
Shanum terkejut mendengar penjelasan dari dokter jika masih ada prosedur kesehatan yang harus dijalaninya.
"Mak-sudnya dokter kenapa meski saya harus diperiksa kembali? Bukannya saya sudah dicek keseluruhan kondisi tubuhku?" Tanyanya Shanum.
"Memang benar beberapa pemeriksaan sudah kami lakukan,tapi untuk memastikan lebih jelas detailnya apakah kandungan dan rahimnya Bu Shanum sudah bersih total dari sisa darah setelah keguguran, makanya harus kembali melakukan pemeriksaan lebih rinci agar tidak Anda masih bisa memiliki keturunan kembali," ucapnya Bu dokter.
"Kalau gitu silahkan Dokter untuk melakukan pemeriksaan terhadap putriku, apakah sudah bisa kembali ke rumah besok pagi ataukah tidak," imbuhnya Dewi yang tidak ingin terjadi sesuatu pada putrinya itu.
"Baiklah, suster tolong bantu Bu Shanum untuk naik ke kursi roda," perintahnya Dokter yang memakai hijab merah maron dengan lemah lembut.
Sahnun segera dipindahkan ke atas kursi roda karena akan segera dibawa ke ruangan khusus pemeriksaan. Dewi dan Syam mengekor di belakang beberapa perawat yang berjalan beriringan dengan dokter.
"Ya Allah semoga saja kondisi putriku baik-baik saja, jangan biarkan terjadi sesuatu pada putriku ya Allah… aku sadar memang putriku banyak salah,tapi berikanlah dia kesembuhan dan waktu untuk memperbaiki diri dan kehidupannya untuk segera bertaubat,"
Arion yang baru saja datang tanpa sengaja melihat Shanum dibawa ke salah satu ruangan yang duduk di atas kursi roda.
Arion memicingkan matanya melihat ke arah rombongan beberapa orang, "Shanum mau dibawa kemana oleh mereka, apa yang terjadi pada Shashaku?" Arion mulai panik, takut dan mencemaskan keadaannya Shanum.
Arion segera mempercepat langkah kakinya bahkan bunga dan parcel yang kebetulan berada di dalam genggamannya beralih pindah tangan ke Edward. Sang asisten yang selalu setia menemaninya yang memutuskan untuk tidak menjalin hubungan dengan perempuan manapun karena ingin mengabdi kepada Arion.
"Tuan Muda," sapanya Edward Chen.
"Tolong antar ke kamar inap Non Shanum," balasnya Arion yang segera berjalan cepat meninggalkan Edward Chen yang sudah berjalan berbeda arah dan haluan.
Shanum sebenarnya panik dan takut karena berhubungan dengan rahimnya, apalagi dia keguguran disaat kecelakaan.
Shanum mengelus perutnya yang datar," maafkan bunda Nak tidak bisa dan sanggup menjaga keselamatanmu," Shanum menatap langit-langit plafon koridor klinik bersalin yang dilaluinya itu.
Dia berusaha sekuat tenaga menahan kesedihan dan air matanya yang merasa menyesal telah merenggut kesempatan untuk hidup calon anaknya.
"Semoga kamu mengerti dengan pilihan bunda, walau kamu harus pergi dengan cara seperti ini," lirihnya Shanum.
Dewi dan Syam saling bergandengan tangan mengikuti kemanapun langkah kakinya beberapa orang yang mendorong kursi roda milik putri sulungnya itu.
__ADS_1
Setelah beberapa saat kemudian, Shanum sudah berbaring di atas ranjang. Dia sudah diperiksa oleh dokter yang sudah menangani kesehatannya beberapa hari terakhir.
Raut wajahnya sang dokter nampak seperti sangat serius memperhatikan komputer yang memperlihatkan kondisi bagian terdalam rahimnya Shanum. Hingga tiba-tiba Shanum mengalami kesakitan di area rahimnya yang kebetulan terkena alat khusus usg dokter.
"Auhh sakit!" Keluhnya Shanum yang tiba-tiba merasakan kesakitan sangat.
"Bu Shanum, apa sangat sakit dibagian ini?" Tanyanya dokter yang terus memperhatikan secara bergantian ke arah layar komputer dengan reaksinya Shanum.
"I-ya dokter sangat sakit," jawabnya Shanum yang segera memegangi perutnya yang kram dan perih seperti tertusuk benda tajam saja.
Dokter segera menyelesaikan pemeriksaannya seperti dugaan yang ditakutinya itu.
"Bu Shanum cukup berbaring saja beberapa saat, saya akan menemui anggota keluarga Anda," imbuhnya Bu dokter.
"Dokter kenapa harus melalui kedua orang tuaku, kenapa ngomongnya tidak melalui saya saja dokter," tanyanya Shanum yang mulai khawatir dengan hasil pemeriksaannya.
"Maaf, kedua orang tua ibu Shanum harus mengetahui dan tindakan selanjutnya, permisi," ujarnya Bu dokter.
"Tapi dokter," cegahnya Shanum yang berusaha untuk menahan kepergiannya dokter.
Dewi yang melihat kedatangan dokter segera berjalan terburu-buru ke arah dokter untuk menemui dokter tersebut dan bertanya masalah penyakitnya Shanum.
"Dokter apa yang terjadi pada putriku?" Tanyanya Dewi.
"Sepertinya kita perlu bicara Nyonya Dewi," ucapnya Dokter.
"Kenapa? Apa yang terjadi dengan anakku dokter?" tanyanya Syam yang ikut takut dan panik ketika dokter berbicara seperti itu.
Syam yang melihat dokter berjalan meninggalkan keduanya segera menghentikan apa yang hendak dilakukan oleh dokter.
"Dokter bagaimana kalau bicaranya disini saja,bagi kami disini dan di dalam ruangan dokter sama saja, tolong jangan buat kami ketakutan dokter dengan hasil pemeriksaan putriku," sanggahnya Syam.
Dokter pun akhirnya menyerah dengan keputusannya,dia pun mulai berbicara tentang kondisi terakhir Shanum. Dewi dan Syam menutup mulutnya saking terkejutnya mendengar perkataan dan penjelasan dari dokter.
__ADS_1
Tubuhnya Dewi terhuyung ke belakang, ia tidak menduga jika kesehatan anaknya akan seperti ini akibat dari kecelakaan tersebut. Untungnya Syam segera membantu istrinya yang tubuhnya hampir terjatuh ke atas lantai keramik.
"Astaughfirullahaladzim ini tidak mungkin, anakku," lirih Dewi yang semakin sedih dan hancur setelah mengetahui kondisi terakhirnya Shanum.
"Istriku kamu harus sabar dan tabah, semua ini sudah atas kehendak Allah SWT, kita harus support apapun kondisinya Shanum putri kita," bujuknya Sam sambil memeluk tubuh istrinya itu.
Arion segera bersembunyi dibalik tembok untuk mengamati apa saja yang terjadi. Dia menutup mulutnya saking tidak percayanya dengan kenyataan itu.
"Ini semua salahku, aku yang sudah menyebabkan Shasa menderita," geramnya Arion sembari meninju tembok besar yang menghalangi tubuhnya agar tidak kelihatan dengan orang lain.
Air matanya untuk pertama kalinya menetes membasahi pipinya. Dia sangat sedih, karena akibat keegoisannya sendiri Sahnum harus mengalami banyak penderitaan.
"Tuhan!! Aku sudah berjanji padaMu jika kamu akan menyembuhkan penyakitnya Shanum aku berjanji akan memenuhi tanggung jawabku sebagai umatMu,tapi kenapa kedukaan ini berlarut-larut datang menghampiri hidupku disaat aku jatuh cinta dan menyayangi seorang wanita!" Kesalnya Arion yang berulang-ulang kali memukul dan meninju dinding bercat putih itu secara bergantian.
Edwar yang baru saja datang tanpa sengaja melihat apa yang dilakukan oleh tuan mudanya itu.
"Tuan Muda stop! berhenti!" jeritnya Edward Chen yang segera mencegah apa yang diperbuat oleh Arion Mahardika Putra.
Arion sama sekali tidak mengindahkan peringatan dari anak buah kepercayaannya itu.
"Tolong jangan cegah apa yang aku perbuat sekarang! menyingkirlah dari hadapanku!" bentaknya Arion yang mendorong tubuhnya Edward yang sudah menganggu apa yang diperbuatnya.
"Tapi, Tuan Muda apa yang Anda lakukan sama sekali tidak menyelesaikan masalah malahan hanya akan menambah beban dan masalah semakin menjadi rumit," nasehatnya Edward.
"Edward semua ini salahku, tolong jangan sekali-kali menahan apa yang ingin aku lakukan, kamu tidak mengerti dan memahami isi hatiku, jadi kamu sebaiknya diam saja!"
Matanya melotot menatap tajam ke arah pria yang selalu setia menemani kehidupannya beberapa tahun terakhir ini.
"Tapi menurut saya apa yang Tuan Muda kerjakan sekarang ini hanya percuma dan sia-sia saja, yang perlu Tuan Muda lakukan adalah membuat Non Shanum bisa mejalani kehidupannya dengan lebih baik.
Arion segera terduduk di salah satu kursi panjang, ia mengusap wajahnya dengan gusar sambil sesekali membuang nafasnya dengan cukup keras.
"Tuan Muda segala masalah besar akan teratasi dengan kesabaran,"
__ADS_1
Beberapa hari kemudian, Shanum sudah balik ke rumahnya dalam kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Dewi dan Syamuel bertekad untuk menyembunyikan kebenaran yang terjadi. Mereka tidak ingin Shanum sampai mengetahui kondisinya. Untungnya yang hadir disaat itu hanya bibi Siti sehingga kerahasiaan kenyataan itu terjamin.