
Dina terduduk di atas lantai tanpa ingin beranjak dari duduknya itu. Dia sangat sedih, terpukul, kecewa, hatinya hancur berkeping-keping ketika mengetahui jikalau suaminya sama sekali tidak peduli dan mencintai nya.
"Aku harus kuat demi anak-anakku, aku tetap berjuang keras untuk kebahagiaan mereka tapi bukan berarti aku mendukung sesuatu yang tidak sesuai dengan hati nuraniku, mungkin sudah harus diakhiri semua ini."
Dina bangkit dari posisi duduknya itu dan segera menyeka air matanya dan merapihkan penampilannya.
"Makasih banyak mas Irwan engkau telah menyadarkan aku jika kamu memang tidak pernah mencintaiku barang sedikitpun, kamu juga membuatku menyadari arti aku di dalam hidupnya mas, baiklah aku sudah cukup bertahan dengan semua ini jalan yang terbaik adalah kita akhiri, aku akan segera mendatangi kantor pak Daniel Aliuddin untuk mengurus perceraianku, selama ini aku bertahan karena ketiga anak-anakku tapi percuma saja mereka dididik oleh papanya dengan didikan yang salah, mungkin jika aku pergi dari sini kedua putri kembarku sadar dengan kesalahan dan kekeliruan yang diperbuatnya."
Dina Anelka Mulya sudah memutuskan dan bertekad untuk meninggalkan suaminya dan mengakhiri hubungannya. Dina membereskan barang-barangnya malam itu juga dan secepatnya meninggalkan istana yang baginya seperti neraka.
Semoga kepergian mama dari sini anak-anakku bisa tersadar dengan kesalahannya dan segera memperbaiki kekeliruannya itu.
Dina sangat berat meninggalkan rumah itu, bukannya masalah harta dan kemewahan yang membuatnya sulit untuk berpaling. Melainkan ketiga anaknya lah yang menjadi penyebab utama ia hidup bertahan bersama seorang dokter yang sama sekali tidak pernah mencintainya walau hanya secuil.
Aku hanya dijadikan alat dan bidak catur untuk balas dendam oleh mas Irwan, jadi ijinkan bidak catur ini pergi dari sini untuk selamanya.
Arabela semoga kamu tidak mengikuti jejak papamu dan kakakmu Ariela. Akhsan mungkin kau sudah menghamili ank gadis orang, tapi insha kamu lebih bisa Mama andalkan.
Dina tanpa ragu sore itu segera meninggalkan rumahnya yang sudah ditempatinya lebih dua puluh tahun lamanya. Hanya air mata kesedihan yang dia dapatkan dari pernikahannya.
"Astaughfirullahaladzim maafkan saya ya Allah mungkin ini yang terbaik saya lakukan, semoga saja Allah SWT masih memberikan kesempatan kepada Mas Irwan untuk segera bertaubat dan menyesali perbuatannya itu."
Dina hanya mengambil mas kawin yang pernah diberikan oleh suaminya ketika awal memasuki rumah itu. Semua perhiasan dan barang mewah yang diberikan oleh Irwansyah hanya untuk pamer kepada orang-orang sama sekali tidak diambilnya.
Baginya percuma dia ambil yang bukan memang miliknya. Lebih baik cari aman saja daripada nantinya kedepannya dia ambil barang-barang itu dan menjadi permasalahan kedepannya yang akan membuat dia malu.
"Aku tidak mungkin numpang di rumahnya Mbak Dewi, untungnya aku punya usaha sampingan yang selama ini aku kerjakan tanpa sepengetahuan mas Irwan sehingga bisa aku pakai uangnya untuk menyewa pengacara dan juga membeli rumah beberapa bulan lalu semua itu murni hasil keringat aku sendiri,"
Dina segera berjalan ke arah luar rumahnya. Sebelum adzan magrib berkumandang dari toa-toa masjid. Dina sudah memesan ojek online untuk mengantarnya ke rumah yang sudah dibelinya beberapa bulan yang lalu.
__ADS_1
Untungnya rumah itu dibelinya tanpa sepengetahuan suaminya termasuk ketiga anaknya. Dina sudah tidak bisa bertahan dengan keadaan seperti ini terus menerus. Bahkan kesabarannya dan bertahan dalam keadaan seperti ini tidak membuahkan hasil.
Padahal Dina berharap kesabarannya, kesetiannya, pengorbanannya dapat meluluhkan hati dan meruntuhkan tembok keegoisan dari Irwansyah Prayitno.
"Semoga kepergianku ini awal dari kebaikan untuk kami berdua, ya Allah Engkau sangat tidak menyukai perpisahan antara suami istri,tapi saya tidak mungkin bertahan dalam keadaan tertekan dan hidup terus menerus tanpa dicintai itu sangat menyiksaku, sudah cukup aku bertahan dalam rumah tangga yang selalu aku berjuang sendiri untuk memperbaikinya,tapi hasilnya nihil malah anak-anak dan suamiku semakin tidak terkendali,"
Dina tidak akan pernah menyesali keputusannya untuk pergi,tapi yang disesalkan dalam hidupnya adalah tidak bisa mendidik dengan baik-baik anak-anaknya. Ia juga sangat sedih karena tidak berhasil membuat anaknya berada di jalan lurus yang diridhoi Allah SWT.
Sedangkan di dalam sebuah kamar, seorang gadis meringkuk menangis Du atas ranjangnya. Ia sangat sedih ketika mendengar perkataan dari pria yang telah membuat hidupnya tidak seperti ini dalam keadaan yang sulit.
"Kenapa Mas Ahsan, dulu kamu mengatakan kepadaku akan menikahiku,tapi tau-taunya semua itu hanyalah omong kosong belaka, aku terlalu bodohnya menyerahkan hidupku untukmu Pria yang sama sekali tidak menghargaiku," lirihnya Vela Angelina seraya meremas kain ujung bajunya dengan sangat kuat.
Tinton…
Suara bel rumahnya Dewi kembali berbunyi. Shanum segera bangkit dari duduknya itu berjalan membukakan pintu untuk orang yang menekan bel berkali-kali.
Maryam dan Shaira pun segera berjalan ke arah tangga.
"Vela pasti lapar Mar, tapi sepertinya dia sulit untuk makan apapun karena setiap kali makan pasti mual dan muntah, ternyata cukup banyak tantangannya menjadi wanita hamil muda," imbuhnya Shaira yang seperti takut jika ia nantinya juga hamil.
"Itu sudah kodratnya sebagai seorang ibu hamil pasti banyak cobaan dan ujiannya jika menjadi seorang ibu," sahutnya Maryam yang menimpali percakapan sahabatnya sekaligus calon adik iparnya itu.
"Ya Allah Amar aku kira siapa kagetin saja, memangnya ada apa sampai-sampai menekan belnya berkali-kali, seperti dikejar depkoleptor saja!" Ketusnya Sahnum.
"Bukan depkoleptor Mbak tapi dikejar dosa tuh anak!" Cercanya Adisty yang ternyata baru muncul di belakang Sahnun.
Amar hanya terkekeh menanggapi perkataannya kakak sepupunya itu yang hanya beda hari dalam bulan yang sama. Amar Alfarizi adalah anak sulungnya Syafiq Fatahillah.
Amar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu sambil tertawa cengingisan," aku lupa dompetku Mbak, entah mungkin terjatuh di dalam sini atau di jalan, karena di jalan yang aku lalui sama sekali tidak ada tanda-tanda dompet itu," jelasnya Amar Alfarizi.
__ADS_1
Maryam dan Shaira yang baru saja dari bawah karena membantu Bu Siti dan mamanya beberes rumah sisa-sisa dari acara lamarannya Shanum. Mereka dibuat terkejut melihat Vela yang sudah tidak sadarkan diri.
Pintu bercat putih itu terbuka lebar, Maryam dan Shaira shock bukan main melihat Vela tidak sadarkan diri dengan pergelangan tangannya sudah mengalir darah segar.
"Tidak!!"
"Vela!!"
Teriak kedua perempuan berhijab itu segera berlari cepat ke arah Vela yang sudah pingsan. Ketiga orang yang berada di lantai bawah cukup terkejut mendengar suara teriakan yang cukup melengking tinggi itu.
"Apa yang terjadi kenapa mereka berteriak?" Tanyanya Adisti.
Shanum dan Amar segera berlari meninggalkan Adisty yang masih kebingungan dengan situasi yang terjadi.
"Dede apa yang terjadi padamu!?" Pekik Shanum yang sangat takut jika terjadi sesuatu pada adiknya itu.
"Mbak cepat bantu kami untuk segera membawa Vela ke rumah sakit, kami sudah menghentikan pendarahan ditangannya tapi harus secepatnya mendapatkan penanganan medis," pintanya Shaira yang raut wajahnya sangat mencengangkan salah satu sahabatnya itu.
Amar yang memang postur tubuhnya yang tinggi tegap dan seperti body Salman Khan segera bertindak untuk menolong Vela.
"Dede cepat turun siapkan mobil, serahkan padaku untuk menggendong tubuhnya Vela," ucapnya Amar yang segera berjalan ke arah luar kamar tamu.
Dewi, Syam,Bu Rina Amelia dan Bi Siti segera berjalan tergesa-gesa ke arah sumber suara setelah mendengar suara gaduh.
"Sha apa yang terjadi?" Tanyanya Dewi.
"Vela sepertinya mencoba untuk mengakhiri hidupnya Ma," jawabnya Shanum.
"Astaughfirullahaladzim apa yang terjadi kenapa seperti ini?" Ratapnya Bu Rina.
__ADS_1