Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 261


__ADS_3

"Aahhh!" Pekiknya Rachel bersamaan dengan tubuhnya yang ambruk ke atas lantai.


Bruk…


Bu Siti yang melihat kondisi Rachel tidak dalam kondisi yang baik saja segera berteriak kencang untuk meminta tolong.


Rachel masih berusaha untuk menggapai suaminya seolah suaminya Aidan Akhtar mendengar teriakannya. Padahal Aidan sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi pada Rachel, walaupun dia melihat langsung kejadian itu.


"Mas Aidan to-long a-ku," lirih Rachel Amanda sebelum matanya terpejam.


"Nyonya muda Rachel apa yang terjadi padamu?" Tanyanya bi Siti yang berusaha membantu Rachel yang terjatuh dalam posisi tengkurap.


Sedangkan Rachel yang penglihatannya sudah mulai kabur dan menghitam, hingga suara bi Siti sudah sayup-sayup kedengaran di telinganya.


"A-ku sa-kit," lirihnya Rachel sebelum jatuh pingsan tak sadarkan diri lagi.


"Tolong!! Tolong kami!" Teriak histeris Bibi Siti Aminah yang kebingungan tidak tau apa yang seharusnya dilakukannya untuk menolong Rachel.


"Apa yang terjadi di depan! Siapa yang berteriak-teriak kencang itu?"tanyanya Syam.


"Iya, kalau enggak salah dengar suaranya seperti berasal dari arah pintu paling depan," sahutnya Abyasa.


"Kalau aku dengar dengan seksama suaranya seperti milik Bi Siti Ma," balasnya Abiyaza.


"Kalau terus menduga dan mengira-ngira sepertinya kita tidak akan mendapatkan jawabannya, sebaiknya kita langsung ke depan," imbuhnya Bu Rina Amelia.


"Ya Allah semohybi Siti baik-baik saja, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada bi Siti," cicitnya Shaira.


Semua orang segera berjalan ke arah depan untuk melihat apa yang terjadi sebenarnya. Untungnya mereka telah menyelesaikan santap pagi mereka sebelum berangkat beraktifitas seperti biasanya di pagi hari itu.


Semua orang berjalan terburu-buru hingga langkah mereka terhenti dan melihat Rachel yang kepalanya dipangku oleh bibi Siti dan sudah banyak darah yang mengalir di seee laang kaa ngan nya itu.


Semua orang semakin mempercepat langkahnya saking khawatirnya melihat Rachel yang sudah tidak sadarkan diri lagi dengan darah segar yang sudah banyak mengalir disekitar pahanya hingga mengenai lantai.


"Astaughfirullahaladzim, apa yang terjadi padanya bi Siti?" Tanyanya Shaira Innira.


"Mbak Rachel coba periksa denyut nadinya, apa dia masih hidup?" Tanyanya Shanum.


"Hush! Kamu tuh nak bukannya berbicara agar Rachel kakak iparmu masih hidup dan selamat,kamu malah berharap dia meninggal," ketusnya Bu Rina Amelia.


"Dia itu wajar diperlakukan kasar Nek, dia itu wanita ular berbisa yang ingin menyebarkan racunnya di dalam rumah kita ini, tapi sayangnya kejahatannya cepat ketahuan dan bisa saja mungkin dia lagi bersandiwara saja!" Sarkasnya Shahnum lagi yang hanya menatap jengah ke arah Rachel yang sudah pingsan.

__ADS_1


"Abyasa segera hubungi adikmu Aidan, katakan padanya jika Rachel terjatuh dan harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit," perintahnya Dewi.


Abiaza menelpon nomor ponselnya Aydan dan dia cukup terkejut mendengar perkataan dari adiknya itu.


"Assalamualaikum dek, cepat pulang ke rumah, istrimu terjatuh dan kemungkinannya bayi yang di dalam perutnya telah meninggal dunia karena itu keguguran," cercanya Abyasa.


"Syukurlah kalau dia keguguran, malah aku bahagia dengan berita gembira ini, biarkan saja kak dia meninggal dunia! Aku tidak peduli lagi dengan wanita pembohong dan munafik itu!" Kesalnya Aidan Akhtar yang segera menepikan mobilnya untuk mengangkat telponnya Abiaza kakak sulungnya itu.


Maryam dan Shaira memberikan pertolongan pertama pada Rachel dan mereka saling bertatapan satu sama lainnya.


Abyasa mengeraskan volume suara panggilannya itu dengan menloudspeaker, Abya sengaja melakukan hal itu agar semua orang mendengar langsung perkataannya itu.


"Astaughfirullahaladzim dek, gimanapun dia itu adalah istrimu dan anak yang dikandungnya adalah calon bayimu, aku mohon balik ke rumah secepatnya," pintanya Abyasa.


"Haha, Kak anak yang ada di dalam kandungannya itu bukan darah dagingku! ngapain juga aku peduli! Aku itu hanyalah korban jebakannya saja, sedangkan kami menikah karena telah mengatur siasat untuk menjebakku sehingga aku seperti orang yang telah merenggut kesuciannya secara paksa." Ungkapnya Aidan Akhtar yang membuat semua orang terkejut mendengar perkataan dari salah satu anak kembarnya Dewi.


Syam merebut ponselnya Abyasa yang telponnya masih tersambung dengan nomor ponselnya anak keduanya itu.


"Aidan! Apa seperti ini caranya Mama dan papa mendidikmu Nak? Apa Papa pernah mengajarkan kepadamu kejahatan orang lain dibalas dengan kejahatan pula? Papa tidak pernah mengatakan kepada kalian untuk acuh terhadap nasib orang lain, apa lagi Rachel adalah istrimu Nak. Kesampingkan dulu kemarahan dan egoisme kamu itu, kasihan Rachel lihatlah dia nak walau sekejap mata saja," harapnya Syamuel.


Maryam dan Tanisha membantu membersihkan darah yang terus bercucuran dari arah sela kakinya Rachel.


"Kalau kakak tidak percaya, tanyakan saja kepada bang Arion dan Adelio karena mereka sangat mengetahui masalah rumah tanggaku, kesalahan besar yang diperbuat oleh Rachel!" Imbuhnya Aidan yang sama sekali tidak ada rasa takut, panik dan khawatirnya mengenai keselamatan Rachel.


"Stop! Mama mohon hentikan perdebatan kalian semua! Sebaiknya kita bawa secepatnya Rachel ke rumah sakit agar segera tertolong!" Hardiknya Dewi.


Semua orang segera mengangkat tubuhnya Rachel bersama-sama, hanya kedua asisten security dan tukang kebun yang disuruh untuk mengangkat tubuhnya Rachel.


"Entah dimana kak Aydan nemu perempuan seperti ini! Aku sungguh masih terheran-heran bisa-bisanya kak Aidan lebih memilih perempuan modelan seperti Rachel dari pada istri sholeha seperti Mbak Maryam,"sarkasnya Faris dan yang lainnya kebetulan datang pagi itu untuk membawa pakaian seragam yang akan mereka pakai diacara midodaremi untuk esok hari.


"Kak Aydan itu dijebak dan terperangkap oleh tipu muslihat perempuan yang sungguh membuatku sakit mata melihat pakaiannya ini," cibirnya Arabela.


"Memang semua orang punya kesalahan, tapi seenggaknya apa tidak bisa memakai jilbab walau gaul dan modis, kalau gini kan sungguh najis aku melihatnya!" Hinanya Shanun.


Shahnum enggan untuk mengijinkan suaminya dan saudara-saudaranya yang lain untuk menyentuh tubuhnya Rachel yang memakai pakaian yang cukup terbuka dan seksi.


"Pak Abdul dan Mamang Jono cepat masukan dia ke dalam mobil, bi Ijha tolong ambilkan pakaian gantinya Rachel serta hijab dan beberapa lembar sarung untuk menutupi auratnya yang terbuka lebar ini," titahnya Dewi lagi yang tidak ingin melihat kondisinya Rachel yang seperti itu di antar ke rumah sakit.


Semua orang yang mendapatkan tugas segera menjalankan tugasnya, sedangkan Syam, Abiyasa, Adelio dan Arion enggan untuk menolong perempuan picik dan munafik penuh tipu muslihat tersebut.


Abiyasa awalnya ingin membantu Mamang Abdul, tapi Sanika Tanisha memegangi tangannya kemudian menggelengkan kepalanya itu. Dia juga tidak menyangka jika adik iparnya yang terlihat lugu dan polos itu malah berperilaku jahat.

__ADS_1


Hanya istrinya Abiyasa Tanisha, Maryam Nurhaliza,Bu Ijha dan Sahnum yang tidak ikut ke rumah sakit. Sedangkan Adelio dan Shaira karena rumah sakit yang dituju oleh papa,mama dan kakaknya adalah rumah sakit swasta terbesar milik Adelio sehingga mau tidak mau mereka pun menyusul.


"Bang Adelio jalan duluan ke mobil, aku mau masukin makanan bekalnya Abang ke tempat makan," pinta Shaira.


Adelio tersenyum tipis kemudian langsung mengecup keningnya Sahira dengan penuh kasih sayang. Apa yang dilakukan oleh Adelio membuat semua orang yang melihatnya dibuat baper dan tersenyum melihat keromantisan keduanya.


"Si sweetnya adik iparku, hemm! Aku jadi enggak pengen ijinkan bang Arion pergi ke Belanda kalau gini," candanya Sahnum.


"Kak Sha bisa saja, sudah aah aku mau ke dapur dulu, kakak sepertinya Nafeesa pengen bibi cantik tuh," elaknya Shaira yang segera ngacir dan mengalihkan perhatian dari Shanum kakak angkatnya.


Shanum dan Maryam hanya tersenyum melihat tingkah lakunya Shaira.


"Mereka selalu saja menggodaku, apa mereka kurang kerjaan apa!" sungutnya Shaira.


Shaira segera memasukkan beberapa potong roti senwich yang sudah dibuatnya menggunakan daun selada, telur setengah matang, saus tomat, saus cabe, mayonaise, keju, irisan tomat dan terakhir daging sapi yang sudah digorengnya terlebih dahulu.


"Semoga saja apa yang aku masak ini bermanfaat ketika dimakan oleh suamiku," cicit Shaira kemudian menutup kotak makanan berwarna ungu itu.


sedangkan di ruang tengah, perbincangan masih berlangsung. mereka semakin heboh mengeluarkan pendapatnya.


"Kejahatan dan keburukan sepintar apapun disembunyikan jika pelakunya tidak segera sadar dan memperbaiki kesalahannya itu, pasti akan bernasib seperti Rachel di wanita lucknut itu," cibirnya Adisti.


"Ini adalah pelajaran yang paling bagus kita ambil hikmahnya, semoga saja kedepannya tidak bakal ada lagi orang-orang yang berhati buruk dan jahat tinggal bersama kita untuk kedepannya, cukup Rachel Amanda saja," imbuhnya Ariela Ziudith yang ternyata melihat kejadian itu tapi malah hanya melihat Rachel terkapar.


Sedangkan orang-orang yang ikut mengantar Rachel segera menghubungi nomor ponselnya kedua orang tuanya dan Aidan sudah menunggu di pelataran rumah sakit dengan cukup kesal.


"Akhirnya Allah menunjukkan kepada kita semua jika kejahatan tidak akan pernah ditutupi oleh siapapun bagaimana pun caranya," ucapnya Abyasa yang sudah di dalam mobilnya dan bersiap mengemudikan mobilnya itu untuk mengekor mobil yang dikendarai oleh pak Jono.


"Dia pantas mendapatkannya daeng, aku sungguh dibuat terkejut sekaligus tidak percaya jika Rachel Amanda terjatuh dan beruntung kalau masih hidup nantinya," ujarnya Tanisha.


"Kita doakan yang terbaik untuk dia, kalau masih hidup semoga masih diberikan hidayah dan kesempatan untuk segera bertaubat dan jika memang tidak selamat semoga diampuni segala dosanya itu," tuturnya Abiyasa.


Owek… oek..


Baru beberapa menit mobil itu berbaur dengan pengendara lainnya, tiba-tiba Tanisha mual-mual bahkan memuntahkan hampir seluruh makanan yang dimakannya tadi pagi.


Abiyasa cekatan dan spontan menghentikan laju kendaraannya itu dan menepikan mobilnya ke badan jalan. Abyasa segera mengambil kantong kresek tempat dia menyimpan beberapa barang belanjaannya kemarin malam.


"Ini keresek kamu pakai untuk muntah, supaya tidak mengenai pakaianmu istriku," Abiyasa membantu istrinya itu dan memijit tengkuk lehernya.


"Daeng ada minyak kayu putih di dalam tasku, bisa diambil dulu," Tanisha melap ujung bibirnya menggunakan tissue.

__ADS_1


Abyasa meraih tasnya Tanisha sambil terus berbicara dengan istrinya,"Tapi kamu baik-baik saja kan sayang?"


"Aku tidak apa-apa, hanya saja kepalaku pusing dan perutku sedikit begang," balasnya Tanisha.


__ADS_2