Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 68


__ADS_3

Dewi diam-diam memperhatikan kepergian dokter Irwan dari hadapannya," semoga saja Pak dokter tidak dendam dengan apa yang kami telah perbuat dan katakan di depannya, saya berharap dia menemukan perempuan yang akan nantinya membuatnya jatuh cinta dan bisa melupakan obsesi dan rasanya padaku,saya mohon bantuanMu yah Allah karena hanya Engkau yang mampu membolak-balik perasaan dan hati seseorang, amin ya rabbal alamin.


Maaf bukannya kami kejam Pak dokter, tapi ini jalan yang terbaik untuk kita bersama. Semoga saja apa yang terjadi hari ini tidak terulang kembali dilain hari.


Aku harus segera mencari alasan dan cara untuk memboyong Dewi istriku ke Jakarta dan tinggal bersamaku di rumah pemberian CEO Renald. Aku harus membujuk Dewi gimanapun caranya, karena jika dia disini terus pasti akan terbuka kesempatan untuk Irwansyah datang lagi untuk menggoda dan mendekati istriku.


Semoga saja Dewi menerima dan setuju dengan permintaanku itu, karena aku pasti tidak akan bisa hidup tenang bekerja di Jakarta jika terus-terusan berpisah.


Berselang beberapa menit kemudian,di dalam ruangan tamu rumahnya Dewi dan Sam.


Syam dengan patuh dan menurut apa yang dikatakan oleh istrinya itu. Dia tidak ingin melawan ataupun membantah sedikitpun perkataan dari Dewi. Karena apa yang dilakukannya akan berakhir sia-sia belaka.


Aku begitu kagum dengan istriku sendiri, apakah aku dosa dan egois jika selalu membandingkan sifat dan karakternya kedua istriku. Aku jelas-jelas sudah menekan rasa itu, tapi entah kenapa setiap kali berdekatan dengan Dewi aku pasti akan selalu mengingat bayangan Nadia yang sifatnya berbanding terbalik dengan Dewi yang begitu lemah lembut, pengertian, perhatian bahkan dalam keadaan hamil pun tetap melayani dan memberikan apapun yang aku butuhkan tanpa mengeluh sedikitpun, padahal dia sedang hamil besar.


Dewi berpegangan di sandaran sofa ruang tamunya itu dengan bobot tubuhnya yang semakin besar dan beratnya bertambah semakin membuatnya kesulitan untuk duduk dengan baik dan normal. Sam yang melihat istrinya kesusahan segera tanggap untuk membantu Dewi.


"Makasih banyak Abang," ucapnya Dewi yang tersenyum lebar walaupun hatinya masih cemas dengan luka ditelapak tangan kanannya Syam.


"Abang apa enggak lihat tangannya penuh darah seperti ini masih saja tidak butuh diobati, emangnya tubuh Abang ini terbuat dari robot, besi atau batu gunung sampai-sampai sudah terluka tapi nggak peduli dengan keselamatan dan kondisi kesehatannya sendiri!" Kesalnya Dewi seraya membersihkan tangannya Syam sebelum diteteskan obat merah.


Syam terkekeh mendengar omelan istrinya itu dan sedikitpun tidak marah, kecew, tersinggung, kesal dengan semua omelan dan amarahnya Dewi. Karena memang dia sadar diri jika memanglah yang salah disini.


Syam memperhatikan dengan seksama segala apa yang dilakukan oleh Dewi di atas tubuhnya itu. Ia sesekali tersenyum menanggapi perkataan dari Dewi yang terkadang cerewetnya bukan main.


Dulu aku sempat juga terluka seperti ini, bukannya Nadia merawatku atau mengantar aku ke dokter tapi, malah bisanya marah-marah dan membentak ku.


Ya Allah… astaghfirullah aladzim aku kembali membandingkan kedua istriku ini. Entah kenapa aku sangat sulit untuk keluar dari situasi seperti ini. Ketika banyak hal yang dilakukan oleh Dewi kepadaku dan untukku pasti akan muncul rasa dan keinginan untuk membandingkan keduanya.

__ADS_1


Apakah di dunia ini yang memiliki istri lebih dari satu, akan bersifat seperti saya? Ataukah hanya aku yang terlalu memuji berlebihan ciptaan Allah SWT yang begitu indah dan rupawan.


Dewi dengan hati-hati dan telaten membersihkan seluruh tangannya Syam dengan alkohol lalu mengolesinya dengan obat merah obat antiseptik dan membalutnya dengan kain kasa.


"Kamu tahu tidak apa yang kamu lakukan ini padaku semakin membuatku jatuh cinta padamu berkali-kali lipat, tapi ingat ini bukan gombalan yah lagian bukan saatnya lagi aku menggombal kamu yang sudah sah dan resmi menjadi milikku seutuhnya," imbuhnya Syam.


Dewi yang mendengar perkataan dari mulut suaminya itu segera menengadahkan wajahnya ke arah Syam dengan memperhatikan dengan seksama apa yang dikatakan oleh Syam barusan.


"Terus," tanggapannya Dewi yang kembali melanjutkan pekerjaannya untuk menyelesaikan perban lukanya Syam dengan hati-hati.


Dewi tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya sehingga wajahnya langsung blushing memerah menahan malunya yang dipuji oleh suaminya sendiri.


"Terus, aku tidak akan pernah bisa lagi hidup jauh dari istriku yang paling cantik dan paling baik hatinya, apakah kamu mau ikut pulang bersama dengan Abang ke Jakarta?" Pintanya Syam yang akhirnya tidak mau menunda lebih lama lagi apa yang hendak direncanakannya itu.


Dewi segera menyelesaikan pekerjaannya dan kembali menatap intens ke arah suaminya itu.


Dewi menunggu suaminya berbicara jujur sembari membereskan pelengkapan kotak p3knya kembali seperti sedia kala.


Sam tersenyum simpul terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan dari istrinya itu yang berupa tanggapan yang cukup membuatnya mengerti, kalau Dewi keberatan jika harus kembali ke rumah yang sama seperti beberapa minggu sebelumnya.


Syam menangkupkan kedua tangannya di depan dagu lancipnya Dewi, "Tidak mungkin itu aku lakukan sayang, Abang bersyukur karena setelah menangani proyek di luar daerah tepatnya di Kalimantan Selatan Banjarmasin, ceo perusahaan tempat Abang bekerja memberikan bonus besar dan tidak sedikit yaitu satu unit perumahan yang cukup mewah untuk kamu dengan Abang tinggali nantinya dan syukur alhamdulillahnya lagi rumah itu sudah difasilitasi lengkap dengan perabot elektronik dan furniture nya juga, jadi kamu tinggal menempati rumah itu dengan tenang palingan hanya beberapa perabot pecah belah yang kurang seperti piring, panci mungkin setelah Abang cek," ungkap Syam dengan wajahnya yang berharap penuh agar Dewi mengabulkan keinginannya itu.


Dewi kembali menyunggingkan senyumnya mendengar penjelasan dari mulut suaminya itu.


"Syukur Alhamdulillah kalau seperti itu Abang, ini rezeki dan berkah anak kembar kita Abang, padahal saya sempet berfikir jelek kalau Abang akan kembali memintaku untuk tinggal satu atap dengan Mbak Nadia kembali," tukasnya Dewi yang begitu bahagia mendengar kabar berita baik itu.


Syam memajukan wajahnya hingga jarak keduanya semakin terkikis saja, Dewi sangat mengerti dengan apa yang akan terjadi kedepannya dan ingin dilakukan oleh suaminya itu.

__ADS_1


Dewi spontan mengalungkan tangannya ke lehernya Syam sambil menutup kedua pasang bola matanya itu. Kedua bibir mereka saling bertautan dan berpangutan hingga keduanya semakin memperdalam ciumannya dan semakin intens serangan yang dilakukan oleh Syam diatas bibirnya Dewi.


Keduanya menghentikan kegiatannya itu setelah pasokan udara di dalam rongga tenggorokan leher kedua pasutri itu habis. Hingga nafas keduanya terengah-engah dan ngos-ngosan.


Dewi langsung menundukkan kepalanya saking malunya dengan apa yang sudah dilakukannya itu. Wajahnya tersipu hingga menyebabkan kedua pipinya merona memerah seperti buah apel saja.


Inilah yang disukai oleh Syam yang terkadang membuatnya tidak jemu memandangi keindahan wajahnya Dewi dalam keadaan seperti itu.


Syam yang melihat ada sedikit sisa saliva di ujung sudut bibirnya Dewi segera membersihkannya dengan kecupan mesranya yang penuh dengan kasih sayang yang tulus dan kelembutan yang membuat jantungnya Dewi sport jantung di tengah malam itu.


"Istriku Dewi Kinanti Mirasih! Apakah kamu bersedia untuk ikut bersama Abang ke Jakarta untuk melanjutkan sisa hidup kita dan menantikan kelahiran calon kedua anak kembar kita?" Syam menyentuhkan keningnya di kening Dewi yang tertutup hijab pink muda.


Dewi hanya menganggukkan kepalanya sedangkan tangannya masih di lehernya Syam belum dilepaskannya. Syam tersenyum lebar mendengar jawaban dari permintaannya tersebut.


"Saya bersedia hidup bersama dengan Samuel Abidzar Al-Ghifari dimanapun itu asalkan bukan di rumahnya Mbak Nadia,"imbuhnya Dewi.


Syam kembali mee luuu maaat bibirnya Dewi dan menuntun Dewi berjalan ke arah dalam kamarnya. Tapi, Syam terlebih dahulu menutup dan mengunci rapat knop pintu rumahnya yang sejak tadi masih terbuka lebar.


Syam membisikkan kata-kata ke telinganya Dewi," istriku apakah malam ini aku boleh menyapa kedua putra putriku?" bisiknya Syam yang membuat bulu kuduknya Dewi berdiri seketika itu juga.


Dewi mengerti dengan maksud terselubung permintaan dari suaminya itu," apapun yang ingin Abang lakukan malam ini terserah Abang saja yang paling penting kita berdua sama-sama enak, nyaman dan bahagia lagian saya juga rindu banget dengan belaian dan sentuhannya Abang," ucapnya Dewi malu-malu meong-meong.


Syam dibuat semakin kegirangan bahagia karena bagaikan gayung bersambut..apa yang diinginkannya disanggupi oleh Dewi.


Malam itu hingga tengah malam, mereka melakukan aktifitas yang beberapa minggu terakhir mereka tidak lakukan. keduanya saling berlomba membahagiakan pasangan masing-masing demi meraih ridho dan berkah kehidupan rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah.


Bagi Vote, klik iklannya dong, like harus, poin dan koinnya boleh bagi kalau ada untuk Satu Atap Dua Hati.

__ADS_1


__ADS_2