
Prang!!
Adisti tanpa menurunkan jendela mobilnya itu segera melajukan mobilnya dan tancap gas dari sana. Dia tidak ingin mendengarkan omelan dari pria dan orang lain karena kesalahannya.
Ini semua gara-gara Ade pria brengsek itu!! Aku tidak akan biarkan dia terus menghantui kehidupanku!
tidak ingin diganggu oleh Pria gila itu dan rahasianya akan terbongkar jika terus meladeni pria tidak jelas bernama Ade Nugraha.
Adisty menepikan mobilnya di badan jalan kemudian mengambil gawainya yang terjatuh ke atas lantai mobil.
"Waduh hpku lecet, ihh sial banget ini kan baru seminggu yang lalu aku belinya, pakai jatuh segala lagi! Kan lecet jadinya," sungutnya Adisti yang sangat menyayangkan hpnya yang terjatuh gara-gara dikejutkan oleh seorang bapak-bapak.
"Sial!! Ini semua gara-gara Pria brengsek itu! Tapi ngomong-ngomong dia ambil nomor hpku dimana?
Sudahlah lupakan saja masalah dia dapat nomor aku dari mana yang paling penting aku blok nomornya supaya tidak menganggu dan mengusik ketenangan dan kedamaian hidupku.
Aku sudah cukup bego dan tolol melakukan dengannya, ini semua gara-gara mas Andrew yang menolak cintaku sehingga aku harus melampiaskan kekesalanku di club malam.
Aku hanya berharap agar tidak ada orang lain yang mengetahui kelakuan jelekku itu. Intinya jangan sekali-kali berhubungan lagi dengan pria yang bernama Ade Nugraha si dokter mata gila itu.
Adisti kemudian melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda karena sudah jam delapan lewat. Ia harus buru-buru dan secepatnya sampai di kantor.
Walaupun kantor itu milik dari kakak iparnya sendiri, tetapi kedisiplinan tetap harus dia tanamkan pada dirinya sendiri.
Ade kembali ingin menghubungi nomor ponselnya Adisti, tapi hanyalah sia-sia saja dan tidak ada gunanya sama sekali.
Siall! Dia memblokir nomorku! Oke kamu boleh melakukan semua ini padaku tapi setelah aku resmi bercerai dengan Sheila Alona aku akan terus datang menghantui kehidupan kamu.
Sampai kamu mau bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan padaku!
Tekadnya Ade pria berusia 26 tahun itu yang sudah beristri tapie, kehidupan rumah tangganya tidak harmonis dan berjalan layaknya seperti rumah tangga lainnya di luar sana.
__ADS_1
Tiga hari kemudian, semua orang berlalu lalang keluar masuk dan mondar mandir kesana kemari mempersiapkan segala sesuatunya persiapan untuk pernikahan antara Abyasa Akhtam dengan Sanika Tanisha Hermasyah.
"Bagaimana dengan yang lainnya apa mereka sudah siap berangkat?" Tanyanya Syam sambil melihat ke arah arlojinya yang melingkar dipergelangan tangan kanannya itu.
Dewi yang mendengar pertanyaan dari suaminya itu segera menjawabnya.
"Alhamdulillah mereka semua yang ada sudah siap untuk berangkat Abang, lagian takut telat sampainya di gedung acara akad," balasnya Dewi.
"Tunggu aku cek terlebih dahulu sebelum kita berangkat, apa tidak ada lagi yang ditungguin gitu," ucapnya Syafiq Fatahillah papanya Amar Alfarizi.
"Kami sudah siap sedari tadi," ucapnya Syamil papanya Adisty.
"Coba cek ulang barang-barang seserahan pernikahannya, takutnya ada yang kelupaan atau mungkin belum lengkap? Enggak enak kalau keluarga mempelai perempuan mencari benda yang tidak kita bawa," pintanya Bu Rina Amelia.
Karina dan Karmila berjalan ke arah Bu Rina Amelia," Alhamdulillah semuanya sudah beres, lengkap Ma, kita gegas berangkat saja sebelum mereka menelpon," imbuhnya Kania ibundanya Adisti.
Setelah beberapa saat kemudian, rombongan sudah berangkat menuju gedung yang sudah disewa oleh mereka sebagai tempat pelaksanaan prosesi akad nikahnya Abyasa dengan calon pendamping hidupnya.
Semua orang berbondong-bondong mendatangi gedung tersebut lengkap dengan barang seserahan pernikahan yang cukup banyak sesuai dengan adat dan tradisi budaya kebiasaan suku Bugis Makassar di Sulawesi Selatan.
Mereka seperti barisan ular raksasa saja dengan kedua tangan mereka masing-masing membawa seserahan. Semua anggota keluarga dari pihak calon mempelai pengantin wanita terkagum-kagum melihat begitu banyaknya dan ramainya acara tersebut. Di luar dugaan dan ekspetasi mereka semua.
Adisti celingak-celinguk mencari keberadaan pria yang beberapa hari ini mengusik ketenangannya.
Ya Allah semoga saja pria itu tidak muncul, aku takut jika kesalahanku tempo hari terbongkar. Apalagi bunda dengan ayah ada di Jakarta.
Tapi, ngomong-ngomong mas Andrew apa dia juga datang,secara bang Adelio saja datang jauh-jauh dari Paris Perancis hanya untuk menghadiri acara pernikahan kak Abyaza.
Adisti terus memperhatikan kesegala penjuru ruangan tersebut hingga netra hitamnya bertemu dengan manik mata pria yang sangat dihindarinya itu.
Adisti dan Ade saling bertatapan satu sama lainnya,tapi Adisti buru-buru memutus kontak mana dengan pria yang awal jumpa dengannya membuatnya klepek-klepek dan mampu menghilangkan fokus pikirannya terhadap pria yang sama sekali tidak mencintainya yaitu Andrew Parker Smith.
__ADS_1
Adisti mempercepat langkahnya hingga ke dalam gedung tersebut, sedangkan Ade terhalang jalannya, karena banyaknya orang yang ada di tempat itu juga.
Berselang beberapa menit kemudian, semua orang sudah duduk di tempat masing-masing. Pak Hermansyah daeng Naba sudah duduk saling berhadapan dengan calon menantunya pria yang serius ingin menjalani sisa hidupnya dengan putri pertamanya.
Pak Hermansyah sendiri yang akan langsung menikahkan anaknya dengan pria yang begitu serius menikahinya.
"Pak Hermasyah dan Nak Abiayasa apa kamu sudah siap dinikahkan oleh calon mertuanya sendiri?" Tanyanya pak penghulu yang bernama Lukman Hakim.
"Insha Allah Pak Lukman saya sudah siap untuk menikahkan putriku dengan laki-laki pujaan hatinya," balasnya pak Hermansyah.
"Bagaimana dengan Nak Abyasa apa sudah siap?" Tanyanya Pak Lukman.
Abiyasa menganggukkan kepalanya sebelum bibirnya berucap kata-kata," insha Allah siap lahir batin Pak penghulu," balasnya Abyasa.
"Bismillahirrahmanirrahim, saya nikahkan dan kawinkan engkau Abyasa Akhtam Abidzar Al-Ghifari dengan putriku yang bernama Sanika Tanisha binti bapak Hermasyah daeng Naba dengan mas kawin uang 200 juta 2 puluh tiga ribu rupiah dan seperangkat alat sholat serta satu set emas 24 karat dibayar tunai!" Ucapnya pak Herman dengan sedikit gemetar.
Abiyasa tersenyum tipis sebelum mengucapkan ikrar janji suci pernikahannya. Ijab kabul mereka di depan para saksi tamu undangan yang berbondong-bondong menghadiri pernikahan akbar dan terbesar dalam sejarah kehidupan keluarga pak Hermasyah.
"Saya terima nikah dan kawinnya Tanisha Sanika Hermasyah bin bapak Hermasyah Daeng Naba dengan mas kawin tersebut dibayar tunai karena Allah SWT!" Tegasnya Abyasa.
Abiyasa mengucapkan dengan penuh keyakinan dan kemantapan hatinya dengan sekali tarikan nafas dia mengucapkan ijab kabulnya dalam sekali sesi saja.
Pak Lukman mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut sambil memperhatikan beberapa tamu undangan penting yang turut hadir di tempat tersebut.
"Bagaimana para saksi apakah sah!?" Tanyanya pak Lukman Hakim yang sedikit mengeraskan volume suaranya beberapa oktaf walaupun sudah memakai pengeras suara.
"Sah!!" Teriak semua orang yang berada di dalam ruangan gedung.
Suasana yang awalnya tenang dan fokus mendengarkan Abyasa mengucap janji ikrar suci pernikahannya sekarang nampak riuh, ramai penuh dengan sorak gembira dari semua orang.
"Alhamdulillah makasih banyak ya Allah pernikahan putriku telah selesai, aku bersyukur kepadaMu Sang Maha Pencipta atas segala anugerah dan nikmat yang Engkau berikan kepadaku disisa usiaku ini," lirihnya pak Herman.
__ADS_1
Pak Hermansyah mengusap wajahnya yang basah, terkena air sedikit asin yang sudah menetes membasahi pipinya saking terharunya melihat anaknya sudah resmi, menjadi istri dari pemuda yang gagah berani melamar anaknya langsung di depannya.
Dewi menitikkan air matanya saking bahagianya penuh haru karena semua anak-anaknya tiga orang kembar serta anak angkatnya sudah menikah dan hidup bahagia dengan pasangan masing-masing.