
Shaira dan Adelio menemui detektif swasta sewaannya yang sudah sebulan lebih diperintahkan untuk mencari keberadaan putrinya Almarhumah Cindy Clara yang bernama Nafeesa Samara.
Adelio dan Shaira Innira pun segera berpamitan kepada semuanya dan segera pergi untuk bertemu dengan detektif yang mereka sewa dan pekerjakan.
Ini tidak bisa dibiarkan, semoga saja anak wanita sialan itu tidak ditemukan untuk selamanya. Bahkan bila perlu mereka hanya menemukan mayatnya saja bayi pembawa malapetaka dalam hidupku ini!
Aku akan menghalangi mas Aidan untuk mengetahui jika putrinya bersama perempuan bule itu agar tidak mengetahui jika putrinya masih hidup.
Aku berharap sih, putrinya wanita sialan itu meninggal dunia saja jadi tidak akan menjadi duri dalam daging rumah tanggaku.
Aku pikir hanya Maryam Nurhaliza wanita tua itu yang akan menjadi batu sandungan hubunganku dengan Mas Aidan, tapi ternyata bayinya Cindy menjadi ancaman kedua dalam hubunganku.
Rachel Amanda menghentakkan kakinya ke atas lantai setelah selesai menguping pembicaraan mereka semua yang ada di dalam ruangan tengah.
Enak saja, semua harta benda miliknya Mas Aidan hanya boleh menjadi milikku seorang dan anakku ini.
Aku tidak akan biarkan siapapun merusak rencanaku. Tapi, kalau aku hanya dinikahi secara siri,mana bisa aku berkuasa dan menggeser posisinya Maryam.
Aku akan mencari cara untuk menyingkirkan Maryam dan membuatnya harus pergi jauh dari sini. Mas Aidan harus secepatnya menceraikan istri sahnya itu, agar hanya aku satu-satunya perempuan di dalam hidupnya setelah itu memintanya untuk pergi dari sini.
Rachel terus berjalan hingga sudut ekor matanya melihat seorang pria berdiri di depan pintu masuk kamarnya Maryam.
Apa yang dilakukan oleh Mas Aidan di sana? Aku harus mencegahnya agar tidak bisa bertemu dengan kedua putranya itu.
Maryam tanpa sengaja melihat kedatangan Rachel sehingga mau tidak mau dia harus berakting untuk menerima Aidan di dalam kamarnya. Tujuannya agar Rachel terbawa api cemburu.
Hem… sepertinya ini saat yang tepat untuk balas dendam.
Rachel lansung memeluk tubuhnya Aidan dengan penuh kemesraan," suamiku maaf tadi aku menidurkan Archelio jadi enggak cepat buka pintu. Kamu enggak marah kan?" tanyanya Maryam yang menegaskan suaranya itu dan bermanja-manja untuk memancing kemarahannya Rachel.
Aku sebenarnya sangat ingin seperti ini, rasa marah dan emosiku harus aku kubur dalam-dalam demi membuat perempuan itu terusik dan tidak bisa hidup dengan tenang.
__ADS_1
Tetapi untuk saat ini okelah aku akan melakoni adegan sebagai istri yang suka bermanja.
"Tidak apa-apa kok, aku juga baru berdiri di sini. Apa aku boleh masuk untuk lihat kedua jagoanku?" Pintanya Aidan Akhtar.
Andaikan Rachel enggak ada aku pastikan kamu tidak akan menyentuh putraku, untuk melihatnya saja aku enggan dan tak sudi sebelum kamu tersadar akan kesalahan dan keegoisan mas.
Maryam mengalungkan tangannya ke lengannya Aidan sambil melirik sekilas ke arah Rachel dengan tatapan merendahkan.
Kamu aku pastikan tidak akan tenang tinggal di rumah kami. Karena aku yakin kamu bukan perempuan baik-baik. Andaikan aku sudah bebas bepergian, aku pasti sudah mencari tahu siapa kamu sebenarnya.
Sayangnya bekas jahitan operasi cesarnya masih sakit. Tapi tunggu saja aku akan membuka kedok kamu yang sesungguhnya. Karena feelingku mengatakan kamu adalah wanita ular betina yang sangat berbisa.
"Ya Allah suamiku, kenapa meski pakai permisi segala. Mereka itu adalah anakmu mas. Pasti mas punya hak pada mereka." Rachel meninggikan volume suaranya itu agar Rachel lebih mampu mendengar perkataannya mereka.
Maryam dan Aidan baru saja hendak masuk, tapi segera dicegah oleh Rachel.
"Mas Aidan, apa yang ingin kamu lakukan? Tanyanya Rachel yang berjalan gegas ke arah keduanya.
Aidan menatap ke arah kedatangan Rachel," aku ingin bertemu dengan kedua bayi kembarku, sudah lima hari lahir ke dunia ini, tapi aku belum sempat untuk menggendongnya gara-gara kamu yang selalu mengeluh kesakitan dengan kehamilanmu, jadi apa aku enggak bisa melihat putraku walau hanya sekejap mata saja!?" Kesalnya Aidan.
"Tapi Mas, aku belum minum vitamin dan obatku. Apa Mas nggak bisa bantuin aku untuk minumnya," rengeknya Rachel yang sudah berdiri tegak di depannya Maryam.
"Astauhfirullah aladzim, Rachel kamu minum saja dulu atau kalau kamu mau menunggu kamu tungguin mas saja di dalam kamar." Bujuknya Aidan.
Aydan yang ingin melepaskan tangannya dari genggaman tangannya Maryam, tapi Maryam tidak mau melepaskan pegangan tangannya itu malah semakin mengeratkan pelukannya itu.
Rachel tidak mau mengalah bahkan sudah menarik tangan kirinya Aidan,"Tapi, Mas aku kan sudah terbiasa minum obat dibantu oleh Mas suamiku, apa Mas lebih mementingkan kepentingan perempuan ini dari pada calon baby kita!?" Ketusnya Rachel sembari menunjuk ke arah Maryam.
Aidan memegangi kedua pundaknya Rachel untuk meyakinkannya,"Rachel! Apa susahnya sih kamu meminum vitamin kamu sendirian, aku ingin menghabiskan waktuku bersama dengan anak-anakku. Ini gilirannya mereka aku memanfaatkan liburan bersama dengan Archenio dan Archelio lagian setiap hari aku selalu bersamamu, Aidan mengusap wajahnya dengan gusar.
Maryam tersenyum penuh kemenangan melihat ketidakberdayaan Rachel dan Aidan suaminya itu.
__ADS_1
Perang akhirnya dimulai juga, kita lihat saja bakal siapa yang akan keluar jadi pemenangnya.
"Tapi kalau kamu enggak mau patuh, sudahlah aku tidak akan pernah lagi menginjakkan kakiku ke dalam kamarmu! Apa itu yang kamu inginkan ha!?" Bentaknya Aidan yang suaranya cukup melengking tinggi.
Rachel dan Maryam sama-sama terkejut karena untuk pertama kalinya mereka melihat sikapnya Aidan yang cukup kasar.
"A-nu a-ku akan minum vitaminku sendiri, mas silahkan ke dalam lihat si kembar," ucapnya Rachel dengan terpaksa mengalah.
Abiyasa dan Tanisha yang tanpa sengaja melihat perdebatan ketiga orang itu cukup dibuat terhibur.
Abiyaza mendekatkan bibirnya ke telinganya Tanisha,"Istriku, mulai detik ini, kamu dan semua orang akan melihat adegan dramatis pertengkaran seperti ini. Kamu siapkan mental saja yah," bisik Abyasa.
"Aku cukup sedih dan kasihan melihat Mbak Maryam, aku berharap semoga saja aku tidak mengalami masalah yang dialami oleh mereka. Apabila itu terjadi aku lebih baik mati daripada harus berbagi suami dengan wanita lain," tegas Tanisha yang segera menarik tangannya Abiayasa suaminya untuk segera turun ke lantai bawah.
Rachel harus memendam kemarahannya di depan suaminya itu karena dia terkenal lemah lembut dan penyayang serta sekali pun tidak pernah marah dan meluapkan kekesalannya di depan orang lain terutama suaminya itu.
Sial! Brengsek wanita lucknut! Kenapa kamu tidak meninggal saja ketika kamu melahirkan.
Aku tahu pasti Maryam sengaja memancing kemarahanku dan membuat aku cemburu. Oke! Kali ini aku gagal dan kalah. Tapi selanjutnya akulah yang akan keluar jadi pemenang.
Rachel terpaksa meninggalkan madu dan suaminya itu untuk berduaan di dalam sana.
Maryam menjulurkan lidahnya ketika melihat Rachel menatapnya juga. Untungnya Aidan sudah masuk lebih dalam ke dalam kamarnya itu.
Hahaha… aku ingin tertawa terbahak-bahak melihat mimik wajahnya Rachael yang seperti orang yang mati-matian menahan marahnya.
"Sayang, apa aku boleh menggendong putraku?" Pinta Aidan yang sudah mengulurkan tangannya untuk memegangi anaknya itu.
"Maafkan saya Mas, putraku baru saja terlelap tidur. Jadi kalau bisa mas bisa menggendongnya jika mereka sudah terbangun, enggak apa-apa kan Mas?" Tanyanya Maryam yang melarang secara tidak langsung suaminya itu.
Maafkan aku mas aku belum bisa mengijinkan kamu untuk menyentuh anak kita seperti layaknya ayah lainnya, sebelum perempuan beracun itu pergi dari sini untuk selamanya.
__ADS_1
Raut wajahnya Aidan terlihat sangat kecewa karena sejak putranya lahir,dia sudah ingin menjenguk anaknya, tapi selalu dihalangi oleh Rachel dengan berbagai macam jenis alasan untuk menggagalkan keinginannya itu.
Makasih banyak atas dukungannya terhadap Satu Atap Dua Hati.