Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 258


__ADS_3

Semua orang cukup penasaran dengan topik yang mereka bicarakan sebelum kedatangannya Rachel.


Dewi berusaha untuk menenangkan Rachel agar pembicaraan mereka tidak dicurigai oleh Rachel menantu barunya itu. Walau dalam hatinya masih sangat kesal dan benci terhadap perempuan yang seperti Rachel.


Dewi sangat mengerti dengan kondisi yang terjadi sehingga ia menempatkan posisinya sebagai seorang ibu untuk menutupi kenyataan jika Rachel lah yang menjadi topik hangat dan utama mereka sore itu.


"Apa Mbak juga mau pesan baju seragam bersama dengan kami atau enggak?" Tanyanya Shaira.


Shahnum enggan untuk melihat kakak iparnya tersebut, sedangkan yang lainnya cepat tanggap terhadap situasi yang sedang terjadi di dalam ruangan keluarga tersebut.


Arabela ikut menambahkan pembicaraan mereka,"Iya benar sekali kak, apa kakak juga ingin memakai pakaian yang sama dengan kami di hari pernikahannya Mama Dina, Mas Ade Nugraha bersama dengan Mbak Adisti atau mungkin mau couplean dengan Mbak Maryam sama kakak Aidan juga," tebaknya Arabela.


Rachel masih berdiri mematung di tengah-tengah mereka sedangkan tatapan mata yang lainnya terus tertuju pada Rachel dengan arti yang berbeda-beda.


Ariella berjalan ke arah Maryam yang masih tidak percaya jika mereka berbicara hanya seputar kematiannya Cindy Clara dan akad nikahnya Adisti, Faris dan Sheila Alona.


"Kalian kan pasangan suami-istri gitu, kalau pakaian kalian sama nantinya bisa cepat ketahuan kalau Mbak itu istri sirinya kak Aidan," imbuhnya Ariella seraya memegangi kedua tangannya Rachel.


Rachel hanya terdiam saja tanpa berusaha untuk berucap sepatah katapun, karena dia terus menahan rasa sakit yang terkadang tiba-tiba datang menyerang kehamilannya itu.


Rencananya turun ke lantai bawah untuk mengambil air putih, kebetulan air mineral di dalam tekonya sudah habis tandas tak tersisa sedikitpun. Buktinya dari tangannya yang sedari tadi memegangi erat cerek kaca tersebut.


Kenapa, aku merasa mereka menyembunyikan sesuatu dariku yah!? Sial! Ini gara-gara di Doni brengsek itu yang aku tugaskan untuk terus membuntuti dan mematai-matai mereka gagal.


Jika tidak pasti aku sudah mengetahui dengan jelas apa yang telah mereka sembunyikan. Tetapi, aku perhatiin mereka cukup lancar dan pintar menyembunyikannya.


Tunggu saja, jika aku mengetahui apa yang kalian sembunyikan aku akan membalasnya dengan melebihi apa yang kalian lakukan padaku saat ini.


"Dede Aira, tolong cek kondisi kesehatannya Mbak Rachel, coba lihat wajahnya sangat pucat pasi. Apa yang terjadi padamu Mbak, apa kamu baik-baik saja? Kalau ada apa-apa dengan kehamilannya Mbak, Mbak Maryam Nurhaliza bisa memeriksa kehamilannya mbak. Karena dia itu seorang dokter ahli spesialis kandungan pasti bisa mengatasi masalahnya Mbak," ucapnya Adisti Ulfah yang sengaja berkata seperti itu.

__ADS_1


"A-nu a-ku tidak apa-apa kok, aku hanya butuh air putih saja," kilahnya Rachel sambil mengangkat cerek yang dibawanya sejak tadi.


"Tapi,kok kau terus memegangi perutmu. Jujur sajalah pasti kami akan membantu mengatasi masalahnya kau ini apapun itu," sahutnya Sanika Tanisha yang tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya itu terhadap kehamilan iparnya.


"Sudah aku bilang aku tidak apa-apa! Kenapa kalian memaksaku untuk berbicara apa yang sama sekali tidak terjadi padaku! Dan stop kalian tidak perlu repot-repot berbasa-basi sok perhatian pada kami, karena aku yakin kepedulian kalian semuanya adalah hanya kepalsuan saja!" Ketus Rachel Amanda yang akhirnya perlahan memperlihatkan jati dirinya yang sesungguhnya.


Semua orang tertawa terbahak-bahak dalam hati, karena akhirnya Rachel mulai menampakkan jati dirinya siapa kah dia yang sebenarnya itu.


Hahaha! Kamu sudah masuk perangkap kami. Adisti tersenyum penuh kemenangan sambil berjalan ke arah tempat duduknya dan menatap intens Ariela.


Ini nih yang kami tunggu-tunggu beberapa hari ini agar kamu memperlihatkan siapa kamu jangan selalu berlagak sok munafik dan lugu.


Ariella membalas senyumannya Adisty itu dengan meninggalkan tempat berdirinya bersama dengan Rachel dan Tanisha.


"Ya Allah apa yang terjadi padamu,kami hanya mengkhawatirkan calon anaknya kak Aidan bukan kamu loh! Jadi tidak perlu berteriak ataupun bersikap kasar kepada kami ini! Santai saja beb," ucapnya Shanum seraya mengendong tubuhnya Sahnaz atau Nafesa Samara.


Dewi dan Syam segera meninggalkan ruangan itu karena sudah muak melihat tampangnya Rachel. Tetapi, terlalu banyak pertanyaan yang muncul dari dalam benak kedua orang tua tersebut. Bu Rina Amelia pun mengikuti jejak kepergiannya kedua anak dan menantunya itu tanpa sepatah pun yang meluncur dari bibirnya lagi.


Apa yang mereka bahas itu tidak diketahui oleh Rachel Amanda dan Aidan hanya mereka yang mengetahuinya. semuanya mengerti dengan maksud dari tatapan matanya Shaira dan semuanya hanya membalasnya dengan senyuman termanisnya.


"Kalau gitu kami pamit pulang dulu, sudah puas nonton live streaming pertunjukan gratis yang sungguh membuat hati kami bahagia dan pastinya bersyukur," ujarnya Ariela Ziudith.


Semua orang bubar termasuk Rachel yang berjalan ke arah dapur untuk mengisi cereknya dengan air mineral.


Matahari tenggelam di ufuk barat keperkasaannya telah digantikan oleh Sang Dewi malam yang memperlihatkan kecantikannya malam itu untuk menyinari seluruh bumi.


Keesokan paginya, mereka semua terbangun untuk kembali beraktifitas seperti biasanya. Maryam sangat bahagia dan antusias menjalankan rutinitas barunya sebagai seorang ibu muda.


Shaira terbangun dari tidurnya sebelum suaminya bangun. Shaira tidak mengganggu tidurnya Adelio, ketika selesai melaksanakan shalat subuh berjamaah dengannya. Mengingat jam tidurnya Adelio yang kurang gara-gara banyak berkas pekerjaan yang ia kerjakan sampai jam empat dini hari.

__ADS_1


Kasihan Abang Adelio, bekerja sampai larut malam. Demi membahagiakan aku dan masa depan anak-anak kami kelak,dia harus banting tulang seperti itu.


Shaira memperbaiki letak posisi selimutnya Adelio kemudian mengurangi suhu ac pendingin ruangan kamarnya itu.


Sebaiknya aku buatkan bekal makanannya untuk suamiku, sebelum aku berangkat ke rumah sakit katanya Mela Anjani hari ini cukup padat pasien balita dan bayi yang sudah mendaftar secara online.


Shaira segera menutup pintu kamarnya dengan sangat hati-hati dan pelan,agar tidak menimbulkan suara yang cukup bising sehingga mengusik ketenangan tidur suaminya itu.


Shaira terus melangkahkan kakinya menuju dapur dan netra hitamnya melihat sosok bibi Siti dan bi Ijah sudah berkutat di meja dapur dengan berbagai perlengkapan dapurnya seperti wajan, panci, pisau untuk mengolah beberapa bahan bumbu dapur dan juga sayuran.


"Assalamualaikum, pagi bi Siti, Mbak Ijah," sapanya Syaira sembari meraih satu lembar celemek yang akan dipakainya ke tubuh rampingnya.


keduanya menolehkan kepalanya ke arah kedatangan putri bungsu majikannya itu dengan senyuman.


"Waalaikum salam, Hem pagi-pagi gini non Shaira mau ngapain?" tanyanya Bu Ijah.


"Seperti biasa Bi Ijha, hari ini aku ingin buatkan bekal makanannya Bang Adelio suamiku. kalian tau kan kalau suamiku itu jarang sarapan pagi dengan nasi, jadi aku berencana untuk buatkan roti senwich. tapi, ngomong-ngomong apa daging yang semalam aku goreng masih ada kan dan juga rotinya yang aku panggang?" tanyanya Shaira yang berjalan ke arah oven microwave nya yang cukup besar itu.


bi Siti dan bi Ijah saling bertatapan satu sama lainnya," ada sepotong roti yang sudah habis Non. semalam den Aidan meminta kami untuk membuatkan roti isian daging," cicitnya Ijha yang takut jika Shaira marah padanya yang mengambil roti buatannya tanpa permisi dan meminta sebelumnya.


"Tidak apa-apa kok Bi, yang paling penting kak Aidan menyukainya hasil masakan ku itu." imbuhnya Shaira sambil mengambil roti yang sudah dingin dari dalam oven.


Ada beberapa buah roti tawar yang dibuatnya yang berbahan dasar gandum. Shaira lebih suka buat roti sendiri dari pada beli.


"Alhamdulillah kalau masalah itu katanya Tuan Muda Aidan sangat lezat dan nikmat buatannya Non Aira loh," sahutnya Bibi Siti yang ikut menambahkan pembicaraan mereka.


Shaira tersenyum sumringah penuh kebahagiaan mendengarnya.


"Sukur alhamdulilah kalau seperti itu Bi, nanti malam aku buat lebih banyak lagi tapi kali ini aku mau buat roti isian, hemm, tapi bukan sekarang maksudnya nanti malam saja, bibi bantuin aku yah," pinta Sahira.

__ADS_1


"Siap Nona Syaira jangan khawatir, kalau masalah bantu membantu apapun itu kami selalu bersedia, Iya kan bi Siti," timpalnya Bu Ijah dengan antusias dan senang hati.


__ADS_2