
Dewi dan Syam meninggalkan kota S kemungkinannya untuk selamanya mereka pergi. Keduanya berpamitan kepada seluruh anggota keluarganya. Tangis haru mewarnai kepergian kedua pasangan suami istri itu.
Semoga saja kehidupan kami di Jakarta lebih baik, lebih indah dari kehidupan sebelumnya. Saya berharap dapat hidup dengan baik dan berdampingan dengan Mbak Nadia kedepannya walau kami hidup di rumah yang berbeda. Tapi harapku semoga saja kami tidak saling mengusik ketenangan masing-masing.
Aku perhatikan Dewi sepertinya sangat sedih meninggalkan kampung halamannya. Tapi, aku tidak akan bisa hidup dengan tenang jika Dewi masih saja tinggal disini sedangkan saya di Jakarta.
Gimana kalau esok atau suatu hari nanti, Dokter Irwansyah akan datang kembali mengganggu kehidupan rumah tanggaku, bahkan yang aku takutkan adalah dia merebut istriku dari dalam genggaman tanganku, Karena aku yakin jika Irwan akan melakukan segala cara untuk mendapatkan Dewi Kinanti Mirasih.
Siapapun yang mengenal Dewi aku yakin dia akan jatuh cinta dalam pesona kecantikan paras, wajah dan hati serta akhlaknya yang lemah lembut, baik hati, bertata krama dan bertutur kata pun selalu menyejukkan hati.
Karena itulah aku ambil jalan keluar dan solusi yang paling tepat adalah mengajak dan memboyong Dewi pergi dari kota S menuju Jakarta. Apalagi istriku tidak lama lagi akan melahirkan. Aku ingin mendampingi Dewi ketika akan melahirkan bayi kembar kami.
Beberapa jam kemudian…
Dewi dan Syam sudah sampai di rumah baru mereka. Rumah yang lebih dekat jaraknya dari perusahaan tempat ia bekerja. Syam tidak main-main dengan pemberiannya terhadap istri pertamanya itu. Baginya kenapa hanya Nadia Yualinti yang mendapatkan rumah mewah sedangkan Dewi yang begitu besar ketulusan cintanya malah mendapatkan rumah yang kecil saja.
"Abang apa benar ini rumah kita berdua?" Tanyanya Dewi yang baru saja turun dari mobilnya sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah megah dan mewah itu dengan selalu memperlihatkan senyuman lebarnya.
Syam segera melepas sabuk pengamannya dan menyusul istrinya turun dari mobilnya itu.
Syam menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan perkataan dari mulut istrinya tersebut," benar sekali apa yang kamu katakan, ini adalah hadiah pernikahan untuk istriku yang paling cantik dan sholehah karena kamu pantas mendapatkan hadiah seperti ini," imbuhnya Syam sambil menarik tubuh gembrotnya Dewi kedalam dekapan hangat pelukannya itu.
__ADS_1
Dewi segera membalik posisi tubuhnya agar saling berhadapan dengan suaminya itu," Masya Allah Abang, saya sangat bahagia mendengarnya, syukur Alhamdulillah kalau Abang hadiahkan rumah sebagus ini untuk saya dan calon kedua anak kembar kita," timpalnya Dewi yang tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya dengan kejutan rumah besar untuknya.
"Alhamdulillah kalau kamu menyukai pemberiannya Abang istriku yang paling penting kamu dan kedua anak kita kelak aman,damai di dalam rumah ini," ujarnya Syam seraya mengecup sekilas keningnya Dewi.
"Tapi apa kira-kira saya sanggup membersihkan seluruh rumah ini Abang kalau hanya seorang diri, sedangkan tubuhku yang setiap hari entah kenapa semakin berat saja aku rasa, seperti saya ini bukan hanya hamil dua tapi tiga," tuturnya Dewi yang memang merasakan keanehan dalam tubuhnya.
"Amin,saya berharap anak kita tiga orang loh, pasti akan sangat ramai dan seru punya baby tiga, tapi kamu tidak perlu cemas dan khawatir Abang sudah persiapkan dua orang yang akan membantu kamu menjaga dan membersihkan rumah ini, eh bukan dua tapi 3 orang, satu security yang menjaga keamanan dan dua tukang nyuci dan bersih-bersih serta mereka juga bisa jadi baby Sitter dadakan kalau kamu perlukan," terangnya Syam lagi yang semakin mengeratkan pelukannya itu.
Syam sedikit terkejut ketika baru saja ingin mengecup bibir Istrinya itu yang sedari tadi menggoda imannya, tiba-tiba tubuhnya ditendang hingga lebih dari dua kali.
"Yah Dewi anakmu nendang ayah loh, ini nih kelamaan ditinggal sih dan jarang banget dijenguk oleh ayahnya, jadinya nendang. Masih kecil-kecil sudah memperlihatkan sama ayah kalau kalian marah berjauhan dengan ayahnya," candanya Sam yang segera melepaskan pegangannya di pinggangnya Dewi.
Syam tersenyum lebar dan spontan membungkuk sedikit untuk menyentuh dan mengelus lembut puncak perut buncitnya Dewi. Apa yang dilakukan oleh Syam membuat Dewi tersipu merona malu hingga kedua pipinya memperlihatkan warna merah seperti buah apel matang.
Dewi menganggukkan kepalanya sambil tersipu spontan menundukkan kepalanya tanda mengiyakan permintaan dari suaminya itu. Dewi dan Syam menjalankan aktifitas siangnya di rumah barunya dengan saling membahagiakan satu sama lainnya.
Keduanya memenuhi tanggung jawab masing-masing dengan penuh kelembutan dan kasih sayangnya. Dewi walaupun tubuhnya terbilang seperti buntelan pakaian yang belum disetrika itu masih sanggup dan lincah goyang untuk membahagiakan pasangannya.
Dua bulan kemudian…
"Sayang mungkin entar malam sampai dua minggu kedepan Abang enggak bisa datang jagain kamu dan temani kamu di sini, karena akhir-akhir ini Nadia sering merasakan kram diperutnya," ujarnya Syam sambil menikmati santap paginya kala itu.
__ADS_1
Dewi yang baru saja mendudukkan dirinya yang semakin kesusahan bergerak itu mengarahkan pandangannya ke arah suaminya itu sambil tersenyum manis.
"Tidak apa-apa kok Abang,saya sangat memaklumi apa yang terjadi pada Mbak Nadia,kami sama-sama Ibu hamil di bulan-bulan terakhir menunggu kelahiran bayi kami memang sudah sering mengalami kesakitan, saya juga gitu tapi untungnya ada Mbak Minah dan bibi Jubaedah yang membantuku," imbuhnya Dewi yang sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut.
"Alhamdulillah kalau seperti itu sayang, kamu memang selalu mengerti dengan apa yang terjadi pada Nadia,kamu tidak pernah egois hanya memikirkan kepentingan dan urusan pribadi kamu sendiri, itulah yang selalu membuat Abang betah berlama-lama bersamamu," pujinya Syamuel.
Bibi Jubaedah tanpa sengaja mendengar percakapan kedua pasangan suami istri itu, bukannya sengaja menguping atau mencuri dengar pembicaraan mereka,tapi karena kebetulan dia berada tidak jauh dari tempat Sam dan Dewi berada yang sedang membersihkan seluruh perabot masak memasaknya yang baru saja dipakainya itu.
"Kalau aku jadi nyonya Dewi pasti aku akan keberatan jika suamiku akan tinggal bersama dengan istri keduanya, tapi aku salut dan bangga dengan kebaikan hatinya Bu Dewi yang tidak pernah protes ataupun marah dengan suaminya yang mendua, insya Allah Mbak Dewi akan menjadi penghuni surga kelak yang selalu dirindukan kehadirannya," tatapan matanya selalu tertuju pada keakraban Dewi dan Syam.
Bu Jubaedah kagum dengan kebaikan dan kemuliaan hatinya tuan rumah tempat ia bekerja sekitar dua bulan lebih itu. Sejak awal ketiga art tersebut bekerja di rumahnya Dewi, mereka sekalipun tidak pernah melihat Dewi yang marah-marah dengan sikapnya madunya, atau menentang keputusan dari Tuan Besar Syam.
"Tapi Abang bisakan mengantar saya ke dokter kandungan untuk memeriksa kondisi kesehatan bayi kembar kita? Karena saya merasa jika saya ini hamil anak tiga saja, kemarin waktu jalan-jalan subuh, itu istrinya pak polisi Bu Farah masa perutnya lebih kecil dari perutku Abang, padahal katanya dia juga hamil anak kembar," ucap Dewi yang selalu merasa heran dengan kehamilannya yang sungguh besar itu diusia bulan kesembilan.
"Kalau gitu saya telpon teman dulu untuk menunda meetingnya," tuturnya Syam yang segera meraih hpnya yang terletak di atas meja dekat samping kirinya itu.
"Abang kalau punya rapat penting tidak perlu antarin saya ke rumah sakit, masih ada Mbak Mina dan Mang Jono," tukasnya Dewi yang mencegah dan menolak suaminya untuk mengantarnya memeriksakan kondisi kehamilannya tersebut.
"Kamu dan kedua anak kembar kita yang paling penting,lagian rapatnya tidak mungkin dimulai kok apabila Abang belum hadir karena Abang yang akan mempresentasikan hasil dari proyek mega besar yang kami kerjakan di daerah Kalimantan Selatan," jelas Syam.
Dewi pun menurut dengan apa yang dikatakan oleh suaminya itu, karena percuma juga terus menerus menentang keinginan dan keputusan dari suaminya karena akan berakhir percuma saja.
__ADS_1
Setiap Jumat akan ada pembaca setia yang terpilih untuk dapat sedikit pulsa dari author, tapi syaratnya harus rajin baca,like dan komentar. Ini bukan omdo omong doang yah kalau mau bukti inbox saya.