
"Bagaimana Vela apa kamu setuju menerima lamarannya Amar Alfarizi?" Tanyanya Maryam Nurhaliza.
"Tidak mudah mencari pria yang bisa menerima keadaan kamu yang seperti ini, maaf Vel bukannya karena Amar adalah sepupuku dan membujuk kamu untuk menerima pinangannya tapi, bagiku siapapun pria yang bersedia menikahimu dalam keadaan seperti ini, pasti pria itu rela dan ikhlas berbagi kehidupanmu dengannya," ucapnya Shaira sambil mengelus lengannya Vela.
Vela menatap satu persatu dari semua orang yang kebetulan berada di dalam sana yang hanya berjumlah empat orang itu dengannya. Tetapi, baru saja Vela hendak berbicara dan menjawab pertanyaan sekaligus permintaannya Amar pintu kamar VIP perawatan Vela terbuka lebar.
Masuklah dua pasang suami istri, tiga anak muda yang semuanya tersenyum sumringah ketika melihat siapa yang berada di dalam ruangan tersebut.
"Papa, Mama," ucapnya Amar dan Shaira bersamaan.
"Maafkan kedatangan kami pagi ini tanpa memberikan kabar apapun terlebih dahulu, Nak Vela saya papanya Amar Alfarizi dan ini istriku Karmila mamanya Amar," ujarnya Syafiq Fatahillah yang memperkenalkan istrinya dan dirinya sendiri.
"Hemm kalian melupakan kami adiknya Abang Amar," pungkasnya Naima.
"Oya nih Mama kehadiran dan kedatangan kami tak dianggap sungguh terlalu… mentang-mentang sudah punya calon menantu sepertinya," candanya Nindi adik bungsunya Amar yang masih SMA itu.
"Hahaha," tawa orang-orang membahana di dalam ruangan itu yang tadinya sempat tegang dan kebingungan serta harap-harap cemas menunggu jawaban dari Vela.
"Bagaimana nak Vela apa kamu bersedia menerima pinangan dari keponakanku ini?" Tanyanya Dewi yang hadir bersama rombongan anggota keluarganya Amar.
"Nak kamu pasti bahagia jika menikah dengan Amar,diusianya yang masih muda sudah menjabat sebagai manajer HRD di salah satu perusahaan besar loh, insha Allah menurut Om kamu pasti bahagia menikah dengan Amar," timpalnya Syamuel yang memeluk putrinya dipundaknya Shaira.
Apakah mereka dikirim oleh Allah SWT untuk menolongku dan menutup aibku ini. Alhamdulillah makasih banyak ya Allah Engkau memberikan aku hidayah dan pertolongan agar aku bisa lepas dari masalah besar ini.
__ADS_1
Vela menundukkan kepalanya saking malunya dengan keadaannya sekarang ini, "Tapi apa kalian bisa menerima keadaanku ini karena saya sudah ha…," ucapannya terhenti karena segera disela oleh ibunya Amar.
Bu Karmila menangkupkan kedua tangannya ke dagunya Vela agar Vela mendongakkan kepalanya itu, "Stop! mulai sekarang semua yang ada di sini saya minta jangan pernah sekalipun untuk mengatakan jika Vela hamil anaknya Ahksan, besok atau suatu saat nanti anak ini lahir ingatlah kepada kalian semua jika anak ini miliknya Amar bukan darah dagingnya dokter Irwansyah si gila itu!" Tegasnya Karmila Ibundanya Amar.
"Benar sekali apa yang dikatakan istriku, Nak Vela jika kelak Ahksan atau siapapun itu katakan kepada mereka jika bertanya bila anaknya Ahsan sudah kamu gugurkan dan yang ada sekarang adalah anaknya Amar, papa akan mengurus segala persiapan pernikahan kalian berdua, kalau bisa kalian juga akan menikah dihari yang sama dengan Shanum dan Aidan anaknya saudariku," terangnya Syafiq.
Sejak hari itu sudah diputuskan oleh kedua belah pihak keluarga besar, mereka akan menikahkan anaknya dihari yang sama. Untuk sementara Vela akan menetap di rumahnya Dewi dan Syam. Sampai hari akad nikahnya mereka di hari jumat nanti.
Beberapa hari kemudian, Aidan dan Abyasa sudah balik ke Jakarta dari London Inggris setelah berhasil menyelesaikan studi mereka di luar negeri. Kebahagiaan Syam dan Dewi semakin lengkap ketika melihat tawa senyuman dari keempat anaknya itu.
Vela memutuskan untuk berhijab dan mengikuti jejak kedua sahabatnya itu untuk menutup auratnya. Walau gaya jeyigay wanita cantik dengan pesonanya masing-masing berbeda setiap orang.
"Syukur alhamdulilah anak-anak kita sudah kembali ke tanah air dan berkumpul bersama kita semua seperti mereka mas masih kecil," ucapnya Syam.
Keempat anaknya tanpa sengaja mendengar percakapan kedua orang tuanya itu. Mereka segera berjalan ke arah ruangan tengah untuk bergabung dengan Dewi Kinanti Mirasih dan suaminya Syamuel Abidzar Al-Ghifari.
"Hemm, Mama kenapa harus sedih seperti ini kan masih ada Abang Abya, saya dan juga bibi Siti yang menemani mama dan papa, lagian hanya kak Sahnum dan Abang Aidan yang menikah," tukasnya Shaira yang berusaha untuk tersenyum walau hatinya juga gundah gulana memikirkan mereka akan berpisah untuk memulai kehidupan baru mereka masing-masing.
"Memang kami menikah Ma tapi saya usahakan untuk sementara tinggal bersama dengan mama di hadapan mas Arion nantinya, tapi belum ngomong sih tapi pasti aku akan membujuk mas Arion kok Ma," tampiknya Shanum.
"Kalau saya tergantung dari Maryam ma dimanapun kami tinggal sama saja,lagian Maryam juga akan bekerja di salah satu rumah sakit besar di dekat rumah sini, jadi bisa mungkin diajak kompromi," imbuhnya Aidan Akhtar.
Bi Siti datang membawa beberapa gelas minuman dan makanan cemilan untuk menemani sore mereka saat itu.
__ADS_1
"Ya Allah kenapa hatiku sedih mendengar perkataan dari Mama, andaikan Abang Hansal tidak selingkuh dan menikah dengan Ariela Ziudith pasti saya akan… astaughfirullahaladzim kenapa aku sampai berfikiran seperti ini," Shaira menepuk keningnya itu dengan pelan.
"sebaiknya dicicipi dulu kue buatan non Shanum dan non Maryam, rasanya enak loh enggak kalah dengan buatannya Nyonya Dewi dan Nona Shaira," imbuhnya Bu Siti.
Masalah yang dihadapi oleh Vela Angelina dan Amar segera teratasi dengan baik. Sedangkan Maryam pagi tadi setelah membuat kue sudah balik ke rumah barunya setelah kedua orang tuanya balik satu minggu yang lalu dari Kuala Lumpur Malaysia.
Kedua orang tuanya Maryam Bu Fina dan pak Danu memutuskan untuk menetap di Jakarta setelah mengetahui putri tunggalnya akan menikah dengan pemuda asli Indonesia.
"Alhamdulillah rasanya enak nak, kamu sudah jago masak, semoga suami kamu nantinya bisa selalu kenyang dan bahagia ketika menyantap dan menikmati masakan yang kamu buat," ujarnya Pak Syam.
"Kalau kata orang dari mata turun ke lidah dari lidah turun ke perut terus naik ke hati," candaan nya Dewi Kinanti Mirasih.
"Bibi Siti gabung dengan kami yuk," ajaknya Abyasa.
"Iya bi, bibi itu sudah seperti anggota keluarga kami sendiri jadi kenapa meski sungkan seperti itu," tuturnya Aidan sambil sesekali menyeruput teh hangatnya sore hari itu.
Hingga bel pintu rumahnya berbunyi mengalihkan perhatian mereka semua yang ada di dalam ruangan tengah.
"Bibi duduk saja saya yang akan buka pintunya," cegahnya Shanum.
Berselang beberapa detik kemudian, Shanum sudah memutar kenop pintu rumahnya dan terlihat lah punggung seorang perempuan.
"Assalamualaikum Bu maaf siapa yah?" tanyanya Sahnun.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu yang kira-kira seumuran dengan Dewi mamanya segera memeluk tubuhnya Shanum dan menangis tersedu-sedu dalam pelukannya Shanum.