalam sejarah kehidupannya Shaira anak keempatnya Syamuel.


"Syukur alhamdulilah akhirnya kamu akan selesai dek, sayangnya kau lebih duluan dari pada kami, lusa kamu juga sudah balik ke Jakarta," ucapnya Abyasa.


Kampus tempat Abya dan Aidan menimba ilmu yaitu Cambridge University rencananya hari barulah akan mengadakan wisuda mereka. Sedangkan hari itu,masa visa dari Shaira sudah berakhir sehingga lusa harus balik secepatnya ke Jakarta.


"Sayangnya Mama dan papa enggak ada disini pasti akan semakin lengkap kebahagiaanku bang," ucapnya sendu Shaira.


"Kenapa harus sedih di hari bahagianya kamu, apa kamu tidak bahagia sedangkan papa dan Mama juga di sana sangat gembira mengetahui hari ini adalah hari wisuda kamu," pungkasnya Abyasa.


Abya dan Aidan memeluk tubuh adik bungsunya itu yang berada di tengah-tengahnya.


"Kalian sangat cantik dengan balutan kebaya modern yang membalut tubuh kalian," tuturnya Akhsan yang memuji penampilan kekasih, kakak sepupunya dan juga temannya.


Untungnya edisi khusus wisuda tahun ini memakai pakaian bebas sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Sehingga Maryam,Vela dan Shaira memilih kebaya modern dengan warna yang cukup berbeda dari ketiganya.


"Jelaslah kami ini cantik, gimana enggak cantik kami habiskan waktu hampir empat jam di salon terbaik yang ada di London," sahutnya Maryam.

__ADS_1


"Untungnya pak Adelio diam-diam melakukan hal-hal yang terbaik untuk Shaira, kalau enggak mana kami mampu membayar uang perawatan yang sungguh sangat mahal itu, tapi ngomong-ngomong apa pak Adelio Arsene nggak datang? Padahal katanya kemarin sudah janji mau datang ke sini lihat Aira langsung," Vela mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut mencari keberadaan Adelio.


Ahsan langsung mengecup punggung tangannya Vela," hey,kamu cari siapa? Apa ada teman yang kau tunggu kedatangannya mungkin?" Ahsan sengaja melakukan hal itu karena sejak tadi ada pria keturunan Asia yang terus memperhatikan Vela kekasihnya itu.


Vela salah tingkah karena ketahuan sedang mencari seseorang," eh enggak kok Mas, hanya saja ternyata betapa banyaknya orang yang datang hari ini, cukup ramai juga. Padahal ini gelombang kedua wisuda tahun ini," kilahnya Vela.


"Benar juga sih apa katamu, tapi ngomong-ngomong kenapa meski sibuk mengurus yang gituan, ingat lusa kalian bertiga akan balik duluan sedangkan saya masih punya setahun kurang lebih di sini," ucapnya memelas Akhsan.


Vela tersenyum melihat kekasihnya itu yang merajuk dan bermanja-manja karena untuk sementara waktu mereka akan berpisah dan akan LDR-an selanjutnya.


"Semoga saja saya tidak hamil anaknya mas Akhsan, tapi saya kemarin minum obat pelancar haid tapi kok enggak keluar juga,atau mungkin saya engga hamil hanya saja terlambat datang bulan biasa, jika ayah tahu bisa gawat," Vela Angelina mengelus perutnya yang datar itu.


Maryam sesekali menatap ke arah Aidan, ia tidak menyangka jika hubungannya tetap seperti dulu hangat dan santai tanpa ada masalah yang melanda hubungan mereka.


Sebenarnya apa yang dilakukannya itu mendengarkan pembicaraan orang lain dengan cara menguping itu tidak baik. Tapi, ia juga mendengar tanpa sengaja perbincangan kedua pasangan kekasih tersebut.


"Bang Aidan mungkin hubungan kita haruslah diakhiri secepatnya, karena aku tidak mungkin mengikuti keyakinan kamu, aku bukan bang Adelio yang rela melakukan apapun demi wanita pujaan hatinya, memang aku sangat mencintaimu tapi aku juga tidak mungkin mengkhianati kepercayaan dari kedua orang tuaku, maafkan aku kita harus akhiri hubungan kita ini secepatnya," ucapnya Cindy.


Aidan berusaha untuk menggenggam tangannya Aidan, tapi Cindy segera memindahkan tangannya agar tidak bersentuhan lagi.


"Tapi, apa kamu sudah lupa apa yang baru-baru terjadi diantara kita berdua, apa kamu melupakan semua kenangan malam itu Cindy? Saya sangat mencintaimu, aku tidak mungkin bisa hidup tanpa dirimu, Cindy aku yakin mama Aliyah dan papa Syam akan menerima kamu apa adanya tanpa harus berpindah keyakinan," bujuknya Aidan.


"Abange, kamu masih punya Maryam Nurhaliza. Gimana hubungan kalian berdua aku tidak ingin menjadi orang ketiga dari hubungan Abang dengan Maryam.. aku ikhlas kok bang untuk melepas Abang Aidan untuk Maryam. Ia perempuan yang baik dan ditakdirkan untuk Abang seorang, apalagi aku yakin calon mantu seperti Maryam yang sangat diidamkan oleh papa dan mamanya Abang," ujarnya Cindy Clara yang berusaha menahan air mata kesedihannya.

__ADS_1


Aidan tidak tahu apa lagi yang akan dilakukannya agar bisa bersama dengan Cindy. Bahkan mereka sudah tidur bersama agar keduanya segera direstui. Tapi, kenyatannya semuanya sia-sia dan percuma saja.


Karena kedua orang tuanya Cindy menentang keras keinginannya dan juga hubungan asmaranya dengan Aidan Akhtar yang jelas-jelas sangat berbeda dengan dirinya.


Air matanya Cindy pun tumpah ruah juga. Semakin berusaha untuk ditahannya, semakin deras pula air mata itu menetes. Ia terisak dalam tangisannya karena tidak bisa bersatu dengan pria yang sungguh dicintainya.


"Cin! Abang mohon jangan seperti ini, apa kamu tidak mencintai Abang?apa kamu bisa hidup tanpa Abang?" Tanyanya Aidan.


Cindy segera pergi dari sana tanpa berbicara sepatah kata pun,hanya air matanya yang mampu mewakilkan bahwa betapa hancur hatinya berkeping-keping hingga tak terbentuk lagi.


Cindy tanpa sengaja melihat Maryam Nurhaliza yang bersembunyi dibalik tembok pembatas kafe tersebut. Kafe tempat Aidan bekerja selama hampir lima tahun lebih itu.


Cindy berusaha untuk tersenyum tipis ketika melihat Maryam yang sedari tadi berdiri memperhatikan dan mendengarkan pembicaraan mereka.


"Sayang maafkan Mami harus memisahkan kamu dengan papi Aidan, kamu akan mami besarkan tanpa papi kamu," Lirihnya Cindy sambil mengelus perutnya itu.


Kembali ke waktu hari ini, Maryam merasa bersalah dan juga bahagia tentunya karena sudah tidak memiliki saingan berat. Apalagi ia pernah berbicara ketika setahun lalu Sam dan Dewi mengunjungi anak-anaknya dan sudah merestui dan memberikan lampu hijau untuk keduanya.


"Astaughfirullahaladzim mungkin aku sudah bersalah dan berdosa karena hubungan Mas Aidan dan Cindy harus kandas di tengah jalan, tapi aku juga tidak ingin berbagi cinta dengan wanita lain,"


Terkadang cinta harus egois, butuh pengorbanan dan perjuangan bahkan terkadang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan cinta dari orang yang disayangi.


mampir juga ke Novel aku yang lain dengan judulnya, Pamanmu adalah jodohku dan Belum berakhir. Ketiga novelku masing-masing ada give away kecil-kecilannya.

__ADS_1


Dua sisi mata uang saja berbeda tapi bisa berdampingan dengan baik. Seperti itulah pula dengan memiliki empat anak yakin dan percayalah apakah terekspos atau tidak kisah hidup mereka pasti dari keempat anak ini garis tangannya berbeda-beda. Ada yang lurus,ada yang sedikit bengkok dan juga ada yang bengkok lurus.


__ADS_2