Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 78


__ADS_3

Ketegangan di dalam ruangan tersebut semakin terasa kental saja. Nadia bukannya menyadari kesalahannya malahan semakin menjadi saja.


"Apa Mas bilang mau ceraikan saya! Tidak semudah itu, aku tidak akan biarkan kamu menceraikan diriku demi perempuan tidak jelas itu!" Teriaknya Nadia yang mulai mengamuk dengan perkataan Syam.


"Maafkan aku Nadia, aku tidak bisa mempertahankan pernikahan ini lagi sudah cukup sampai di sini aku hidup dengan perempuan egois, keras kepala dan kasar seperti kamu, jadi mulai detik ini saya tidak punya pilihan lain lagi untuk mengakhiri semuanya cukup sampai disini !" Tegasnya Syamuel.


"Syam Nak tolong pikirkan baik-baik sebelum kamu memutuskan untuk mengakhiri segalanya, kasihan Nadia," bujuknya Bu Sarah ibunya Nadia.


"Maaf aku tidak ingin membuat hidupku terbuang percuma saja dengan menjalani kehidupan dengan perempuan gila seperti Nadia, maafkan aku yang tidak bisa mempertahankan pernikahan kami lagi, Mama tolong jemput bi Siti dan bayi kami bawa mereka bersama kita untuk pulang secepatnya, aku tidak ingin berlama-lama di sini!" Imbuhnya Syam yang sama sekali tidak peduli lagi dengan keadaannya Nadia.


Entah kenapa perasaan cintanya Samuel terhadap Nadia terkikis, menghilang, pupus tanpa tak tersisa. Bagaikan tulisan yang diukir di atas pasir tersapu oleh ombak besar tanpa bekas sedikit pun.


"Nak Syam kenapa bayi itu kamu juga bawa pergi? Bukannya itu putrinya Nadia bersama kamu Nak!" Bujuknya Bu Sarah yang tidak mau mengalah dengan keadaan.


Syam segera menghentikan langkahnya ketika mendengar perkataan dari mantan mertuanya itu, "Ibu, ini anak yang kami adopsi sendiri dan kenapa saya mengambil alih hak asuhnya, coba Mama pikirkan baik-baik apa perempuan dan istri seperti dia pantas dan layak sebagai seorang Ibu!? Jawabnya tidak makanya aku akan bawa putriku Shaira Inara dengan Bibi Siti ikut bersamaku meninggalkan rumah ini, Nadia aku akan mengurus perceraian di pengadilan agar semuanya segera berakhir dan segera usai hubungan kita berdua," jelasnya Syam.


"Tapi Nak, kasihan dengan nasibnya Nadia jika kamu menceraikannya, pria mana yang akan menikahinya jika mengetahui Nadia sudah tidak mungkin bisa hamil lagi," Bu Sarah masih berusaha untuk membujuk mantan menantunya itu.


"Mama ini sudah menjadi keputusannya Abang Syam, bagaimana pun juga Abang Syam aku yakin sudah memutuskan dengan memikirkan baik-baik masalah ini jadi Mama harus menerima konsekuensi dari perbuatannya Mbak Nadia," nasehatnya Afiq Narendra yang tidak ingin melihat ibu sambungnya itu mengemis lagi demi Nadia yang tidak tahu diri.


"Afiq kasihan sama Mbak mu," ratapnya Bu Sarah yang sudah menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya anak tunggalnya itu.

__ADS_1


Sedangkan Nadia hanya terdiam tanpa kata dia seperti mayat hidup saja yang hanya bola matanya bergerak kesana-kemari. Tapi, mulutnya seolah terkunci rapat sehingga ia seperti orang yang kerasukan setan patung.


"Maafkan Mas Nadia ini jalan yang terbaik untuk hubungan kita berdua, semoga kamu bisa mengerti dan sabar serta menyadari bahwa semua masalah ini hadir karena kesalahan dan keegoisanmu sehingga hubungan pernikahan kita harus kandas, bukannya aku tidak mencintai kamu lagi atau tidak menghargaimu sebagai perempuan, tapi maaf aku tidak mungkin mempertahankan pernikahan kita,"


Perkataan terakhir dari Syamuel Abidzar Al-Ghifari membuat tidak ada lagi yang mampu bersuara sedikitpun untuk mengeluarkan pendapatnya. Bu Sarah terus memeluk tubuhnya Nadia yang terus menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya yang hancur berkeping-keping hingga tak bersisa.


Air matanya Nadia tak terhenti sedikitpun, ia hanya mampu terduduk di atas lantai keramik dengan tangisannya yang terdengar memilukan dan membuat semua orang yang mendengar terasa menyayat hati.


Bi Siti, Bu Rina dan Pak Gilang serta Syam segera meninggalkan rumahnya Syam bersama dengan mantan istrinya itu yang baru beberapa bulan saja. Hanya satu tahun lebih mereka menjadi suami istri tapi hari ini harus berakhir.


Mereka segera meninggalkan rumah itu dengan raut wajahnya yang berbeda-beda. Bu Siti bisa bernafas lega karena bisa menyelematkan bayi kecil mungil tidak berdosa itu.


Alhamdulillah Shaira bisa bebas dari Nyonya Nadia, bukan hanya bayi malang tidak berdosa itu saja,tetapi saya juga terbebas dari orang gila. Semoga kelak saya bisa menjaga Nona Shaira dengan baik dan rahasia tentang jati dirinya sebenarnya akan saya ungkap, jika memang Ibu dari bayi itu sudah datang mencari anaknya kembali.


Semuanya hanya terdiam dengan pemikiran masing-masing di dalam benak mereka banyak kata yang tidak mampu mereka ucapkan. Selama dalam perjalanan, tidak ada berkomentar dan berani berbicara satu sama lainnya. Hanya sesekali suara tangisannya Shaira yang mampu terdengar.


Dewi dan kedua asisten rumah tangganya sibuk bergantian mengurusi ketiga anak kembarnya itu. Mereka sama sekali tidak mengetahui masalah apa saja yang terjadi di kediamannya Nadia Yulianti.


"Aidan sayang kok belum bobo sih nak? Kasihan bibi Juba loh yang terus gendong kamu," ucapnya Dewi yang segera menggantikan posisinya bibi Jubaedah Laila Sari.


"Tidak apa-apa kok Nyonya lagian saya senang bisa gendong si gembul," timpalnya Bu Jubaedah.

__ADS_1


Sedangkan Bu Minah anteng-anteng saja bersama Shanum yang menyusu asi eksklusif dengan Dewi baru saja. Baby Shanum malah sudah tertidur pulas mengikuti jejaknya Abyasa yang tenang tertidur setelah perut ketiganya kenyang.


Percakapan mereka segera terhenti ketika mendengar suara deru mesin mobil yang berhenti di dalam carport rumahnya itu.


"Nyonya sepertinya itu mereka sudah pulang dari rumahnya Nyonya Nadia," ucapnya Bi Minah.


"Kalau gitu saya meminta tolong bibi ke bawah lihat mereka,bukain pintu juga bisa," ucapnya Dewi yang masih berusaha menenangkan anak keduanya yang masih ******* dengannya.


Syam bergegas masuk ke dalam rumahnya ketika pintu terbuka lebar dari arah dalam. Bu Mina yang melihat kedatangan tuannya segera menyapa mereka.


"Selamat datang Bu Rina, Pak Gilang, eeh ada Bi Siti juga rupanya," sapanya Bu Mina yang merasa ganjil dengan melihat kelakuan Sam yang tidak seperti biasanya itu.


"Assalamualaikum Bu Mina," ucap Bi Siti.


"Bu Mina tolong antar bayinya ke dalam kamarnya ketiga cucuku yang lain, kasihan sudah terlalu lama di luar sana," pinta Bu Rina yang segera memberikan baby Shaira kedalam gendongannya Bi Mina.


"Baik Nyonya besar," balasnya Mina yang tidak perlu banyak komen dan segera memenuhi perintah dari majikannya itu.


Saya yakin Shaira segera beradaptasi dengan Nyonya Dewi, pasti Shaira akan menjadi anak sholehah selama Bu Dewi yang menjaga, mendidik dan mengasuh anak ini.


Syam segera masuk ke dalam kamarnya tanpa menegur sedikit pun Dewi yang kebetulan berpapasan dengan suaminya ketika keluar dari kamar bayinya yang meninggalkan Bu Jubaedah bersama ketiganya seperti setiap hari yang terjadi di dalam rumah itu. Bu Mina dan Bu Jubaidah akan bergantian menjaga ketiga bayi mungil itu.

__ADS_1


Dewi memperhatikan gerak gerik suaminya itu," apa yang terjadi dengan Abang Syam, kenapa wajahnya nampak murung, sedih, kecewa yang saya lihat dari raut wajahnya Abang, apa saya bertanya saja atau menunggu Abang yang langsung berbicara,"


Maaf Give away kecil-kecilan terlambat dikarenakan sesuatu dan lain. insyaallah hari ini baru bisa.


__ADS_2