
"Maaf, Abang tidak bermaksud untuk…," ucapannya Syam terpotong.
Dewi segera menyela pembicaraan suaminya," Abang kenapa harus meminta maaf, bukankah apa yang Abang lakukan adalah sah-sah saja karena Abang suamiku," ujarnya Dewi.
Samuel pun terdiam mendengar perkataan dari mulut istrinya itu," benar sekali apa yang dikatakannya, kami adalah suami istri jadi wajar saja jika kami berdua melakukannya,"
Beberapa menit kemudian, Samuel melanjutkan perjalanannya menuju salah satu komplek perumahan yang sudah dipesan oleh Dokter Irwansyah atas permintaan dari Syam sendiri.
Mobil berhenti tepat di salah satu unit perumahan yang tidak jauh dari tempat pos jaga security.
"Turun lah kita sudah sampai," pintanya Syam yang segera membuka seatbelt nya kemudian turun dari mobilnya.
Dewi terlebih dahulu mengedarkan pandangannya ke arah sekitar kompleks perumahan itu," pasti biaya cicilannya tiap bulan cukup mahal," gumamnya Dewi.
Dewi tidak mau mendengar kata-kata kasar dari Samuel sehingga dengan gesit dan tergesa-gesa ia turun dari mobil. Ia sungguh mengagumi dan memuji setiap bangunan rumah yang berdiri di depannya itu. Perumahan dengan tipe rumah yang cukup besar itu dengan terdiri dari tiga kamar setiap unitnya.
"Alhamdulillah suamiku membelikan aku rumah, untungnya cukup dekat dari tempat kerjaku toko Sinar Maju," cicitnya Dewi seraya mengikuti jejak langkah kakinya Syam memasuki area salah satu rumah yang ada.
Syam membuka pintu pagar rumah itu yang bercat cokelat. Ia tidak berucap sepatah katapun kepada Dewi. Hanya dari gestur tubuhnya yang berbicara kepada Dewi untuk terus mengikuti langkah kakinya menuju ke arah dalam rumahnya.
"Ini kunci rumah, kamu mulai hari ini bisa tinggal di sini dan untuk kedepannya," ucapnya Syam setelah pintu itu terbuka dan mencabut kuncinya dari handle pintu itu.
__ADS_1
Syam menatap ke arah Dewi yang tidak bisa menyembunyikan kekagumannya terhadap rumahnya, apalagi setelah pintu itu terbuka lebar dan terlihatlah semua perabot furniture rumah itu dengan lengkap.
"Abang Sam ini rumah untukku?" Tanyanya Dewi yang masih tidak percaya dengan kenyataan itu.
Samuel melirik sekilas ke arah Dewi sambil menganggukkan kepalanya," iya ini adalah rumah yang sanggup aku belikan untukmu, maaf kalau rumahnya kecil," ujar Syam.
"Serius Bang ini rumah untukku? Masya Allah rumahnya besar yah bang perabot rumahnya sudah lengkap dan aku yakin pasti mahal, apalagi ada tiga kamar fi dalamnya, ini rumah pasti mahal yah bang?" Tebaknya Fewi yang berseri-seri bahagia mendapatkan hadiah rumah dari suaminya itu.
Dewi semakin melangkahkan kakinya menuju ke arah paling dalam rumahnya itu. Ia tersenyum sumringah saking bahagianya karena mendapatkan hadiah dari suaminya rumah yang cukup besar dan sudah sejak dulu ia idam-idamkan.
"Makasih banyak yah Bang, saya bisa punya rumah sebagus dan sebesar ini, tanpa aku ngeluarin uang sedikitpun, Abang tahu gak sejak dulu aku bercita-cita ingin membeli rumah seperti ini, tapi sempai hari ini belum kesampaian impian aku itu karena tabunganku belum cukup juga," Dewi terkekeh mendengar perkataannya sendiri.
Dewi mencoba duduk di atas sofa buludru yang begitu empuk didudukinya. Syam tidak menduga jika reaksinya akan seperti ini ketika dibelikan rumah yang baginya biasa saja, padahal jika dibandingkan dengan gajinya perbulan bisa beli lebih mahal dari ini. Tetapi,ia tidak ingin Nadia Yulianti curiga jika ia mengeluarkan uang banyak bisa ketahuan jika dia memiliki wanita lain di luar daerah.
"Alhamdulillah aku suka pakai banget Abang, makasih banyak ya Bang sudah sediakan rumah sebagus ini, apalagi rumahnya dekat dengan jalan utama dan pos security jadi pasti semakin aman," jawabnya Dewi dengan menunjukkan rasa bahagianya di depan suaminya itu.
"Nadia aku belikan rumah yang tiga kali lebih besar dari ini, bahagia dan senangnya tidak seberapa dan hanya bereaksi biasa saja sedangkan Dewi kebahagiaan yang alami terpancar dari wajahnya, entah kenapa aku sangat menyukai jika dia tersenyum tulus seperti itu," Syam membatin dan diam-diam memperhatikan apa yang dilakukan oleh Dewi.
Satu persatu ruangan itu ia periksa, mulai dapur modern minimalis, ruang tengah, ruangan tamu hingga kamar yang nantinya akan menjadi kamarnya pun tidak luput ia perhatikan dengan seksama.
"Kamu bisa ajak adikmu Dinar untuk menemani kamu disini agar tidak kesepian jika aku balik ke Jakarta," pintanya Sam yang ikut memeriksa satu persatu perabot rumah dan juga jendela serta pintunya.
__ADS_1
"Alhamdulillah kalau Abang ijinkan adikku juga ikut tinggal bersama kita,tapi jika aku datang kau harus menyuruh adikmu untuk nginap di rumahnya Bibi Husnah Aminah atau paman Hamid Bambang, karena saya tidak ingin ada orang lain yang saya lihat menginap di rumahku, apa kamu tidak keberatan kan dengan persyaratan yang aku ajukan?" Harapnya Syam.
Samuel memang tidak menyukai jika ada orang lain yang tinggal bersamanya di dalam rumahnya. Bahkan asisten rumah tangganya yang membantu Nadia setiap hari mengurus semua keperluan seperti masak, nyuci dan bersih-bersih di rumahnya yang di Jakarta hanya akan datang di pagi hari dan pulang malamnya.
"Kalau itu yang Abang inginkan aku pasti akan memenuhi permintaan dari Abang, Dinar dan saya pasti tidak akan mempermasalahkan hal tersebut," pungkasnya Dewi yang merasa pengaturan dari suaminya adalah hal yang wajar saja terjadi.
Sam kembali memperhatikan istrinya itu," kenapa setiap apa yang aku putuskan dan katakan selalu saja nurut tanpa ada basa-basi ataupun perdebatan kecil diantara kami, sangat berbeda dengan Nadia yang pasti akan mengungkapkan perasaannya dan komentarnya terlebih dahulu sebelum kami mengambil keputusan," Syam kembali membandingkan Dewi dengan Nadia istri keduanya.
Hingga menjelang magrib, barulah mereka berhenti membersihkan seluruh ruangan itu. Syam hanya duduk di ruang tengahnya yang dijadikan ruangan keluarga tempat ngumpul seraya memeriksa beberapa pekerjaannya melalui laptop yang sudah berada di atas meja.
Dia fokus dan serius memeriksa beberapa file penting yang akan dipresentasikannya esok hari di cabang perusahaan milik bosnya yang ada di kota S. Sebuah kacamata bacanya sudah tersampir di batang hidungnya yang mancung itu. Wajahnya begitu tampan ketika serius bekerja. Dewi yang sudah membersihkan seluruh rumahnya yang hanya ada sedikit debu dan kotoran saja sudah selesai.
"Subhanallah, sungguh luar biasa indahnya ciptaanMu ya Allah… suamiku ganteng banget rupanya, apa aku salah yah telah mengagumi keindahan dari suamiku sendiri pria yang bertanggung jawab akan kehidupanku dunia dan akhirat," cicitnya Dewi yang berdiri di ambang pintu kamarnya yang sebenarnya bersiap untuk mandi malam itu.
Dewi segera masuk ke dalam kamarnya itu untuk segera membersihkan seluruh tubuhnya yang berkeringat dan sedikit bau itu. Ia tidak ingin ketahuan jika dia telah diam-diam mengagumi suaminya sendiri.
Dewi kembali takjubn sekaligus tercengang karena, lemari pakaiannya itu sudah dipenuhi oleh beberapa potong pakaian yang sangat cocok dipakai olehnya.
"Abang Syam belikan aku begitu banyak pakaian, ukurannya sangat pas dan cocok di tubuhku, apalagi yang akan aku keluhkan kedepannya jika mendapatkan suami yang begitu pengertian dan selalu memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang suami." Dewi pun kembali berdecak kagum melihat merk dan harga taksiran pakaian itu.
Sedangkan tanpa sepengetahuan dari kedua pasangan suami istri itu, seseorang dari atas mobilnya sejak beberapa jam lalu memperhatikan rutinitas dan kegiatan dua pasangan suami istri itu.
__ADS_1
"Suamimu sudah datang, aku tidak akan mungkin menggangu waktu kalian berdua, Dewi maafkan aku yang sudah diam-diam mencintaimu walaupun aku tahu kamu perempuan bersuami, tapi aku sudah berusaha untuk menjaga hatiku agar tidak jatuh kedalam pesona kecantikan dan kesederhanaan yang kamu miliki, ijinkan aku untuk menyayangimu dan menjagamu tanpa ada yang mengetahuinya," Gumam seorang pria yang segera menutup kaca jendela mobilnya kemudian bergegas meninggalkan area perumahan itu.