
Dewi terdiam mematung meresapi makna dan arti kedatangan Narendra Afiq Lukman dirumahnya. Dimana Afiq setahu Dewi adalah adik dari istri kedua suaminya atau saudara dari madunya sendiri.
"Apa aku boleh masuk duduk dan beristirahat Mbak, aku sudah hampir 24 jam nonstop mengendarai mobil hanya untuk bertemu dengan Mbak, apa Mbak gak kasihan padaku?" Candanya Afiq yang langsung nyelonong masuk ke dalam rumahnya Dewi tanpa permisi atau dipersilahkan terlebih dahulu.
"Kenapa saya takut sekali jika Mbak Nadia sudah mengetahui pernikahan rahasia kami dan mengutus Afiq untuk memastikan semua hal itu, apa abang Syam sudah balik ke Jakarta? Tapi pagi tadi ngomongnya kurang lebih dua minggu lagi baru pulang dari daerah Kalimantan Selatan, jadi Afiq kesini dengan tujuan apa dan kok bisa-bisanya sampai disini, sedangkan saya tidak pernah mengatakan kepada siapapun alamat pasti saya ketika berada di Jakarta,"
Dewi masih berdiri mematung di depan pintu, sedangkan Afiq sudah duduk dengan santainya di dalam ruangan tengah yang dijadikan ruang tamu rumahnya Dewi.
"Aku yakin Mbak bertanya-tanya mengenai kenapa dan apa alasannya aku datang berkunjung di rumahnya Mbak Dewi itu karena ada hal penting yang ingin aku sampaikan kepada Mbak, tapi sebelumnya aku ingin meminta apa Mbak masih punya makanan sepertinya perutku butuh diisi terlebih dahulu sebelum berbicara," gurauannya Afiq lagi agar mencairkan suasana yang tegang dan kikuk itu.
Dewi segera menutup pintu rumahnya itu, ia berlalu dari hadapan Afiq tanpa sepatah katapun lagi. Afiq hanya tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Dewi.
"Kenapa semakin aku perhatikan sikapmu seperti mendiang mamaku, aku melihat beberapa sifat dan karakternya mama Hani ada di dalam dirimu, karena itu salah satu alasan sehingga aku tidak akan mungkin melihat Mbak menderita, cukup mama Hani yang mengalami penderitaan mencintai pria beristri dan tidak mendapatkan kasih sayang dan keadilan yang layak untuknya hingga maut menjemputnya,"
Dewi segera menyiapkan makanan untuk Afiq, untungnya masih ada makanan yang tersisa yang dapat masaknya sore tadi khusus untuk Dian Mayang Sari dan Nur Hayati ketika mereka berkunjung.
Dengan tubuhnya yang semakin gembrot saja karena kehamilannya semakin membesar hingga bobot tubuhnya pun bertambah besar pula. Sehingga membuat pergerakan tubuhnya sedikit terganggu dan tidak leluasa di usia kehamilannya yang sudah tujuh bulan itu.
"Alhamdulillah untung masih ada sedikit sisa makanan, semoga saja Afiq menyukai masakanku ini,"
__ADS_1
Dewi hendak berjalan ke arah depan,tapi ternyata Afiq sendiri yang berjalan ke arah dapur. Sehingga membuat Dewi menghentikan apa yang ingin dilakukannya itu.
"Mbak baru mau memanggil kamu, tapi ternyata kamu lebih duluan masuk, sepertinya ada seseorang yang sangat kelaparan sampai-sampai belum diajak makan sudah nongol duluan," Dewi membalas candaannya Afiiq seperti yang sering mereka lakukan ketika dia Jakarta dulu.
Afiq menarik salah satu kursi meja makan, lalu membalik piring untuk segera dia isi dengan makanan. Afiq mengambil semua jenis masakan yang tersaji di depannya yang terhidang rapi di atas piring dan mangkuk.
"Mbak memang jago masak, kalau menurut aku sih Abang Syamuel itu sangat beruntung menikahi Mbak, siapapun pria atau orang yang makan masakan yang Mbak masak pasti akan memuji kelezatan masakannya Mbak Dewi ini," pujinya Afiq dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.
Dewi tertawa cekikikan melihat reaksinya dan tingkah lakunya ketika Afiq makan," astagfirullah aladzim, Afiq kamu makan saja dulu baru lanjut ngomongnya entar kesedat makanan baru tahu rasa loh," kelakarnya Dewi yang ikut duduk di depannya Afiq.
Afiq hanya tersenyum memperlihatkan giginya dan mulutnya yang penuh makanan itu sambil manggut-manggut saja.
Afiq menatap ke arah Dewi," Mbak enggak ikut makan? Kalau gak mau makan bareng aku habisin semua saja makanannya yah? Soalnya Aku sengaja nggak singgah makan di warteg atau restoran karena hanya ingin menyantap dan menikmati masakan olahan hasil tangannya Mbak Dewi langsung, karena jujur aku kembali teringat mendiang mama Hani jika makan masakannya Mbak ini," ungkapnya Afiq yang raut wajahnya sempat sendu tapi Ia segera merubah suasana hatinya menjadi gembira.
Afiq tidak ingin merusak suasana itu dengan sedih dan kecewa jika kembali teringat dengan mendiang almarhumah mamanya.
"Kamu sengaja apa karena memang tidak punya uang untuk makan makanan restoran jadi cari makanan gretongan," kelakarnya Dewi yang mengupas dan memotong beberapa buah apel dan pir untuk dia konsumsi malam itu.
Afiq yang mendengar gurauan Dewi segera tertawa terbahak-bahak karena candanya Dewi mampu membuatnya tersenyum.
__ADS_1
"Hahaha! Mbak kok bisa tahu? Apa jangan-jangan Mbak cenayang yang memiliki ilmu Kanuragan yang bisa mengetahui apa yang aku lakukan," balasnya Afiq yang semakin bercanda pula.
"Sudah aah candanya, kalau kamu saya ladenin bisa-bisa waktu makan malamnya kamu nggak kelar-kelar juga, makan saja dulu habisin cepat makananmu terus kamu katakan padaku dari mana kamu tahu alamat rumahku dan apa saja yang kamu ketahui tentang saya!" Tegasnya Dewi yang mulai serius.
Afiq hanya membalas perkataannya Dewi dengan menaikkan jempolnya saking tidak mampunya berbicara karena mulutnya penuh dengan makanan.
Dewi segera berdiri setelah menghabiskan buah kesukaannya itu selama hamil. Ia paling doyan makan buah anggur,apel, jeruk, jambu,pir ketimbang makanan lainnya.
"Ya Allah semoga saja kabar dan berita baik yang dibawa oleh Afiq, sejujurnya saya sangat takut jika Mbak Nadia mengetahui hubunganku dengan Abang suaminya itu, saya khawatir jika dia pasti akan kecewa, sedih, sakit hati jika mengetahui saya adalah istri pertama dari Abang Samuel, walaupun saya sempat dituduhnya mencuri perhiasan emasnya sehingga saya diusir dari rumah Abang Sam,tapi sedikitpun saya tidak pernah dendam dengan apa yang sudah terjadi, bagiku itu adalah cobaan yang meski saya sabari dan hadapi dengan hati yang lapang, ikhlas,"
Afiq diam-diam memperhatikan apa yang dilakukan oleh Dewi karena potongan buah yang belum sempat dimasukkan ke dalam mulutnya terpaksa menggantung di udara.
"Aku yakin Mbak pasti memikirkan maksud dan tujuan kedatanganku, tapi aku berjanji semua yang aku katakan nantinya tidak akan merusak hubungan Mbak Dewi dengan suaminya Mbak yaitu mas Samuel Abidzar Al-Ghifari," ungkap Afiq.
Yang kembali membuat Dewi tersentak terkejut kaget dan mulai ketakutan, panik sehingga buah yang ingin dimakannya itu terjatuh begitu saja dengan dalam genggaman tangannya itu. Dewi melototkan matanya saking tidak percayanya dengan apa yang dikatakan oleh Afiq barusan.
"Maksudnya ka-mu a-pa? Da-ri mana kamu tahu semua itu?" Dewi kembali panik dan gugup.
Mohon Bantuannya untuk baca juga novel baru aku: Jodohku Adalah Pamanmu dan Belum Berakhir.
__ADS_1