
Satu minggu kemudian, keluarga besar Abidzar Al-Ghifari kembali disibukkan dengan urusan segala persiapan pernikahan antara Abyasa Akhtam dengan Sanika Tanisha Hermasyah.
"Dede Aira kamu mau ke rumah sakit nak?" Dewi berjalan ke arah putri bungsunya itu.
Shaira yang disapa oleh mamanya segera menolehkan kepalanya dan menghentikan langkahnya untuk menjawab pertanyaan dari mamanya itu. Shaira tersenyum simpul sebelum menjawab pertanyaan dari mamanya itu yang berjalan mendekatinya.
"Hari ini aku libur sampai besok ma, kebetulan memang tidak ada jadwalnya sih, jadi bisa bersantai selama dua hari jadi pas pestanya kakak Abya besok, aku bisa datang," jawabnya Syaira.
Dewi memindai putrinya itu dari ujung hijab hingga ujung sepatunya yang membuatnya pangling melihat penampilan anaknya itu.
"Terus kamu mau kemana Nak cantik begini?" Dewi memegangi putrinya yang sungguh membuatnya terkesima dengan penampilannya Shaira yang berbeda hari ini.
Shaira tersipu malu mendengar pujian dari mamanya langsung," wajarlah dede cantik karena mamaku juga wanita yang sungguh luar biasa cantiknya dan baik hati sehingga menurun kecantikan inerbeuatynya," timpalnya Shaira.
"Kamu ada-ada saja Nak, kamu itu sungguh cantik luar dalam, mama memiliki anak yang cantik dan sholehah itu adalah anugerah, karunia terindah dalam hidupnya mama dan kau menjadi kebanggaan mama papa Nak," imbuhnya Dewi.
Shaira tersenyum melihat tingkah lakunya Dewi perempuan yang berjasa besar dalam kehidupannya,"Rencananya bang Adelio balik hari ini ma dari Paris Perancis, suamiku sengaja pulang untuk menghadiri acara akad nikahnya Abyasa," jelasnya Shaira.
Dewi yang mendengar perkataan dari putrinya itu sungguh dibuat terkejut sekaligus bahagia mendengar berita baik itu. Dia bersyukur karena semua anggota keluarganya hadir hari ini dan besok akan kembali berkumpul bersama menyaksikan acara sakral dan terpenting dalam hidupnya Abyasa.
"Alhamdulillah, Mama gembira banget dengarnya Nak, kalau gitu cepetan pergi, takutnya kamu terlambat jemput suamimu lagi,"
Dewi sudah menyuruh putrinya untuk bergegas pergi karena dia tidak ingin menantunya kecewa pada keterlambatannya Shaira untuk menjemput kepulangannya.
Shaira segera meraih tangannya Dewi kemudian mengecupnya penuh takjim," aku pamit yah Ma, kalau ada yang nyariin katakan kepada mereka jika aku ada urusan sedikit di luar, tolong dirahasiakan sementara waktu kedatangan suamiku, soalnya dia mau berikan kejutan untuk kalian semua," tukasnya Shaira.
Dewi hanya tersenyum tipis menanggapi perkataannya Shaira, sedangkan Shaira melangkahkan kakinya menuju ke arah carport mobilnya itu.
Shaira tidak sabar menunggu pertemuannya kembali dengan suaminya. Dina Anelka yang melihat kepergian keponakannya dan tak sengaja mencuri dengar pembicaraan kedua anak ibu itu, tersenyum.
Semoga kamu bahagia dengan suamimu Nak, kamu patut bahagia karena kamu adalah perempuan baik hati nak.
Dina segera berjalan ke arah kakaknya yang kembali melanjutkan memeriksa beberapa seserahan pernikahan yang akan dibawa oleh mereka besoknya.
__ADS_1
Baru sepersekian menit kepergian Shaira dari rumahnya, seluruh anggota keluarganya yang hadir dikejutkan oleh kedatangan rombongan polisi mendatangi rumahnya Samuel Abidzar.
Ting tong…
Suara bel di pintu masuk rumah yang terbilang cukup besar dan megah itu terdengar begitu nyaring. Bu Rina yang mendengar langsung suara bel pintu berbunyi, segera berjalan ke arah pintu yang kebetulan berada di ruang tamu.
Siapa siang-siang gini yang datang bertamu, bukannya keluarga yang belum datang, katanya mereka akan sampai paling cepat sore atau magrib.
Bu Rina segera memutar kenop pintu rumahnya sambil berfikir menebak kira-kira siapa yang datang berkunjung ke rumahnya siang itu.
Ceklek…
Ibu Rina Amelia melototkan matanya saking terkejutnya melihat siapa orang yang telah menekan tombol bel rumahnya. Dia adalah seorang laki-laki tinggi tegap berpakaian seperti orang biasa dan beberapa rekan kerjanya yang berseragam kepolisian.
"Maaf Pak polisi Anda cari siapa?" Tanyanya Bu Rina Amelia yang suaranya hampir tercekat dipangkal tenggorokannya saking kagetnya melihat begitu banyak polisi yang mendatangi rumah anaknya.
"Siang Nyonya,kami adalah polisi dari resort kota Jakarta pusat, kedatangan kami kesini ingin bertemu dengan nyonya Dina Anelka Mulya, apa dia ada disini? Kami sudah ke rumahnya tapi tetangganya mengatakan kalau Nyonya Dina berkunjung ke rumah ini," jelasnya pria itu sembari memperlihatkan identitasnya ke hadapannya Bu Rina.
Dewi dan Dina yang mendengar kasat kusut keramaian di depan pintu, segera berjalan ke arah depan. Mereka cukup penasaran ingin mengetahui siapa orang yang telah datang ke rumahnya.
"Mama kenapa tamunya tidak dipersilahkan untuk duduk dulu," tawarnya Dewi yang tersenyum ramah menyambut kedatangan polisi itu.
"Makasih banyak Bu, tujuan kami ke sini hanya untuk bertemu dengan Bu Dina dan juga pak Samuel yang dulu melaporkan kepada polisi tentang penangkapan dokter Irwansyah," ungkapnya polisi tersebut.
"Sa-ya Dina Pak ada apa yah?" Tanyanya Dina yang berjalan ke arah depannya Dewi.
"Duduklah dulu pak,saya akan memanggil suamiku," usulnya Dewi yang mulai penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya pada Dina adiknya dan pelaporannya suaminya sekitar tiga bulan lalu.
Semua orang duduk di dalam ruangan tamu yang berjumlah enam orang itu. Dewi baru saja hendak berjalan menaiki tangga, suaminya sudah lebih duluan turun.
Syam pun melihat kedatangan tamunya dan sudah paham apa yang terjadi sebenarnya. Polisi yang berpakaian bebas itu segera berdiri menyambut kedatangan Syam.
"Maaf menganggu kenyamanan Anda sekalian, kedatangan kami ke sini adalah untuk menyampaikan kabar duka sekaligus kabar bahagia," Pak Albert menjeda perkataannya itu sambil memperhatikan raut wajah orang-orang yang melihat kedatangan mereka di ruang tamu yang memang satu persatu anggota sanak saudaranya Dewi dan Syam sudah berdatangan dari luar daerah.
__ADS_1
"Kami ingin mendengar kabar bahagia dulu pak," pinta Bu Rina Amelia.
"Dokter Irwansyah yang sudah menjadi buronan sudah kami temukan Pak Syam," jawabnya pak Albert kepala pimpinan kepolisian.
"Syukur alhamdulilah kalau dia sudah ditangkap hidup-hidup, tolong diberikan hukuman yang setimpal pak. Kalau perlu hukuman mati sekalian!" Tegasnya Bu Rina.
Semua orang merasa senang karena penantian mereka beberapa bulan sudah berhasil bertemu titik terangnya.
"Iya pak berikan hukuman yang sesuai dengan hukum yang berlaku di negara kita ini, aku takut akan ada korban selanjutnya jika dia tidak segera diadili," ucapnya Dewi yang khawatir jika Irwansyah terbebas dari hukum.
"Kabar gembiranya itu kami sudah berhasil menangkap pak Irwansyah Hatif, berkat kerjasama pihak kepolisian dan juga anggota masyarakat yang selalu siap membantu kami," jelas pak Ronald rekannya pak Albert.
"Kalau kabar dukanya apa pak?" Tanyanya Sam yang cukup penasaran.
Pak Albert menghela nafasnya dengan cukup berat,"tapi sayangnya dia sudah meninggal dunia dan diperkirakan sudah meninggal lima hari yang lalu dan ditemukan di daerah S," ungkapnya pak Albert.
"Pak Irwansyah telah kami temukan sudah tidak bernyawa pak, dia sudah meninggal dunia terlebih dahulu sebelum ada warga masyarakat setempat yang menemukannya," tuturnya pak Ronal menambhakan pernyataan dari rekannya itu.
Dina yang mendengar kabar duka itu sungguh terkejut, bagaimanapun Irwan adalah mantan suaminya. Pria yang telah memberikannya tiga orang anak yang pernah diicintainya.
Dina spontan berdiri dari duduknya itu," itu ti-dak mungkin Pak? Bapak pasti salah orang saya yakin itu bukan dokter Irwansyah mantan suamiku!" Teriaknya histeris Dina yang menentang fakta besar yang baru terkuak.
Dewi segera memeluk tubuhnya adiknya yang sangat terguncang hebat mendengar kenyataan memilukan itu.
Pak Albert kemudian mengeluarkan beberapa barang pribadi miliknya Irwansyah sebagai barang bukti di tempat kejadian perkara yang berhasil ditemukan. Seperti dompet yang berisi kartu pengenal kartu tanda penduduk, paspor, SIM dan hanya ATM yang tidak ada di dalam dompet itu berserta uang tunai.
"Kami menemukan dalam keadaan korban sudah tidak utuh, mayatnya sudah dimutil*si dalam bentuk beberapa potongan tubuh. Tapi jam tangan ini kami berhasil mengindentifikasinya dan cukup lama kami bisa mengetahui karena potongan tubuhnya terpisah-pisah," jelasnya lagi pak Robbi.
Dina terduduk kembali ke atas kursi setelah mendengar penuturan dari kepolisian, semua orang bergidik ngeri mendengar kenyataan itu.
"Pak Irwansyah telah dipastikan jika dia korban pembunuhan dengan motif pencurian, karena salah satu p*tongan t*ngannya memakai jam tangan ini yang ada tulisan namanya identitasnya yang semakin mempermudah kami dan dokter forensik untuk bekerja," terangnya pak Robbi lagi.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun," ucap semuanya.
__ADS_1
"Dokter gila dan syaraf itu memang pantas mendapatkan hukuman langsung dari Allah SWT! Saya bersyukur karena tidak ada lagi penjahat berbahaya yang akan mengganggu kenyamanan dan ketenangan kita semua," cibirnya Bu Rina Amelia.
"Mama!" Tampiknya Syam yang tidak menyukai komentar mamanya itu.