Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 266


__ADS_3

Dewi berusaha untuk bangun dari rebahannya karena ingin bersandar ke headboard ranjang perawatannya itu.


"Kalian tidak perlu khawatir seperti itu juga, insha Allah aku baik-baik saja kok. Aku bukan orang penyakitan yang mengidap penyakit berbahaya," ucap Dewi.


Shanum dan Tanisha serta Shaira membantu Mamanya untuk berbaring lebih enak dan nyaman.


"Astauhfirullah aladzim Mbak kami sungguh sangat terkejut, setelah Aidan menelpon kami. Bukannya yang dirawat adalah Rachel ini malah Mbak juga ikutan sakit," gerutu Dina yang tidak bisa menyembunyikan perasaan cemasnya.


"Aku yakin sakitnya Tante Dewi karena gara-gara wanita ular berbisa itu yang melebihi bisa ularnya vish di film drama India," ketusnya Ariela.


"Hemmph,kamu ini korban sinetron. Iya aku juga setuju pasti Tante shock, terbebani dengan masalah wanita lucknut itu!" Kesalnya Adisti.


"Kalau terjadi sesuatu pada Mama, aku akan membalas dan menuntut pertanggungjawaban Bu Karmila. Karena aku yakin gara-gara dia sehingga Mama seperti ini," geramnya Abyasa.


Andrew memegangi pundaknya supaya emosinya mereda dan tidak bertindak yang tidak-tidak. Karena jelas-jelas emosi Abyaza sudah tersulut.


Dokter Adinda memberikan kode kepada Shaira dan Adelio. Keduanya pun memahami arti dari kode yang diberikan oleh dokter Adinda Wijaya.


"Tunggu petugas untuk memindahkan Mama dari sini,kami mau ke ruangan dokter terlebih dahulu," ucapnya Adelio.


Shaira memegangi tangannya Dewi dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.


Ya Allah kenapa perasaanku tidak enak ketika melihat tatapan matanya dokter Adinda.


"Mah, aku dengan bang Adelio ke ruangan prakteknya Dokter Adinda mau ambil resep obat-obatannya mamah,"

__ADS_1


"Saya juga akan segera mengecek sampel darahnya Tante Dewi di laboratorium secepatnya,agar hasilnya segera keluar dan ketahuan apa penyakitnya Tante benar adanya,"


"Ke-na-pa meski darahnya Tante diambil? Bukannya Tante tidak sakit parah hanya tertekan dan shock ringan saja," celetuk Sheila Alona.


"Makanya kami ingin mengambil sampel darahnya Tante Dewi, untuk lebih jelasnya mengetahui apa yang terjadi pada beliau," imbuhnya Adinda.


"Silahkan dokter, jangan ditunda lebih lama lagi. Kasihan Tante Dewi agar bisa secepatnya pulang ke rumah. Kami sangat sedih melihat Tante Dewi dirawat seperti ini," Ade Nugraha berucap.


"Siap dokter Ade Nugraha. Kalau gitu aku pamit dulu,selamat malam semoga Tante Dewi segera sembuh," dokter Adinda berpamitan.


Aku merasa Tante Dewi memiliki penyakit, aku hanya dokter mata tapi aku melihat tanda-tanda ditubuhnya yang mengatakan jika Tante sedang sakit yang lumayan parah.


Berselang beberapa menit kemudian, Dewi sudah dipindahkan ke dalam kamar VVIP khusus atas permintaan dari pemilik langsung rumah sakit.


Dalam perjalanan ke arah ruangan kerjanya dokter Adinda, ketiganya berbincang-bincang santai. Sedangkan darah sampel miliknya Dewi sudah diperiksa di dalam laboratorium secepatnya.


"Dokter katakan sejujurnya apa yang terjadi pada mamaku?" Tanyanya Shaira.


Adinda membuka pintu ruangan kerjanya dan segera berjalan ke arah kursi kebesarannya itu.


"Aku tidak tahu harus berbicara mulai dari mana, tapi…" ucapannya terpotong karena segera disela oleh Shaira.


"Tapi apa dokter Adinda?!" Shaira sedikit meninggikan suaranya itu.


Adelio memegangi tangannya Shaira untuk diam dan lebih sabar.

__ADS_1


"Maafkan saya dokter," sesalnya Shaira.


"Menurut hasil pemeriksaan dasarku, Tante Dewi sakit parah Shaira tetapi untuk lebih jelasnya kita tunggu hasil labnya terlebih dahulu karena aku tidak yakin dengan hasil pemeriksaanku," imbuhnya Adinda.


Pintu kerjanya Adinda terbuka lebar, dan masuklah seorang pegawai lab membawa berkas hasil pemeriksaan medis milik Dewi.


Tok…


Tok..


"Masuk!" Teriaknya Adinda yang suaranya cukup menggema di dalam ruangan tersebut.


Seorang perempuan yang memakai pakaian seragam petugas lab memasuki ruangan itu. Shaira dan Adelio saling bertatapan satu sama lainnya sambil memandangi Adinda bergantian dengan pegawai wanita itu.


Pegawai itu menyimpan sebuah berkas dalam map bersimbol map rumah sakit miliknya Adelio.


"Maaf dokter menganggu aktifitasnya, ini hasil tes lab darah milik pasien yang bernama Dewi Kinanti Mirasih Abidzar," ujarnya pegawai itu seraya menyimpan map itu.


"Makasih banyak, kamu boleh pergi bekerja," pintanya Adinda.


Adinda gegas membuka map berwarna cokelat itu dan membacanya dengan penuh seksama dan teliti hingga raut wajahnya sulit untuk terbaca.


Ya Allah kenapa dokter Adinda begitu seriusnya membaca hasil diagnosa mamaku.


Kenapa hatiku tiba-tiba tidak tenang ya Allah ampunilah segala dosa dan khilafku, tapi aku mohon jangan biarkan terjadi sesuatu pada mamaku.

__ADS_1


__ADS_2